My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 34 - Cemburu


__ADS_3

BAB 34


Dylan seperti seorang ayah yang menunggu putri kecilnya pulang sekolah, pria ini sudah satu jam menunggu Stephanie selesai kuliah.


Tidak peduli menjadi bahan tontonan ratusan mahasiswi, saling berbisik bahkan puluhan dari mereka sengaja mendekati pria ini untuk menggoda secara langsung, menawarkan diri sebagai teman kencan, meminta nomor telepon Dylan.


Mungkin jika ini terjadi empat tahun yang lalu pasti Dylan akan mengencani semua mahasiswi itu tapi tidak dengan sekarang. Dia kapok, gadisnya hanya satu, calon istrinya hanya satu, pemilik hatinya hanya satu yaitu Stephanie Adaline Bradley.


Perempuan bermata biru laut dan rambut coklat tua itu mampu menyihir Dylan, seolah memberikan jutaan mantra khusus pemikat agar dirinya bertekuk lutut.


Padahal kalau dipikir Stephanie sangat jauh dari idaman Dylan, dia galak dan paling senang beradu argumen, tidak hanya itu bagi gadisnya semua peraturan yang dibuat hanya untuk dilanggar. Apalagi terkait kebebasan, sama sekali tidak mau terkekang.


Namun hanya bersama Stephanie hari-hari yang dijalani Dylan berwarna dan tanpa jenuh sedikitpun.


“Ini kartu namaku, Aku bisa datang kapan saja.” Ucap seorang perempuan menggoda Dylan.


Sementara Dylan hanya tersenyum tipis menanggapi, kemudian menggelengkan kepala sebagai tanda menolak.


Tanpa diketahui Stephanie menatap jengah kedua orang di area parkir dan mengumpat dalam hati.


Mengepalkan kedua tangan sampai kuku cantik berhias nail art itu menusuk telapak tangannya, ingin sekali melayangkan tinju kepada para wanita penggoda.


Tunggu? Apa yang dia lakukan hanya bersembunyi dan membiarkan Dylan menjadi santapan mata tidak bertanggung jawab di sana. Lebih baik keluar dari balik dinding dan memberi pelajaran ke semua orang di sana.


Dengan seribu langkah dan tanduk tak kasat mata, Stephanie menghampiri Dylan serta beberapa mahasiswi lain.


Menepuk keras bahu pria ini, sampai Dylan terkejut bukan main, takut gadisnya salah paham dengan keberadaan para sugar baby yang sedari tadi silih berganti mendekatinya.


“Hi Bro. Maaf menunggu lama, ayo kita ke dokter periksa apakah kamu masih impoten? Kasihan sekali, aku turut bersedih dengan penyakit yang menimpamu selama bertahun-tahun.” Imbuh Stephanie dengan wajah sedih dan terpukul dengan penyakit Dylan.


Sontak pria di depannya ini melebarkan kedua mata, ia terkejut kenapa bisa gadisnya mengatakan hal seperti itu. Demi apapun, Dylan sehat dan tidak mengalami gangguan.

__ADS_1


Para mahasiswi yang semula berkerumun langsung menghilang mendengar ucapan Stephanie, mereka menoleh ke Dylan sembari mengatakan kasihan dan sangat prihatin.


“Sayang apa yang kamu lakukan? Aku sehat, oh kenapa kamu seperti ini? Memerlukan buktinya kah? Ayo kita pulang sekarang juga, ku habisi kamu sampai tidak bisa berjalan baby.” Tegas Dylan merasa malu dan jatuh di hadapan para wanita.


“Ini kan salahmu, kenapa menggoda mereka semua. Hah, pria memang semua sama. Bilang hanya kamu cintaku, aku mencintaimu, tapi semua palsu.” Ucap Stephanie dengan nada suara menjijikan dan diakhiri menjulurkan lidah.


“Oh jadi gadisku ini cemburu? Terima kasih sayang, itu artinya hati kekasihku mulai terbuka. Ayo kita menikah secepatnya.” Dylan tidak jadi marah dan sedih, ia bahagia karena pujaan hatinya cemburu. Mungkin itu salah satu bentuk melindungi Dylan dari jangkauan wanita lain yang menggoda.


"Siapa yang cemburu? Mana?” Stephanie celingukan mencari orang, menghindari tatapan Dylan yang penuh kemenangan.


“Tentu saja kamu sayang. Pacarku yang galak, pemarah dan sulit diatur tapi aku akui baik hati.” Suara lembut Dylan bagai penyair handal. Sedikit membungkuk ingin mencium pipi kekasihnya tapi Stephanie malah mengambil kunci mobil dari tangan Dylan.


