
BAB 7
Tangan Stephanie meraih benda tipis yang tergeletak di atas karpet. Menggeser kotak kayu karena sedikit menghalangi.
Kartu berwarna hitam itu bertuliskan nama Dylan Gervaso Manassero. Tanpa banyak berpikir tahu kartu apa ini, karena dia pernah memilikinya, sebelum semua fasilitas dicabut oleh Papa Adam.
“Ceroboh sekali meninggalkan benda berharga seperti ini.” Gumam Stephanie, menyimpan benda itu di atas nakas dan bergegas membuka pintu karena bel cukup mengganggu.
Sejujurnya sedikit kaget karena ia tidak memesan layanan kamar, tapi sarapan diantar ke ruangan, tidak hanya itu lengkap dengan bunga mawar merah. Sempat menduga salah kirim, tetapi pihak hotel jelas mengatakan bahwa nomor kamar serta penerima atas nama Stephanie Adaline.
“Ternyata pria itu sangat manis memperlakukan wanita. Tapi maaf aku tidak tergoda, jangan pikir dengan memberikan semua ini, aku luluh begitu saja dan menyerahkan segalanya, ck. Tidak akan.” Stephanie melempar bouquet bunga ke atas sofa, sesuatu terjatuh dari dalamnya, secarik kertas.
Satu tangan memegang roti isi dan satu lagi ia gunakan mengambil kertas kecil, penasaran apa isinya.
‘Baby, gunakan kartu itu untuk keperluan mu. Kamu bebas menggunakannya. See You Baby.’
Sempat ternganga usai membaca pesan Dylan, ia tidak menyangka sugar daddy-nya sangat royal. Padahal uang $500 ribu dolar telah masuk ke akunnya, sekarang masih bisa memberikan kartu tanpa limit, sungguh luar biasa.
“Terima kasih Daddy, tapi maaf aku tidak membutuhkannya. Aku tidak mau semakin terikat denganmu, nanti hutangku semakin banyak. Huh, aku pasti mengembalikan uangmu tapi setelah Papa memberiku izin akses keuangan.” Stephanie menarik napas, menyimpan black card pemberian Dylan dalam tasnya.
Usai sarapan, gegas membersihkan diri. Memeriksa seluruh tubuh, khawatir pria yang semalam tidur dengannya melakukan sesuatu. Stephanie memutar tubuh depan cermin, dan hasilnya mulus tidak ada apapun tercetak di kulitnya.
“Aman”
Stephanie keluar kamar mandi, seketika mematung, ia lupa tidak membawa pakaian ganti dan parahnya semua pakaian telah basah termasuk bagian dalam.
“Akh bagaimana ini? Tidak mungkin keluar kamar memakai handuk.” Merutuki kebodohannya.
Tidak sampai satu menit kebingungan, suara bel kamar kembali terdengar. Stephanie mengambil sepatu, siap memukul siapapun di balik pintu, sangat khawatir jika yang masuk Dylan Manassero.
Tapi lebih dulu mengintip dari celah kecil, hatinya sedikit tenang melihat seorang petugas wanita di depan sana.
“Mungkin aku bisa minta tolong padanya membeli pakaian. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang Stephanie, bodoh sekali.”
Memegang handle pintu dan membuka perlahan, berjaga-jaga dari sesuatu yang tidak diinginkan.
__ADS_1
“Nona Stephanie, maaf mengganggu waktunya. Tuan Dylan memerintahkan saya mengantar ini.” Petugas itu menunjukkan goodie bag yang dipegang.
“ Oh terima kasih.”
Stephanie penasaran, mengintip sekilas isi kantung. Apakah sesuai pikirannya atau tidak.
Luar biasa, Dylan mengirimkan sesuatu yang sangat ia butuhkan. Satu set pakaian lengkap, ada rasa senang sekaligus cemas. Pria itu bisa mengetahui semua ukuran Stephanie.
Tidak mungkin kan Dylan mengukurnya tadi malam? Stephanie sendiri membuka mata sampai pukul empat pagi.
Ia memegang kedua benda miliknya di depan, kedua manik birunya terbelalak membayangkan hal di luar nalar.
“Tidak. Tidak mungkin, aku tidak melakukan apapun dengannya.” Stephanie panik dalam kamar, sampai memutuskan mencari tahu jawaban apa yang ingin diketahuinya pada internet.
Tidak puas mendapatkan jawaban Stephanie putus asa, ia pun berniat mengunjungi rumah sakit dan bertemu dokter kandungan. Berharap tidak terendus oleh kedua orangtuanya, bisa sangat bahaya.
