
BAB 32
“Tentu saja harus mau, aku adalah pria paling tepat untukmu sayang.” Dylan tidak henti menggoda kekasih barunya. Menyenangkan bisa bersama, dan melihat wajah kesal Stephanie.
Wanita itu cemberut, ia yakin Dylan akan mengurungnya dengan peraturan yang banyak selain itu pasti tidak berani menemui papanya. Sebab Papa Adam tidak ingin anaknya menikah dengan pilihan sendiri, sebagai putri dari seorang pengusaha besar sudah bukan rahasia lagi bahwa jodoh ada di tangan kedua orangtua. Dia pun tidak menolak dijodohkan dengan siapapun, pasti pilihan papanya yang terbaik.
“Aku tidak mau terkurung bersama pria overprotektif sepertimu, huh menyebalkan.” Ketus Stephanie, membuang muka ke sisi lain. Menghentak tangannya hingga tautan dengan Dylan terlepas.
“Apa maksudnya itu, baby? Bukti apalagi yang harus aku berikan?” tanya Dylan, tidak puas ia menepikan mobil dan menunggu jawaban dari kekasihnya. “Kenapa kamu tidak mau menjadi istriku? Apa ada yang salah, di mana?” Dylan akan mencoba memperbaiki semua, ia tidak mau kehilangan lagi.
“Aku tidak suka terkurung dalam istanamu, aku itu suka kebebasan, bukan peliharaan yang harus tetap diam di dalam rumah. Kamu itu selalu melarang, kalau keluar pasti menempatkan pengawal di mana-mana, aku tidak nyaman.” Ucap Stephanie menggebu-gebu, mengekspresikan apa yang selama ini mengganggunya.
“Aku tidak bisa diam diri dalam rumah hanya menunggu suami pulang, atau duduk bersantai minum teh dan menonton serial. Dylan, aku itu perempuan yang menyukai kebebasan, aku bisa gila jika terpenjara di kehidupan mewahmu.” Ungkap Stephanie terus terang, baginya cinta bisa datang perlahan tetapi jika prinsip dan pandangan sudah beda, maka tidak ada yang perlu di diskusikan lagi.
Berbanding terbalik dengan Dylan yang sangat menginginkan seorang istri penurut, selalu diam di rumah menunggunya pulang. Istri yang tidak berkeliaran di luar apalagi bertemu pria lain, karena Dylan pencemburu.
Sejenak pria itu diam, mencerna semua keinginan kekasihnya. Sikap Stephanie sangat tidak sesuai dengan wanita idaman, tetapi wanita itu mampu mengalihkan dunianya.
Dylan merasa tertantang mendapatkan cinta Stephanie, karena perasaan sangat besar, maka dia berusaha menerima semua perbedaan yang ada.
__ADS_1
“Aku bisa menerima semua itu, kamu bebas kemanapun, selama tidak melupakan tanggung jawabmu sebagai istri. Semua bisa kita bicarakan baik-baik, pasti ada solusi dari semua masalah, benar kan?” Dylan bersikeras. Dia yakin hubungan yang diawali dengan baik pasti berakhir membahagiakan. Apapun demi Stephanie akan dilakukan, selama mereka bisa bersama.
Stephanie masih tampak ragu dan menimbang-nimbang semua. Menjalin hubungan ke arah serius bukan perkara mudah, ia juga tidak mengenal latar belakang Dylan dengan baik. Tapi tidak ada salahnya mencoba kan? Ingin tahu sejauh mana kesungguhan seorang Dylan Manassero untuk meluluhkan hatinya.
Ehem
“Apa masalahmu dengan Chloe sudah selesai? Aku tidak mau menjalin hubungan dengan pria yang masih terikat masa lalu, itu sangat tidak baik untuk kehidupan kita ke depannya.” Terang Stephanie, ia trauma tiba-tiba wanita muncul mengatakan hamil dan membawa bukti nyata, untung semua rekayasa.
Benar-benar menyeramkan wanita seperti itu, nekat melakukan trik murahan demi menjerat pria.
Dylan mengangguk cepat, menjawab pertanyaan kekasih barunya. Bahkan Chloe saat ini dalam perjalanan pulang ke Madrid. Dylan meminta kepada ayahnya untuk mengirim mantan tunangannya itu pulang. Tuan Besar memerintahkan beberapa pengawal mengantar Chloe pulang.
