My Idol My Imam

My Idol My Imam
Istiqomah


__ADS_3

Episode 10:


Dengan tidak sabar, Alina yang sudah berada di depan pintu pun memencet bel rumah Ferdi, dan tak lama seorang wanita dewasa membukakan nya pintu dan langsung tersenyum kepada nya. Dia terlihat lebih muda dari pak Ferdi.


" Assalamualaikum!" Sapa Alina.


" Waalaikumsalam, dengan siapa ya?" Tanya wanita itu.


" Saya Alina putri, pak Ferdi nya ada Bu?"


" Oh kamu yang namanya Alina itu ya? Silahkan masuk dulu Alina, mas Ferdi nya masih di kantor, sebentar lagi juga pulang." Ia lantas menarik tangan Alina dan mengajak nya masuk. Ia memperlakukan Alina dengan ramah dan nampak senang dengan kedatangan Alina. Ia lantas mengajak Alina duduk di sofa.


" Bik Siti! bik." Wanita itu dengan suara lantang memanggil pembantunya di dapur, yang kebetulan jarak dapur dan ruang tamu sangat jauh, hingga kebutuhkan suara lantang untuk memanggil nya.


Tak lama pembantu itu datang dan berdiri dengan sopan di depan wanita itu.


" Bik tolong ambilkan air minum sama cemilan buat tamu kita, terus suruh mang Didin buat bawain koper nya ke kamar tamu ya!" Perintah wanita itu. Wanita paruh baya itu pun mengangguk. Setelah itu ia berbalik pada Alina dan menanyakan banyak hal pada nya.


" Oh ya, kenalin nama Tante Indria. Tante adik nya mas Ferdi." Jelas nya. Alina hanya tersenyum canggung lalu mengangguk.


" Kata mas Ferdi, kamu akan berangkat besok pagi, jadi malam ini kamu nginep di sini dulu gak papa kan?" Tanya Indria.


" Enggak papa kok Bu, eh Tante. Saya tidak keberatan." Ucap Alina sesopan mungkin.


Entah karena apa, tiba-tiba Indria tertawa. Tentu saja Alina heran.


" Bener kata mas Ferdi. Kamu tuh terlalu kaku tahu gak. Udah nyantai aja sama Tante, Tante orangnya gak gigit kok. Tante gak suka kalau terlalu serius!." Ucap nya sambil terkekeh. Alina pun ikut nyengir.


" Saya hanya berusaha sopan terhadap orang yang lebih tua saja Tante, lagian ini juga sifat asli saya kok. Maaf kalau membuat Tante jadi tidak nyaman." Ucap Alina tak enak hati.


" Ya ampun Alina, Alina!! Serius amat, tante cuma bercanda kali." Ia pun kembali terkekeh.


Kali ini Indria nampak serius, ia menggenggam tangan Alina dan menatap sangat dalam.

__ADS_1


" Dengerin ya! Tante malah suka sama sikap sopan kamu. Zaman sekarang ini, jarang loh ada anak muda yang masih bersikap sopan dan baik hati kayak kamu." Puji Indria. Jujur Alina merasa malu di puji seperti itu. Ia tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya, bukan apa-apa, ia hanya merasa tak pantas di puji begitu. Ia merasa Masih banyak kekurangan untuk itu.


" Tante berlebihan memuji saya, saya tidak sebaik itu kok." Ucap nya merendah.


" Tante ngomong apa adanya kok, kalau enggak, mana mungkin mbak Aisyah nyeritain kamu sampai segitunya. Dia seneng banget tahu sama kamu." Ungkap nya jujur.


" Alhamdulillah kalau ibu Aisyah suka sama saya, semoga saya juga tidak mengecewakan dia nanti." Jawab Alina. Indria semakin kagum dengan sifat Alina yang kalem dan sopan itu.


Mereka saling berbincang bincang, berbagai cerita menghiasi obrolan mereka. Seperti Aisyah, Indria pun sangat cepat akrab kepada Alina. Meskipun Alina sangat sopan dan selalu menjaga perkataan nya, tetapi ia sangat cepat akrab kepada siapa pun, karena ia sangat pandai menjadi pendengar yang hebat, selain itu pembicaraan mereka nyambung satu sama lain.


Hingga tak terasa, Ferdi pun sudah pulang dari kantor nya. Ia sangat senang sekaligus terkejut dengan kedatangan Alina kerumahnya. Bukan apa-apa, ia sudah berjanji untuk menjemput Alina, sekarang Alina malah ke rumah nya seorang diri.


