My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
BAB 59 - Lebih Cepat


__ADS_3

Siang ini tidak tahu kenapa Stephanie sangat ingin makan di luar mansion. Tapi sesuai peraturan tidak boleh keluar mansion tanpa persetujuan dari Dylan. Berulang kali Stephanie menghubungi suaminya, tidak tersambung, menelepon Han juga sama.


Para sopir tidak ada yang mau mengantarnya keluar, sedangkan bodyguard selalu berjaga dan dua orang mengikuti kemanapun Stephanie berjalan, kecuali kamar.


“Di mana Dylan? Kenapa sikapnya menyebalkan lagi? Aku ingin makan di cafe om. Perutku lapar.” Mengelus perutnya yang tampak buncit dan sedikit menonjol.


Demi melancarkan tujuannya, Stephanie minta tolong kepada Mama Samantha, mungkin bisa dengan alasan lain. Lagipula mereka semua mana berani melawan Nyonya rumah di sini.


Tok … tok


“Mama ada di dalam? Aku boleh masuk ma?” Stephanie lebih dulu menyembulkan kepala, dan seketika tersenyum melihat wanita paruh baya tengah duduk di atas sofa sembari membaca buku.


“Oh masuk sayang. Ada apa? Kamu tidak enak badan atau sakit perut?” tanya Mama Samantha, merasa khawatir karena tidak biasanya ibu hamil itu mengetuk pintu bahkan masuk ke kamar kedua orangtuanya.


Pasti ada sesuatu yang mendesak, mungkin merasa nyeri atau lainnya. Sebab terakhir kali Stephanie masuk kamar ini dengan keluhan sakit pada perut bagian bawah, dan berujung pada pendarahan.


“Bukan mah, aku mau minta tolong sesuatu, boleh kah?” Stephanie masih terus membelai perutnya, janin di dalam pun bergerak terus.


“Tentu sayang boleh, katakan apapun itu pasti mama turuti. Mama hanya ingin kamu dan cucu mama sehat sampai waktu melahirkan nanti.” Ujar mama Samantha mendekati putrinya, merangkul bahu yang kini sedikit berisi.


Stephanie berulang kali menarik napas, dadanya berdetak, rasa gugup menguasai diri. Dia tahu ini salah tapi mau bagaimana lagi, benar-benar ingin pergi ke Cafe R&B untuk makan.


Ibu hamil ini pun menceritakan bahwa Dylan susah dihubungi, tidak mendapat izin dari suaminya untuk pergi keluar rumah. Selain itu asisten pribadi juga sama, pasti mereka berdua tengah sibuk mengingat jam di Kota Madrid saat ini masih pagi.


Bisa saja Dylan sedang bertemu klien atau mungkin rapat penting bersama beberapa kolega bisnisnya.


Stephanie memohon agar Mama Samantha membantu, tidak masalah bila seluruh pengawal ikut.


“Bagaimana mah, bisa kan? Mereka semua pasti menurut dan patuh pada mamah. Sekali ini ya mah.” Stephanie begitu memohon dan mengeluarkan bulir bening dari kedua matanya. Dia bosan sekali selalu makan dalam mansion, ingin mencari hiburan pergi menikmati suasana siang atau malam hari.


“Sayang maafkan mamah, tapi ini semua demi kebaikan kamu. Apa yang Dylan lakukan sudah benar sayang, ah kamu bisa tunggu dia, mungkin sebentar lagi bisa ditelepon.” Mama Samantha menolak, semua memang ada alasannya, bahkan ketika ibu mertua Dylan Manassero ini melarang keras Stephanie untuk keluar mansion pasti ada sesuatu.

__ADS_1


Lebih memilih menyelamatkan nyawa daripada menuruti hanya sekadar keinginan.


“Mama sama saja dengan Dylan, semua di rumah ini terlalu takut. Berlebihan sekali.” Stephanie menghentak kaki, segera keluar kamar orangtuanya.


Dalam sebagian hati mengatakan dirinya harus melawan peraturan, sementara bagian lainnya menyatakan patuh tidak boleh ada pelanggaran.


Stephanie yang sedang kesal karena harus terpenjara dalam mansion mendadak mendengar suara seseorang .


“Baby?”


Panggilnya.


Tapi bukankan jadwal kedatangan Dylan satu minggu lagi?


“Mungkin aku salah dengar.” Stephanie mengurungkan niat untuk melihat ke bawah. Rasanya saat ini hanya tidur pereda marah yang terbaik.


