
Dylan menggeleng kepala melihat wanitanya membeli beberapa varian asinan, pria itu merasa aneh dengan aneka buah yang berendam dalam kuah pedas, manis dan asam. Dylan yang penasaran mencicip dan akhirnya dia tergoda sampai menghabiskan satu bungkus asinan. Bahkan pria ini memenuhi troli dengan asinan buah.
Sepasang suami istri yang sangat menyukai makanan dan kuliner pinggir jalan. Entah kenapa sore ini perut Dylan terasa lapar dan ingin membeli beragam kudapan. Stephanie bersama Dylan mengulang masa indah mereka di San Francisco, keduanya berkeliling mencari area street food.
Dylan yang baru mengenal kuliner dari tanah kelahiran istrinya, tentu saja mengikuti apa yang Stephanie beli tanpa banyak tanya, apalagi mencari tahu komposisi makanan itu.
“Baby, aku juga mau.” Seru Dylan kepada istrinya yang tengah memesan sesuatu.
“Pedan atau tidak?” teriak Stephanie, ia tidak menyangka suami bulenya benar-benar memiliki selera makan yang sama dengannya.
Setelah menghabiskan satu mangkuk bakso, kemudian roti bakar, pasangan ini masih kelaparan. Apalagi Dylan sepanjang jalan kaki, selalu mengunyah tahu goreng, walaupun setiap berhasil tertelan, selalu mengomel sebab tingginya kalori dalam makanan.
Akhirnya setelah menunggu sepuluh menit Stephanie datang membawa dua mangkuk makanan, bersisi tulang ayam, bakso, sayur dan bahan makanan aneh menurut Dylan.
“Apa itu sayang?” tanya Dylan. Mengaduk isi mangkuk, dari aromanya sangat tercium rempah dan penyedap.
“Seblak. Kamu tahu ini jajanan enak. Coba katakana seblak, dan kamu harus suka, sesuai kesepakatan apa yang aku suka kamu juga suka.” Tukas Stephanie menyeruput kuah merah di depannya.
“Apa itu Baby? Aku baru mendengarnya. Tapi aku percaya rasanya pasti enak, karena apapun yang istriku pilih pasti cocok.” Puji Dylan, ia melihat sang istri bagaimana cara makannya. Tapi Dylan tidak bisa hanya mencicipi kuah begitu saja.
Pria ini pun makan satu sendok penuh, dan hanya perlu satu detik sampai berteriak, rasanya begitu pedas, terbakar dalam mulut juga kerongkongan. Demi apapun Dylan belum pernah makan makanan seperti ini, rasanya terlalu kuat dan menusuk hidung.
“Baby kamu tidak waras ya? Makanan pedas seperti ini dibilang enak? Apa tidak ada yang lain?” tanya Dylan mengibaskan tangan dekat mulut. Ia tidak menyangka istrinya memiliki batas toleransi tinggi terhadap cabai.
Sementara Dylan sibuk minum, makanan di dalam mangkuk Stephanie sudah ludes tak bersisa.
Dylan menggelengkan kepala pelan, istrinya memang luar biasa. Selain daya tampung lambung yang besar, Stephanie pun tidak terlihat menderita akibat rasa pedas.
“Baby setelah selesai makan itu, kita pulang. Besok kamu ada jadwal seminar kan? Jangan terlambat. Ok? Aku pulang ke Madrid dua hari lagi.” Dylan memberitahu rencananya.
__ADS_1
“Ok bukan masalah.” Jawab Stephanie yang kini menghabiskan satu botol air mineral.
Dylan langsung membawa barang belanja istrinya, dan memasukkan dalam bagasi. Ini pertama kali dalam sejarah seorang Dylan Manassero, makan dengan jumlah kalori yang tidak terukur. Mengikuti jejak sang istri begitu lahap setiap kali menyantap kudapan.
Dylan pun membuka pintu mempersilahkan istrinya duduk, seperti biasa membantu memasang sabuk pengaman adalah kegiatan Dylan. Tapi kali ini Stephanie langsung mendorong bahu suaminya, membuka pintu dan berlari menuju toilet di salah satu store sembari menutup mulut.
Tentu saja Dylan khawatir, takut istrinya itu keracunan makanan.
“Sayang tunggu.” Dylan berlari menyusul, tapi hanya bisa menunggu di luar. Tidak mungkin ia masuk ke dalam toilet wanita, pasti menjadi sasaran pukul para perempuan atau lebih parah lagi dilaporkan ke petugas.