" Alina kamu kesini sama siapa? Kok kamu tidak menghubungi saya dulu? Kamu baik-baik saja kan di jalan tadi? Atau kamu ke sini di antar sama orang tua kamu ya?" Berbagai rentetan pertanyaan yang diajukan Ferdi, hingga Alina sendiri bingung harus menjawab yang mana dulu. Indria saja terkekeh melihat sang kakak yang begitu posesif.


" Aduh pak, saya harus jawab yang mana dulu ya?" Alina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ferdi menyadari kesalahannya dan langsung


Menepuk keningnya, setelah itu ia pun ikut duduk di samping Indria.


Alina maklum, ia tersenyum kepada Ferdi.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Subuh itu, setelah selesai mandi, berpakaian, dan melaksanakan shalat, Alina memandangi wajah nya di cermin. Entah mengapa pagi itu Alina ingin mengamati wajah nya.


' seperti nya wajah ini harus di tutup. Karena wajah ini, banyak mendatangkan fitnah. Bukankah sebagai umat muslim, aku juga harus menutup aurat ku? Bukankah wajah ini juga termasuk aurat!? ' monolog nya. Dari dulu, Alina sudah memiliki niat dan keinginan untuk menutup wajahnya atau bercadar, tapi saat itu hati nya belum teguh. Kini ia sudah memantapkan hati nya untuk berniqab. Salah satu nya, agar ia di jauhkan dari fitnah yang keji.


Hari ini Alina dan Ferdi berangkat pagi. Maka dari itu, Alina sudah bersiap-siap dari tadi. Ia juga membantu para pembantu di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


" Bik!" Panggil Indria pada salah satu pembantu, saat ia baru keluar dari kamar nya.


Pembantu itu pun mendekat.


" Iya Nya, ada apa?."

__ADS_1


" Sejak kapan mas Ferdi merekrut pembantu baru? Kok aku gak tau." Tanya nya.


" Siapa yang nyonya maksud pembantu baru? Setahu saya tuan Ferdi tidak menambah pembantu baru." Tanya pembantu itu, heran.


" Itu yang pakai cadar itu, itu pembantu baru di rumah ini kan?" Menunjuk ke arah Alina yang sedang menata makanan.


" Oalah, itu to maksud nyonya? Itu bukan pembantu baru Nya, tapi itu Alina." Jelas pembantu itu. Indria terperangah mendengar pengakuan pembantu nya.


" I,,,,i_ itu Alina?" Tanya nya masih tak percaya.


Pembantu itu pun mengangguk mantap sebagai jawaban nya.


" ALINA!!" Panggil Indria dengan lantang. Sebenarnya ia hanya ingin mengetes kebenaran nya saja. Dan benar saja, wanita bercadar itu pun menoleh pada Indria.


" Ka_kamu beneran Alina?" Tanya Indria sekali lagi memastikan kebenaran nya.


" Eh iya Tante. Assalamualaikum Tante Indria, selamat pagi!" Sapa Alina dengan ramah.


" Wa_waalaikumsalam. Masyaallah kamu tambah cantik pakai cadar begini." Puji Indria.


" Masyaallah, Alhamdulillah, terimakasih Tante atas pujiannya, Tante juga sangat cantik sekali." Alina memuji nya kembali.


" Bisa aja kamu. Oh iya Alina, kok kamu udah di dapur sih? Kan ada pembantu yang ngerjain ini semua, kamu kan tamu di sini." Protes Indria. Dia mulai duduk di kursi nya untuk segera memulai rutinitas paginya, yaitu sarapan.


" Tidak apa-apa kok Tante, Alina seneng ngerjainnya, di rumah juga biasanya Alina masak, jadi Alina gak bisa duduk diem aja." Bela Alina.


" Ya udah kalo gitu. Sini kamu duduk dulu, biar sisanya pembantu yang beresin." Perintah Indria, ia


menepuk-nepuk tempat duduk di samping nya. Alina pun mengangguk patuh dan segera duduk di samping Indria.


Setelah itu, tak lama Ferdi pun menyusul. Sama halnya dengan Indria, ia juga sangat terkejut dengan kedatangan orang yang menurut nya sangat asing itu, bahkan orang asing itu sudah duduk di meja makan bersama mereka.


Melihat Ferdi yang terlihat bingung, Indria pun menjelaskan dan mengatakan bahwa itu adalah Alina. Awalnya ia merasa heran dengan Alina yang tiba-tiba memutuskan untuk bercadar, tetapi Alina pun menjelaskan bahwa dia memang sudah bertekad sejak lama untuk bercadar. Hal itu semakin membuat Ferdi semakin di buat kagum oleh gadis remaja ini.

__ADS_1


__ADS_2