
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Kaylin, secepat kilat Dylan kembali ke rumah sakit. Ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat istrinya ketika siuman.
Papa Adam yang duduk di sisi Dylan menatap tidak percaya pada menantunya. Dia pikir pria yang kini mengendara mobil dengan cepat tidak bisa menahan diri, tapi Dylan mendengar nasehat mertua. Ia juga tidak mau membuang tenaga dengan percuma.
“Ada apa Pah?” tanya Dylan merasa terus diperhatikan sedari tadi.
“Kau fokus saja menyetir jangan banyak tanya.” Seru Papa Adam, pria tua ini hanya cangkangnya yang terlihat galak dan menyebalkan, tapi Dylan bisa merasakan sendiri bahwa Papa Adam menyayangi dirinya sebagai menantu.
Butuh waktu lebih dari dua puluh menit untuk mencapai GB Hospital. Dylan mendapat kabar, bahwa Stephanie bangun lebih awal, mencari keberadaannya.
Dylan berlari cepat, bahkan meninggalkan kuda besi mewah itu dalam keadaan mesin menyala.
“Dasar menantu tidak tahu sopan santun. Kenapa aku yang harus menyelesaikan semua ini. Awas kau Dylan.” Geram Papa Adam, mengunci mobilnya.
Tapi dia senang, setidaknya Dylan memang menyayangi Stephanie. Putrinya itu tidak salah memilih suami, meskipun masa lalu kelam, tapi seiring berjalannya waktu pria itu menunjukkan perubahan sikap.
Papa Adam akui semula tidak menyukai Dylan, karena kehidupan yang dinilai buruk. Namun setiap orang berhak mendapat kesempatan terakhir.
Sedangkan dalam ruangan perawatan VVIP, Dylan menangis memeluk istrinya yang benar-benar membuka mata.
“Terima kasih Baby, kamu bangun. Terima kasih.” Air mata Dylan bercucuran membasahi baju pasien.
“Maaf. Maafkan aku Dylan. Semua ini salahku, seandainya bisa lebih sabar.” Stephanie tak kalah erat memeluk suaminya. Kejadian itu benar-benar cepat dan mengerikan, satu hal yang disyukuri, janin dalam kandungannya selamat meskipun sempat mengalami pendarahan.
“Aku ingin melihat putri kita, Dylan. Aku ingin menggendongnya.” Suara serak Stephanie memohon kepada sang suami.
Tidak semudah itu menyetujui keinginan Stephanie, sebab hari sudah larut bukan jam kunjungan ke ruang perawatan bayi. Selain itu kondisi tubuh Stephanie yang masih lemah. “Jangan Baby, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Kita tunggu dokter ok.”
“Tapi Dylan, aku ingin melihatnya, anak kita sehat kan? Kamu jangan bohong.” Stephanie menatap sendu wajah tampan Dylan, ia cemas apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya.
__ADS_1
Beginilah Stephanie yang selalu keras kepala dan tidak mudah menerima sesuatu, hingga Dylan harus berusaha lebih keras untuk meyakinkan istrinya.
Ayah satu anak ini bahkan mengeluarkan ponsel dan menunjukkan beberapa gambar Mireya. Iya bayi merah yang baru saja lahir beberapa jam lalu diberi nama Mireya Agatha Manassero. Putri yang selamat dari kecelakaan merupakan keajaiban yang sangat baik bagi keluarga Manassero juga Bradley.
“Anakku. Kamu tidak bohong kan Dylan?” lirih Stephanie.
“Iya serius sayang, untuk apa aku bohong. Merugikan sekali.” Dylan tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi rapi dan bersih. Sekarang kebahagiaannya sudah lengkap, memiliki istri yang dicintai serta putri cantik, sangat mirip dengan Stephanie.
“Tapi Dylan, kamu dari mana. Mama bilang ada masalah? Apa pekerjaan atau pelaku yang menabrak aku? Aku ingin tahu siapa orangnya.” Ucap Stephanie begitu penasaran. Karena Dylan malah pergi bukan menunggunya siuman.
“Oh itu … aku dan Papa ada sesuatu, masalah pria. Baby apa ada yang kamu inginkan? Makanan mungkin."
"Katakan Dylan? Siapa pelakunya? Apa itu Kaylin?"
"Ya Baby, tapi kamu jangan cemas. Dia pati menerima hukuman setimpal." Jawab Dylan tegas.
