
BAB 35
Tertawa bersama sembari menikmati keindahan matahari terbenam. Saling bertukar cerita masa kecil yang menyenangkan. Rupanya memiliki kesamaan satu sama lain, Dylan kecil dan muda tidak senang dengan segala peraturan yang ada hingga membuat Tuan Besar marah serta pusing menghadapi tingkah putranya.
Sebelas dua belas dengan sikap Stephanie saat ini, berulang kali mendapat peringatan dari Universitas untuk tidak bertindak kasar, tetap saja tak membuat jera.
“Tapi kamu harus berubah Baby, kamu akan menyesal setelah lulus. Seharusnya menikmati masa kuliah tanpa skors dan hukuman lainnya. Aku tidak menyangka seorang wanita juga bisa memiliki sikap seperti itu?” Dylan menggelengkan kepala, ia tidak berani membayangkan bagaimana gadisnya yang tamak anggun dan cantik ini melarikan diri, dengan memanjat pagar.
“Semua tuntutan keadaan, benar kan? Makanya aku berani nekat.” Stephanie menunjukkan deret gigi putih bersih dan rapinya.
Setelah puas menikmati lembayung senja, Dylan membawa gadisnya menuju NYC Times Square. Dia tidak ingin kegiatan kencannya berakhir begitu saja, malam ini harus memiliki kenangan indah sebagai sepasang kekasih.
“Kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang ke penthouse. Kamu tidak lupa kan?” Stephanie mengamati jalan yang semakin ramai.
“Tentu saja kencan, kita habiskan malam ini berdua sayang. Jujur aku baru pertama kali melakukan pacaran seperti ini, ternyata menyenangkan.” Dylan tertawa renyah, satu tangannya bahkan mengacak rambut Stephanie.
“Hey rambutku, jangan bawa aku ke tempat yang aneh ya Daddy.” Stephanie cemberut dan membuang muka ke sisi lain.
“Jangan panggil aku Daddy, kita tidak lagi terikat perjanjian, benar kan? Sekarang kita resmi sebagai sepasang kekasih. Lagipula kamu bukan sugar baby yang baik, selalu melawan. Apa-apaan itu, seharusnya menuruti semua perintahku.” Gerutu Dylan, mengingat bahwa gadisnya tidak pernah patuh sama sekali. Malah lebih sering bertengkar karena perbedaan pendapat.
“Maaf, lagipula aku sudah bilang kalau ini pertama kalinya, aku juga melakukan itu karena terpaksa, gara-gara Kaylin. Ah masalah degan Chloe, membuat aku melupakan dendam." Keluh Stephanie menyandarkan kepala, terbuai dalam belaian lembutnya tangan kekar Dylan.
“Kalau Kaylin tidak menjebakmu ya kita pasti hanya orang asing yang tidak saling mengenal. Sudahlah sayang mungkin ini takdir yang harus kamu jalani sampai akhirnya jatuh ke pelukanku.” Dylan benar-benar percaya diri mengucapkannya, ia tidak memperhatikan perubahan raut wajah Stephanie yang menjadi monster menakutkan.
“Jadi kamu senang di atas penderitaan orang lain, mengambil keuntungan dari kemalangan yang menimpa seorang gadis, benar-benar jahat. Huh, keterlaluan.” Bukannya senang kencan kali ini tidak berjalan mulus bagi Dylan.
Akhirnya sepasang kekasih itu tiba di Times Square, Dylan memarkir kendaraan cukup jauh sebab area parkir sudah penuh dari ujung jalan.
Pria ini menggandeng paksa tangan pacarnya, karena Stephanie marah, ingin pulang ke penthouse tapi tidak bisa.
__ADS_1
“Sudahlah sayang, jangan cemberut seperti ini, kamu mau kita jadi pusat perhatian orang-orang? Jangan sampai aku dituduh menyakiti seorang gadis.” Ucap Dylan yang tidak ingin kencannya gagal. “Malam ini aku yang traktir, bagaimana?” bujuk Dylan.
Tapi gadisnya hanya diam tanpa menjawab, masih tetap cemberut bahkan malas mengikuti langkah kaki pria matang ini.
“Ok baiklah, aku pesan taksi untuk mengantar Nona pulang. Mungkin harus mencari wanita lain, kira-kira siapa diantara teman kuliah mu yang bisa menemani pria kesepian seperti aku ini?” Dylan mengeluarkan beberapa lebar kartu nama, sontak kedua mata Stephanie melebar melihat apa yang dipegang oleh kekasihnya.
