
BAB 26
Stephanie tercengang melihat ponselnya, ada panggilan telepon dari Han. Mungkin memberitahu kalau Dylan telah sampai dan duduk di dalam ruangan, pikir Stephanie.
Dia bergegas, mempercepat langkah kaki, memasuki ruangan VVIP. Namun kedua mata Stephanie terbuka lebar, pasalnya bukan Dylan melainkan wanita cantik yang selalu ada di berita.
“Masuklah. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” Chloe berdiri lalu memindahkan gelas kosong ke sisi lain. “Maaf aku haus, jadi minumanmu aku habiskan.”
“Oh ya tidak apa Nona Chloe.” Jawab Stephanie sama sekali tidak takut, bahkan bisa mengendalikan rasa terkejutnya dengan cepat. Lagi pula untuk apa takut, dia bukan selingkuhan Dylan, hubungannya hanya terbatas kontrak, sebentar lagi habis.
Chloe Martinez terperangah gadis muda di depannya mengetahui namanya, benar-benar luar biasa. Wanita itu pasti tahu status Chloe, tetapi masih mendekati Dylan, memang hama pengganggu.
“Aku pikir kita akan berkenalan, tapi kamu sudah tahu namaku. Seberapa banyak yang kau ketahui tentang hubungan kami?” Tanya Chloe, membuka tas dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
Stephanie tidak langsung menjawab melainkan duduk lebih dulu, ia ingin segera pergi dari ruangan ini. Pasti Dylan sengaja membawa ke New York, dan sekarang kemana pria itu? Bukannya memberitahu Stephanie jika dia datang berdua, ini menghilang tak berjejak, selain itu Han juga tidak mengatakan apapun.
“Aku tahu kalian bertunangan, benar kan? Kau tidak perlu takut Chloe, aku akan pergi, asal kau tahu diantara kami tidak ada hubungan apapun. Kau harus percaya kepada Dylan.” Stephanie merapikan barang-barangnya. Kemudian berdiri, dirasa cukup mengatakan itu semua, memang benar ia tidak memiliki perasaan apapun kepada Dylan Manassero.
Tapi sebelum berhasil keluar, Chloe mengatakan sesuatu yang sedikit membuat Stephanie kebingungan. Lalu menoleh ke belakang, memperhatikan wajah Chloe penuh kemenangan.
Chloe menyerahkan sesuatu ke tangan Stephanie, sangat sukses membuat gadis bermata biru laut ini memaku. Penilaiannya terhadap Dylan langsung berubah 180 derajat. “Dasar laki-laki brengsek, masih bisa mencari mangsa di luar, benar-benar keterlaluan kamu Daddy.” Geram Stephanie dalam hati.
“Kau tidak perlu cemas, Nona Chloe, aku tidak akan muncul di hadapan tunanganmu. Hiduplah bahagia dengan anak kalian. Aku minta maaf menjadi pengganggu, tapi niatku bukan seperti itu.” Stephanie mendekat ke meja, lalu menyimpan gambar USG dan testpack.
Rupanya tunangan Dylan itu tengah hamil dua bulan, Stephanie iba kepada Chloe dan merasa bersalah.
Chloe tersenyum licik, dalam hati bersorak, setidaknya berhasil membuat jarak diantara mereka, tetapi ini semua belum cukup.
Bagaimana kalau Dylan datang lagi? Pria itu nekat ingin menggantikan posisi Chloe dengan Stephanie. Namun untuk hari ini dirasa cukup memberi sedikit pukulan ringan.
__ADS_1
“Terima kasih Nona, aku harap kau membuktikan semua perkataan. Kalau sampai kalian bertemu lagi, aku tidak segan melakukan lebih, semua karena calon anakku. Aku akan berusaha melindungi semua haknya, termasuk keberadaan Dylan.” Tegas Chloe, berdiri lalu membuka pintu mendahului rivalnya.
“Oh ya aku lupa, kau tidak perlu menunggu Dylan. Sebab dia tidak akan pernah datang selamanya, permisi aku mau lewat.” Chloe mendorong kasar Stephanie hingga membentur hiasan di sisi pintu.
Sayangnya Stephanie tidak membalas, mana bisa berkelahi degan ibu hamil sama saja seorang pecundang.