“Hari ini aku yang menyetir mobil, terima kasih Daddy.” Stephanie menyeringai licik sembari menunjukkan kunci mobil di tangannya.


Dylan berusaha merebut, mengejar gadis itu sampai beberapa kali mengelilingi mobil, keduanya menjadi pusat perhatian mahasiswa lain.


“Cukup sayang, kamu boleh mengemudi tapi hati-hati dan bawa kita selamat sampai tujuan, ok” Akhirnya Dylan mengalah, sebab dia takut kekasihnya tidak bisa mengendalikan super car dengan kecepatan luar biasa ini.


“Ok silahkan masuk Tuan Muda Manassero.” Stephanie membuka pintu yang bergerak ke atas, ia pun memutari mobil langsung duduk di balik kemudi.


“Mari kita mengelilingi NYC yang indah ini.” Seru Stephanie, deru mesin mobil mulai menyala. Keluar dari area Universitas, jantung Dylan masih aman dan tenang sebab gadisnya masih bisa mengontrol kendaraan.


Diam-diam Dylan juga memerintahkan Han mengikuti dari belakang demi keamanan bersama.


“Baby apa yang kamu lakukan, hey pelan-pelan.” Dylan memekik, setelah keluar dari pelataran kampus, super car ini melaju sangat cepat, sampai Dylan berpegangan erat.


Stephanie tertawa melihat kecemasan di wajah kekasihnya. Dylan benar-benar seperti seorang ayah yang mendapati putrinya kebut-kebutan di jalan. Pria ini menghembuskan napas lega disertai mengusap dada ketika Stephanie berhasil menyalip kendaraan lain dengan mulus tanpa menyenggolnya.


“Kamu berlebihan, kenapa jadi penakut seperti ini? Apa kita kurang cepat? Ok.” Stephanie mengibas pelan rambut panjangnya, jemari lentik sudah memegang perseneling, dan menginjak pedal gas, semakin cepat membelah jalanan.


“Stephanie kau ini keterlaluan, kenapa harus ngebut?” Dylan kembali dibuat olahraga jantung dengan ulah kekasihnya.

__ADS_1


Akhirnya setelah hampir dua puluh menit berkendara, mereka tiba di Battery Park. Stephanie turun lebih dulu, berjalan masuk dan melihat kapal feri yang memanjakan mata.


“Daddy, ayo cepat jangan lama.” Teriak gadis ini sangat senang karena bisa menikmati matahari terbenam dari tempat yang indah.


“Kamu mau naik kapal?” Tanya Dylan sangat polos, pria ini minim kencan ke area publik, hingga tidak mengerti apa tujuan mereka datang ke tempat terbuka ini.


“Oh ya ampun. Bukankah mantan kekasihmu itu banyak? Jangan-jangan kalian tidak pernah kencan menikmati keindahan alam, kasihan sekali.” Cibir Stephanie sembari menggelengkan kepala dan fokus menunggu terbenamnya matahari.


“Iya tapi aku lebih senang membawa mereka ke hotel atau apartemen, dan mantan kekasihku juga selalu membawa mengunjungi pusat perbelanjaan.” Dylan memberi penjelasan singkat mengingat kencannya yang terbilang membosankan.


Mendengar penuturan Dylan, gadis bermanik biru hanya tertawa terbahak-bahak, memegangi perut karena lucu sekaligus aneh menurutnya.


Kemana saja Dylan selama tiga puluh lima tahun ini? Apa kencannya hanya di atas ranjang dan sebatas menghabiskan uang untuk membeli barang-barang branded?


Sungguh kasihan sekali, pantas saja tadi ketakutan mengizinkan Stephanie mengendarai mobil. Mungkin sebelum ini Dylan dan para wanita menggunakan sopir atau bahkan Dylan menjadi sopir pribadi.


“Itu karena mereka mencintai uangmu bukan dirimu. Makanya ada pelayanan di atas ranjang dan imbalannya black card, benar kan?” sindir Stephanie memutar bola mata.


“Ah jadi maksudnya kalau mantan pacarku itu hanya menginginkan uangku benar kan? Dan gadis kecil yang berdiri di sisiku ini tulus mencintai kekasihnya? Terima kasih sayang.” Dylan memeluk Stephanie sangat erat, menciumi puncak kepala pujaan hatinya.


“Siapa yang bilang begitu?” sanggah Stephanie tidak terima kenapa jadi dirinya yang tersudut.


“Kamu” jawab Dylan tanpa ragu.


“Tidak”


“Kamu Baby”


“Bukan”


Sepasang kekasih beda usia itu bertengkar di taman.

__ADS_1


TBC


 


__ADS_2