
BAB 28
“No ... Baby Stop, jangan keluar. Bukankah penthouse ini milikmu? Aku yang akan pergi dari sini. Kau memerlukan surat-suratnya? Baik, kita besok pergi ke Bank XX, aku menyimpannya di sana.” Tegas Dylan.
Baru pertama kali Stephanie melihat sosok tegas dan menyeramkan seorang Dylan.
“Satu lagi, aku mohon jangan percaya semua perkataan Chloe. Itu semua tidak benar, aku dulu memang pernah melakukannya tapi bukan dengan Chloe, melainkan mantan tunanganku tapi itu terjadi sudah lebih dari lima tahun.” Dylan masih terus berusaha membujuk gadisnya.
Tidak terima mendapat tuduhan begitu saja. Selama ini berusaha menahan diri, Dylan bukan lagi pemain wanita meskipun haus akan belaian mahkluk penuh keindahan itu.
Hahaha
Tawa Stephanie menggema di lantai dua, tentu saja sesuatu yang dipaksakan. Bukan alami karena melihat atau mendengar hal lucu.
“Kau bilang aku jangan percaya. Tuan, kau tahu ... dia menunjukkan hasil USG, bayi kalian masih sangat kecil sekali dan hasil tes kehamilan. Apa aku tidak boleh percaya? Mana yang seharusnya aku yakini, kau sebagai pria penuh omong kosong atau dia tunanganmu, datang dengan bukti?"
"Kasihan sekali Chloe, hatinya pasti sakit karena ayah dari bayinya tidak mengakui. Benar-benar br3n9s3k kau Dylan.” Hardik Stephanie tanpa henti, dan merasa jijik kepada sugar daddy-nya.
Semula ia pikir Dylan berbeda, sebab tidak memaksa untuk bercinta padahal mereka tidur satu ranjang selama hampir dua minggu.
Dapat dirasakan oleh Stephanie, jika Dylan sangat menjaganya, memperlakukan wanita dengan baik, meskipun sering menggoda tapi Dylan setidaknya tahu batasan. Namun lihat, ternyata dia sama saja seperti lelaki pada umumnya, pikiran dan hati Stephanie telah membenci Dylan.
“Chloe membawa hasil USG? Anak siapa itu?” Gumam Dylan tidak menyangka tunangannya mampu berbuat nekat.
“Tentu saja anakmu, kau kan tunangannya, kalian melakukannya dan aku tidak tahu menahu, jangan seret aku masuk ke hubungan kalian. Aku ini perempuan bebas, bukan milik siapapun.” Stephanie menuruni tangga.
__ADS_1
Sudah muak berada bersama pria seperti Dylan atau Jacob, mungkin ia akan melupakan studi strata duanya dan memilih pulang, biar saja diusir yang penting aman ada di dekat kedua orangtua.
“Stephanie berhenti sekarang juga atau aku akan memaksamu masuk ke kamar, kita terkunci sampai pagi!” Ancam Dylan tidak main-main, namun menggelitik di indra pendengaran Stephanie.
Gadis itu melangkah jauh meninggalkan Dylan di ujung tangga atas.
“Aku tidak peduli dengan apapun yang kau lakukan. Mulai sekarang kita tidak lagi terikat satu sama lain.” Teriak Stephanie di lantai satu, suara roda koper pun menjadi perhatian para maid dan pengawal.
“Minggir kalian, aku mau pergi. Seharusnya yang kalian jaga dan lindungi bukan aku. Tapi Chloe dan calon anak Tuan Muda Manassero.” Cibir wanita bermata biru ini kepada beberapa bodyguard.
Dylan bergegas turun, ia mendengar gadisnya mengatakan tidak peduli apapun. Maka secepat kilat Dylan memanggul Stephanie seperti karung beras. Meninggalkan koper di depan pintu.
“Lepas. Lepaskan aku. Aku ini manusia bukan karung semen atau beras, ah ya ampun kenapa bisa dipertemukan dengan manusia gila seperti kalian.” Stephanie memberontak, memukul punggung Dylan, meninju berulang kali, tapi otot punggung pria ini sangat alot dan kuat, tidak rubuh atau goyah sedikitpun.
“Diam baby, atau aku melakukan lebih, membuatmu terkurung selamanya bersamaku. Diam.” Sentak Dylan mulai masuk kamar, mengunci pintu, mengganti sandinya secepat mungkin.
