My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 21 - Tidak Pernah Berubah


__ADS_3

BAB 21


Madrid


“Dylan, akhirnya kamu pulang. Huh, kamu tidak tahu ya aku tidak bisa tidur, hari ini menginap di Mansion Martinez kan?” Chloe bergelayut manja di lengan tunangannya. Perempuan cantik ini bahagia Dylan bisa memenuhi janji dan membuktikan ucapannya.


“Aku harus menemui Daddy, sekarang pulanglah Chloe, besok kita terapi.” Dylan melenggang begitu saja, tanpa mengecup kening tunangannya.


“Ck, kamu melupakan sesuatu. Ternyata benar, aku pikir semua bohong. Keterlaluan kamu Dylan.” Desis Chloe Martinez, menatap nyalang kepada tunangannya. Kuku panjang Chloe ingin sekali menancap pada wajah gadis yang berhasil mencuri perhatian Dylan.


Wanita ini enggan pergi dari Mansion Manassero, ia ingin menghabiskan malam bersama tunangannya. Tidak peduli Dylan suka atau tidak, yang jelas Chloe lebih berhak atas Dylan dibanding wanita mur4h4n dalam foto.


“Aku kekasihnya, aku tunangannya, aku calon istrinya, tidak ada yang bisa merebut Dylan. Dia milikku sampai mati. Kalau aku tidak bisa memiliki Dylan, jangan harap wanita si4l4n itu atau siapa saja bisa bersamanya. Lihat saja kalian berdua, berani bermain di belakangku.” Chloe menatap tajam, memperhatikan Dylan yang tengah menaiki tangga dan menyapa maid.


“Awas kau Dylan, aku tidak bodoh. Sebaiknya ucapkan selamat tinggal kepada gadis ******* itu. Di sini aku Ratunya, dan hanya aku yang berhak mendapatkan hatimu Dylan.” Chloe tidak bisa menahan amarah, tiba-tiba dirinya menjerit kuat di tengah ruangan.


“AAAAAKKKKHH.” Urat malu perempuan cantik bak model ini sudah terputus, tidak lagi mengenal apa itu menjaga harga diri.


Para maid menghampiri Chloe, bahkan Dylan tidak jadi bertemu ayahnya. Suara seorang wanita sangat mengganggu telinga siapapun. Sudah pasti tunangannya membuat ulah, seluruh penghuni mansion tidak terkejut sebab bukan pertama kali Chloe teriak.


“Apa Nona sakit? Nona membutuhkan sesuatu? Mari kami antar ke kamar tamu.” Beberapa orang maid menunduk hormat pada calon Nyonya Muda Manassero.


Bukannya menjawab satu atau dua patah kata, melainkan membuang muka dengan angkuh. Kalau sudah begini tidak ada yang lain kecuali Dylan turun tangan secara langsung menangani tunangannya.


“Chloe? Kenapa belum pulang? Apa sopirmu pulang, kalau begitu aku minta sopir lain mengantar.” Tukas Dylan berjalan mendekat, dan ya sesuai keinginan Chloe, memancing prianya datang.

__ADS_1


“Aku mau menginap di sini, tidak mau pulang, untuk apa pulang? Bukankah sebentar lagi kita menikah? Aku mau membiasakan diri di mansion ini. Apalagi di kamarmu sayang.” Jemari lentik Chloe menjalar, menyentuh titik sensitif pria. Ia tidak pernah jera walaupun selalu gagal mendapatkan keinginannya.


“Lepas Chloe, kamu tidak boleh kelelahan, tidak baik bagi kesehatanmu. Atau mau aku antar pulang?” Lebih baik Dylan menawarkan diri daripada ia harus melewati hari ini dengan tunangannya.


“Tidak mau, aku hanya ingin tidur denganmu sayang.” Chloe membuka satu persatu kancing kemeja Dylan.


Beruntunglah Tuan Besar Manassero menghampiri keduanya. Dylan terkejut setengah mati, langsung mengancingkan semua bahkan tidak berurutan, beberapa kancing terpasang menyilang. Semoga ayahnya tidak berpikir macam-macam yang menyebabkan pernikahan Chloe dengannya dimajukan.


Tuan Besar memijat pangkal hidung yang tidak gatal, melihat sepasang kekasih di depannya menggelitik, mengingat masa muda yang penuh gairah. Sejujurnya sangat menginginkan Dylan menikah secepatnya, tetapi beberapa projects perlu penanganan khusus, sedangkan Chloe tidak bisa jauh dari putranya. Menjalankan pekerjaan ini tidak memiliki waktu santai kecuali hari minggu, itupun kalau tidak ada masalah.


