
Setelah Dylan meminta bantuan dari rekannya, tidak diperlukan waktu lama untuk mengetahui keberadaan Kaylin. Malam hari Leonard mengirim pesan dan sejumlah bukti bahwa perempuan yang menjadi rival dari Stephanie saat ini berada di Jakarta, untuk posisi tepatnya sulit di lacak.
Sontak saja setelah mengetahui kabar buruk itu, Dylan Gervaso Manassero mempercepat jadwal keberangkatan ke Jakarta. Mengunjungi dan melindungi istri serta calon anaknya lebih penting dari apapun.
“Baby, tunggu aku.” Gusar Dylan dalam pesawat, seandainya dia memiliki kemampuan teleportasi pasti tidak akan cemas.
Walaupun menjabat sebagai presiden direktur Manassero Corp, Dylan tetaplah manusia biasa yang memiliki batas kemampuan, dan hal inilah yang menjadi kekhawatirannya sekarang.
Dylan menyandarkan kepala pada sandaran kursi, kepala bagian belakang rasanya pusing, melelahkan. Bayangkan sudah satu minggu ini tubuhnya kurang istirahat, menangani masalah bisnis dari Madrid – Barcelona dan kembali lagi ke Kota Madrid.
Sebagai pimpinan utama bukan berpangku tangan dan menerima semua pemasukan, tetapi dialah yang berperan mencari peluang ke luar, menjaga relasi dengan pihak kedua, ketiga bahkan investor. Berpikir strategi apa yang harus dikembangkan agar perusahaan tetap bertahan bahkan berkembang.
Isi kepalanya terlalu banyak berpikir sampai Dylan tanpa sadar terlelap sembari mendengar berita bursa saham.
Tidak lama kedua matanya terbuka lebar, tampak cahaya matahari menyilaukan penglihatan. Dylan tersenyum, dia melihat sosok wanita tengah berdiri di depan pintu pagar besar yang terbuka lebar. Ya saat ini Dylan tengah dalam mobil, tidak terasa perjalanan menuju mansion mertua secepat ini.
“Stephanie, hey aku merindukanmu.” Gumam Dylan, ia terus memperhatikan wajah cantik bak bidadari belahan jiwanya.
__ADS_1
Stephanie tampak cantik, menggunakan dress putih polos, perut menyembulnya sangat terlihat dari jarak jauh. Sungguh Dylan tidak sabar, anehnya kenapa kuda besi ini begitu berjalan lamban? Hati Dylan bertanya-tanya tapi bibirnya tidak bisa melayangkan protes apapun.
“Dylan cepat. Aku dan bayi kita kangen kamu.” Teriak Stephanie terdengar jelas dan sangat nyaring sampai ke telinga. Sungguh hal yang janggal dengan jarak cukup jauh, mobil ini juga kedap suara, kenapa suara istrinya bisa sejelas ini?
“Tunggu aku di sana Dylan. Aku jemput.” Ucap Stephanie tersenyum, melangkahkan kedua kaki, menjauh dari pintu pagar mansion, tapi seketika tubuh istri dari Dylan Gervaso Manassero itu terhempas beberapa meter.
“Tidaaaak baby. Stephanie.” Teriak Dylan dalam mobil.
Nyaring decit ban menusuk telinga, suara benturan benda pun luar biasa kerasnya. Wanita yang Dylan cintai sepenuh hati bahkan rela mempertaruhkan nyawa, kini terkapar di atas panasnya aspal yang disinari matahari.
Dylan meraih kepala yang terluka, pelipis, telinga, memutih tanda bergesekan dengan aspal, darah menetes dari hidung dan bibir wanitanya
“Tidak sayang, tidak. Baby jangan tinggalkan aku. Baby maafkan aku lalai menjagamu.” Tangis Dylan tak kuasa melihat kepedihan ini. Niat hati melindungi istrinya tapi apa yang terjadi? Gagal sudah sebagai seorang suami.
Stephanie tampak membuka mulut, ingin menyampaikan sesuatu, tapi begitu sulit mengeluarkan kata-kata. Dylan membungkuk, mendekatkan telinga ke bibit merah sang istri yang kini mengeluarkan darah.
“Dylan, maaf aku pergi. H-hiduplah dengan tenang.” Suara lemah Stephanie.
__ADS_1
“Tidak Baby jangan. Jangan tinggalkan aku.” Teriak Dylan sangat nyaring.
Pria ini tidak terima, dia langsung berdiri menatap tajam sosok wanita yang kini tengah tertawa puas dalam mobil. Dialah Kaylin, benar-benar lancang berani membunuh istri serta calon anaknya. Tak akan pernah Dylan beri ampun sedikitpun.
“Kau Kaylin, turunlah!” Dylan berusaha membuka pintu mobil itu, begitu kuat sebab terkunci dari dalam. Dengan kekuatan penuh pria ini memecahkan kaca samping mobil hingga hancur menjadi serpihan kecil.
Dylan menarik tubuh Kaylin hingga tersangkut pada bekas pecahan kata, mencengkram dagu Kaylin sengat erat.
“Aku bersumpah, akan membalas semua perbuatanmu Kaylin. Jangan harap bisa lolos.” Dylan menarik kuat rambut pirang Kaylin.
Saat ini pria mantan casanova berada di fase paling bawah dalam hidup, meraung-raung menangisi istrinya yang telah tiada.
“Tuan …Tuan Muda, anda kenapa?” tanya Han, suara ini begitu nyata tapi tak terlihat sosoknya sama sekali.
TBC
__ADS_1