
BAB 39
Mobil Van melewati semak-semak, siapapun tidak akan menyangka jika jalan ini bisa dilalui karena hanya terlihat rerumputan tinggi dan jalan yang tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda dua atau roda empat.
Penumpang dalam mobil bergerak kuat sebab melewati area berbatu, termasuk Stephanie yang terlempar ke kiri dan kanan. Sakit badan dirasakannya karena tidak bisa berpegangan, dan harus membentur tubuh seorang di sisinya.
“Kalau saja bos tidak menginginkan dia, pasti sudah ku habisi lebih dulu tapi sayang bos melarang kita menyakiti bahkan membuatnya tergores sedikitpun tidak boleh.” Gerutu seorang pria sembari mendekatkan tubuhnya ke Stephanie.
“Sudahlah jangan cari mati, kita lebih membutuhkan uang dibanding tubuhnya, dengan uang yang banyak kalian bisa membayar perempuan manapun.” Tegas seorang wanita memberi peringatan keras.
Mobil berhenti, dan mereka menarik paksa Stephanie bahkan melemparnya ke dalam perahu. Jarak yang ditempuh semakin jauh, padahal telah berjam-jam di dalam kendaraan roda empat.
“Kemana lagi mereka membawaku?” lirih Stephanie dalam hati. Satu hal yang pasti, dia bisa mencium bau hutan pinus yang kuat menusuk hidung, serta suara air dari danau. Udara dingin malam menusuk kulitnya.
Perahu mulai bergerak cepat mencapai tujuan terakhir, tempat yang tidak ada di dalam peta manapun.
Setelah lima belas menit, para penculik menurunkan tubuh Stephanie dari perahu, menyeretnya di atas tanah basah menuju suatu bangunan tua yang terang benderang di tengah hutan. Tidak ada suara apapun, semua senyap dan hanya deru napas memenuhi indra pendengaran Stephanie.
Tiba-tiba seorang gadis datang menyambut mereka, mencaci maki bahkan menendang seorang pria yang memegangi Stephanie.
“Lama sekali sih, kalian tahu kan dari tadi dia mengomel. Kalian ini kerja tidak becus, cepat bawa perempuan ini masuk, tuan menunggu di ruang bawah tanah.” Suara yang sangat Stephanie kenal, dan tidak salah lagi itu pasti musuhnya.
“Kaylin? Benar kan itu kau? Apa yang kau rencanakan?” teriak Stephanie, terus memberontak dengan sisa tenaga yang ada.
__ADS_1
“Ah kau sangat hapal sekali ya suaraku, sudahlah Stephanie jangan anggap bisa bebas. Kali ini ku pastikan kehancuranmu.” Kaylin menampar pipi dan menendang tungkai musuhnya.
“NONA, anda tidak boleh menyakitinya, Tuan Jacob pasti marah.” Teriak yang lain memperingati. Sebab Jacob ingin gadisnya ini merintih di bawah siksaannya.
Perlahan kain penutup kepala dan bagian mata dibuka, Stephanie menelisik isi ruangan. Tidak ini bukan villa milik Jacob. Suasananya sangat berbeda dari apa yang ia ketahui.
Villa ini hangat, kesan keluarga sangat kental di dalamnya. Tapi tidak ada satupun foto yang bisa menjelaskan siapa pemilik hunian besar di tengah hutan belantara.
Penjagaan sangat ketat, di setiap sudut ruangan terdapat bodyguard lengkap dengan senjata dan alat komunikasi. Stephanie pasrah jika nasibnya akan berakhir malam ini juga di tangan Jacob Graham.
Prok … prok … prok
“Akhirnya kau datang juga. Bagaimana tidak menyangka bukan kalau aku bisa bebas dengan cepat?” tawa Jacob, perlahan turun dari lantai dua. Dia sangat tidak sabar bisa berdua dengan tawanannya, tapi sayang tidak bisa dilakukan tergesa-gesa, karena menunggu Chloe yang masih dalam perjalanan.
Jacob merangkum pipi wanita yang sangat menarik perhatiannya, menatap penuh cinta sekaligus sakit hati atas penolakan Stephanie. Mencium pipi merah itu dan membisikan sesuatu, membuat perut Stephanie mual mendengarnya.