Cukup lama Dylan menunggu sampai lebih dari lima belas menit, karena kesal sekaligus cemas. Terpaksa dia nekat menerobos ke dalam, betapa terkejutnya Dylan melihat istrinya terkulai lemas di sisi wastafel.
“Astaga sayang, seharusnya kamu panggil aku, jangan seperti ini, kita ke dokter.” Dylan menggendong ala bridal, tapi Stephanie kembali mual dan muntah.
Dylan kebingungan bagaimana membawa istrinya pulang, dalam otak terlintas untuk menghubungi ambulan.
“Aku mohon jangan sakit sayang.” Lirih Dylan melihat wajah lesu istrinya.
Keduanya berjalan pelan dengan jarak memisahkan sepanjang satu meter.
“Sayang, aku pakai perawatan rambut biasa, kamu kan tahu aku tidak bisa pakai sembarang sampo orang lain, jadi mana mungkin gonta-ganti. Mungkin hidungmu salah menciumnya, jangan berlebihan, Baby.” Tegas Dylan, baginya ini biasa saja tapi sang istri menanggapi dengan hal lain.
Stephanie membuka pintu mobil, mengambil tasnya dan berjalan menunggu angkutan umum.
“Hey sayang kenapa lagi? Apa aku salah bicara? Bagian mana? Stephanie jangan seperti ini.” Ucap Dylan, tapi sayang istrinya malah memilih naik kendaraan umum, hingga Dylan kesulitan mengejarnya.
Di balik punggung driver ojek, wanita ini menangis perlahan dan semakin lama semakin keras, sampai pria yang mengendarai motor berhenti meredakan tangis penumpangnya.
“Masa dia bilang kalau saya ini berlebihan, Pak? Keterlaluan bukan.” Oceh Stephanie, meluapkan kekesalan dalam hati.
__ADS_1
“Pak antar saya ke stasiun ya, saya mau pulang naik kereta, biar saja dia bingung.” Stephanie membayangkan wajah suaminya yang kebingungan mencari.
Wanita ini tidak terima dengan semua ucapan Dylan, jelas-jelas kepala suaminya tidak sedap, masih tetap menyangkal menggunakan sampo yang sama. Padahal aroma menyengat menusuk hidung Stephanie.
Sementara Dylan pusing mencari keberadaan istrinya, tidak menemukan jejak sedikitpun, ia yang tidak tahu arah hanya mengandalkan GPS. Tapi tanpa sadar kendaraannya malah menuju ibu kota.
.
.
Tiba di mansion, Dylan tercenung melihat Stephanie sedang menangis di depan anggota keluarga. Apa lagi Papa Adam, menatap sengit pada menantunya. Menganggap Dylan bersalah tanpa mendengar penjelasan kedua belah pihak.
“Kau … berani sekali membuat putriku satu-satunya menangis, ada masalah apa kalian?” Papa Adam tidak jadi melayangkan pukulan karena tangannya ditahan oleh Steve.
“Papa jangan emosi, kita dengarkan dulu dari sudut pandang kakak ipar.” Bijak Steve menenangkan Papa Adam.
“Kau benar Steve, selain itu aku khawatir tekanan darahku naik lagi.” Ujar Papa Adam.
“Hei kau menantu cepat jelaskan kenapa putriku menangis seperti itu, kalian bertengkar masalah apa?” wajah Papa Adam berubah serius. Sekalipun pernikahan ini dadakan, ia tidak mau putrinya menjadi janda muda atau tua, keduanya harus tetap bersama sampai tua.
Dylan mulai menjelaskan awal mula masalah, Stephanie pun hanya diam mendengar sembari menyusut air mata. Semua dia katakan dengan jujur dan lugas.
“WHAT? Jadi hanya karena itu kamu marah kak? Benar-benar luar biasa.” Pekik Steve yang menikmati asinan buah.
“Aku tidak tahu salahku di mana? Bisa Papa bantu?” Dylan mencari dukungan dari mertuanya yang sangat menyeramkan.
“Tidak ada yang salah, tapi kau yakin tidak membentak putriku?” selidik Papa Adam.
“Tentu saja Pah.” Dylan mengangguk bahkan jika kesal pun ia tahan, mana tega menyakiti wanitanya.
__ADS_1
“Sepertinya Mama tahu apa yang menyebabkan Stevi marah.” Sahut Samantha tersenyum penuh arti.
TBC