Stephanie mencari Han, ia yakin pria itu masih di sekitar sini, bisa-bisanya Han tidak memberitahu keberadaan Chloe, nyaris membuat jantung Stephanie melompat keluar. Wanita itu sangat arogan dan sikapnya sama sekali tidak menyenangkan.
“Dimana Han?” Menelisik isi restoran, tidak menemukan seorang pun yang mirip dengan asisten pribadi Dylan. Bahkan Stephanie bertanya ke beberapa orang, mereka tidak melihat Han dan kemana perginya pria itu pun tidak tahu.
Akhirnya memutuskan pulang ke penthouse seorang diri, siang ini juga harus keluar dari tempat mewah milik Dylan.
“Dasar pria jahat, sebentar lagi dia memiliki anak tetapi mengatakan ingin menikah denganku. Ck memang pria tidak tahu diri. Sudahlah Stephanie pergi yang jauh darinya, lagipula sekarang hutang Kaylin sudah lunas, Jacob di penjara, apa yang harus aku khawatirkan?”
**
Tiba di penthouse Stephanie langsung merapikan barang miliknya, tidak ada satupun benda pemberian Dylan yang di bawa , termasuk black card dan gelang yang setia menemani gadis itu selama beberapa hari.
“Apa yang kalian lakukan, hah? Jangan macam-macam ya.” Stephanie sudah berusaha menghindar, tapi satu tangan berhasil menariknya dan tiba-tiba tubuh Stephanie limbung lalu pingsan.
Pengawal menghubungi Dylan di seberang benua, melaporkan semua kegiatan gadisnya dari pagi hingga siang ini.
Stephanie dibaringkan di kamar, ruangannya pun dijaga ketat, termasuk dalam peraduan. Dua orang bodyguard wanita berdiri mengawasi, bahkan tepat di luar pintu ada satu orang penjaga.
“Maafkan kami Nona.” Lirih dua pengawal wanita.
“Daddy kau jahat, keterlaluan.” Racau Stephanie dalam tidur.
**
__ADS_1
Madrid
Dylan marah mengetahui gadis yang ia cintai berencana kabur keluar penthouse, berpikir bahwa wanita itu marah dan kecewa sebab tidak jadi bertemu.
Dia juga kesal, berulang kali menghubungi Han tidak kunjung menerima jawaban, padahal peranan utama Han sangat berpengaruh, tapi asistennya itu malah pergi entah kemana.
“Apa mereka sampai sebelum aku mengirim pesan? “
Kepala Dylan semakin pusing dan berdenyut, belum selesai masalahnya dengan Tuan Besar Manassero, ia kembali mendapat ujian cinta.
Akhirnya Dylan putuskan sore ini mendatangi gadisnya, dibantu sekretaris memesan tiket pesawat. Dylan mengendap pergi keluar dari mansion, tidak menggunakan mobil kesayangan, karena mantan rivalnya menunggu di luar pagar besar.
Pria ini keluar melalui pintu samping yang tertutup tanaman merambat, pintu yang tidak pernah dikunci.
Tapi rencananya kurang beruntung, sebuah mobil SUV mendekat dengan kecepatan tinggi hampir menabrak, Dylan terpaksa menepi sebelum kembali berlari memutar jalan.
“Siapa mereka? Berani sekali padaku. Apa tidak tahu aku ini siapa? Aku yakin mereka dibayar oleh Daddy.”
Langkah kaki Dylan akhirnya tiba di depan pagar, ia langsung masuk mobil dan memeluk rekannya.
“Terima asih Leon, dan kau terima kasih juga Alonso. Kalau tidak ada kalian mungkin aku tidak bisa melarikan diri.”
Sengaja Dylan menggunakan temannya ini, tidak akan ada yang berani mengejar mobil bahkan berurusan dengan Leon, percuma hanya mencari mati.
“Kenapa tidak menggunakan pesawat keluarga? Apa di jual untuk membiayai kebutuhan mu. Kau itu memang tidak berubah Dylan.” Cibir Leon.
“Kali ini lebih parah gadisku di sana ingin melarikan diri, Daddy mengambil semua akses milikku dia sangat ingin memisahkan kami, setidaknya nasib percintaanmu lebih beruntung kawan.” Tukas Dylan menepuk bahu rekannya yang nampak risih.
TBC
__ADS_1