
BAB 45
Stephanie berlari mengejar pria yang diyakini Dylan Manassero. Kotak jam masih ia pegang kuat, bukan maksud ingin mencegah Dylan pergi tetapi hanya ingin mengembalikan hadiah dari mantan kekasihnya itu. Dia tahu keuangan perusahaan keluarga Dylan tengah goyah, jadi tidak berhak menerima semua ini.
“Kenapa dia cepat sekali menghilangnya? Di mana Dylan?” Stephanie berlari ke kiri dan kanan mencari keberadaan mantan kekasihnya. Ia memutuskan kembali ke lobby mall dan meminta tolong petugas keamanan untuk mencari sopir yang siap mengantar detik ini juga.
Namun sayang, Papa Adam mencegah semuanya dan menarik paksa Stephanie masuk ke dalam mobil, membawa pulang putrinya, memastikan aman dalam mansion.
Melarang Stephanie keluar dari gerbang, gadis itu bagai Rapunzel yang terkurung di dalam menara tinggi. Tidak diizinkan keluar tanpa pengawasan ketat.
Jiwa Stephanie yang sangat menyukai dan menginginkan kebebasan tentu saja memberontak, mulai dari cara halus dan lembut dilakukan, sampai sedikit memaksa pun tidak membuahkan hasil.
“Pah, tidak bisa begini. Aku hanya mau mengembalikan jam tangan ini. Papa tahu? Perusahaannya sedang kesulitan, tapi dia masih tetap membeli untuk aku, Pah. Aku mohon sekali ini izinkan keluar. Hanya satu jam.” Negosiasi yang sangat alot bahkan keduanya sakit kepala mendengar ocehan masing-masing.
“Dengar Stevi, Papa tidak mau kejadian menyeramkan seperti kemarin terulang lagi. Pakai otak kamu, cinta boleh tapi jangan b0d0h.” Tukas Papa Adam. Tidak habis pikir putrinya bisa menyukai seorang Dylan, jelas sekali pria itu memiliki sifat yang buruk.
__ADS_1
“Jangan cari dia lagi Stephanie. Papa akan mengenalkan kamu ke salah satu anak rekan bisnis Papa, mereka jauh lebih muda daripada dia. Kamu jangan khawatir, bila perlu sepuluh pria Papa bawa kesini dan kamu pilih sendiri. Selama itu bukan Dylan, Papa rasa tidak masalah.” Ujar Papa Adam begitu berapi-api.
Sampai kapanpun tidak akan melepas dan merelakan putrinya untuk seorang casanova.
“Maksud Papa, apa? Aku ini hanya berteman Pah, aku peduli dengannya. Asal Papa tahu, selama aku menjalani hukuman, hanya Dylan yang bersedia menemani, bahkan dia tidak hanya mengeluarkan uang dalam jumlah banyak tapi mengorbankan waktunya juga.” Stephanie yang kesal, menghentakkan kaki berjalan menjauhi Papa Adam, bergegas masuk kamar.
“Hey Stephanie jangan berbuat nekat, semua ini aku lakukan demi kebaikanmu juga, dan dia berbuat itu karena ada maunya, jangan percaya semua kalimat yang keluar dari bibir pria itu.” Teriak Papa Adam menggema dalam mansion, putrinya sangat keras kepala, benar-benar menuruni sifatnya.
“Terserah Papa sajalah, Papa itu memangnya langsung menikah dan punya anak? Apa dia tidak pernah muda?” gerutu gadis bermata biru laut ini. Niatnya baik mau mengembalikan jam tangan mahal ini, karena dengan nominal uang sebesar itu bisa membayar berapa puluh karyawan.
Stephanie berhenti di depan pintu kamar, ia tidak jadi membuka handel pintu karena ada hal yang lebih penting, yatu perjodohan, demi apapun dia tidak ingin menikah muda.
“Pah tunggu, aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun, aku belum siap.” Stephanie memutar tubuh dan kali ini benar-benar masuk ke kamar, mengunci pintu dengan sandi yang telah dirubahnya.
Ia menghempaskan tubuh ke atas ranjang, menghalangi kedua mata dengan lengan kanannya, samar-samar Stephanie mendengar Dylan memanggil namanya, suara lembut yang menjadi candu seorang Stephanie.
__ADS_1
“Baby, tunggu aku.”
Sontak Stephanie duduk, memeriksa sudut kamar mencari sumber suara. Sayangnya tidak ada, hanya suara hati Dylan berputar-putar dalam kepala dan sangat mengganggu.
“Dylan?” panggil Stephanie, membuka pintu balkon melirik ke bawah, ia takut seperti di serial online, di mana pemeran utama pria menunggu kekasihnya sembari memegang payung atau rela basah kuyup diguyur hujan.
Namun itu semua hanya ilusi, kenyataannya tidak ada siapapun di area lantai satu kecuali petugas keamanan mansion, selain itu mana mungkin Dylan bisa menembus pagar kokoh menjulang tinggi.
Satu lagi, cuaca malam ini terang, di langit begitu banyak bintang bertebaran, jadi tidak mungkin Dylan menunggu dalam keadaan basah di bawah dinginnya hujan.
“Huh, terlalu banyak menonton film.” Ucap Stephanie sangat kecewa.
TBC
**
__ADS_1
selamat sahur🤗