
BAB 15
Dylan bergegas membuang air kotor dan membasuh tubuh di bawah guyuran air shower, menggosok kedua tangannya sangat kuat dan kasar.
Merasa telah melakukan sesuatu yang membuat harga dirinya tercoreng. Mencaci maki dinding di depannya, seolah tertawa apa yang telah dilakukannya beberapa menit lalu.
“Stephanie kau membuatku gila. Arrgh” Dylan melampiaskan emosi, meninju dinding.
Secepat kilat ia menggunakan bathrobe, keluar kamar mandi dan benar gadisnya masih tidur bahkan selimut menutupi seluruh tubuh, hanya bagian kepala yang terlihat.
Kejadian beberapa menit lalu begitu nyata dan memabukkan, padahal hanya mimpi. Iya, Dylan tanpa sadar terlelap dan membayangkan melakukan hal yang ia inginkan bersama gadisnya.
“Stephanie, kau lihat. Aku mungkin harus bertemu psikiater. Jangan sampai sama seperti Chloe, mungkin aku lebih parah. Ini bukan pertama kali aku bermimpi kita melakukannya. Argh Stephanie.” Dylan mengamuk dalam sunyi ruangan, kedua tangan meninju udara.
Pria tampan ini pun mendekat , ketika gadisnya membalik tubuh. Wajah cantik dan manis memancing Dylan mendekat, bahkan memberi sentuhan halus pada kening, hidung, serta bibir menggoda.
Tidak tahan lagi, Dylan melabuhkan ciuman singkat di bibir gadisnya.
“Maaf Baby, aku melakukannya lagi. Kamu benar-benar memabukkan.” Kata hati Dylan. Lagipula bukankah wajar? Ia adalah sugar daddy dan untuk itu bebas bertindak apa saja pada wanitanya.
Dylan membuka jubah mandinya dan memakai celana yang telah disiapkan oleh Han. Bersamaan dengan Stephanie membuka mata lebar, menyaksikan sesuatu hal tidak terduga di hadapannya, tepat di sisi ranjang hotel.
“AAAAKKKHHHH”
Suara menjerit sangat nyaring merusak gendang telinga siapapun, untung saja kamar ini kedap suara, hingga tidak ada orang yang menerobos masuk karena mendengar teriakan seorang wanita.
“Apa yang Daddy lakukan? Jangan macam-macam, atau aku akan memukul mu sampai babak belur.” Stephanie merekatkan selimut, menjauh dari Dylan yang kini hanya menggunakan celana pendek sebagai penutup satu-satunya.
“Oh come on Stephanie, aku hanya memakai celana. Tidak ada yang salah, kamu itu terlalu berlebihan. Apa pertama kali juga melihatnya?” Dylan mencoba mendekat menenangkan gadisnya.
__ADS_1
“Ya, semua pertama. Aku tidak mau melihatnya lagi, mengerikan. Ya ampun, kenapa aku tidak seperti adikku saja menjadi seorang pria.” Celoteh Stephanie membuat Dylan terdiam.
“Tidak. Tidak boleh, kau adalah wanitaku. Mana bisa menjadi pria, sudah takdirmu terlahir sebagai wanita ... kalau dia pria mana mungkin kita bisa menikah, ah Baby kenapa kamu berpikir seperti itu.” Lanjut Dylan dalam hati.
Karena rasa takut, Stephanie terus mundur tanpa menyadari kalau dirinya telah sampai di ujung ranjang.
Namun belum sempat terjatuh, Dylan lebih dulu menangkap gadisnya, hingga terjatuh di atas tubuh Dylan. Menempel sangat erat, dekat dan hangat hembusan napas bisa dirasakan masing-masing.
“Berhenti bertindak seperti anak kecil, Baby. Kita sama-sama telah dewasa dan ...”
“Daddy, lepas. Jangan begini. Aku tidak bisa bernapas. Daddy mau aku sesak napas?” Stephanie menekuk wajah dan cemberut.
Sungguh menggoda naluri Dylan, yang masih berada di bawahnya. Tanpa mengingat peringatan yang diberikan, satu tangan meraih dagu lancip gadisnya, menyesap sangat lembut. Tidak peduli dengan segala penolakan.
Tubuh Stephanie memberontak ingin melepaskan diri, tapi sayang tangan Dylan begitu kuat merengkuh gadisnya. Dylan hanya ingin Stephanie tahu, bahwa perasaan yang dirasakan benar adanya, bukan karena berjauhan dari Chloe.
