
Bab 16
Stephanie tertawa puas melihat Dylan terus mengejarnya dari belakang, mereka berdua sama-sama larut dalam suasana malam. Mengelilingi Kota San Francisco dengan skuter, hal pertama bagi Dylan. Setelah dijalani rupanya menyenangkan, lebih menyatu dan memberi sensasi tersendiri.
Gadisnya memang berbeda, Stephanie memberikan warna baru bagi kehidupan Dylan. Senyum merekah terpancar dari bibir masing-masing.
Sampai satu panggilan dari Han cukup mengganggu seorang Dylan, ia menyatukan alis sebagai tanda bingung sekaligus terkejut mendengar semua penuturan Han.
“Oke Han, aku melihatnya. SUV hitam benar kan? Berapa orang? Kirim tambahan orang untuk berjaga, aku tidak mau Stephanie terluka.” Dylan memandang tajam ke arah mobil yang terparkir di sela kendaraan lain.
Pantas saja sejak meninggalkan area street food merasa ada yang mengikuti, rupanya benar, entah siapa mereka itu, berani mengusik ketenangannya.
“Baby jangan berhenti, ayo kita ke hotel.” Teriak Dylan.
Tapi belum sempat gadisnya kembali jalan, dua orang pria menghadang, menarik tangan Stephanie, memaksanya masuk ke dalam van.
“Baby” Dylan berlari sangat cepat, memukul tanpa ampun lawannya. Dua pria itu jatuh tersungkur pada aspal.
“Are you ok, baby?” merangkum wajah Stephanie yang masih terkejut dan memeluk erat gadisnya memberi ketenangan.
Tapi beberapa orang masih mengikuti mereka, Dylan dan Stephanie pun berlari menghindari hal buruk. Keduanya melewati beberapa jalan sempit, ramai pedagang untuk mengecoh, tapi tanpa di sangka mobil SUV menunggu di ujung jalan.
Beruntung Dylan mengetahui dengan cepat, langsung meraih pinggul wanitanya sampai masuk ke sela kecil bangunan, sama-sama terhimpit, menempel satu sama lain.
Dylan menghapus keringat bercucuran dari kening Stephanie.
Tidak ada sepatah kata yang keluar, keduanya masih terus berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Jarak wajah yang sangat dekat membuat Dylan terbawa suasana, semakin mendekat kemudian memagut bibir Stephanie di tengah gelapnya malam dan gang sempit. Gadisnya pun tidak melawan, karena cukup sulit bergerak, Stephanie sedikit membuka bibir untuk memberikan akses kepada Dylan.
Kesempatan yang dimanfaatkan dengan sangat baik, saling beradu dan bertukar saliva, bahkan Stephanie melingkarkan kedua tangan di leher Dylan, mulai terbawa pada kelembutan yang diterimanya.
“Dasar anak muda, keluar kalian.” Seru wanita paru baya dari luar gang mengusir Dylan dan Stephanie.
Mereka tertawa, sebab melihat wajah menyeramkan ibu tua itu. Stephanie pun tidak menyangka apa yang dilakukannya benar-benar diluar batas, ia sedikit menghindar, berjalan lebih dulu.
“Baby tunggu, sebentar lagi Han datang, kita naik mobil, jangan berjalan kaki.” Ucap Dylan menarik satu tangan wanitanya.
__ADS_1
“Ok” jawab Stephanie tersenyum canggung.
**
Kamar Hotel
“Baby kamu mau mandi? Cepat, setelah itu kita tidur. Hari ini benar-benar melelahkan.” Dylan terbaring di atas ranjang, membuka MacBook memeriksa hasil penyelidikan Han. Tapi sebelumnya membuka beberapa laporan, tidak ingin gadisnya cemas dan ketakutan.
“Ayo Baby, mandi. Kamu harus menjadi gadis yang menuruti semua perintahku, mandilah.” Dylan berusaha mengusir halus Stephanie yang masih diam memikirkan sesuatu. Ia tahu pasti gadisnya penasaran sekaligus takut.
“Butuh bantuan? Dengan senang hati.” Dylan melepas MacBook dan menggendong gadisnya masuk kamar mandi. “Mau berendam atau tidak?”
“Eh Daddy mau apa? Keluar.” Bentak Stephanie merasa dicurangi, pasalnya ia sempat melamun ketika Dylan menyampaikan sesuatu.
“Tentu saja membantu mandi, apa lagi?” seringai nakal di bibir Dylan serta kedua alisnya turun naik.
“Oh ya ampun, aku ini bukan anak kecil lagi. Aku bisa melakukan semua sendiri. Terima kasih tapi aku tidak butuh bantuan Daddy, silahkan keluar sekarang juga.” Stephanie mendorong Dylan keluar dan mengunci pintu secepat mungkin.
