
Cafe R&B
Dylan tidak percaya menatap Stephanie, mampu menghabiskan makanan dalam beberapa porsi. Pria ini tahu istrinya memang gemar makan, tapi tidak sebanyak ini dan bagaimana bisa lambungnya itu membesar. Apa janin di dalam kembar atau bagaimana? Kepala Dylan dipenuhi pertanyaan tentang sang istri.
“Baby, pelan-pelan. Kamu tahu tidak akan ada yang merebut semua ini, jad hati-hati makannya istriku.” Suara Dylan begitu lembut dan selalu memperhatikan istrinya setiap detik.
“Aku hanya menikmati waktu Dylan, belum tentu besok bisa seperti ini. Benar kan? Kamu pasti melarang kemana-mana. Setelah bayi kita lahir aku menghabiskan hari-hari dalam mansion, mungkin juga di kamar bersama anak kita.” Ucap Stephanie dengan diakhiri nada terkejut, jujur saja sebenarnya dia belum siap harus memiliki buah hati secepat ini.
Namun, lebih tega lagi membiarkan suaminya menunggu dalam waktu yang lama, mungkin lima tahun sampai dia benar-benar siap. Bisa dibayangkan usia Dylan sudah lebih dari kepala empat.
Selain itu keduanya sehat, tidak dianjurkan menunda memiliki buah hati oleh dua keluarga. Bagi keluarga Bradley dan Manassero sangat menantikan cucu pertama.
Apapun akan para kakek berikan untuk cucu pertamanya, terutama kasih sayang. Tuan Besar Manassero hanya memiliki Dylan jadi setelah bayi itu lahir seluruh asetnya jatuh secara otomatis pada keturunan terakhir.
“Jangan bicara seperti itu sayang. Kita masih bisa ke sini lagi, setelah bayi lahir pun bukan masalah. Aku tidak akan mengizinkan istriku terus mengurung diri di mansion dan kamar. Kamu berhak bersantai, Baby.” Dylan tersenyum, mengacak rambut coklat sang istri.
Mengambil sejumput rambut dan dikecupnya. Sebenarnya ingin melakukan lebih tapi ingat ini di tempat umum, kalaupun iya Dylan tidak akan kuasa menahan gejolak yang muncul dari dalam.
“Ayo kita pulang Dylan, sudah cukup … dan terima kasih atas semuanya, aku bahagia.” Stephanie tersenyum simpul sembari memeluk lengan suaminya.
'‘Sebentar sayang, aku ke toilet, kamu tunggu di sini, kalau ada yang mencurigakan panggil pengawal.” Pesan Dylan pada sang istri, keamanan harus tetap terjamin, tidak hanya diluar tapi beberapa bodyguard ada di dekat meja mereka.
Sementara Dylan ke toilet, Stephanie mendapat pesan baru, seseorang yang dia anggap misterius. Kali ini lebih panjang sedikit.
“Stephanie. Aku ingin bertemu denganmu. Aku datang untukmu, tunggulah.”
Setelah membaca itu, ibu hamil mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Dia memastikan bahwa di dalam sini hanya tersisa beberapa orang saja, sebab hari sudah larut. Tidak ada yang dikenali satu orang pun.
“Kenapa dia mengirim pesan ini untukku? Siapa dia?” gumam Stephanie memegangi perut buncitnya.
Tak berselang lama, Dylan datang dan mengulurkan tangan, mereka keluar cafe bergandengan tangan. Tapi Stephanie yang memang menyukai makanan melihat penjual roti bakar legendaris di sebrang jalan.
Detik itu juga langsung memohon pada Dylan, tentu yang membeli bukan mereka berdua melainkan pengawal.
__ADS_1
Menunggu lebih dari sepuluh menit belum juga pengawal sampai, akhirnya Stephanie yang kesal berjalan cepat menuju pagar luar cafe.
“Baby kembali, jangan di sana. Berbahaya.” Teriak Dylan, sambil mengisyaratkan kepada pengawal untuk mendekat kepada istrinya.
“Bahaya apa Dylan?” wanita ini memutar kepala sedikit.
Dan
BRUK
Belum satu detik Stephanie selesai bicara, tubuhnya terjatuh membentur dinding belakang. Tiba-tiba mobil pick up melaju cepat ke arahnya, langsung menabrak ibu hamil.
