
BAB 43
Kotak kecil berisi cincin terbuka di atas mini bar. Sudah dua jam Dylan memandangi benda berkilau itu ditemani satu botol anggur. Dirinya melampiaskan segala kekecewaan, meracau seorang diri di bawah lampu sorot dengan musik mengalun, menggambarkan suasana hati seorang Dylan Manassero.
Dylan melihat MacBook, membaca ulang satu per satu laporan yang diterimanya dari anak buah. Semua informasi telah di terima tetapi Dylan bingung mana yang lebih dulu harus dia datangi. Keluarga kekasihnya itu memiliki beberapa hunian di negara berbeda, semuanya tidak ada yang menunjukkan kepastian dimana keberadaan Stephanie.
Bahkan Dylan harus memerintahkan anak buahnya pergi ke beberapa negara, mencari gadis pujaannya.
Terpaksa ia harus menghamburkan uang demi wanita, di saat kondisi keuangan perusahaan tidak stabil. Dylan menjual beberapa aset miliknya, mobil sport kesayangan yang biasa ia gunakan berpindah tangan malam ini juga.
“Baby di mana kamu? Aku membutuhkan kamu sayang.” Lirih Dylan dalam hati. Dia tidak peduli dianggap lemah dan memang kenyataannya seperti ini. Semula melayang di atas awan, sekarang harus tersungkur jatuh sangat dalam.
Tidak adakah arti perjuangannya selama ini merebut perhatian serta hati seorang Stephanie? Bahkan Dylan sempat bersitegang dengan Tuan Besar Manassero, sampai akhirnya mengantungi lampu hijau untuk mempersunting wanita pilihan hati.
Dan …
Sekarang apa yang harus ia sampaikan pada ayahnya? Kalau boleh jujur Dylan merasa malu karena gagal membawa calon istri pulang ke Mansion Manassero di Kota Madrid.
Pria ini memandangi wajah cantik berseri Stephanie di layar ponsel, rasa kehilangan sangat menusuk ke dalam dada. Dylan akui memang bukan pertama kali menjalani hari tanpa kekasihnya, tetapi sebelum ini mereka masih bisa tersambung dalam telepon dan tetap berada di bawah pengawasannya.
Tapi sekarang berbeda, selain menghilang, cintanya juga tidak mendapat restu dari calon ayah mertua.
“Tuan … permisi, kami mendapat laporan bahwa keluarga Bradley menjerat, dan melaporkan Tuan Graham atas kejahatan berlapis begitu juga dengan Nona Muda Martinez. Sebenarnya Tuan Besar Martinez ingin meminta bantuan anda, untuk membebaskan Nona Chloe.” Jelas Han memberi beberapa rekam suara mantan calon mertuanya.
“Tidak ada negosiasi Han. Stephanie pergi karena ulah Chloe, ah sudahlah, Aku tidak menerima apapun yang berhubungan dengan mereka.” Pungkas Dylan, beranjak dari mini bar, membawa cincin berlian indah milik mendiang Nyonya Manassero.
__ADS_1
“Besok pagi kita kembali ke Madrid. Masalah Daddy dan pekerjaan tidak akan selesai sendiri.” Ucapnya ke Han. Dylan naik ke lantai dua memasuki kamar, terlalu banyak kenangan di dalam penthouse ini apalagi kamar. Dylan rindu memeluk tubuh gadisnya.
Dylan menyisir seisi kamar, tersenyum simpul mengingat apa saja yang terjadi. Bahkan harum aroma parfum gadisnya masih tersisa, semua perlengkapan make up Stephanie memenuhi meja rias.
Jika sesuai jadwal dan tidak ada halangan, seharusnya Dylan tengah menikmati makan malam romantis dengan gadisnya di dalam penthouse, merayakan lamaran yang ia siapkan.
Tapi rencana itu sebelum Dylan mengetahui Chloe menculik kekasihnya.
Dylan berbaring di atas ranjang, menatap sisi kosong, biasanya Stephanie terlelap di sana. Sekarang hanya ada angin dan kegalauan hati, entah sampai kapan mampu bertahan dengan semua ini.
**
Mansion Bradley – Jakarta
Stephanie duduk menonton beberapa serial, semua sangat membosankan tidak ada satupun menarik untuk disimak.
