My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 27 - Dia Mengandung Anakmu


__ADS_3

BAB 27


Akhirnya Dylan tiba di bandara John F Kennedy, ia ketar ketir bukan tanpa sebab. Setelah pesawat landing, Dylan memeriksa ponselnya dan banyak pesan serta panggilan tidak terjawab. Dua orang yang sangat dikhawatirkan rupanya dalam masalah.


Pertama Stephanie, gadisnya itu masih terlelap dengan obat tidur yang disuntik, belum membuka mata, malah kondisi tubuhnya melemah. Hingga maid dan pengawal memanggil dokter ke penthouse. Selain itu selalu bergumam kalau Dylan adalah pria jahat dan penghianat.


Kedua, Han asisten pribadinya mendapat luka tusukan di pinggang oleh orang tak dikenal. Tidak ada laporan ke pihak keamanan, karena semua terjadi sangat cepat. Han baru siuman setelah satu hari mendapat perawatan di rumah sakit. Paling mencengangkan yaitu keberadaan Chloe di NYC, menemui Stephanie.


“Bisa jadi dia membayar orang untuk melukai Han. Kalau itu semua benar, Chloe ... kau membuka peperangan secara terbuka denganku.” Desis Dylan dalam taksi, saat ini menuju penthousenya.


Dylan masih beruntung sebab Tuan Manassero tidak memblokir akses keuangan miliknya, tapi ia juga harus bersiap dalam waktu 24 jam untuk diseret pulang ke Madrid.


“Akh Baby, kenapa hubungan kita tidak berjalan mulus?” Gumam Dylan, memijat pangkal hidung. Pusing sekaligus marah dan kebingungan mencari akar dari semua persoalan yang terjadi.


Mantan casanova ini sampai di apartemen setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit. Dylan berdiri di depan gedung tingkat, menengadah ke atas, lalu tersenyum, ia ingin melihat pujaan hatinya.


“Baby, aku kangen. Semoga kamu juga merindukan aku.” Batin Dylan bahagia ditengah kegundahan yang menyelimuti.


Dylan masuk ke dalam gedung bertingkat, tanpa tahu seseorang melihatnya dari kejauhan. Dia memegang pisau bahkan membakar foto kebersamaan Dylan dan Stephanie. Mengumpat, sumpah serapah keluar dari bibirnya.


Setelah masuk unit penthouse miliknya. Dylan tidak langsung masuk kamar, melainkan bertanya mengenai kondisi Stephanie kepada pengawal dan maid.


“Apa gadisku sudah makan?” Tanya Dylan  khawatir mendengar keadaan pujaan hati yang ia tinggal dua hari lalu.

__ADS_1


“B-belum Tuan. Nona menolak makan, kami tidak bisa memaksanya karena mengancam keluar dari sini.” Seorang maid memberi penjelasan, tidak ada yang bisa bertindak gegabah. Termasuk dua bodyguard yang menjaga dalam kamar akhirnya keluar.


“Ok, buatkan calon istriku makanan. Antar ke kamarnya.” Perintah Dylan segera berlari menaiki anak tangga yang meliuk, memperindah interior penthouse bergaya Amerika ini.


Tok ... tok


“Baby, aku masuk ok? Kamu ada di dalam kan?”


Dylan membuka pintu, tersenyum seraya berjalan mendekati gadisnya yang tengah tertidur lelap. Stephanie menyelimuti diri sampai menutup kepala, hanya rambut coklat panjangnya yang terlihat oleh Dylan.


Pria dengan five o’clok shadow beard ini duduk di tepi ranjang, tepat bagian punggung gadisnya. Membelai surai indah, lembut dan harum, Dylan rindu menghirup aroma manis dari kepala Stephanie.


“Baby, aku merindukanmu. Hey ... bangun sayang, kamu belum makan bukan? Jangan sampai sakit lagi, maaf aku melakukan ini semua. Aku tidak bisa kehilanganmu Stephanie.” Lirih Dylan.


Stephanie terbangun langsung menepuk keras, menyingkirkan tangan Dylan dari kepalanya. Dia membenci pria jahat dan tidak bertanggung jawab seperti sugar daddy-nya.


“Keluar. Keluar dari kamar ini. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Kau itu pria br3n9s3k.” Stephanie menunjuk pintu kamar tanpa menoleh ataupun melirik kepada pria yang sangat mencintainya ini.


“Ok Baby, aku akui memang bren9s3k. Tapi ada apa ini? Kamu seharusnya memberi penjelasan lebih dulu jangan seperti ini.” Dylan mencoba meraih bahu gadisnya.


