
BAB 18
Dylan masih terkapar tidak berdaya di atas ranjang, tendangan Stephanie sangat kuat, ia juga memerintahkan Han untuk mengejar gadisnya. Kata-kata terkahir sebelum pergi keluar penthouse terdengar menyeramkan bagi Dylan. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk kedua kali. Lagi pula wajar kan sebagai seorang pria memperjuangkan cinta?
“Argh Stephanie, semua tingkahmu menguras kesabaran.” Geram Dylan, tapi sama sekali tidak membuatnya lelah untuk mendapatkan perhatian dari Stephanie.
Dylan selalu memeriksa ponsel, menanti kabar dari asisten pribadinya. Saking tidak sabaran, Dylan terus menghubungi Han. Meneror pria muda itu untuk segera menerima panggilan teleponnya.
“Han di mana dia? Katakan!” Perintah Dylan begitu menggebu dan penasaran mendengar jawaban Asisten Han.
“Apa? Menghilang? Kalian mencari seorang gadis saja tidak bisa, temukan dia Han, atau semua akan menerima akibatnya.” Paksa Dylan, tidak habis pikir, mencari satu wanita seperti mencari tambang emas.
Pria ini melupakan jadwal kegiatannya yang harus menuju suatu gedung untuk menghadiri pertemuan, rusak sudah semua suasana hati, di tolak, bahkan dengan ringannya Stephanie meminta ia mencari wanita lain, dan sekarang miliknya masih terasa ngilu.
Mengabaikan rasa sakit, Dylan segera keluar penthouse. Menuju basemen, kalau Han dan para anak buah lain tidak bisa diandalkan, maka ia sendiri yang turun tangan mencari Stephanie.
**
Di sisi lain gadis bermata biru ini bisa bernapas lega, ia berusaha lari dari kejaran beberapa orang pria, di yakini sebagai suruhan Dylan.
“Aku tidak mau lagi berurusan dengan pria tua, dia menyebalkan. Seenaknya saja mengajak menikah dan memaksa melakukan hal itu, sengaja ingin membuatku hamil. Akh tidak mau, memangnya aku ini perempuan murahan, aku sepeti ini juga terpaksa.”
Cukup lama tinggal di New York, ia hapal betul jalan kecil yang bisa dilalui dan jauh dari jangkauan orang. Hanya bisa digunakan oleh pejalan kaki, tidak ada mobil atau sepeda yang lewat.
Stephanie tiba di ujung jalan, ia bingung harus kemana, karena memutuskan pergi meninggalkan Dylan. Apa harus pulang ke apartemen kecilnya di pinggir kota? Rasanya tidak mungkin, mana bisa hidup di tempat sempit dan kawasan bising.
__ADS_1
“Pulang ke mana ya? Rumah mode? Pasti Han dan anak buahnya menunggu di sana.” Keluh Stephanie, sejenak memejamkan kedua mata untuk berpikir kemana tujuannya pagi ini.
“Hi manis, apa yang kamu lakukan di sini? Sepertinya pria itu membuangmu. Haha.” Tawa jacob, kehadirannya mengejutkan Stephanie, gadis ini hanya diam memperhatikan Jacob.
Lepas dari Dylan harus bertemu dengan pria menyebalkan lainnya. “Sial sekali nasibku pagi ini.” Stephanie berusaha menghindari sentuhan Jacob.
“Bukankah aku katakan, kalau kamu memilihku. Ku pastikan menjadi satu-satunya, bukan hanya simpanan. Kau terlalu berharga sayang untuk pria seperti itu.” Bisik Jacob, berusaha merangkul Stephanie namun gagal, dan mendapat hadiah kecil dari gadis ini.
Pukulan kecil di pipi Jacob, memang tidak sampai membuatnya memar, paling tidak merasa sakit seperti digigit semut sudah cukup untuk permulaan.
“Kau cari saja Kaylin, kalian berdua sangat cocok, sama-sama penipu.” Stephanie berjalan ketika rambu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Berlari sangat cepat, rasanya muak berada diantara pria yang haus akan belaian.
Langkah kakinya semakin cepat dan kuat, Jacob tidak kelelahan sedikitpun, staminanya cukup kuat. Bahkan Stephanie sendiri mulai kehabisan napas berjalan tidak tentu arah, ia harus melewati jalan ramai, kalau terjadi sesuatu dengannya mudah untuk minta pertolongan.