“Ya ya, aku harus tanyakan pada ahlinya.”
Segera melekatkan pakaian, dan meninggalkan kamar.
“Pagi Nona Stephanie, saya sopir pribadi Tuan Muda Manassero, mulai hari ini menjadi sopir, Nona.”
“Hah? Aku?” Stephanie menelisik penampilan serta bagian dalam mobil, selalu waspada di manapun. Takut ini jebakan Kaylin atau Jacob. Namun semua terbantahkan setelah ia mendapat telepon dari sugar daddy-nya.
“Halo? Ada apa?”
“Baby , mulai sekarang dan seterusnya kamu diantar oleh sopir, jangan menolak, ingat kamu adalah gadisku. Sampai ketemu nanti malam baby, miss you”
“Nanti malam bertemu lagi? Miss you too, Daddy.”
Lidah dan bibir seakan keriting mengucap itu semua. Stephanie memanfaatkan fasilitas kendaraan yang diberikan Dylan, tidak ada waktu memesan taksi karena jadwal perkuliahan dimulai kurang dari tiga puluh menit lagi.
Tiba di Universitas, semua memandang biasa pada Stephanie. Bukan hal aneh gadis arogan itu menggunakan mobil dan pakaian mewah, karena sebelumnya pun Stephanie kerap menghamburkan uang.
Berjalan percaya diri memasuki area kelas, mengangkat dagu dan menatap jengah pada wanita di depannya. Bara permusuhan terlihat sengat pada kedua mata matanya, Kaylin tertawa tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
“Ck, gadis menjijikan. Awas kau Kaylin.“ Dendam telah menguasai Stephanie, ternyata di dunia ini tidak ada kawan hanya lawan bertebaran di mana-mana.
“Hi Stephanie. Masih memiliki muka datang ke Universitas? Hah, kau itu tidak tahu malu ya. Apa kau berhasil memuaskan Tuan Graham?” tanya Kaylin, menahan langkah Putri Adam Bradley.
“Kau ... aku tidak habis pikir, Kaylin seorang Ratu Kecantikan melakukan hal murahan, percuma kau belajar tapi otakmu tidak bisa berfungsi dengan baik.” Telak Stephanie, membungkam mulut berbisa Kaylin.
“Jaga mulutmu Stephanie, aku ini wanita terpelajar. Tidak ada yang percaya pada semua omong kosongmu.” Desis Kaylin hendak melayangkan pukulan pada rivalnya namun Stephanie sigap menahan pergelangan tangan Kaylin.
Mendorong keras raga itu sampai membentur kerasnya paving blok. Kaylin tidak terima, menarik kaki Stephanie, keduanya terlibat pertengkaran. Adu kekuatan antar wanita hingga puluhan mahasiswa menonton dan memilih kubu mereka masing-masing. Pasalnya dua wanita tercantik di Universitas tengah bertarung.
“Aku tidak akan melepaskanmu Stephanie, awas kau.”
“Ku pastikan kamu merasakan akibat dari semua ulahmu Kaylin.”
Saling menarik rambut dan mencakar adalah ciri khas pertengkaran dua perempuan ini, memukul satu sama lain dengan tas.
“Awww, kuku ku. Arrggh kamu merusaknya Stephanie.” Pekik Kaylin, baru saja ia menghias dengan nail art, patah sudah dan sakit menjalar pada jari-jari tangan.
“Arrgh rambutku rontok. Kurang ajar kamu Kay. Kamu tidak tahu kan mahalnya perawatan rambutku? Rasakan ini.”
Stephanie menarik kuat rambut pirang itu hingga beberapa helai tercabut sampai akar.
“BERHENTI”
Petugas keamanan datang, menertibkan keduanya. Bukan hal aneh, mereka selalu bertengkar dua tahun ini.
Stephanie dan Kaylin di giring masuk ruang Ketua Program Studi. Masing-masing dijatuhi hukuman skors selama dua minggu, alhasil tidak bisa mengikuti ujian dan terpaksa mengulang semester depan.
“Semua ini karena kamu Kay.” Stephanie menunduk, ia semakin sesak mendengar ketua bicara dengan kedua orangtuanya.
Berakibat fatal bagi Stephanie karena Papa Adam tidak lagi memberi fasilitas, ia pun harus menempati apartemen sederhana yang akan disiapkan. Tanpa pelayan dan uang bulanan, semakin susah hidupnya.
Kaylin tertawa dalama hati, puas melihat rivalnya menderita. Tidak sia-sia, kepala, pipi dan kuku terasa perih, ternyata lawannya mendapat hukuman lebih menyakitkan.
...TBC...
__ADS_1