My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 14 - Perasaan Dylan


__ADS_3

BAB 14


Stephanie dan Dylan sama-sama diam selama perjalanan, keduanya melakukan kegiatan berbeda dan duduk saling berjauhan. Stephanie mengeluarkan kertas dan pena, menggambar beberapa desain baju, sedangkan Dylan sibuk dengan MacBook.


Pria itu merasa kecewa, ungkapan isi hatinya tidak didengar oleh Stephanie, tanpa rasa bersalah gadisnya tidak bertanya apapun. Pertama kali mendapat sikap acuh seorang wanita dan rasanya menyakitkan.


Sesekali sudut ekor matanya melirik pada Stephanie, memastikan kegiatan gadisnya. Dalam hati Dylan berdecak sebal, dimana membayangkan akan menikmati perjalanan hangat dan romantis, tetapi lihat gadisnya kembali menggunakan earphone, asyik seorang diri.


Dylan semakin kesal menutup keras MacBook, menyingkirkan benda kotak itu secara kasar. Menyambar wine di sisi meja, menuang dan menikmati sendirian.


“Baby, kamu tidak bisa bersikap manja?” tanya Dylan, ia menyukai wanita yang gemar bergelayut di lengannya, kurang lebih seperti Chloe. Namun tunangannya itu tidak pernah membuat hati Dylan berdebar satu kali pun.


“Waw, keren.” Stephanie melihat pemandangan alam membentang indah di bawah sana.


Pesawat mulai memasuki wilayah California, dan tujuan keduanya pertama kali adalah San Francisco. Bahkan Dylan mempersiapkan kapal untuk tempat mereka bermalam beberapa hari.


Dylan berdiri dan duduk tepat di sisi sugar baby-nya.


“Kamu senang Baby? Apa bisa aku minta imbalan?” Dylan mengulurkan tangan hendak merangkul Stephanie, namun gadis itu malah menunduk, merapikan kertas dan peralatan menggambarnya. Lagi-lagi Dylan harus mempersiapkan kesabaran seluas samudra.


“Imbalan apa? Aku kan sudah bilang tidak punya uang. Sugar daddy macam apa selalu minta imbalan setiap melakukan kebaikan? Jangan-jangan ini semua belum di bayar lunas dan Daddy menjaminkan diriku pada seseorang yang kaya raya, begitu kah?” Stephanie mendelik, membayangkan dijual kepada pria asing.


“APA?” Dylan tersentak, bisa-bisanya dia mendapat kecurigaan seperti itu, lantas menyentil keras kening gadisnya hingga merah.


“Daddy sakit, apa yang kamu lakukan? Bagaimana kalau aku mengalami amnesia?” gerutu Stephanie.


“Oh ya ampun Baby, kamu tidak akan lupa ingatan hanya karena disentil. Jangan  berpikiran buruk! Aku tidak suka.” Pungkas Dylan.


Sebal gadisnya tidak pernah peka sedikitpun, Dylan meraih tangan Stephanie dan menggenggamnya sangat erat.


“Lakukan tugasmu dengan baik, sebagai sugar baby yang manja dan manis, bisa? Ah ini bukan pilihan tetapi perintah.” Tidak hanya itu, Dylan meraih sisi kepala gadisnya dan menyandarkan pada bahu, seakan mereka berdua pasangan yang tengah dimabuk cinta.

__ADS_1


Stephanie diam menurut, lagipula hanya seperti ini tugasnya mudah. Selama tidak melakukan hal lebih, apalagi sampai melayani di atas ranjang, lebih baik ia menceburkan diri ke dalam laut.


“Good girl.” Bangga Dylan.


Merasa tidak ada perlawanan, cukup tenang dan nyaman Dylan menoleh ternyata gadisnya terlelap tidur. Hembusan napas ditambah harum aroma sampo, menggoda sisi pria seorang mantan casanova.


“Tidak, jangan Dylan. Dia berbeda, tidak seperti mereka. Jangan membuatnya marah dan membencimu.” Batin Dylan bergejolak, di satu sisi ia ingin berubah, lalu benar-benar mendapatkan hati gadisnya. Tetapi di sisi lain begitu berharap bisa menyentuh bahkan lebih Bayangkan selama tiga tahun setelah berhenti menjadi petualang cinta, Dylan tak pernah menyentuh wanita manapun.


Dylan tertawa miris pada kisah cintanya, dahulu ia sangat iri pada milik orang lain sampai ingin merebut segala sesuatu yang dimiliki pria itu. Tapi berujung pada kegagalan, sampai akhirnya bertemu Chloe, wanita yang diharapkan bisa mengobati luka hati dan membawanya pada kebahagiaan.


