
BAB 8
Stephanie dan Kaylin dirujuk ke klinik Universitas untuk mendapat pengobatan. Luka goresan kuku tampak jelas di pipi Kaylin. Sementara Stephanie, leher jenjang lecet akibat tajamnya kuku yang menancap pada kulit.
“Ini semua karenamu. Kau itu memang pembuat onar Stephanie.” Tatapan Kaylin menghunus, menusuk tajam pada Stephanie.
“Dengar Kaylin, aku tidak akan memberi maaf. Kamu penyebab semua ini terjadi.” Geram Stephanie turun dari kursi bersiap menyerang rivalnya, sama dengan Kaylin sudah menggulung lengan kemeja.
Pertengkaran kembali terjadi dalam klinik, semua perawat dan dokter memisahkan dua gadis cantik ini, tetapi mereka menjadi korban dari cakaran kuku keduanya.
Stephanie dan Kaylin di usir dari Universitas, menyebabkan keributan yang mengganggu mahasiswa lain.
Tiba di area parkir. Kedua mata Kaylin tidak percaya melihat sesuatu di hadapannya. Seorang pria tampan turun dari mobil, penampilannya sangat apik dan menggiurkan jiwa. Membantu Stephanie dan memberikan perhatian penuh cinta.
Dylan mengerti situasi yang terjadi, ia langsung menuju Universitas setelah mendapat kabar dari sopir yang bertugas menunggu gadisnya selesai belajar. Terkejut karena Stephanie terlibat pertengkaran, menyebabkan kulitnya terluka dan memar.
“Ayo sayang, kita pergi dari sini.” Dylan merangkul bahu gadisnya, masuk ke dalam mobil dan menuju rumah sakit. Khawatir terjadi cidera parah pada wanita yang ia cintai.
“Terima kasih, sudah membantu. Sekarang tolong lepaskan tangan anda.” Tegas Stephanie kembali menolak.
“Ok, jadi gadisku ini memiliki masalah apa? Gadis itu yang menjebak? Kalian memperebutkan siapa? Ratu Kecantikan di Universitas, benar?” Dylan berani memastikan, keduanya terlibat masalah. Terlihat dari tatapan kebencian terpancar dan aura permusuhan kuat diantara mereka.
“Hem, Kaylin membuat hidupku berantakan. Aku akan membalas semua perbuatannya, dia akan menyesal.” Stephanie mengepalkan tangan dengan kuat sampai tubuhnya bergetar.
Namun dalam hati, Dylan mengucap terima kasih pada rival gadisnya. Sebab tanpa semua masalah itu, Stephanie tidak akan pernah datang kepadanya.
Sampai di rumah sakit, Stephanie melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Dylan sabar menunggu serangkaian proses yang memakan waktu beberapa jam.
Usai mendapatkan hasil, serta tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dylan membawa gadisnya pulang namun Stephanie urung, merasa perlu menemui dokter obgyn, untuk mengetahui semuanya.
__ADS_1
“Apa perutmu kram? Mungkin datang bulan.” terang Dylan tanpa tabu mengucapkan semua itu, dan terlihat sangat akrab dengan semuanya.
“Aku ingin bertemu dokter obgyn, sekarang. Om pulang saja, nanti aku menyusul.” Usir gadis bermanik biru laut ini.
“Tidak, kamu adalah tanggungjawab-ku baby. Katakan ada apa?” Dylan mendesak tanpa henti, baginya tidak masuk akal mengunjungi dokter kandungan tanpa alasan pasti.
Stephanie jinjit, menggapai telinga Dylan yang tinggi, ia tidak mau pertanyaan ini terdengar oleh siapapun. Baginya ini sangat penting, terkait masa kini dan yang akan datang. Ia tidak mau sampai terjadi hal-hal merugikan kemudian hari.
Reaksi berbeda ditunjukan pria tampan ini, tertawa terbahak-bahak sampai mendapat peringatan dari petugas keamanan rumah sakit. Dylan menarik lengan gadisnya masuk mobil. Jelas tindakannya semakin membuat amarah Stephanie memuncak.
“Oh yang benar saja Baby. Semalam kita hanya tidur bukan bercinta. Aku tidak mungkin melakukannya dengan mayat hidup.” Tukas Dylan melepas dasi dan kancing kemejanya.
