My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 17 - Tidak Cocok


__ADS_3

BAB 17


Beberapa hari menikmati liburan di Kota San Francisco dan San Diego, lalu menikmati pemandangan pegunungan serta tebing batu. Akhirnya Dylan dan Stephanie kembali pulang ke New York. Pekerjaan tidak bisa ditinggalkan. Apalagi Dylan mengemban tugas cukup berat, mencari relasi dan investor baru.


Keduanya hidup dalam satu atap, di kamar yang sama, selalu tidur dalam keadaan memeluk satu sama lain. Ketika Dylan telah nyenyak, Stephanie keluar kamar dan memejamkan mata di sofa, tapi selalu kembali ke kamar karena Dylan menggendong sugar baby-nya. Ia tidak mau tidur sendirian, tersisa dua minggu lagi sebelum kontrak itu habis, dan mungkin Stephanie menghilang.


“Jangan keluar kamar lagi baby, tetaplah tidur di sampingku.” Dylan mengecup kening Stephanie dan membawanya ke dalam pelukan, memberi belaian lembut sepanjang punggung gadisnya. Sangat candu mencium aroma tubuh yang menenangkan, ia harap hubungannya tetap baik bersama Stephanie.


Pagi ini Dylan harus mengikuti pertemuan dari pagi sampai malam, kegiatannya sangat padat, sampai Han mempersiapkan semua kebutuhan Dylan.


“Baby, kamu mau kemana hari ini? Jangan keluar apartemen sendiri, minta sopir mengantar kemanapun, aku tidak mau kejadian beberapa hari lalu terulang lagi. Pelakunya belum diketahui, jadi kamu tidak boleh sembarang keluar.” Tegas Dylan, satu tangannya menggulung rambut Stephanie dan menghirup dalam, sebagai mood booster di pagi hari.


“Ya ampun, kau tenang saja, aku ini sudah besar bisa menjaga diri. Daddy tidak perlu cemas, aku mau pergi kemanapun rasanya bukan urusan Daddy, ini kehidupan pribadiku. Aku juga sama tidak peduli Daddy melakukan apa di luar sana.” Ketus Stephanie, sikap Dylan berubah menjadi sangat menyebalkan sejak kejadian itu.


Lebih overprotektif dan mengurung dirinya dalam penthouse. Tentu saja ini bukan gaya seorang Stephanie, ia adalah gadis muda yang mandiri dan senang kebebasan.


“Jangan membantah Baby, menurutlah. Aku ingin kau patuh.” Dylan menatap lekat wajah gadis yang sedang menikmati sarapan, dengan wajah tertekuk. “Aku hanya ingin memberi yang terbaik untukmu.” Alasan Dylan tidak masuk akal bagi Stephanie.


“Ck, ayolah Dad. Kita ini hanya terikat secara kontrak, ingat itu seharusnya tidak mencampuri kehidupan masing-masing, kenapa aku seperti cosplay menjadi seorang istri? ah yang benar saja, aku tidak mau menikah denganmu.” Telak Stephanie tanpa perasaan, membuat Dylan terpaksa menelan ludah.


Pahit sekali rasanya, wanita yang ia puja menolak mentah bahkan sebelum Dylan berjuang telah di tembak mati. Tapi tidak semudah itu, seorang keturunan Manassero tak akan menyerah sebelum mendapatkan sesuai keinginannya.


“Anggap saja benar Baby, berlatih menjadi istriku bukan hal buruk kan? Mungkin kau harus membiasakan diri, karena aku sangat menyukai wanita penurut dan menunggu suaminya pulang bekerja daripada berkeliaran tidak jelas di luar.” Dylan mengutarakan isi hati, berharap gadisnya berubah menjadi lebih manis dan jinak.

__ADS_1


Stephanie meneguk jus, dan menyandar, lalu merapikan anak rambut yang menghalangi kedua mata indahnya. Menarik napas sebelum menyampaikan sanggahan, karena Dylan menuntut banyak darinya.


“Daddy, aku ini sugar baby-mu. Bukan istrimu, aku menyukai kebebasan. Carilah wanita yang sesuai dengan keinginanmu, karena aku tidak cocok menjadi istri Daddy. Lagipula menikah itu harus atas dasar cinta bukan keterpaksaan, aku tidak mau ah.” Stephanie kembali mengiris panekuk di atas piring, menghabiskan sarapan agara energinya terisi penuh.


Dylan tahu Stephanie tidak tertarik padanya, tapi apa kebersamaan selama ini tidak membuat getaran baru di hati gadisnya?


