
BAB 30
“Dylan, lepas. Apa-apaan kamu ini? Aku sehat kenapa harus ke rumah sakit?” Chloe menahan langkah kaki Dylan, memegang erat tangan kanan pria itu, kedua kakinya berpijak sangat kuat ke lantai rumah sakit.
Dylan langsung menarik paksa wanita yang mulai mencari masalah dengannya, seenaknya saja mengaku hamil, dan menuduh Dylan sebagai ayah dari janin yang dikandung.
Tidak masalah kalau Chloe benar hamil, tapi bukan dia pria yang menanam benih di rahim wanita itu. Dylan tidak pernah melakukan lebih dari sekedar berciuman dengan Chloe.
“Dylan berhenti, kamu menyakiti aku.” Chloe merapatkan gigi, menahan amarah yang mungkin saja bisa keluar dan meledak. Dia tidak mau merusak momennya bersama Dylan.
“Bukankah tadi kamu terbentur dalam lift? Tidak khawatir dengan kandunganmu, hah?” Dylan menatap tajam tunangannya yang terlihat kebingungan sekaligus berpikir keras. Kenal lebih dari tiga tahun, membuat Dylan hapal betul sikap Chloe, kapan ia berbohong, memiliki rencana licik, dan ketakutan.
“A-apa maksudmu Dylan?” Chloe menunjukkan deret gigi putih, merasa malu dengan tindakannya sendiri. Ia mengumpat dalam hati, kenapa bisa Dylan mengetahui trik kecilnya untuk mengusir Stephanie.
“Kamu hamil kan? Katakan dengan jelas dan siapa ayah dari bayi itu? Jawab Chloe!” Bentak Dylan, kata-katanya penuh penekanan.
Melihat tunangannya hanya berdiam diri, Dylan kembali berjalan memasuki area pendaftaran. Bila perlu Dylan ingin melakukan tes DNA hari ini juga.
Tanpa disangka suara bariton pria paruh baya memanggil Dylan dan Chloe.
“Dylan, Chloe. Siapa yang hamil?” Tuan Besar Manassero mengerutkan alis, wajahnya penuh tanda tanya. Ia yakin mendengar dari mulut putranya bahwa calon menantu tengah mengandung. Tidak dipungkiri rasa bahagia memenuhi rongga dada Tuan Besar.
Akhirnya diusia yang sudah sepuh dengan rambut putih menutupi kulit kepala, ia bisa menimang cucu lebih cepat. Itu artinya pernikahan harus digelar sebelum cucunya lahir ke dunia.
“Tidak, tidak ada yang hamil. Daddy salah dengar.” Hari yang sial menurut Dylan, belum selesai masalah yang satu sudah datang lagi. Tidak mungkin mereka bicara di lobby, Dylan meminta ayahnya menunggu di cafe tepat di samping rumah sakit.
“B-benar aku hamil. Anak Dylan.” Chloe tersenyum penuh kemenangan, tidak ada salahnya kan memanfaatkan situasi seperti ini. Chloe melepas paksa tangan Dylan, ia menyeringai, menantang tunangannya.
“Benarkah? Benar-benar luar biasa, sekarang kita periksa kandunganmu. Aku ingin melihat cucuku, sudah sebesar apa dia.” Tukas Tuan Besar, melangkah bahagia, tidak sabaran. Pria tua ini melupakan rasa marahnya kepada Dylan.
“Tapi aku lelah, ini sudah malam. Mungkin kita bisa kembali besok lagi.” Panik dan mencoba berpikir keras untuk melakukan sesuatu, sebab tidak mungkin memeriksa kandungan sekarang. Semua akan terbongkar, membuat kecewa calon mertuanya.
__ADS_1
Dylan menertawakan kebodohan Chloe, dia lupa kalau ketiganya tengah di rumah sakit. Mana mungkin Tuan Besar menyetujui pulang sebelum memeriksa kandungan Chloe. Tidak ragu lagi, pria ini berjalan pasti menuju pendaftaran.
Setelah mendapat nomor antrian, Dylan dan Chloe menunggu di depan ruang obgyn, sementara ayahnya sudah pergi ke cafe.
“Tamat riwayatmu Chloe Martinez.” Batin Dylan tidak sabar lagi menunggu nama mereka dipanggil.
“Ok Dylan dengar, aku mau kamu menunggu di luar. Jangan masuk, aku malu kalau orang lain tahu status kita belum menikah.” Alasan Chloe Martinez, degup jantungnya kini sangat cepat. Keringat dingin pun menjalar membasahi telapak tangan Chloe.