“Apa maksudnya mayat hidup? Aku ini bukan mayat, aku masih hidup.” Berang Stephanie, harinya buruk sejak kemarin. Semakin lengkap penderitaannya kehilangan rumah, dan harus tinggal di apartemen entah dimana itu.
“Baby, dengar ... aku mungkin bukan pria baik, tapi aku akan menjagamu, mengerti? Satu lagi, jangan khawatir tentang semua itu. Aku tidak akan melakukannya sampai kamu sendiri yang meminta.” Dylan mengedipkan sebelah mata lalu meraih pipi gadisnya, membelai lembut lebam yang merusak penampilan Stephanie.
“Sakit. kenapa masih bertanya? Mana ada luka tapi tidak sakit? Aneh. Sakit dalam hati yang tidak terlihat saja sakit apalagi ini. Bisa-bisanya bertanya hal seperti itu.” Menghempas kasar tangan Dylan.
Dylan menggelengkan kepala, sikap macam apa yang diberikan gadisnya ini. Tapi entah kenapa Dylan sangat menyukainya, begitu menantang dan memberi kesan tersendiri.
Ponsel di saku bergetar, Asisten Han mendapatkan informasi mengenai Stephanie dan siapa keluarganya. Kalau saja dia tidak mencintai gadisnya pasti tidak akan memberi perhatian sebentar ini.
“Baby ayo makan es krim di sana, bisa meredakan suasana hatimu yang buruk.” Dylan menggenggam tangan lembut Stephanie.
“Ok, tapi traktir om. Aku tidak punya uang, jangan pelit berbagi.” Ucap gadisnya, bernada ketus, terus menarik tangannya tetapi Dylan urung melepaskan.
Tiba di salah satu gerai es krim, Stephanie turun lebih dulu memesan sat cup besar es berisi aneka toping.
Sementara Dylan duduk di salah satu kursi, memeriksa laporan yang masuk dalam surel. Bola mata bergerak cepat dari kiri ke kanan membaca satu per satu kata, keningnya semakin mengkerut saat mengetahui siapa gadis yang kini tengah mengatre membeli es krim.
__ADS_1
“Stephanie Adaline Bradley, rupanya dia salah satu pewaris dari GB Group. Luar biasa, pantas saja tingkahnya sangat berbeda dari semua wanita, dia memiliki segalanya.” Dylan menatap beberapa foto yang dikirim Han.
Gadisnya terbiasa hidup mewah, belakangan semua menghilang bagai ditelan bumi. Hanya satu lagi pertanyaan Dylan, tidak menemukan jawaban apapun.
“Ini Om es krimnya dan satu lagi aku lupa mengembalikan ini." Mengeluarkan black card dari salam tas.
“Ini untukmu Baby, pakai saja. Bahkan ketika kita tidak lagi bertemu ambil semua yang telah aku berikan.” Dylan menolak pengembalian dari gadisnya.
Dua orang itu terus saling dorong kartu, tanpa sadar es dalam cup mulai mencair.
”Terima baby.”
“Tidak mau, tidak bisa. Aku minta imbalan lain beberapa hari ini. Apa Om bisa?”
“Panggil aku Daddy bukan Om. Katakan apapun, semua aku turuti selama bukan perpisahan atau permohonan kabur.” Tegas Dylan.
“Aku memerlukan tempat tinggal, boleh menginap di kamar, Daddy? Aku janji tidak akan mengganggu.” Tatapan iba yang sangat Dylan sukai, gadisnya ini benar-benar bermuka dua, terkadang penurut dan sangat manis tetapi di sisi lain begitu liar.
“Tentu saja Baby. Jangankan kamar, jika kamu menginginkan hatiku, pasti aku beri. Jangan sungkan baby. Sebenarnya apa yang terjadi?”.
Jika terus seperti ini Dylan akan betah tinggal di New York ditemani gadisnya. Tapi semua mimpi yang sulit di gapai, ada dinding penghalang antara mereka.
“Hukumanku bertambah karena pagi ini bertengkar dengan Kaylin. Tidak boleh lagi tinggal di rumah dan ya tanpa uang jajan.” Keluh Stephanie berubah muram.
Dylan menyeringai, kesempatan emas yang tidak akan ia abaikan. Menjadi pahlawan bagi wanitanya adalah hal penting untuk memberi efek ketergantungan, hingga keberadaanya sangat dinantikan.
TBC
__ADS_1