Setelah dijalani hanya melukai masing-masing, Chloe tidak pernah berubah, sedangkan Dylan tidak lagi bisa menahan diri untuk tetap sabar.


“Stephanie, kamu tahu? Mungkin kedekatan kita hanya berjalan selama satu bulan, tapi ku harap setelah ini jangan pernah melupakan kenangan diantara kita. Aku akan kembali untukmu, menjemput dan membawamu pulang ke mansion, jadilah wanitaku seutuhnya.” Tulus Dylan dari dalam hati.


.


.


Tiba di bandara, Dylan tidak membangunkan gadisnya melainkan menggendong masuk ke dalam mobil. Semula ia akan langsung ke kepal, tapi mengundurkan niat. Khawatir Stephanie terlalu lelah, Dylan tidak mau kondisinya menurun saat mereka liburan.


Dylan membaringkan tubuh mungil itu ke atas kasur empuk, menyelimuti sebatas pinggang, membelai rambut coklat gadisnya. Ia sendiri memilih mandi, melepas kepenatan dan mengendurkan saraf akibat perjalanan dari Madrid ke New York lalu San Francisco.


Berendam dalam jacuzzi adalah pilihan tepat, bersandar menikmati pemandangan indah dari yang langit mulai gelap.


Pikiran Dylan melayang ke segala arah, beberapa hari pulang ke Madrid hanya menghabiskan waktu bersama Chloe, keluar masuk ruang terapi.


Semua orang hanya terpusat pada wanita itu tanpa memperhatikan dan bertanya bagaimana keinginan Dylan, termasuk Tuan Besar Manassero. Mungkin ayahnya lebih menyayangi Chloe dibanding putranya sendiri, menyebalkan memang hidup dalam bayang-bayang balas budi.


Klek


Dylan mendengar suara pintu bergeser dan terbuka lebar, gadisnya telah bangun dan menghampiri masuk ke dalam kamar mandi tanpa canggung.

__ADS_1


“Hi, Baby. Kamu mau mandi? Silahkan. Aku tidak mengintip, janji.” Bohong Dylan. Dadanya berdegup kencang seperti sedang lomba lari dan harus memenangkan pertandingan.


Pria dengan five o’clok shadow beard ini tersentak, melihat Stephanie melepas satu per satu helaian benang di tubuhnya, hingga polos dan tersisa apapun. Kemudian masuk ke jacuzzi, duduk bersebrangan dengan Dylan.


“Baby, apa yang kamu lakukan?” Dylan menggenggam erat pada bagian sisi, berusaha berdiri untuk menghindari sesuatu yang diinginkan.


Belum sempat ia keluar, Stephanie menahannya, menekan otot bahu Dylan. Menyambar bibir itu dengan gerakan kasar, tangannya berada di tengkuk Dylan agar tidak melepaskan pagutan.


Semula Dylan terkejut tapi semakin lama, menikmati permainan gadisnya. Ia kebingungan, bukankan ini pertama kali bagi Stephanie tetapi menurutnya, ini dilakukan oleh seorang ahli yang berpengalaman.


Bahkan ketika duduk di atas pangkuannya, darah seakan mendidih. Dylan mendekap erat punggung Stephanie, dan membelainya penuh sayang.


“Baby, kau yakin ingin melakukannya?” tanya Dylan suaranya bahkan serak akibat dikuasai oleh sesuatu.


Tidak ada suarayang keluar dari bibir gadisnya, hanya mengangguk cepat sebagai jawaban.


“Ok Baby lakukan apapun yang kamu mau, aku akan bertanggung jawab. Mungkin kita harus seperti ini. Jangan takut baby, aku tidak akan meninggalkanmu.” Dylan merayu gadisnya agar berani menyerahkan diri sepenuhnya.


“Baby , keluarkan. Jangan menahan apapun.” Pria penjelajah cinta ini sangat tahu jika gadisnya tengah menahan suara merdu.


Sedari ikut berendam tidak mengeluarkan satu patah katapun, padahal ia perempuan yang sangat berisik dan bawel.


Dalam kamar mandi hanya suara Dylan mendominasi disertai percikan air, jatuh ke lantai dan mengenai dinding.


Dylan begitu bahagia bisa menjadi yang pertama, sekaligus merasa aneh kenapa tiba-tiba Stephanie menyerahkan diri.


Sampai dering ponsel mengacaukan semuanya, Dylan kesal melirik benda pipih yang tergelak di sisi jacuzzi.


Chloe menghubungi terus menerus. Tidak mau diganggu, Dylan menonaktifkan ponselnya.


Lalu ia menyadari sesuatu dan langsung mengumpat dalam hati, memukul keras pada genangan air.

__ADS_1


“Sh**”


TBC


__ADS_2