“BABY. TIDAK.” Dylan berlari secepat kilat, kali ini bukan mimpi, bukan.
Darah sudah mengalir dari sudut bibir dan pangkal paha, Dylan panik langsung menggendong sang istri dan membawanya ke dalam mobil.
Pria ini melihat ke arah pengemudi mobil pick up, kedua bola mata Dylan melotot persis sama dengan apa yang ada di mimpinya.
“Kaylin.”
Beberapa detik kemudian, detektif datang mengambil alih Kaylin. Wanita ini benar-benar ahli melarikan diri, semula dia pergi jalan kaki, kemudian naik bus dan sekarang diketahui mengendarai roda empat, entah dari mana bisa mendapatkan mobil ini.
“Baby aku mohon bertahanlah.” Jerit kecemasan Dylan sampai ke telinga Kaylin.
Kaylin langung tertawa puas, ia yakin rivalnya itu tidak akan bertahan lama, pasti ibu dan bayinya meninggal. Wanita gila ini tidak peduli harus mendekam di penjara yang penting dendamnya terbalas, jadi diantara mereka tidak ada kebahagiaan.
“Rasakan kau Stephanie, aku membencimu, sangat.” Teriak Kaylin, kedua tangan diborgol.
**
Tiba di GB Hospital
Dylan terus meraung, napas sang istri tersengal, dan kedua mata nyaris menutup sempurna.
__ADS_1
“Aku mohon bangun, jangan seperti ini. Sayang, kita akan hidup sampai tua. Kamu ingat janji kita, benar kan?” ucap Dylan di sisi brankar.
“Maaf Tuan, Nona Stephanie harus mendapat tindakan. Kami akan melakukan operasi, untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.” Seorang dokter menepuk kedua bahu Dylan.
“Baby, kenapa mimpiku ini menjadi nyata. Argh … Kaylin, aku tidak akan membebaskan sedetik pun.” Dylan memukul dinding.
”Tuan tenang, Tuan … ini rumah sakit.”
“Tuan, kendalikan emosi anda.”
Beberapa orang yang berlalu lalang mencoba menenangkan Dylan, mereka tidak bertanya kenapa. Sudah jelas dari pakaian pun dipenuhi darah, pasti korban kecelakaan di dalam ruang operasi.
Tidak lebih dari tiga puluh menit seluruh keluarga Bradley hadir di depan pintu ruang operasi. Mama Samantha menangis, sungguh ingin masuk ke dalam dan menyelamatkan putrinya.
“Dylan ganti pakaianmu, mama sudah meminta pengawal membawa ganti.” Tutur Mama Samantha tetap menangis.
Melihat kaos dan celana menantunya yang merah, bisa dipastikan betapa banyak darah Stephanie hilang.
“Terima kasih mah.” Dylan meraih goodie bag dan berjalan mencari toilet, dia juga perlu membasuh lengan yang bau amis akibat darah mengering.
Dalam toilet, Dylan meremat marah kaosnya, benar-benar lalai menjaga Stephanie. Kejadian itu terlalu cepat dan sulit dihindari.
“Baby, aku mohon bangun sayang.” Harapan Dylan dalam hati.
Usai membersihkan tubuh, menantu Adam Bradley itu kembali menunggu di depan ruang operasi. Sudah hampir satu jam tapi belum ada tanda bahwa bayi dan ibunya selamat. Semua anggota keluarga menegang.
“Bro, istri dan anak kamu pasti selamat. Stevi tidak akan menyerah, kamu tahu kan sifatnya?” Dariel merangkul Dylan yang sedang putus asa.
“Terima kasih Dariel. Aku sangat khawatir.” Jawab Dylan, suaranya sangat lemah terdengar.
“Seandainya saja aku tidak menuruti keinginannya untuk makan malam di luar mansion pasti dia … dia tidak akan seperti ini. Anak kami akan lahir tepat sesuai perkiraan, satu bulan lagi.” Dylan sungguh menyesal dibalik tragedi berdarah ini ternyata dia yang memiliki peranan besar.
Stephanie pasti tidak akan keluar mansion dan terluka, bayi dalam kandungan pun terancam.
__ADS_1
TBC