“Aku tidak mau berada satu tempat yang sama denganmu.” Marah Stephanie bahkan setelah tubuhnya diturunkan, ia menginjak kaki Dylan cukup kuat, lalu berlari, berusaha membuka pintu tetapi tidak bisa, selalu tertera sandi salah.
“Kau bilang seharusnya mereka semua menjaga calon anakku, benarkan? Akan aku jadikan itu kenyataan malam ini juga. Aku pastikan satu bulan ke depan kau hamil Stephanie, mengandung keturunanku, mau tidak mau, suka atau tidak kita harus menikah kurang dari dua bulan lagi. Aku wujudkan perintahmu.”
Dylan mendekat membuka kemeja dan celana panjang hitamnya, melempar jauh ke sembarang arah.
Menyeringai sekaligus menatap penuh damba, tidak dipungkiri telah lama ingin melakukannya dengan Stephanie tapi dia menjaga wanita ini, tidak mau membuat Stephanie membencinya. Sekarang, dengan semua masalah yang datang, hilang sudah kesadaran Dylan, demi mempertahankan gadisnya apapun dilakukan.
“Kau gila, kau bukan pria baik, kau br3n9s3k Dylan. Aku membencimu sampai kapanpun.” Teriak Stephanie terus mencoba beberapa sandi, ia berharap pintunya terbuka.
__ADS_1
“Kau bilang aku br3ngsek, mari kita lihat seberapa jahat aku. Kau inginkan ini bukan? Jadilah milikku selamanya Stephanie. Aku tidak segan lagi, kau bilang tidak peduli apa yang aku lakukan. Jadi diamlah dan nikmati di atas sana.” Tunjuk Dylan ke atas ranjang.
Memenjarakan gadisnya di pintu, menatap tajam Stephanie. Bisa-bisanya melawan, dan ingin kabur karena termakan omong kosong Chloe Martinez.
“Aku menginginkanmu Baby.” Ucap Dylan, menghembuskan napasnya tepat di telinga dengan anting berlian itu.
“Tuan Dylan, berapapun yang kau mau, aku berikan. Aku akan memberi uang bahkan melebihi penthouse ini, tapi jangan lakukan apapun kepadaku.” Stephanie memejamkan kedua mata, bulir bening pun mulai menetes.
Dia tidak mau malam ini miliknya yang berharga, terenggut oleh pria seperti Dylan. Bagaimana kalau benar akhirnya satu bulan ke depan hamil dan Dylan lebih memilih bertanggung jawab kepada Chloe, bisa habis nasibnya.
Dylan mengabsen seluruh wajah cantik dan manis milik gadisnya ini, menghirup aroma buah tropis yang selalu ia rindukan.
“Jangan takut, kau hanya perlu diam dan memelukku. Aku janji tidak sakit, meskipun ini pertama kalinya. Keluarkan saja segala keindahan suaramu, Baby.” Dylan memagut bibir manis dan seksi yang mengumpatnya.
Selalu terbayang di benaknya tentang Stephanie yang menjadi bagian dari hidupnya. Mereka tinggal di mansion, bersama-sama membesarkan buah hati, sungguh indah khayalan masa depan Dylan dengan wanita pujaan hati.
Tangan kecil Stephanie memukul meninju dada bidang Dylan, gadis itu berusaha menendang milik sugar daddy-nya di bawah sana. Tapi ternyata tidak mudah sebab Dylan sudah mengantisipasi, belajar dari pengalamannya yang mendapat hujaman keras di bukti gairah.
Dylan melepas pagutan karena Stephanie tidak membuka mulut sama sekali, bahkan tidak bernapas.
“Kamu tidak akan bisa kemana-mana Baby. Aku akan buktikan siapa yang seharusnya menjadi istriku, Chloe atau dirimu Stephanie Adaline Bradley. Kau yang akan mengandung anak kita, bukan wanita lain. Ingat itu.” Dylan menjelajahi tengkuk gadisnya.
Sontak Stephanie melotot mendengar Dylan mengetahui nama lengkapnya, artinya dia juga tahu asal usul gadis ini tetapi masih nekat melakukan hubungan yang tidak semestinya.
Merasa gadisnya sudah terbuai, Dylan menggendong Stephanie ke atas ranjang besar, tepat di sisi kaca dengan pemandangan keindahan NYC.
__ADS_1
TBC