Sebenarnya dia juga tidak ingin pergi, tapi melihat pada beberapa kejadian yang selalu datang, membuatnya berpikir untuk tidak mempertahankan hubungan. Bersama Dylan hanya akan menambah masalah.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Mama Samantha, melihat putrinya tidak memiliki semangat dan terlihat lesu. Beberapa bulan menerima hukuman sudah merubah sikap Stephanie.
“Mama dengar, kalau pria dewasa yang datang ke rumah sakit kemarin, dia pacar kamu ya? Kalian kenal di mana? Ceritakan semua ke mama.” Pinta Samantha, menilai Dylan bukan pria yang jahat dan cukup layak berteman dekat dengan putrinya.
Namun Stephanie tidak menjawab, malah pura-pura mengantuk dan merebahkan diri di atas kasur empuk, menyelimuti sampai tertutup seluruh tubuhnya.
“Mah aku ngantuk bisa aku tidur?” ucap Stephanie dengan suara yang lesu.
__ADS_1
“Oh tentu sayang, kamu harus istirahat. Mama keluar dulu ya.” Samantha mengerti putrinya masih syok atas penculikan itu, lalu di paksa berpisah dari pria yang menemani hari-harinya memang sulit.
Samantha mendengar penuturan Papa Adam bahwa Dylan bukanlah pria baik, dia hanya mengencani wanita untuk menjadi teman tidur, bukan dicintai dengan hati. Bahkan pria itu terkenal sebagai Casanova di Spanyol khususnya Madrid, entah berapa banyak wanita yang menjadi kekasihnya.
Papa Adam tidak mau putrinya jatuh ke pelukan pria tanpa komitmen seperti Dylan. Bahkan memindahkan studi Stephanie ke Jakarta, semua bertujuan untuk menjauhkan putrinya dari Dylan.
Tidak hanya itu, semua informasi yang berkaitan dengan Stephanie ditutup rapat. Mungkin mereka akan bertemu tapi tidak dalam waktu dekat, karena Dylan memerlukan waktu untuk mencari keberadaan Stephanie.
Dalam kamar, Stephanie menghapus semua foto Dylan yang tersimpan di memori ponsel, tidak ada satupun tersisa. Bersih tanpa jejak, bahkan beberapa pesan Dylan pun terhapus, lebih dulu memblokir nomor Dylan dan Han.
“Maaf Dylan, tapi memang hubungan ini tidak seharusnya ada, aku hanya tamu yang singgah sementara. Kamu jangan menyakiti Chloe, kalian bersama lebih dari tiga tahun dan kehadiranku hanya merusak semuanya.” Ujar Stephanie sebelum menghapus foto terakhir.
Tok … tok
“Kak, boleh aku masuk?” Steve menyembulkan sebagian kepala, dia mendapat mandat khusus untuk menghibur kakaknya yang sedang patah hati.
“Hemm, masuk Steve. Ada apa? Kalau kamu mau menghibur sebaiknya jangan, karena aku tidak butuh hiburan, aku baik-baik saja.” Stephanie menyandarkan kepala di sandaran kasur, ia masih pura-pura tidak terjadi sesuatu dan perasaannya baik-baik saja.
“Kata siapa mau menghibur? Aku hanya khawatir. Kakakku yang cantik ini lama tidak menikmati fasilitas mewah.” Kelakar Steve membuka jar berisi cemilan di atas nakas, lalu menyuapi kakaknya.
“Tapi kulitmu tetap terawat, kamu pasti bekerja sangat keras demi membeli skincare, benar kan?” selidik Steve, ia ingin tahu apa saja yang dilakukan Dylan kepada kakaknya, sampai bisa merubah sikap Stephanie seperti ini.
“Tentu saja aku kerja, kamu kan tidak pernah merasa bagaimana susahnya hidup jauh tanpa uang saku dan kemewahan keluarga. Selain itu ada pria baik yang membantuku dan bersedia memberi tempat tinggal.” Stephanie teringat Dylan, wajahnya berubah lesu tidak lagi bersemangat.
“Lupakan Steve jangan bahas itu, aku ingin tahu bagaimana perkembangan kasus penculikan?” Stephanie enggan membahas apapun yang berhubungan dengan Dylan. Seperti membuka luka yang baru saja ia tutup rapat.
__ADS_1
TBC