“Sudah, aku pastikan itu. Bagaimana sekarang kita pacaran kan?” tanya Dylan, selalu tersenyum. “Ayolah baby, aku menunggumu lebih dari tiga tahun, dan sampai sekarang aku masih mencintaimu sayang.”Ungkap Dylan penuh perasaan, kedua bola matanya memancarkan ketulusan dan kejujuran.
“Kau tidak ingat sama sekali baby? Ya ampun, bagiku itu momen mendebarkan karena untuk pertama kalinya seorang wanita muda berani memarahi pria tampan dan idola sepertiku.” Ucap Dylan sangat percaya diri, menepuk dada bidangnya.
“Aku tidak ingat apapun, di mana kita bertemu? Kapan? Wajahmu saja asing.” Sanggah Stephanie, tidak mempercayai semua omong kosong Dylan.
Mantan casanova ini mulai menceritakan awal mula pertemuan mereka, di sebuah hotel masih di kota yang sama New York, memang memiliki kenangan tersendiri bagi Dylan.
__ADS_1
Saat itu ia tengah membaca laporan keuangan yang diberikan oleh Han, memang salahnya membaca di tengah jalan, tetapi kedua mata dan telinga masih fokus melihat jalan. Tiba-tiba seorang gadis cantik menubruk tubuh Dylan sangat keras, sampai ia membentur dinding dan nyaris saja ponsel mahal berisi laporan penting itu jatuh.
Masih tetap memperhatikan benda mahalnya, Dylan memaki dan memarahi gadis ceroboh di depannya. Tapi sial dia berani membentak balik seorang Dylan yang penuh pesona, bahkan dari kedua mata biru lautnya memancarkan rasa kesal terhadap Dylan.
Dylan selesai bercerita, bibirnya mengukir senyum, untuk pertama kalinya hati pria ini mampu bergetar luar biasa, namun sayang identitas Stephanie tidak ia ketahui. Ditambah melihatnya bersama pria lain yang lebih muda, dan perasaan Dylan saat itu layu sebelum tumbuh.
Stephanie melongo mendengar semua penuturan Dylan, ia tidak percaya sama sekali, tapi otaknya membawa kenangan beberapa tahun lalu. Memang benar ia pernah menabrak seorang pria pemarah yang tidak melihat jalan. Tapi sayang lupa seperti apa wajahnya.
“Seandainya aku mencarimu, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi baby.” Tukas Dylan, menyesali ketidakmampuannya mencari gadis yang mampu mencuri perhatian bahkan jiwanya.
“Oh ya, pria yang mencium pipiku itu dia Stefan, adikku. Kami memang bepergian kemanapun, beberapa tahun lalu dia sekolah di sini tapi sekarang sudah lulus dan membantu Papa. mantan kekasihku hanya Calvin, tidak ada lagi.” Stephanie memberi penjelasan kepada Dylan agar tidak salah paham.
“Benarkah dia adikmu? Argh ... seharusnya, malam itu kita langsung berkencan.” Ucap Dylan langsung melaju kembali dengan mobil menuju suatu tempat.
“Hey mau kemana? Ingat ya aku baru keluar dari rumah sakit, semua ini ulahmu, seenaknya saja memberi obat tidur, huh.” Stephanie menggerutu mengingatkan bahwa sakitnya ini akibat Dylan, dan ia ingin istirahat bukan jalan-jalan.
“Ok maaf sayang. Besok kita berkencan, bagaimana? Anggap saja perayaan pertama untuk hubungan ini.” Ajak Dylan, tidak mengingat kalau usianya sudah menginjak tiga puluh lima tahun.
“Besok aku kuliah, apa kamu lupa masa hukuman dari Universitas telah selesai. Bagaiman kalau pulangnya? Mungkin aku bisa minta jemput.” Ide Stephanie tentu saja diterima oleh Dylan, apapun kesempatannya tidak akan ia sia-siakan.
__ADS_1
“Ok, dan satu lagi besok aku yang mengantarmu, jangan pergi sendiri. Aku takut ada pria lain menggoda pacarku.” Sikap posesif Dylan kembali terlihat, padahal beberapa menit yang lalu menegaskan ingin berubah.
TBC