“Jangan sentuh aku dengan tangan nakalmu itu! Lagipula tidak ada yang perlu dijelaskan semua sudah sangat jelas.” Pungkas Stephanie, mengingat foto janin yang diberikan oleh Chloe serta hasil tes kehamilan.


Bisa-bisanya seorang ayah tidak menjaga ibu dan calon bayi mereka.Sekarang lihat, Dylan pergi menemuinya tanpa rasa bersalah kepada Chloe.

__ADS_1


“Baby katakan ada apa? Ini semua karena Chloe, benar kan? Apa yang dia katakan?” Dylan sakit hati, wanita pujaan enggan melihatnya.


Dylan menghentak sedikit tubuh Stephanie sampai keduanya saling bertatap satu sama lain. Dylan merangkum pipi, dan mendekatkan wajah ingi mencium gadisnya. Tapi Stephanie membuang muka, sampai bibir Dylan menyentuh pipi merona Stephanie.


“Kau tahu ini karena Chloe. Sekarang pergilah, temui dia. Ok aku tahu penthouse ini milikmu dan aku yang akan keluar. Bawa saja ibu dari anakmu itu ke sini. Untuk $500 dolar aku janji akan mengembalikannya sebelum satu tahun. Kita buat perjanjian baru untuk melunasi hutang piutang.” Tegas Stephanie bangkit dari kasur, meraih tas ransel dan kopernya. Lalu berjalan keluar kamar, bertepatan seorang maid mengantar makanan.


“Aku bilang kan tidak mau makan, kenapa diantar lagi? Kalian hanya membuang bahan makanan, kasihan mereka yang kelaparan.” Hardik Stephanie, ekor matanya melirik tajam kepada Dylan.


“Simpan di meja.” Perintah Dylan. “Aku yang memintanya membuat makanan, kamu belum makan Baby. Kamu mau berakhir di ranjang rumah sakit, hah? Kamu harus menyayangi tubuhmu!” Dylan mendekat lalu menyentuh puncak kepala gadisnya, berharap menurut.


 “Kamu jangan keluar dari sini, penthouse ini milikmu. Aku membeli atas namamu Stephanie. Bukan hanya penthouse, tapi mobil di area parkir, semua punyamu. Jangan pergi Baby.” Dylan berusaha merangkul Stephanie dari belakang tapi urung, akhirnya kedua tangan hanya mengambang di udara.


“Aku belum menikah dengan Chloe, mana mungin memiliki anak. Tidak benar itu Baby, apa saja yang dia katakan?” Tanya Dylan masih penasaran.


“Ok” Stephanie memutar tubuh 180 derajat sampai mereka hanya berjarak satu jengkal, hangat napas dan harum aroma tubuh masing-masing menguar memenuhi rongga hidung.


“Dylan kau tahu aku tidak besar di NYC? Ayahku keturunan Inggris dan Indonesia. Tapi mama berasal dari Swedia, kakek dan nenekku tinggal di sana. Aku lahir dan besar di timur, untuk itu alasannya aku tidak pernah bercinta dengan siapapun. Mamaku seorang dokter kandungan, mungkin aku bisa di buang ke antartika jika hamil tanpa suami. Jadi aku mohon bertanggung jawablah kepada Chloe, dia mengandung anakmu. Aku memang belum pernah merasakan hamil tapi sebagai sesama perempuan, aku tidak mau kelak suamiku pergi mengunjungi wanita lain ketika aku mengandung. Jagalah Chloe dan lindungi bayi kalian.”


Stephanie bicara panjang lebar, Dylan tidak menanggapi semuanya, namun tersentak ketika mendengar Chloe mengandung darah dagingnya.


Demi apapun Dylan tidak lagi menebar benih sembarangan, dia kapok dan kalau ada yang mengaku seharusnya Megan, mantan tunangannya tapi sudah lima tahun berlalu tidak ada apapun.


“Baby, jangan percaya, aku tidak pernah tidur dengan Chloe, kamu harus tahu itu.” Dylan geram, rupanya Chloe telah mengetahui hubungannya dengan Dylan. Tapi tidak mungkin wanita itu mencari informasi sendiri pasti ada seseorang di balik ini semua.

__ADS_1


“Daddy, umm ... Tuan Dylan memang tidak tidur dengannya tapi bercinta bersama tunanganmu itu. Aku pergi dan selamat tinggal.” Stephanie menyeret koper keluar kamar.


TBC


__ADS_2