My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 29 - Membuat Pusing


__ADS_3

BAB 29


Dylan terus memagut bibir manis gadisnya, dengan satu tangan membuka resleting blouse. Dylan tidak bisa melepaskan Stephanie begitu saja, lama dia menunggu dan sekarang harus kehilangan dalam sekejap akibat ulah Chloe.


“Aku janji Baby, kita akan menikah. Aku hanya inginkan kamu bukan Chloe.” Secepat kilat pakaian Stephanie tergeletak di atas lantai dan hanya tersisa dua bagian yang tertutup.


“Berani kau menyentuh dan melakukannya, aku pastikan jika benar aku hamil, anakmu akan hidup bersama pria lain, karena aku tidak sudi menikah dengan pria seperti mu.” Teriak Stephanie menatap marah kepada Dylan, tidak ada lagi rasa sungkan.


“Tidak akan pernah, karena kau milikku. Setelah ini kita menikah, mengerti.” Dylan terus mencumbu gadisnya, memberi beberapa tanda di leher dan d-4-d@ bagian atas.


Tapi Stephanie lebih gesit bergerak, ketika Dylan mencari pengait sesuatu yang melingkar dan berusaha melepaskan. Gadis ini menendang kuat perut sugar daddy-nya.


BUGH


Dylan meringis, merasakan betapa nyerinya di bagian perut. Tapi usaha Stephanie sia-sia, dan hanya membuang waktu.


Tentu saja Dylan tersenyum sebab pintu tidak bisa di buka, teriak minta tolong pun percuma. Tak ada yang membantu, pengawal dan maid hanya patuh kepada Dylan.


“Kau tidak bisa kabur Baby, kau tidak boleh mempercayai Chloe.” Sengit Dylan, turun dari ranjang dan mendekati gadisnya yang mundur menjauh.


“Aku sama sekali tidak ada sangkut paut dengan kalian berdua, kamu pergi sekarang Dylan, nikahi Chloe, dia lebih layak.” Balas Stephanie penuh penekanan dan menatap tajam, meraih pakaian dan melekatkan dengan cepat.


“Aku bisa membuktikan semuanya Baby, ini tidak benar. Aku akan bawa Chloe untuk tes DNA, bila perlu kamu yang melakukannya, supaya lebih yakin kalau ini semua hanya rekayasa Chloe.” Terang Dylan yang bingung tidak tahu lagi harus berbuat apa, agar Stephanie percaya.


Melihat gadisnya sudah berpakaian lengkap dan menatap jijik kepadanya, Dylan menarik napas sebelum memberi alasan kenapa ia nekat melakukan hal yang tidak seharusnya.


“Baby, maaf ... aku tidak bermaksud melakukannya, aku hanya tidak mau kamu pergi. Baby, aku mencintaimu sudah lebih dari tiga tahun, aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, dan beberapa minggu lalu akhirnya takdir mempertemukan kita, aku ingin hidup menua denganmu Baby, percayalah.” Dylan berkata jujur dari perasaannya, tidak lagi menutupi dan menjaga harga diri. Apa gunanya itu semua kalau harus kembali kehilangan untuk kedua kali.


“Tapi sayang aku tidak memiliki perasaan apapun.” Sengit Stephanie.

__ADS_1


PRANG


Tiba-tiba suara pecahan kaca terdengar nyaring, Stephanie memukul gelas ke meja, sengaja ia lakukan agar Dylan membuka pintunya.


Stephanie memanfaatkan perasaan Dylan, ia mengarahkan pecahan kaca ke pergelangan tangannya, menekan Dylan agar membuka pintu.


“Baby jangan lalukan apapun! Kita bisa diskusi semua masalah, jangan seperti ini Baby.” Berusaha merayu gadisnya tetapi gagal, sedikit ujung kaca menggores kulit mulus pergelangan tangan Stephanie.


“Argh kenapa mereka berdua gemar sekali membuatku pusing. Chloe wanita yang tidak pernah aku cintai selalu memaksa dan mengancam bunuh diri jika pergi atau putus. Stephanie wanita yang aku cintai malah ingin pergi menjauh dengan mengancam bunuh diri.” Kepala Dylan seketika berdengung nyeri.


Akhirnya Dylan mengalah, ia tidak mau terjadi sesuatu dengan gadisnya, membiarkan wanita itu pergi meninggalkan penthous membawa tas dan koper.


“Ikuti dia dan pastikan aman, laporkan secara berkala, jangan sampai kehilangan jejak.” Perintah Dylan kepada beberapa bodyguard yang siap membuntuti kekasih Tuannya.