“Ok Daddy, aku mau keluar mencari hiburan. Terima kasih sarapannya.” Stephanie bangkit dari duduknya dan menyambar tas kecil yang telah ia siapkan di sisi kursi kosong.


Kehidupan di bawah bayang-bayang pria posesif sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya. Cukup hanya satu bulan saja, dan Stephanie jera menjalani rutinitas seperti ini.


“Hei baby jangan pergi, aku melarangmu.” Panggil Dylan.


“Aku tidak peduli, see you Daddy.” Gadis ini berjalan tanpa melirik ke ke belakang.


Dengan cepat Dylan, meraih lengan dan membawa Stephanie duduk di pangkuannya. Memberi sentuhan lembut pada pipi, hidung dan bibir.


“Katakan, apa sama sekali tidak ada perasaan untukku?” paksa Dylan, bahkan mengeratkan rangkulannya sampai jarak diantara mereka hanya tersisa beberapa senti.


“Tidak ada, aku tidak pernah mencintai siapapun, hanya diriku sendiri yang aku cintai. Karena aku sangat berharga.” Jawab Stephanie tanpa memutus kontak mata, pertanyaan Dylan benar-benar omong kosong.


Sudah jelas pria ini memiliki tunangan, masih mengharapkan cinta dari wanita lain. Menurut Stephanie, Dylan adalah pria br3n9s3k yang tidak layak mendapat cinta perempuan manapun.


“Tapi aku menginginkan cintamu, baby. Aku sangat berharap bisa memilikimu seutuhnya.” Dylan menahan tengkuk Stephanie, memagut kasar bibir seksi gadisnya, tidak akan ia lepas. Bila perlu membatalkan kegiatan hari ini, mengunci diri bersama Stephanie jauh lebih menyenangkan.

__ADS_1


Stephanie yang tidak terima, mendorong kuat dada Dylan, tapi bukannya terlepas malah semakin dalam pria itu menikmati bibirnya, sampai keduanya terbaring di atas sofa.


Dylan melepas sebentar tautan bibir mereka, menghirup napas sebanyak-banyaknya. “Aku akan membuatmu jadi milikku baby.” Dylan kembali mendekat tapi Stephanie lebih dulu membuang muka.


“Aku tidak mau, kita hanya kontrak tidak lebih. Lagipula dengan cara apa Dady memaksaku? Tidak masuk akal.” Menurut Stephanie, sikap Dylan semakin lama selalu ingin menguasainya, seolah tidak peduli dengan apa yang dirasakan orang lain.


“Well, mungkin bercinta adalah pilihan paling baik. Ku buat kau mengandung benihku, agar kita bisa menikah secepatnya. Aku buktikan itu Stephanie.” Ucapan Dylan tidak main-main, bahkan melempar tas gadisnya ke atas lantai, lalu membuka ikat pinggang dan resleting celana.


“Hey, kau gila ya? Tidak akan. Menyingkir dari tubuhku.” Teriak Stephanie, sembari menutupi bagian d-ada-nya, menjauhkan dari jangkauan Dylan.


“Kau milikku Stephanie, apapun itu. Aku akan meninggalkan Chloe dan kita hidup bersama, bahagia sampai menua” Dylan mulai melancarkan aksi. Mengecup leher jenjang yang harum dan sedikit memberi tanda di sana.


Tapi Stephanie tidak diam saja, ia menggunakan satu kaki untuk memandang milik Dylan yang masih terkurung di balik kain.


BUGH


Stephanie melarikan diri, memanfaatkan kesempatan.


“Argggh Baby, k-kenapa kau. Argh Baby, kembali jangan pergi.” Teriak Dylan, terus memegangi organ tubuh kebanggaannya. Mengerang kesakitan, tidak sanggup mengejar gadis yang saat ini berdiri di ambang pintu keluar.


“Pria macam apa yang akan meninggalkan wanitanya lalu hidup bersama wanita baru, aku benci pria seperti itu. Aku tidak mau bernasib sial dan mendapat hukuman dikemudian hari, menikahlah dengan Chloe, aku rasa dia sesuai kriteriamu, selamat tinggal Daddy.” Stephanie berjalan keluar, menutup pintu, tidak memedulikan Dylan sama sekali.


“Apa katanya? Selamat tinggal? Apa yang akan dia lakukan? Aaarrghh ini sakit sekali, dia menendangnya sangat kuat, aku harus melakukan pemeriksaan, jangan sampai terjadi sesuatu padanya. Kalau sudah merasakannya pasti wanita itu tidak akan berani menendangnya lagi.” Dylan khawatir berlebihan, sampai tidak berapa lama Han datang menolong Tuannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2