My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 54 - Misterius


__ADS_3

Stephanie beruntung memiliki suami protektif tetapi masih mengutamakan kesenangan istrinya. Semula ibu hamil itu ragu untuk memohon izin, tapi ternyata dengan mudah Dylan menyetujui keinginan sang istri. Dia juga bukan tipe pria kacamata kuda, Dylan tetap menerima informasi baru dan banyak mencari tahu apa yang dibutuhkan wanita selama hamil.


Jarak jauh tidak membuatnya berhenti memperhatikan Stephanie, apalagi dalam keadaan mengandung. Bahkan CCTV di mansion pun kini bisa dia akses setelah mendapat izin dari pemilik hunian.


Tapi kesedihan sering merambat ke hatinya, tidak bisa mendampingin tumbuh kembang janin, menemani sang istri melakukan pemeriksaan dan masih banyak lagi.


“Ma? Ayo kita keluar, main ke rumah Tante Nayla atau ke toko bunga.” Ajak Stephanie setelah sambungan teleponnya berakhir dengan sang suami.


“Dylan setuju sayang? Mama periksa dulu kamu ya, masuk ke ruangan sekarang!” Mama Samantha tidak ingin terjadi sesuatu pada anak dan cucunya.


Sebelum berangkat memeriksa detak jantung janin, tekanan darah ibu dan memastikan Stephanie tidak mengalami keluhan apapun.


.


.


Usai memastikan semua dalam keadaan normal, ibu dan anak itu bergegas keluar mansion. Tujuan mereka yang pertama adalah toko bunga milik Oma Anggi. Entahlah Stephanie ingin selalu membeli bunga dan menikmati aroma harumnya.


Dia jadi lebih sedikit feminim, setelah hamil sikapnya berubah, penampilannya pun semakin cantik, sering menggunakan dress, merias wajah secantik mungkin. Inilah salah satu yang membuat Dylan berat hati berpisah jauh dengan istri tercinta.


Mantan casanova itu hanya bisa menahan rindu dalam dada, apalagi ketika panggilan video berlangsung. Pasti Dylan meneteskan air liur, istrinya itu sangat menggoda untuk dipeluk, dibelai, dicium.


Sudah dua kali ponsel Stephanie berdering, rupanya benar seperti biasa Dylan ingin tahu kegiatan apa saja yang dijalani istrinya itu.


“Hem ya Dylan, ada apa? Aku di toko bunga Oma, hari ini bunga di kamar layu.” Ucap Stephanie sedikit murung mengingat bunga lily di atas meja perlahan tidak segar lagi.


“Baby hati-hati, kamu jangan terlalu lelah. Aku tidak mau bayi kita kelelahan. Ingat itu. Oh sayang aku kangen kamu.”


Tukas Dylan, tatapannya penuh damba dan sangat ingin berada di sisi Stephanie. Menjadi suami siaga sama seperti pria lain, tapi apa daya takdir belum merestui mereka tinggal dalam satu atap yang sama, untuk jangka waktu lama.


“Iya Tuan Muda, kamu tenang. Aku selalu pergi dengan dokter kandungan terbaik, lihat bu dokter membeli banyak bunga.” Stephanie mengarahkan kamera pada Mama Samantha.

__ADS_1


“Iya baby, aku tahu. Tidak ada salahnya kan kamu jaga kesehatan. Apa sekarang langsung pulang?”


Tanya Dylan lagi, dia sangat ingin terlibat dalam kehidupan wanitanya. Kalau bisa mengetahui jadwal ke toilet pun pasti Dylan lakukan.


“Aku dan mama, mau ke rumah Tante Nayla. Kangen Theo juga Vale. Dylan sudah dulu ya, nanti setelah sampai aku hubungi lagi.”


Stephanie menunjukkan senyum manisnya. Demi apapun Dylan ingin sekali melompat ke dalam ponsel, seandainya dia punya kekuatan pasti sudah dilakukan. Tapi sayang, hanya manusia biasa. Untuk berpindah benua pun harus menggunakan pesawat.


“Sayang jangan lupa janjimu.”


Teriak Dylan sebelum menutup sambungan telepon.


“Huh dia itu benar-benar berbeda, suami yang sangat baik.” Stephanie tersenyum mengingat wajah suaminya. Ia sampai tidak menyadari ada seseorang yang tidak senang dengan kebahagiaan itu.