Sungguh keajaiban yang luar biasa, beberapa jam lalu musibah datang tanpa diduga. Dia ingat ketika napas belahan jiwanya tersengal, wajahnya pucat serta darah membasahi pakaian.
“Hey kau … ini rumah sakit. Biarkan putriku sembuh dulu, enak saja mencium sembarangan. Minggir.” Papa Adam menyingkirkan menantunya, pria paruh baya ini masih enggan berbagi cinta putri satu-satunya dengan Dylan.
“Papa? Jangan seperti itu.” Tawa Stephanie melihat dua lelaki yang sangat berharga dalam hidup. Satu paling berjasa dan kasih sayangnya tidak akan lekang oleh waktu, satunya lagi menambah warna dan pengalaman baru, hidupnya akan menua bersama Dylan.
.
.
.
Satu bulan setelah melahirkan, Stephanie bisa membawa pulang Mireya dari ruang rawat inap khusus bayi. Betapa senangnya keluarga kecil itu, kini anggotanya lengkap.
__ADS_1
Dylan mulai merancang kapan waktu yang pas untuk memboyong istrinya ke Spanyol. Sungguh ia tidak sabar menunjukkan Mireya pada seluruh anggota keluarga yang lain.
“Selamat datang di mansion, putri cantik. Daddy menyayangimu.” Dylan menggendong bayi merahnya, sembari satu tangan memegangi Stephanie.
“Akhirnya cucu oma, pulang. Lucunya cucu Oma. Dylan bantu istri kamu, Mireya sama mama saja.” Tawar Mama Samantha, membuka kedua tangan, menunggu Dylan menyerahkan cucu pertamanya itu.
“Siap Ma, titip Mireya.” Kesempatan emas yang diambil oleh Dylan, karena ayah satu anak itu ingin berduaan saja dengan istrinya, egois memang.
Mama Samantha dan Papa Adam sebenarnya keberatan dengan keputusan Dylan, membawa istri dan anaknya ke Madrid. Selain keduanya baru saja pulih, Mireya juga cucu pertama bagi kedua keluarga, terjadilah kecemburuan pada diri Papa Adam.
Kedua orangtua ini berharap, semoga Dylan membawa Stephanie dan Mireya pindah setelah besar nanti. Namun kembali lagi, putri mereka sudah menikah, menjadi tanggung jawab Dylan. Lagipula selama hampir satu tahun sepasang suami istri itu menjalani hubungan jarak jauh.
“Mireya jangan tinggalkan Opa, apa kamu tidak mau tinggal dengan Opa?” lirih Papa Adam, menciumi kepala cucu cantiknya.
Benar-benar mirip Stephanie, sangat manis dan cantik “Opa harap, kamu selalu dilindungi dan bahagia, sayang.” Papa Adam menangis tak kuasa menghitung hari berpisah dari cucunya.
“Samantha, bujuk Dylan. Jangan sampai membawa putri dan cucu kita pergi jauh. Aku tidak … tidak akan sanggup hidup tanpa keduanya.” Papa Adam meraung, tidak pernah terbayang sekalipun dalam benaknya tinggal beda atap dari anak dan cucu.
“Kamu itu bagaimana Adam, Stephanie bertahun-tahun tinggal di New York biasa saja, kenapa sekarang berlebihan?” Mama Samantha menggeleng kepala, bisa-bisanya suami yang terkenal sebagai pimpinan utama GB Group ini menangis.
“Beda sayang. Kalau itu, aku tahu kapan dia pulang tapi sekarang mana bisa. Anak kita sudah menikah, memiliki kehidupan baru. Kalaupun pulang mungkin tidak lebih dari satu minggu.” Keluh Papa Adam, rasanya pria ini menyesal menyetujui putrinya menikah muda.
“Seharusnya aku nikmati waktu bersama anak-anak sebelum menikah. Sudahlah … kalau tidak diizinkan takut terjadi hal di luar dugaan. Aku juga ingin segera memiliki cucu.” Papa Adam menyusut air mata dan ingusnya.
Untung ini di mansion bukan kantor, bisa hancur harga dirinya di hadapan ribuan karyawan kalau menangis dan membuang ingus karena takut ditinggal cucu.
“Papa tenang, Stephanie dan Mireya bebas kembali ke Jakarta kapan saja. Jangan khawatir Pah.” Suara Dylan, terenyuh mendengar dan melihat betapa menyedihkan mertuanya itu.
TBC
__ADS_1