Sementara di luar gedung, Stephanie berusaha mencari angkutan umum. Ia harus mencari tempat bermalam, sebelum pulang ke tanah kelahiran.


Satu mobil berhenti tepat di depannya, wanita cantik berambut pirang, ya Chloe menawarkan diri memberi tumpangan, agar Stephanie menjauh dari tunangannya.


“Terima kasih Nona Chloe, sebaiknya kau masuk dan temui ayah dari bayi itu.” Balas Stephanie melenggang pergi. Mencari halte bus terdekat, ia tidak peduli pada Chloe yang marah karena mendapat penolakan.


“Dasar sombong, dia pasti mencari mangsa baru, memang perempuan murahan.”  Chloe mencibir simpanan tunangannya, dan mengikuti saran Stephanie, masuk ke apartemen.


Setelah berhasil memarkirkan mobil Chloe turun, bertanya ke bagian informasi, dimana unit penthouse Dylan. Namun tidak semudah itu, wanita itu masih harus mendapat izin untuk masuk, karena namanya tidak ada dalam data penghuni atau tamu penthouse.


“Kalian ini, cepat hubungi Dylan. Aku itu tunangannya, kenapa tidak boleh masuk?” Chloe mengamuk di lobby, tidak terima direndahkan oleh frontliner.


“Maaf Nona, ini sudah peraturan. Lagipula Tuan Dylan hanya tercatat sebagai pengunjung bukan pemilik.” Petugas memberi penjelasan rinci. Sebab Chloe keras kepala memaksa mereka, bahkan berani memberi imbalan besar, hanya untuk membawanya naik.


“Tidak mungkin, kalian pasti salah lihat. Siapa pemilik gedung apartemen ini hah? Bila perlu ku beli dan kalian semua aku pecat.” Chloe membanting tas hingga barang-barang di depan meja resepsionis.

__ADS_1


Terpaksa mereka menghubungi Dylan, karena Chloe membuat keributan dan tidak mau diusir keluar sebelum bertemu tunangannya.


Tidak sampai sepuluh menit Dylan keluar, raut wajah tidak bersahabat, tanpa banyak bicara membawa Chloe masuk lift, menghempas tubuh wanita yang telah menuduhnya.


BRUK


“Sakit, kamu tega. Kalau aku terluka bagaimana? Aku jauh-jauh ke sini menyusulmu Dylan.” Chloe mengeluarkan air mata palsu, meringis kesakitan.


 Sejenak Dylan ingat apa yang disampaikan Stephanie, kalau wanita yang tengah kesakitan di belakangnya ini sedang hamil.


 Dylan merubah tujuan mereka, dan menghubungi resepsionis untuk mempersiapkan taksi. Malam ini juga semua kebohongan Chloe harus terbongkar, Dylan tidak mau menikahi tunangannya apalagi dalam keadaan hamilanak pria lain.


“Dylan kita mau ke mana? Aku lelah, mau tidur.” Chloe merengek dan mengiba, memeluk tubuh kekar pria itu, berharap Dylan iba.


Setelah pintu lift terbuka, Dylan menyeret Chloe masuk taksi. Masih diam seribu bahasa tidak memberitahu kemana tujuan mereka pergi.


“Kemana kita? Aku tidak mau pulang sendirian, kita harus pulang bersama Dylan.” Ocehan Chloe semakin membuat kepala Dylan pusing bukan main.


“Chloe sebaiknya kau diam, nanti kau tahu sendiri tujuan kita kemana.” Dylan menyandar, sembari memejamkan kedua mata, memijat kedua pelipisnya.


Sementara Chloe memperhatikan jalan, dan mendapat ide bagus setelah melihat sesuatu di halte. Dia membuka kaca taksi, menyandar mesra ke tubuh tunangannya, memainkan kancing kemeja Dylan lalu mencium rahang tegas yang selalu menggoda.


Wajah Chloe penuh senyum kemenangan, dia bangga bisa mempertahan Dylan sampai sejauh ini sekalipun caranya salah, tidak peduli.


“Apa yang kau lakukan Chloe? Menjauhlah, tempat duduk di sebelahmu masih luas, tidak perlu mepet ke sini kan.” Bentak Dylan, merasa risih, tangan wanita ini sudah menjalar kemana-mana, tanpa tahu tempat.


“Maaf sayang.” Cicit Chloe.


“Maaf Tuan, tujuan anda ke rumah sakit, benar?” Tanya sopir taksi sekedar konfirmasi.

__ADS_1


“Ya rumah sakit terdekat, teman saya sakit dan harus mendapat pertolongan.” Tegas Dylan memperhatikan perubahan riak wajah Chloe yang mendadak panik.


TBC


__ADS_2