“Calon menantuku Chloe Martinez, kau ingin menginap di sini? Aku akan memerintahkan maid merapikan kamar, anggap saja mansion mu, kalau memerlukan sesuatu panggil saja mereka, bagaimana?” Tawaran Tuan Besar Manassero sangat menyenangkan dan Chloe memanfaatkan keadaan. Dia bahkan tidak segan merangkul lengan Dylan, berjinjit lalu mengecup pipi dengan janggut tipis itu.


“Oh God. Apa yang Daddy lakukan? Sama saja membunuhku secara perlahan. Orangtuaku ini sangat tidak pengertian.” Keluh Dylan dalam hati. Padahal mantan casanova berniat melihat aktifitas Stephanie melalui rekam CCTV.


“Boleh kah kamu menemani aku tidur? Hanya sampai aku tidur, aku janji tidak akan melakukan apapun Dylan, mau ya?” Chloe mengeluarkan jurus manja dengan suara memelas dan tatapan yang tidak bisa ditolak, padahal wanita ini berjiwa lebih mengerikan dari rubah.


“Tidak bisa Chloe, aku dan Daddy akan membahas pekerjaan selama di New York.” Tolak Dylan bahkan tidak menoleh sama sekali, terlalu muak.


Chloe merajuk, menekuk wajah, bibirnya cemberut dan bulir bening menetes di pipinya. Mungkin jika orang lain yang melihat dapat dipastikan semua salah Dylan, menilainya sebagai pria tak berperasaan.


“Sudahlah , lagipula hanya duduk diam menemani Chloe, bukan melakukan sesuatu.” Tuan Manassero malah memberi akses pada calon menantunya.


Terpaksa Dylan mengikuti semua keinginan tunangannya, bahkan Chloe ingin tidur sembari memeluk Dylan. Demi apapun pria ini bukan pengasuh bayi yang harus menemani sampai terlelap dalam tidur.


Berulang kali Dylan turun dari atas ranjang tetapi Chloe menahan tangannya beralasan masih tetap terjaga. Tidak hanya itu, wanita ini tidak mau diam, membuat sisi pria Dylan terbangun dari tidur.

__ADS_1


“Tidak, jangan Dylan, kau sudah berjanji tidak akan menyentuh wanita manapun.” Tegas Dylan dalam hati.


“Chloe tidurlah, aku memiliki banyak pekerjaan, apa kamu mau Daddy semakin lama menunda pernikahan kita? Begitu kah? Kalau projects ini tidak selesai kamu mau menunggu dua sampai tiga tahun lagi?” Dylan tidak bisa menahan emosi, dan tunangannya menangis sesenggukan.


“Pergilah, aku tidak mau menjadi pengganggu. Semoga pekerjaan memang alasannya, bukan karena wanita lain, apalagi yang berani menyerahkan tubuhnya dnegan sukarela.” Chloe mendorong Dylan keluar kamar tamu.


Dylan masuk  kamar Tuan Besar, bukan menyampaikan hasil pertemuan di New York melainkan bentuk protes atas semua tindakan ayahnya.


“Daddy? Aku ingin memutuskan pertunangan dengan Chloe, dia masih tidak berubah. Aku ini pria dewasa yang normal, ingin menikah dengan wanita normal bukan seperti Chloe, sifatnya itu tidak pernah bisa menyesuaikan.” Tegas Dylan, mencoba untuk kesekian kali, semoga berhasil dan ayahnya luluh.


“Tidak bisa, kau lupa semua kebaikan Tuan Martinez? Kalau tidak ada dia, mungkin aku sudah meninggal saat kau kecil. Perusahaan pun berhasil melewati masa krisis karena tangan dingin Tuan Martinez. Lihat sekarang, mansion, mobil, pesawat bahkan uang semua bisa kau nikmati itu berkat ayah dari tunanganmu."


Tuan Besar Manassero berdiri, memegang kuat kedua bahu Dylan, mengguncang keras. Bahwa anaknya tidak penting memikirkan perasaan, prioritas utama adalah perusahaan dan terbalasnya hutang budi keluarga.


TBC


Hola ini visual Dylan




Stephanie


__ADS_1


__ADS_2