
BAB 11
Chloe merusak semua barang dalam kamar, emosi semakin memuncak. Jawaban Dylan tidak memuaskan rasa penasarannya.
Menjerit, berteriak bahkan mengambil pecahan vas bunga, pergelangan tangan mungilnya teriris tipis.
Gagal sudah rencana Dylan untuk lepas dari kejenuhan, karena pria itu membawa Chloe ke rumah sakit. Bukan hal baru melihat tunangannya mencoba bunuh diri ketika bertengkar, senjata ampuh seorang Chloe Martinez untuk menjerat Dylan.
“Kamu jahat.” Lirih Chloe terisak pilu memiringkan tubuh, enggan melihat wajah tampan Dylan, namun jemarinya masih saling terpaut satu sama lain.
“Chloe, hey jangan seperti ini. Kamu menyakiti diri sendiri tidak merubah apapun, kamu harus sayang pada tubuhmu ini, tolonglah Chloe.” Dylan membelai rambut pirang tunangannya.
Segumpal daging dalam dada semakin bingung, di satu sisi ia tidak bisa meninggalkan Chloe namun seluruh hati serta raganya menginginkan Stephanie seorang.
Terpaksa malam ini juga Dylan mengantar tunangannya pulang ke Madrid, percuma saja walaupun wanita itu ikut dalam hotel. Pasti akan tetap mencari Dylan, mengacaukan semua pertemuannya dengan relasi yang lain.
Sepanjang penerbangan Chloe bersandar pada dada bidang dan memeluk erat Dylan. Tidak melepaskan satu detik pun, padahal wanita ini tengah terlelap tidur.
Dylan membuka ponsel, menggulir layar, wajah cantik dan menggemaskan Stephanie terbayang, tingkahnya yang selalu menolak semua permintaan Dylan, memberi kesan tersendiri.
“Aku kangen kamu Baby, maaf malam ini aku ingkar.” Lirih Dylan dalam hati, menutup ponselnya dan membelai puncak kepala Chloe.
**
New York
Stephanie menempati penthouse baru, Dylan begitu memanjakannya bagai ratu. Semua keperluan wanita telah tersedia, sandang, pangan, papan tercukupi dengan baik. Satu unit mobil serta sopir, Dylan persiapkan.
Penthouse ini bahkan kental suasana seorang perempuan, dalam waktu singkat Dylan merubahnya menjadi hunian yang nyaman.
Sampai titik ini Stephanie merasa terkesan, ia tidak pernah mendapat perhatian dan hadiah dari seorang pria. Ditambah kekuasaan yang Dylan miliki menambah mudah segalanya.
__ADS_1
“Apa semewah ini kehidupan seorang sugar baby?” Stephanie tak henti menelisik setiap sudut ruangan.
Berjalan memasuki kamar dan membuka setiap pintu, lalu beralih ke dapur, seorang asisten mendampinginya.
“Wow”
Takjub Stephanie, Dylan sampai memperhatikan pada bagian terkecil. Membuatnya semakin banyak menumpuk hutang, ia berharap pria itu tidak meminta imbalan lebih.
“Pantas Kaylin sangat betah menjadi sugar baby. Hidupnya terjamin.” Cibir gadis bermata biru laut ini.
“Maafkan aku Chloe, ini terpaksa. Aku janji, tidak akan merebut kekasihmu itu.” Teguh Stephanie, duduk di mini bar sembari menatap keindahan kota dari ketinggian.
Mendadak ponselnya bergetar, satu pesan Dylan diterima, lantas segera membukanya.
‘Baby, beberapa hari ini aku sibuk. Jangan hubungi aku, Han akan membantumu. Jaga diri baik-baik Baby.’
Stephanie berdecak sebal usai membaca pesan, begini kah para pria, mengatasnamakan kesibukan padahal tengah bersama wanita lain. Sungguh luar biasa, dan sangat hebat seorang Dylan berbohong.
Apa dia lupa siang ini Stephanie melihat semua yang dilakukannya bersama Chloe?
.
.
Usai membersihkan diri, ia mengendap keluar penthouse, tidak ada seorang pun mengetahuinya, termasuk maid dan Asisten Han.
Ada sesuatu yang perlu ia selesaikan malam ini, yaitu membayar hutang pada Jacob Graham.
Putri sulung Adam Bradley mengunjungi bar milik Jacob. Ia sempat memandang rendah dan jijik pada tempat ini. Lalu masuk ke dalam didampingi dua orang pria bertubuh besar.
