
Sepasang suami istri itu akhirnya tiba di hotel, tanpa buang waktu Dylan menggendong Stephanie ala bridal, penuh semangat melangkah masuk ke bagian dalam hotel.
“Kamu ternyata masih kuat, aku pikir usia tua sudah tidak bisa membawa beban berat lagi.” Kelakar Stephanie sengaja menggoda suaminya. Tentu saja ia tahu Dylan memiliki stamina yang bagus, sebab pernah melihat suaminya ini melawan anak buah Jacob Graham.
Untuk masalah Jacob Graham juga Chloe, sementara pasangan ini enggan memikirkan apapun, apalagi Kaylin yang masih melarikan diri, entah kemana perginya wanita itu, yang jelas Stephanie masih memiliki dendam pada Kaylin.
“Baby, kamu tidak boleh menganggap suamimu ini lemah, aku buktikan sebentar lagi.” Dylan menyeringai, ia tidak sabar membuka pintu kamar.
“Eh tapi aku belum siap, Dylan apa kita bisa melakukanya besok, jangan sekarang. Aku … aku takut.” Panik Stephanie, membayangkan hal tidak-tidak.
Setelah pintu kamar terbuka Dylan bergegas masuk, merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang, tak mau buang waktu langsung menyambar bibir seksi yang selalu menggoda nalurinya sebagai pria.
Rupanya keahlian sebagai casanova terpakai, dengan cepat setiap helai yang menutupi tubuh istrinya terhempas ke segala arah.
Dylan melepas pagutannya memandang penuh damba akan pahatan indah yang ada di depan matanya, tak mengulur waktu Dylan melakukannya secara perlahan, tapi beberapa detik kemudian. Kuku tajam berhias nail art menancap di punggung kekar Dylan Manassero.
Kamar hotel luas ini dipenuhi oleh suara jerit kesakitan dari insan yang hendak melebur menjadi satu.
Stephanie merasa tidak nyaman pada bagian tubuhnya, sakit dan nyeri juga rasa lain bercampur menjadi satu. Sedangkan Dylan, karena kuku panjang itu menusuk kulit punggungnya mungkin juga menimbulkan luka.
“Baby kamu ini bagaimana? Punggungku sakit.” Ucap Dylan meringis, bagian tubuh dan atasnya sama-sama berdenyut sakit.
__ADS_1
“Kalau begitu lepaskan, aku tidak mau. Lepas sekarang juga.” Teriak gadis yang sebentar lagi nyaris menjadi seorang istri seutuhnya.
“Mana mungkin sayang, aku tidak akan mengakhirinya, belum juga dimulai.” Protes Dylan.
Akhirnya merelakan kulit punggung penuh cakaran kuku Stephanie, dan setelah selesai mencapai titik puncak keduanya sama-sama lemas, bukan karena permainan tapi menahan sakit.
“Maaf Baby, aku janji kedua kalinya tidak sakit sama sekali, bagaimana?” bujuk Dylan menghapus peluh di kening sang istri.
“Kamu janji ya? Aku tidak mau kesakitan lagi Dylan, bila perlu untuk hamil kita gunakan cara yang lain, mungkin bisa ke dokter.” Ide gila Putri Sulung Adam Bradley ini.
“WHAT?” pekik Dylan mendengar ide konyol dan aneh sang istri. Pria ini langsung merubah posisi dari tiduran menjadi duduk. Menatap tajam wanita yang baru dua hari menjadi pasangan sehidup semati.
“Baby aku ini pria normal, singkirkan ide konyolmu itu. Cara alami lebih baik, apa-apaan kamu ini.” Kesal Dylan yang langsung mengungkung tubuh polos wanitanya.
Demi apapun Dylan tidak akan mau melakukan hal itu kecuali ada kondisi kesehatan yang memang membutuhkannya.
.
.
Dua bulan berlalu
__ADS_1
Dylan dan Stephanie terpaksa hidup berjauhan, menjalani pernikahan jarak jauh bukan hal mudah, apalagi pasangan pengantin baru.
Satu bulan sekali Dylan mengunjungi istrinya, sengaja meluangkan waktu demi tercapainya misi utama yaitu membuat wanitanya segara hamil.
Stephanie bukan tanpa alasan tidak mengikuti Dylan, ini semua karena dirinya masih menjalani kuliah strata dua, terpaksa Dylan berkorban.
Tidak mungkin hanya demi cinta, membuat apa yang telah dijalani Stephanie selama lebih dari dua tahun harus kandas. Setidaknya mereka hanya menunggu kurang dari enam bulan, sebab dalam masa penyusunan tugas akhir.
Dylan selalu menjemput istrinya di Universitas, kali ini tidak ada yang berani menggoda atau menawarkan diri sebagai sugar baby, semua tahu siapa Dylan Manassero, yaitu suami dari Stephanie Adaline Bradley.
“Sayang, aku di sini.” Panggil Dylan, melambaikan satu tangan melihat istrinya berjalan di area parkir.
“Dylan?” Tawa Stephanie, ia senang suaminya bisa datang menjemput padahal pagi tadi Papa Adam memintanya ikut ke kantor, menggantikan meeting bersama investor penting.
“Aku datang kan? Kamu jangan khawatir sekarang Papa lebih baik dibanding sebelumnya.” Ucap Dylan sangat bangga, ia menggerakkan bakatnya sebagai pimpinan utama Manassero Corp.
“Wah … suamiku memang hebat.” Puji Stephanie merangkul bahu suaminya. Belakangan ini lebih senang berada di dekat Dylan, bahkan ketika pria itu berada di Madrid harus tersambung dalam panggilan video lebih dari sepuluh kali.
“Ayo kita pulang sayang, atau kamu mau kemana? Membeli sesuatu?” tawar Dylan, mendengar dari adik iparnya bahwa Stephanie sering menginginkan makanan aneh yang tidak mudah di dapatkan.
“Tentu, aku mau asinan.” Teriaknya wanita bermanik biru ini.
__ADS_1
Keduanya pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kota hujan.
TBC