“Kemana pria itu pergi? Syukurlah Jacob mundur.” Stephanie menoleh ke belakang namun sosok yang sedari tadi mengikuti menghilang entah kemana, hingga gadis ini merasa lebih tenang menjalani harinya.
“Akh”
Pekik Stephanie, mulutnya dibungkam, dan senjata tajam tepat berada di balik pinggang, sungguh ia ingin teriak tetapi mulut terkunci.
Semua orang sempat melirik aneh tapi Jacob dengan tegas mengatakan bahwa mereka sedang bertengkar karena masalah sepele, dan mengaku kalau keduanya adalah sepasang suami istri.
“Awas kau Jacob, ku balas semua perlakuanmu.” Umpat Stephanie dalam hati.
“Masuk, sayang. Masuklah. Apa kau mau aku mencium-mu di sini? Di depan semua orang?” Seringai licik seorang Jacob Graham.
__ADS_1
Terpaksa Stephanie menuruti perintah pria gila ini, ia masih sayang kepada nyawanya. Di mobil pun sudah ada seorang wanita yang menunggu dan siap mengikat kedua tangan Stephanie.
“Kaylin? Apa yang kamu lakukan? Kalian ...” tunjuk Stephanie pada Jacob dan Kaylin.
“Yeah, Aku akan membantu Jacob mendapatkan-mu. Kau tidak boleh hidup bahagia Stevi, ah salah kau akan bahagia berada di sisi Jacob.” Teriak Kaylin sembari tertawa.
“Kalian gila, lepaskan aku.” Stephanie memberontak kuat, bahkan memukul hidung temannya sampai mengeluarkan darah. Tetapi Jacob jauh lebih berkuasa, ia menyuntikkan obat bius tepat di paha gadis pujaan hatinya.
“Jacob apa yang kau laku ...” Belum selesai protes, tubuh Stephanie terkulai tidak berdaya di bawah pengaruh obat bius.
“Selamat tidur sayang, kau akan menjadi milikku selamanya.” Jacob mencium pipi merona Stephanie.
“Jacob, kau harus tanggung jawab. Hidungku patah, kau gila menyukai perempuan bar-bar seperti Stephanie, hidung mancungku bagaimana?” Kaylin berteriak dalam mobil, ia tidak menyangka niatnya mencari uang dan membantu mantan kekasih malah berujung luka.
“Berisik kau, Kaylin turun sekarang juga. Mobil di sana akan membawamu ke rumah sakit. Ingat tugasmu adalah tutup mulut, jangan pernah membocorkan apapun, kalau sampai terjadi, aku tidak segan melenyapkan-mu, mengerti?” Ancam Jacob Graham, tega mendorong tubuh Kaylin sampai terjatuh dari dalam mobil.
Kendaraan yang ditumpangi Jacob dan Stephanie melaju menuju cepat, menuju sebuah bangunan tua di pinggir kota. Pria pemilik bar terbesar ini ingin memberi pelajaran bagi wanita yang sudah menolaknya mentah-mentah.
“Bukankah aku katakan padamu, kita menikah dan hidup bahagia. Aku akan berikan seluruhnya termasuk hatiku, Stephanie. Tapi kau lebih memilih pria si4l4n itu, dia bahkan hanya menjadikanmu wanita simpanan.” Desis Jacob tepat di telinga Stephanie. Ia juga tidak sungkan mencium pipi dan memeluk erat tubuh gadisnya.
“Cepat bawa mobilnya, aku tidak ingin gagal kali ini.” Perintah Jacob kepada anak buahnya. Lama ia mengintai dan membuntuti Stephanie sampai akhirnya kesempatan hari ini tiba, dimana peluang besar benar-benar menjadi miliknya.
Semula Jacob patah hati karena melihat Stephanie kencan dengan Dylan, tapi setelah diselidiki pria itu juga sama jahat seperti dirinya, bahkan lebih jahat. Jika Jacob adalah pria lajang dan tidak terikat dengan wanita manapun, sedangkan Dylan terikat pertunangan bersama Chloe Martinez.
“Tuan perintah anda telah kami lakukan dengan sempurna.” Anak buah Jacob memberitahu bahwa misi khusus dari bos mereka telah berhasil.
__ADS_1
“Bagus, sekarang aku yang memegang kendali di permainan ini, dan kau sayang akan menjadi hadiah terindah.” Menyentuh hidung bangir gadisnya.
TBC