“Wow, Stephanie ... masih berani kau datang? Aku pikir kabur, dan dengan senang hati aku akan mencarimu. Sekarang mana uangnya? Kau ingin terbebas dari ini semua kan? Atau hanya memohon maaf karena tidak bisa membayar hutang temanmu itu?” Jacob tertawa, merendahkan harga diri Stephanie.
__ADS_1
Lelaki bertubuh besar itu bangkit dan mendekat, mencengkram dagu lancip Stephanie. Menyeringai nakal memperhatikan seluruh tubuh wanita di hadapannya.
“Uang yang kau inginkan aku kirim sekarang juga, dan menjauhlah dari kehidupanku, Tuan Graham.” Stephanie mengambil ponsel menyerahkannya pada Jacob untuk menulis nomor akunnya.
Secepat kilat mengirim uang sesuai nominal perjanjian, berakhir sudah ikatan antara dirinya dan Jacob. Namun bagi pria pemilik bar terbesar ini, masalahnya dengan Stephanie masih tetap ada.
Jacob tertarik secara personal dan menginginkannya, menjamin bahwa gadis ini akan menjadi milik seorang Jacob Graham secepatnya.
“Bagaimana kalau menggantikan posisi Kaylin? Jadilah wanitaku, ku berikan semua untukmu, termasuk hatiku. Bagaimana sayang?” lancang Jacob memegang lengan Stephanie, sedikit memberi tekanan.
“LEPAS, aku mau pulang. Ingat Tuan Graham, aku tidak segan melaporkanmu pada polisi jika mengusik kehidupanku.” Ancam Stephanie, dalam matanya berkilat kebencian. Beberapa pria bertubuh besar menghadang pergerakan dan menghalangi jalan keluar.
“Tenang sayang. Aku tidak akan menjadikanmu simpanan. Bagaimana jika besok kita menikah? Kau harus menjadi milikku.” Jacob terus mendekat, tidak dipungkiri Stephanie dalam keadaan takut. Pria ini licik, bisa menggunakan cara apapun guna mendapatkan keinginannya.
“Gila, anda gila. Aku akan teriak jika anda tidak mau melepaskan-ku, menjauhlah. Masalah kita telah selesai Tuan Graham.” Sentak Stephanie. Berusaha melepaskan diri dari kedua pengawal yang memegang erat tangannya.
“Teriaklah sayang. Tidak akan ada yang mendengar, kamu lupa siapa aku? Ayolah sayang, ku tawarkan semuanya tapi dengan mudah menolak. Ingat kesempatan tidak datang dua kali.” Jacob mendekati Stephanie, menghirup aroma harum rambut wanita incarannya.
Kemudian sedikit membungkukkan tubuh, tepat di telinga berbisik sesuatu sangat menggelikan.
“Aku akan menunggumu Nyonya Graham, kamu akan bertekuk lutut padaku. Ingat itu.” Jacob sengaja menghembuskan napasnya, hingga hangat dan aroma mint menyentuh pipi Stephanie.
Jacob melepaskan Stephanie, ia tidak mau wanita ini ketakutan sebelum waktunya. Bahkan tidak segan memerintah beberapa orang untuk mengawasi kegiatan Stephanie, dan menjaganya dari pria lain.
Lelaki bertubuh tegap dan gagah ini mulai terobsesi, menginginkan lebih tidak hanya sekadar debitur dan kreditur.
Di mata Jacob, Stephanie tampak berbeda, tidak sama dengan wanita lain yang pernah ia kencani, termasuk Kaylin, wanita licik dengan mudah melakukan penipuan padanya.
Setelah Jacob menawarkan kesetiaan dan pernikahan, dengan mudah Kaylin menerima sampai proses persiapan berjalan nyaris 100% tapi tiba-tiba membawa kabur uang Jacob. Menjual unit apartemen, menghilang berbulan-bulan. Setelah bertemu menawarkan gadis pengganti untuk membayar hutangnya, benar-benar licik.
Stephanie keluar dari bar, bisa bernapas lega. Sebab satu masalah beratnya telah usai, hutang Kaylin lunas. Kini tinggal satu yaitu menjalani kehidupan sebagai sugar baby yang baik bagi Dylan Manassero.
__ADS_1
“Tidak lama Stephanie hanya satu bulan, itu artinya dua puluh delapan hari lagi.”
TBC