“Baby, kamu tidak merindukan suamimu? Aku ada di sini sayang.” Dylan tersenyum di ujung tangga.


“Dylan kamu? Ini bener kamu kan? Akhirnya, tapi kenapa tidak ada kabar sama sekali?” Stephanie berulang kali menggosok mata hanya untuk memastikan.


“Kejutan sayang dan ya aku datang ... aku bersyukur kamu baik-baik saja Baby.” Lanjut Dylan dalam hati, rupanya itu hanya mimpi buruk. Tapi memang tidak salah dia mempercepat kunjungan, jika melihat perut sang istri semakin buncit dari terakhir mereka bertemu.


Stephanie langsung bergelayut manja pada suaminya, kemarahan yang tadi menguasai diri perlahan menghilang berubah sejuk.


“Aku senang Dylan. Kamu tahu, tadi aku telepon tapi selalu gagal. Aku pikir kamu sibuk rapat, ternyata ….” Senyum manis nan menggoda Stephanie Adaline Bradley.


“Ternyata apa? Kamu tidak boleh berpikir hal buruk tentang suamimu. Karena cintaku untukmu abad, sayang.” Goda Dylan menyentuh bagian sensitive sang istri.


Sepasang suami istri saling melepas rindu, berjalan ke kamar bertautan jemari, diselingi tawa dan sesekali cubitan gemas Dylan pada hidung wanitanya.


“Cinta abadi apanya Dylan? Kamu itu benar-benar berlebihan Dylan, tidak masuk akal.” Pungkas Stephanie diiringi tawa dan wajah merona.

__ADS_1


“Berlebihan apa? Kamu tahu Baby? Kalau pun maut datang lebih awal dan menjemput lebih dulu, aku pasti akan menunggu bidadariku ini di dunia yang berbeda. Tidak mau yang lain, hanya Stephanie istriku seorang.” Dylan merangkum pipi merona wanitanya.


Menatap penuh puja dan damba, wajahnya mendekat, hangatnya hembusan napas dirasakan pipi masing-masing.


Tak ingat lagi tempat, pria tampan rupawan dan matang itu langsung ******* bibir istri yang selalu menggoda. Bahkan Dylan memenjarakan Stephanie pada dinding, gairah yang menggebu dalam diri tidak bisa ia tahan, sampai satu tangan nakal melepas resleting bagian depan tubuh belahan jiwanya.


Suara d3s4h-@n pun melantun indah dari Stephanie. Dylan semakin gencar mengabsen wajah, belakang daun telinga bahkan tengkuk istrinya.


“Kalian itu benar-benar tidak tahu tempat. Hey ke kamar sekarang juga, jangan di tempat umum seperti ini!” seru Papa Adam suaranya menggelegar di lantai dua mansion.


“Kalian itu masih memiliki dua adik ipar, ingat itu mereka masih lajang.” Peringatan Papa Adam, walau dia yakin dua putranya juga tidak polos, karena mereka sudah dewasa apalagi Papa Adam juga pernah muda.


“Ck. Karena dua anak itu aku jadi ingin melakukannya. Di mana Samantha?” gumam Papa Adam bergegas mencari keberadaan Mama Samantha.


Sementara itu dalam kamar


Stephanie dan Dylan tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Papa Adam.


Dylan juga tidak menyangka jika papa mertuanya pulang lebih cepat, sedangkan dirinya tidak bisa menahan rindu yang menumpuk dalam dada.


“Dylan, aku mau minta sesuatu boleh kan?” Stephanie tersenyum semanis mungkin, bahkan sengaja memainkan tangannya dengan nakal di dada bidang sang suami.


Ehem


“Baby jangan seperti ini, aku tidak bisa menahannya tapi tubuhku perlu istirahat. Ada apa Baby?” Tanya Dylan menangkap tangan mulus yang merayap, menggelitik sisi liarnya.


“Aku mau makan malam di luar, di cafe om. Boleh kan? Ayolah Dylan, satu bulan ini aku selalu makan di mansion. Bosan.” Stephanie menekuk wajah dan tubuhnya melemas.


“Ok Baby, apapun untukmu. Malam ini kita keluar mansion, dandan yang cantik baby.”


“Terima kasih Dylan, suamiku. Aku mencintaimu.” Dengan lincahnya ibu hamil ini melabuhkan ciuman bertubi-tubi pada wajah suaminya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2