“Chloe biarkan saja semua tahu, bahkan jika media tahu juga bukan masalah. Bukannya bagus, hah? Itu artinya, pewaris Manassero akan segera lahir, benar kan?” sarkas Dylan, menepuk bahu tunangannya cukup kuat sampai terdorong ke depan.
**
Di sisi lain, Stephanie tengah memegang perutnya yang kelaparan. Dia melupakan waktu makan siang dan malam, semua karena Dylan juga Chloe.
Stephanie memutuskan pergi dari halte dan menuju street food untuk membeli beberapa jenis makanan. Tapi rasa nyeri di perutnya semakin terasa, melilit sampai tidak bisa lagi berjalan.
Terpaksa duduk untuk meredakan rasa nyeri. Kalau tahu seperti ini mungkin tidak menolak makanan yang diberikan Dylan.
Bergegas mencari toilet, karena tergesa-gesa membuatnya menabrak beberapa orang, lalu jatuh pingsan.
Beruntung dua pengawal, mengikuti. Langsung membawa gadis Tuan mereka ke rumah sakit terdekat.
Setibanya di rumah sakit, Stephanie menerima perawatan dari dokter. Infus terpasang di tangan, namun kedua netra masih terpejam rapat. Tidak kuat membuka mata, cahaya dari lampu tak membuatnya nyaman.
“Baby? Hey buka mata. Aku bawa makanan.” Suara lembut pria yang selalu mencari masalah dengannya.
Perlahan Stephanie membuka kedua mata, memijat pelipis sebelum melihat dengan jelas untuk memastikan siapa pria itu.
“Eung ...” Stephanie melenguh, mencoba duduk. Tetapi seseorang sigap membantunya, penuh perhatian dan menggenggam tangan lembut gadis ini.
“Dylan? Kamu di sini? Bukankah kalian tadi?” baru saja ia siuman dibuat bingung dengan kehadiran Dylan yang tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Sejenak berpikir mungkin semua hanya halusinasi, tapi kecupan di pipi terasa nyata dan janggut tipis itu benar-benar menempel di rahangnya.
“Ya ini aku. Makanlah Baby, kamu ini sangat memalukan, bisa-bisanya sakit karena kelaparan.” Cibir Dylan, sembari membuka kotak penutup makanan.
“Buka mulutmu, aku tidak menerima bantahan apapun.” Tegas Dylan, tak ingin mengalah untuk masalah kesehatan. Sengaja Dylan mencari makanan khas Asia untuk gadisnya, mungkin saja Stephanie merindukan makanan rumah.
Sementara gadis ini masih terus memperhatikan Dylan, tidak ada raut marah atau kebencian di dalam matanya. Akhirnya Stephanie membuka mulut, mengizinkan Dylan menyuapinya.
Cukup sudah ia menolak dan berujung di brankar seperti ini, mungkin setelah perut terisi bisa kembali berdebat dengan pria menyebalkan yang ada di hadapannya.
Dylan semangat menyuapi sendok berisi makanan ke mulut manis dan menggoda gadisnya. Sikap Stephanie seperti anak kucing, sangat lucu, menggemaskan di mata Dylan.
“Ternyata lambungmu luas juga Baby, aku pikir kecil dan tidak bisa menampung banyak makanan.” Dylan mencairkan suasana, ia tidak bisa diam ketika bersama wanita yang dicintai.
“Aku seperti ini juga karena pria jahat yang menjeratku, dia benar-benar tidak tahu malu kan?” Stephanie melirik tajam, lalu membuang napas kasar.
“Terima kasih sudah membawa makanan, aku merasa lebih baik. Tapi bagaimana bisa Tuan Dylan ada di sini?” kedua manik birunya menyelidiki Dylan, tidak mungkin mereka bertemu tanpa sengaja.
Satu tangan Dylan terulur, menunjuk seorang wanita berpakaian hitam menunggu di balik tirai.Tidak perlu mendengar penjelasan pun Stephanie tahu, kalau perempuan itu pengawalnya. Wajah mereka tidak asing, sering keluar masuk penthouse. Pasti Dylan memerintah anak buah untuk membuntutinya.
“Aku juga memiliki alasan lain Baby, kau ingin tahu kan?” Dylan berdiri, membungkukkan tubuh, hingga berjarak sepuluh senti dengan gadisnya.
TBC
***
Maaf ya kemalaman
🙏😁
__ADS_1