Sosok misterius yang bersembunyi di balik bunga, memakai topi, kacamata dan syal. Mungkin jika berpapasan secara langsung Stephanie bisa mengenali dari bola mata yang memiliki warna berbeda darinya.


Orang itu menyingkir ketika Mama Samantha mendekati putrinya di tengah hamparan bunga mawar.


Ibu dan anak itu memasuki mobil, dan niat jahat dari sosok misterius gagal dilakuan, sebab banyaknya pengawal yang mengelilingi kedua wanita berbeda usia.


Jelas saja, keamanan Stephanie dijamin karena Papa Adam tidak mau terjadi sesuatu dengan putri dan cucunya. Selain itu Dylan menambah beberapa pengawal yang menjaga sang istri dari jarak jauh.


“Sial, kalau seperti ini bagaimana bisa membalas dendamku.” Geram orang dibalik kacamata. Sudah satu bulan ini dia membuntuti kemanapun musuhnya pergi. Tidak segan mencari mati, ketika Stephanie  tengah bersama suaminya. Tidak ada kata pantang mundur sebelum mencapai tujuan.


Sementara di dalam mobil ibu hamil ini tengah memikirkan sesuatu, ia merasa ada seseorang yang mengintainya di toko bunga. Perasaan mengancam dan menginginkan sesuatu.


“Stevia ada apa? Kamu sakit?” tanya Mama Samantha.


“Oh, b-bukan mah. Cuma … umm, kangen Dylan. Mungkin anak ini kangen Daddy-nya.” Jawab Stephanie berbohong.


Dipikir secara logika pun tidak mungkin, karena pengawal sangat ketat menjaganya.

__ADS_1


Lihat saja di depan ada satu mobil, dan di mobil ini ada dua orang bodyguard, belum lagi dua kendaraan roda empat yang selalu mengikuti. Tidak mungkin kan seseorang berani menerobos ketatnya keamanan ini? Kalaupun berani itu artinya, dia menyerahkan nyawanya saat itu juga.


“Sudah Stephanie jangan memikirkan hal yang tidak penting, buang jauh-jauh.” Kata hati wanita hamil ini seraya menggelengkan kepala.


“Oh, cucu Oma kangen Daddy ya? Sabar sayang minggu depan Daddy Dylan ke Jakarta.” Mama Samantha membelai perut buncit Stephanie. Janin dalam kandungan pun merespon sentuhan Neneknya. Menendang beberapa kali sampai perut bagian samping Stephanie tampak menonjol.


Hahaha


Terdengar suara nyaring dari dua wanita berbeda usia, janin itu sangat aktif bergerak setiap mendapat sentuhan dari luar.


“Dia seperti kamu sayang, perut Mama juga dulu sering menonjol ke kiri dan kanan. Sama aktifnya, tidak bisa diam.” Kenang Mama Samantha, masa-masa kehamilan yang dilaluinya cukup melelahkan karena dipenuhi air mata.


.


.


Mobil berwarna putih keluaran terbaru ini sudah masuk pelataran parkir kediaman Bradley. Dua wanita menunggu di depan teras sembari menggendong bayi kembar, bayi laki-laki digendong oleh Tante Nayla , sedangkan bayi perempuan berada dalam pangkuan Fredella.


“Tante?” teriak Stephanie membawa buah dalam keranjang.


“Fredella, Theo dan Vale, Tante Stevi kangen kalian.” Stephanie menciumi satu persatu anak dari sepupunya.


“Lihat aku bawa apa untuk kalian? Buah mangga, Fredella tolong ya bikin rujak, aku ingin makan sambal yang kamu buat.” Pinta Stephanie sangat menyukai makanan asam dan pedas, padahal dia tidak terlalu suka cita rasa asam tapi semenjak hamil berbanding terbalik.


“Ok kamu tunggu di ruang keluarga ya.” Fredella menyerahkan Vale ke Mama Samantha, mengambil keranjang buah, lalu membawanya ke dapur.


Sambil menunggu rujak buah mangga siap, Stephanie bermain dengan dua bayi kembar. Dia memang menyukai anak kecil.


Karena tidak sabaran menunggu, wanita hamil ini beranjak ke dapur tapi langkahnya tertahan setelah membaca pesan singkat dari seseorang.


 

__ADS_1


TBC


__ADS_2