“Kamu? Awas saja kalau berani. Berikan semuanya, cepat.” Pinta Stephanie menengadahkan sebelah tangan, menatap tajam dan intimidasi kepada Dylan.
Justru yang dilakukan oleh pria itu sebaliknya, menyembunyikan semua kartu nama di balik saku jas, dan menutup rapat menghindar dari jangkauan Stephanie.
Dylan berjalan mendahului gadisnya, sengaja dilakukan untuk menggoda sekaligus ingin tahu sejauh mana perasaan Stephanie terhadap Dylan.
“Pulanglah sayang, aku ada teman untuk malam ini, sampai jumpa di kamar.” Teriak Dylan sangat tidak tahu malu , bahkan membuat banyak orang melihat ke arah Stephanie.
“Ish benar-benar keterlaluan pria tua itu. Awas kau ya.” Stephanie berlari, menyusul Dylan, menghadang kekasihnya, membuka paksa jas yang melekat erat.
“Santai sayang, aku hanya milikmu. Kamu ini liar sekali ya.” Dylan tertawa melihat Stephanie mencari semua kartu nama.
Sekarang giliran Dylan yang tertawa menang, lagi-lagi berhasil membuat gadisnya cemburu. Memang indah kalau jatuh cinta, masalah berat yang menimpanya kemarin seketika hilang berganti bahagia.
“Sayang tunggu, jangan jalan terlalu cepat.” Dylan mengejar Stephanie yang berbaur menjadi satu bersama orang-orang.
Stephanie membawa Dylan menuju street food, berjalan kaki melihat keramaian kota yang selalu beraktivitas selama dua puluh empat jam ini.
Keduanya pun baru kembali ke apartemen setelah menghabiskan waktu berjalan kaki selama dua jam. Bahkan Dylan tidak sungkan menggendong gadisnya di punggung, karena kaki Stephanie mendadak kram.
“Kaki kamu masih sakit? Sebaiknya kita ke dokter.” Tukas Dylan memeriksa kaki gadisnya yang sedikit membengkak.
“Tidak perlu, istirahat sebentar cukup. Apa aku berat? Punggung kamu tidak sakit kan? Maaf ya merepotkan.” Stephanie menunduk lesu, terbayang bagaimana pegalnya punggung pria itu menggendong dari Towers Square menuju penthouse dengan jarak cukup jauh.
__ADS_1
“Bukan masalah sayang, apapun untuk mu. Kalau begitu bisa bantu aku sembuhkan punggung ini?” Tanya Dylan sekaligus perintah, ingin memanfaatkan situasi dan kondisi.
“Memang ada obatnya?” tanya Stephanie dengan polos, kali ini tidak menaruh curiga sedikitpun karena rasa bersalah terhadap Dylan.
Dylan membuka pakaian bagian atas, kemudian tidur di sisi Stephanie, menunjuk ke arah punggung yang terasa pegal.
“Mana obatnya?”
“Ada di tanganmu sayang, lakukan dengan baik kalau memang kasihan kepada kekasihmu ini.” Dylan menunjuk telapak tangan gadisnya dan melekatkan ke punggung.
Membelai sepanjang tulang punggung, meminta Stephanie untuk masuk ke dalam pelukannya.
“Kemarilah sayang.”
“Tidak mau, kamu ini selalu memanfaatkan situasi ya.” Geram Stephanie beranjak dari atas ranjang, tapi Dylan lebih gesit menahannya dan memeluk erat, seolah akan pergi jauh dan tidak lagi bertemu satu sama lain.
“Aku sesak napas, bisa longgar sedikit?” pinta Stephanie mendorong otot dada yang terpampang nyata di depannya.
“Maaf” lirih Dylan. Dalam hitungan detik terlelap dalam hangatnya memeluk Stephanie. Berada di dekat Stephanie membuat Dylan bisa tidur nyenyak tanpa minum obat tidur.
Sama halnya dengan Stephanie yang ikut pergi ke alam mimpi setelah memastikan kekasihnya nyaman, bahkan semakin menyusupkan kepala, menempel pada kulit dada Dylan.
Selama tujuh jam menutup mata, memulihkan tenaga setelah beraktifitas.
Gadis bermanik biru ini melenguh mulai membuka mata , namun bukan Dylan yang pertama kali ia lihat melainkan sisi kosong ranjang.
Stephanie meraba bagian itu, terasa dingin di telapak tangan, tertanda Dylan sudah lama terbangun dari tidur.
“Kemana dia?” suara serak Stephanie. Menelisik seisi kamar dan sepi.
__ADS_1
TBC