Dylan bahkan mulai berani mengigit pelan bibir gadisnya, untuk memberi akses semakin masuk ke dalam menjelajahi rongga mulut. Tapi Stephanie begitu kuat mempertahankan diri, kedua tangan mencubit kulit Dylan Mr, sampai sugar daddy-nya mengerang sakit.
“Daddy, sendiri melakukan apa? Mengigit bibirku tanpa perasaan, memangnya tidak tahu kalau itu sakit.” Sengit Stephanie tidak mau kalah.
Dylan membalik posisi keduanya, menghimpit wanita ini di bawah kuasa. Menatap lekat dan memberi kecupan di kening Stephanie.
“Apa kamu memiliki pria yang dicintai, Baby? Aku ingin dengar.” Tanya Dylan, ia harus tahu jawaban dari mulut pujaan hatinya.
“Tidak ada, ya mungkin untuk saat ini.” Mendorong dada Dylan untuk menyingkir. “Aku lapar, Daddy bisa kita makan malam di luar?” Bagi Stephanie hanya sebuah permintaan biasa sekadar mengisi perut, tetapi menurut Dylan ini kencan. Gadisnya ingin berkencan dengan berkedok makan malam.
“Ok, kita makan malam.” Dylan menyerahkan, pakaian bersih dan mendorong gadisnya masuk kamar mandi. Sementara ia bersiap, sangat rapi seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.
**
__ADS_1
Dylan melirik tempat yang dikunjungi, semua ulah Stephanie. Penampilannya sangat rapi dan menjadi perhatian dari pengunjung lain, tetapi gadisnya malah membawa ke area street food, dan ini hal baru bagi Dylan.
“Baby, dari sekian banyak restoran atau cafe kenapa kita ke sini? Berisik dan terbuka.” Keluh Dylan kembali melapangkan dada seluas-luasnya, dengan sikap Stephanie.
“Oh ya ampun, Daddy makanan di sini enak dan murah meriah, Aku beberapa kali ke sini, mereka semua ramah. Masih ada banyak area yang harus kita kunjungi, aku jamin sangat menyenangkan.” Ucap Stephanie sembari mengunyah makanan.
Benar-benar gadis luar biasa, di saat yang lain menginginkan kemewahan serta mencari kenyamanan. Sangat berbeda dari Stephanie, ia memberi pengalaman baru bagi Dylan.
Selama berkencan dengan banyak wanita, Dylan selalu mendapat perlakuan istimewa dan dipuja layaknya seorang raja. Tapi sekarang, tidak ada kata pujian sama sekali.
“Kamu sering ke sini? Dengan siapa Baby?” Dylan cemburu, ia tidak terima berada di tempat sama dengan pria lain, mungkin saja kekasih sugar baby-nya duduk di kursi yang ia gunakan.
“Oh ... terkadang sendiri, lebih banyak bersama teman atau oma.” Jawaban Stephanie melegakan Dylan, bisa menghirup napas lega dan tertawa. Tidak ragu lagi menikmati hidangan yang tersaji di depannya.
Tiba-tiba gadis bermata biru ini tertawa melihat Dylan, pmakan seperti anak kecil, terdapat noda saus di sudut bibir serta pipi.
“Daddy, sangat lucu. Aku tidak tahu kalau pria dewasa bisa makan berantakan.” Stephanie mengambil tissue dan membersihkan noda di wajah Dylan.
Sedangkan pria ini tercengang, menahan tangan gadisnya lalu mengecup punggung tangan Stephanie. “Terima kasih Baby”.
“Ya sama-sama, malam ini boleh aku yang menjadi pemandu wisata? Kita naik skuter mengelilingi kota.”
“Apa? Oh tidak, itu melelahkan Baby. Lebih baik menggunakan mobil.” Tolak Dylan, mana mungkin ia berkeringat malam hari dan terpapar udara bebas.
“Ayolah Daddy, aku mohon. Ya sekali ini saja, besok aku akan patuh, janji. Selama bukan macam-macam.” Menjentikkan dua jari sebagai tanda kesepakatan.
Dylan tidak bisa menolak semua sikap menggemaskan gadisnya, ia pun menganggukkan kepala dan tersenyum.
Keduanya keluar dari area street food, berjalan sembari bergandengan tangan, menikmati suasana Kota di San Francisco yang sangat ramai.
__ADS_1
Stephanie dan Dylan tidak menyadari ada seseorang yang mengamati dari jarak sangat dekat, bahkan mengambil banyak gambar kebersamaan mereka.
TBC