
Hari kedua di lewati Dylan dan Stephanie sangat sibuk. Bagaimana tidak keduanya dipaksa menyambut tamu dari keluarga besar, mereka yang tidak hadir di pesta dadakan itu datang hari ini. Sebab keluarga besar Bradley banyak menetap Inggris, hingga membutuhkan waktu tiba di Jakarta.
“Oh God, apa ini rencana dari Tuan Adam? Benar-benar mertua yang tidak bisa melihat menantunya bahagia.” Gerutu Dylan dalam hati. Ia tidak tahan lagi harus menunggu sampai kapan tidak jelas, sebagai pasangan yang baru menikah tentu ingin menghabiskan waktu berdua, menikmati indahnya momen bulan madu, tapi nyatanya Dylan Manassero harus mengubur harapan itu jauh-jauh.
Malam pertama pernikahannya saja berujung naas, selain menghabiskan waktu sampai dini hari bersama anggota keluarga, Dylan pun tidak mendapati Stephanie dalam kamar pengantin. Akhirnya ia tidur sendirian bersama kelopak bunga mawar yang berserakan di atas ranjang pengantin.
Ternyata istrinya itu tidur di kamar sebelah, jadi ini murni sengaja. Mertua dan keluarga lainnya memisahkan sepasang suami istri ini.
Kenapa Dylan tahu?
Ketika ia membuka pintu kamar, bertepatan dengan Stephanie yang juga menutup pintu ruang tidurnya.
Wanita itu menekuk wajah, tidak senang akan keberadaan Dylan. Bisa-bisanya melewati malam sendirian di dalam kamar tanpa kabar apapun, pesan singkat pun tidak ada, benar-benar keterlaluan Dylan, begitulah kesalnya Stephanie.
Keduanya curiga kenapa kamar mereka bisa bersisian, setelah di periksa ternyata memang ada dua kamar pengantin. Keduanya mengkonfirmasi, Stephanie dan Dylan geram, rencana Papa Adam sangat tidak lucu.
“Hei kalian jangan diam saja, sapa semua tamu. Pengantin tidak boleh malas, tahu tidak?” seru Papa Adam sengaja membuat anak dan menantunya kesal. Entah terlintas dari mana semua ide itu, yang jelas Papa Adam puas melihat pasangan di depannya tidak berselera mengikuti pesta keluarga.
“Dylan … maafkan Papa ya. Tidak biasanya dia jahil seperti itu, tapi kalau kejam aku akui memang itulah Papa.” Jelas Stephanie merasa sungkan dan kasihan kepada suami dadakannya.
“Bukan masalah Baby, mungkin hanya kemarin malam saja. Aku pastikan malam ini menjadi milik kita berdua.” Bisik Dylan penuh arti. Lalu mencium daun telinga istrinya, dan membisikan sesuatu.
__ADS_1
“Aku ingin memiliki banyak anak bersamamu sayang.” Ungkap isi hati Dylan, membuat wanita yang duduk di sisinya seketika meremang.
Tapi kebersamaan Stephanie dan suaminya tidak berlangsung lama, sebelum istrinya itu menjawab, Papa Adam lebih dulu menarik Dylan untuk memperkenalkan keluarga Manassero dengannya.
Dylan dan Stephanie kembali menjadi korban dari para orangtua mereka yang menahan untuk menghabiskan waktu berdua.
“Mulutku sampai pegal, memperkenalkan mereka satu persatu.” Keluh Dylan dalam toilet sembari mencuci tangan. Tiba-tiba dalam benaknya terlintas sesuatu, iya hal yang sedikit nekat tapi memang sudah haknya.
Dylan mengirim pesan kepada Stephanie untuk menunggu di luar hotel, ia pun meminjam salah satu kendaraan milik sepupu istrinya.
Tanpa sepengetahuan Papa Adam, Dylan dan Stephanie pergi bulan madu, memesan tiket mendadak, begitupun dengan hotel. Tidak membawa pakaian satu helai pun untuk ganti di sana, karena kalau berkemas sudah pasti rencananya gagal total.
.
.
“Kenapa Papa dan Daddy mengundang begitu banyak tamu? Kamu tahu sayang tangan dan lidahku pegal, satu per satu saudara kita harus diajak bicara, bayangkan aja betapa lelahnya.” Adu Dylan, menginat pagi dan siang yang melelahkan.
Tamu yang hadir dari kedua keluarga besar tidak sedikit jumlahnya melainkan lebih dari seratus orang. Keluarga Bradley dan Manassero berbagi kebahagiaan bersama seluruh anggota keluarga. Apalagi Dylan sebagai anak tunggal, ayahnya benar-benar menyebarluaskan berita baik ini kepada kolega bisnis dan sepupu Dylan.
“Dylan tapi kita tidak bawa satu pun baju, kamu kenapa tidak memerintah Han untuk menyiapkannya?” Stephanie bingung, masa iya mereka tidur menggunakan pakaian yang sama, dan besok bagaimana? Apa tetap sama juga? Benar-benar mustahil.
__ADS_1
“Baby, lebih baik tanpa sehelai benang. Percuma membawa baju kalau sampai di sana kita hanya mengurung diri dalam kamar, seperti janjiku tidak akan melepaskanmu.” Seringai Dylan.
“Eh aku tidak mau. Apa-apaan itu sampai di sana hanya diam dalam kamar, kalau tahu begini aku memilih tidak ikut, huh.” Stephanie mengalihkan pandangannya dari Dylan, ia kesal bukan main karena Papa dan suaminya sama saja, ingin mengurung, tidak memberi kebebasan sedikit pun.
“Ok sayang kita keluar kamar, tapi lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, ya? Kamu tidak kasihan? Aku itu pria dewasa dan normal. Mana mungkin bisa menahan lebih lama lagi.” Jujur Dylan, betapa susahnya ia sebagai mantan casanova menahannya selama tiga tahun lebih.
“Umm … tapi aku takut.” Cicit Stephanie yang terlalu banyak membaca dan menonton film.
“Takut apa? Hamil? Ya ampun Baby, justru tujuan kita salah satunya itu, aku ingin kamu cepat mengandung. Usiaku setiap hari bertambah tua, bayangkan disaat rekan bisnisku yang lain sudah memiliki dua bahkan lima anak, aku baru menikah.” Ucap Dylan menggebu-gebu.
Jujur saja dia sering iri melihat beberapa kolega bisnis ketika meeting membawa anak bahkan istri mereka, setelah selesai bekerja bisa pergi ke taman bermain atau sekadar makan siang bersama.
Dan
Sebentar lagi Dylan Gervaso Manassero bisa mewujudkan semua itu.
“Aku mencintaimu Stephanie Adaline Bradley ah salah Stephanie Adaline Manassero, aku tidak sabar membawamu pulang ke mansion. Lebih tidak sabar lagi menunjukkan, kalau sekarang Dylan memiliki seorang bidadari hati.” Tawa Dylan membayangkan wajah beberapa rekan bisnisnya.
Terlebih Leonard mantan rivalnya, Dylan ingin memamerkan Stephanie, bahwa dirinya juga bisa mendapatkan wanita gang menjadi pujaan hati.
TBC
__ADS_1