Tidak menyangka jika pria dewasa itu memiliki pikiran untuk membantunya mandi.
“Oh God apa yang kamu pikirkan Stevi, hentikan otak kotormu itu. Apa-apaan ini? Tidak, tidak boleh” Stephanie berjalan memasuki bilik kaca, membuka pakaian satu per satu, kemudian keluar lagi mengambil bathrobe.
Rasa penasarannya lebih tinggi dari apapun, membuka sedikit pintu, menguping dan mengintip apa yang tengah Dylan lakukan. Bagian kepala menyembul sedikit, kemudian menajamkan telinga.
“Apa yang dilakukan orangtua itu?” melihat Dylan beralih duduk ke sofa membawa MacBook, tapi sayang tidak ada yang bisa Stephanie dengar selain suara pria yang mengeram kesal. Beberapa kali Dylan menggebrak meja membuat Stephanie terkejut.
Semakin berusaha menguping, kedua matanya tertutup sempurna mengalihkan semua fokus pada telinga, sampai gadis berambut coklat ini tidak menyadari jika Dylan telah berdiri di depannya, menatap aneh.
“Baby? Apa yang kamu lakukan? Sudah mandi?” tanya Dylan sedikit membungkuk mendekatkan diri dengan gadisnya.
Tanpa di duga Stephanie merubah posisi menjadi berdiri tegak dan kepala bagian atasnya membentur tepat di dagu Dylan.
“Aw, apa yang Daddy lakukan?”
“Arrggh sakit, Baby kepalamu sangat keras.”
Sama-sama merasa kesakitan terutama Dylan, ia khawatir giginya loncat akibat ulah gadisnya. Tidak hanya itu rambut Stephanie terlilit pada kalung Dylan.
__ADS_1
“Apalagi ini?” keluh gadis bermata biru. Benar-benar sial harinya, ia kira sudah berakhir tetapi masi terus berlanjut.
Dylan berusaha melepaskan rambut gadisnya, karena tidak memakai perasaan, Stephanie menjerit kesakitan beberapa kali.
“Daddy pelan-pelan sakit, ah rambutku.” Meneteskan air mata, rasa nyeri menjalar sampai kulit kepala.
Kesulitan melepas rambut, Dylan membawa wanitanya duduk di sofa tepat di pangkuannya, memikirkan cara sekaligus mencari kesempatan , sebab Stephanie sangat menempel pada dada bidangnya.
“Ah Stephanie, kalau terus seperti ini aku tidak yakin bisa menahannya.” Batin Dylan berkecamuk, sembari melepaskan per helai rambut gadisnya.
Seketika Stephanie mendekatkan diri pada Dylan, mengalungkan kedua tangan, merayap dibalik tengkuk, membuat detak jantung sugar daddy-nya semakin tidak beraturan.
“B-baby apa yang kamu lakukan? Jangan memancing, aku tidak bisa berhenti kalau kita sudah memulainya.” Dylan panas dingin dengan semua tingkah gadisnya.
Sedangkan Stephanie mengerutkan kening, berpikir apa maksud ucapan Dylan. Ia sama sekali tidak mengerti. Tanpa berpikir menanggapi semua dengan santai.
“Tentu Daddy, aku juga tidak bisa berhenti. Tahan sebentar lagi.” Perintah Stephanie sangat serius.
Mendapat angin segar dan harapan, Dylan semakin di atas awan sampai sesuatu miliknya tidak kuasa menahan gejolak yang diberikan, sentuhan jemari lembut dibalik tengkuk semakin nakal.
“Oh Ayolah sayang, kita pindah ke sana. Aku tidak bisa melihat wajahmu.” Dylan menunjuk kearah ranjang, ia kesal Stephanie bersikap curang lebih memilih mencari kesenangan sendiri daripada bersama-sama.
“Sebentar Daddy, aku hampir selesai. Tahan, jangan bergerak .”
“Akh”
Jerit Stephanie, tapi bagi pria mantan casanova itu adalah suara d-e-sa-ha-n terbaik yang pernah ia dengar.
“Done. Oke Daddy aku mandi dulu. Selamat tidur.” Stephanie berdiri kemudian menyerahkan kalung ke tangan Dylan, dan pergi menuju kamar mandi, lega rasanya bisa melepaskan lilitan rambut dari kalung itu.
Sedangkan Dylan menatap nanar pada kalung di atas telapak tangan, rupanya Stephanie bukan menggodanya melainkan berusaha melepaskan kalung.
“Awas kau Stephanie.”
TBC
__ADS_1