“Ini semua salahmu, seandainya kau menerima aku sebagai suami, pasti sekarang kita bahagia. Kau tidak tahu malu malah tetap bersama pria yang sudah memiliki tunangan. Gadis murahan.” Bentak Jacob cukup keras. Ia tidak tahan lagi memberi pelajaran pada wanita ini.
“Di mana Chloe? Cepat hubungi dia? Katakan padanya aku ingin lebih dulu menghabiskan waktu dengan tawanannya ini.” Jacob memerintah seorang anak buah untuk menelpon Chloe.
Sontak kedua mata Stephanie melebar, mendengar nama mantan tunangan Dylan disebut. Ia tidak menyangka bahwa dalang dari penculikan ini tidak hanya Jacob, melainkan Chloe Martinez.
Inilah yang ditakutkan oleh Stephanie, bahwa masalah diantara Dylan dan Chloe belum sepenuhnya selesai. Akhirnya secara sengaja dia pun ikut terseret pada hubungan rumit.
__ADS_1
Jacob menarik paksa tangan Stephanie menuju ruang bawah tanah, menghempaskan tubuh di atas lantai. Menatap penuh kemarahan, mengapit pipi Stephanie dan seakan ingin meremukkan tulangnya, tapi Jacob tidak setega itu, ia masih melindungi gadis yang dicintai.
“Entah apa yang kau perbuat Stephanie, sampai aku tidak bisa melukaimu? Tapi kau merusak hatiku, kau benar-benar salah memilih jalan.” Ucap Jacob membantu gadisnya berdiri, duduk di sofa empuk.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berteriak memanggil nama Jacob Graham, sudah pasti itu suara Chloe. Ciri khas yang sangat diketahui oleh siapapun, bahkan beberapa benda terjatuh dari tempatnya, menandakan kemarahan Chloe Martinez.
“Jacob di mana kamu? Berani sekali mendahului ku. Akulah orang pertama yang harus memberi wanita murahan itu hukuman.” Chloe melangkah lebar, memasuki ruang bawah tanah. Membuka pintu dan menatap nyalang kepada Stephanie.
“Hi Stephanie, akhirnya kita bisa bertemu lagi, dunia memang sempit ya. Kau tahu, sekarang perusahaan keluarga Dylan hancur, ini semua karena dia lebih memilih wanita tidak tahu diri dibanding aku tunangannya.” Chloe menyingkirkan tubuh Stephanie dari atas sofa, merasa tidak berhak rumput liar mengotori benda di villa pribadi keluarganya.
Stephanie hanya menahan rasa sakit akibat benturan ke lantai, ia tidak bisa melawan, tangannya terikat kuat dan kakinya sakit.
“Jangan harap Dylan datang membantumu, Tuan Besar sakit dan perusahaan tidak mungkin ditinggal begitu saja. Aku akan memaksanya untuk menerimaku kembali, dan menikah secepatnya. Kau akan aku lenyapkan selamanya, dasar pengganggu.” Murka seorang Chloe, kakinya sudah terangkat, bermaksud menendang tetapi dengan cepat Jacob menghalangi.
“STOP … bukankah kita sepakat tidak melukainya? Dia akan menjadi istriku, dan kamu bisa menikah dengan Dylan tanpa gangguan apapun.” Hardik Jacob menyingkirkan Chloe dari sisi Stephanie.
“Kau itu pria sama saja, terperdaya dengan wanita seperti ini. Aku tidak puas Jacob, dia harus menderita secara fisik. Karena dia, Dylan berani menentang, meninggalkanku dan sikapnya berubah, aku sudah lama menanti hatinya terbuka, tapi apa? Dengan mudah gadis ini masuk dan merebut semua cinta Dylan.” Chloe menjerit histeris, amarahnya tidak terkontrol, sampai melempar sesuatu dan memecahkan jendela.
Jacob sendiri sebenarnya tidak tega, tapi ia terlalu larut dalam rasa sakit hati sampai cinta membutakannya untuk bekerja sama dengan Chloe Martinez.
“Aku akan menjamin kalau dia tidak akan mengganggu kehidupan kalian.” Tukas Jacob, memastikan kali ini rencananya harus berjalan.
TBC
__ADS_1