
Episode 49:
Selama dua Minggu sebelum wisudanya di mulai, Alina lebih banyak murung dan jarang keluar. Paling-paling ia keluar sekedar membereskan rumah dan memasak, sisanya ia habiskan waktunya hanya mengurung diri di kamarnya, bahkan ketika sahur dan berbuka pun ia jarang makan. Sampai-sampai Aisyah saja bingung dengan perubahan sikap pada Alina yang berbeda tak seperti biasanya yang selalu ceria dan murah senyum.
Pernah suatu ketika Habibi yang bertandang ke rumah Aisyah dan ingin bertemu dengan Alina, namun Alina selalu mengacuhkannya dan sama sekali tak mau berbicara, hingga membuat Habibi merasa bersalah karena telah mengganggu waktunya, dan alhasil Habibi pun pulang dengan kekecewaan dan beribu pertanyaan tentang Alina yang berubah drastis.
Alina semakin hari semakin seperti orang yang hidup namun tanpa jiwa. Ia tak ubahnya seperti robot yang hanya di bergerak jika di kendalikan oleh tuannya saja.
Saat ini Alina sedang duduk seorang diri di taman dibelakang rumah Aisyah, ia sedang menatap kosong pada dedaunan yang bergoyang karena di terpa oleh angin malam.
Sudah seminggu ini laundry ia biarkan kosong, karena beberapa hari ini pula ia tak masuk kerja karena keadaan hatinya yang tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas.
Aisyah mendekati Alina dan duduk di sampingnya dengan membawa sepiring nasi dan air putih.
Bahkan saat Aisyah ketika Aisyah mendekat pun Alina sama sekali tak merespon apa-apa, padahal ia pun tahu bahwa ada pergerakan di sampingnya namun itu sama sekali tak merubah tatapannya untuk beralih pada Aisyah.
" Nak, ini Mama bawakan makanan untuk mu. Tadi kan ketika berbuka puasa kamu cuma minum air putih saja dan belum makan apa-apa," ucap Aisyah berupaya untuk membujuk Alina agar ia mau makan.
" Makan ya, Mama suapin," ucapnya sambil menyodorkan piring itu pada Alina.
Dan seketika itu Alina pun akhirnya menoleh pada Aisyah, namun hanya sekedar untuk menggeleng saja, setelah itu ia pun kembali menatap lurus ke depan.
Seketika senyum Aisyah pun meredup karena usahanya untuk membujuk Alina untuk makan tidak berhasil. Aisyah semakin khawatir terhadap Alina yang semakin hari semakin tak mau makan dan hanya diam tanpa ekspresi.
Tubuhnya pun kini semakin kurus dan tak terurus. Aisyah hanya takut, jika di biarkan seperti ini terus, maka Alina akan sakit dan kekurangan asupan gizi nantinya.
Aisyah pun meletakkan piring yang masih berisi nasi tersebut ke atas meja dan setelah itu ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu menatap Alina dengan tatapan tegas.
" Alina sebenarnya mau kamu apa, jika kamu begini terus nanti kamu bisa sakit. Ingat, besok sudah mau idul Fitri, kan tidak lucu jika kamu sakit di pagi hari raya," ujar Aisyah dengan sedikit kesal.
" Kamu sebenarnya kenapa Alina, apa ini karena Li yang tidak pernah menemui mu lagi selama sebulan ini?"
Dan setelah mendengar perkataan Aisyah Alina pun merespon, ia pun menoleh pada Aisyah dengan tatapan datar.
" Kan Mama sudah bilang, kalau Li itu bukan laki-laki yang baik, dia hanya memanfaatkan kamu saja tidak lebih," ucap Aisyah yang memang sengaja menjelek-jelekkan Li didepan Alina agar Alina ilfil pada Li.
__ADS_1
" Mana ada seorang artis idola yang menikahi fansnya karena cinta, mereka itu hanya menginginkannya sesaat saja, setelah mereka bosan maka mereka akan meninggalkannya begitu saja," tambah Aisyah.
Dan ucapan itu berhasil membuat Alina menangis. Ia merasa apa yang di katakan Aisyah itu ada benarnya, namun hatinya tetap saja menolak kebenaran tersebut dan mengatakan bahwa itu hanya sebuah kesalahpahaman semata saja.
Setelah itu tak ada percakapan lagi di antara mereka berdua, baik Alina dan Aisyah sama-sama diam dan menuju ke kamar masing-masing. Alina yang masih dengan keterdiamannya, sedangkan Aisyah yang merasa agak kesal karena telah membahas Li.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi yang cerah dengan suasana yang indah. Semua orang yang berstatus muslim sedang berbahagia dan sedang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Aisyah dan Alina yang sedang sibuk menata kue kering dimeja tamu.
Tepat pada hari ini semua umat muslim sedang merayakan kemenangan mereka, yang mana hari ini adalah hari raya idul Fitri.
Hari ini Alina nampak lebih ceria dari hari biasanya. Bukan apa-apa, ia hanya ingin di hari kemenangan ini ia akan melupakan sejenak semua masalahnya dan turut berbahagia menyambut lebaran pertamanya di negeri orang.
Kebahagiaan Alina bertambah ketika keluarganya bilang akan datang, meskipun sebenarnya ia bingung akan mengatakan apa saat mereka bertanya tentang Li nanti, sebab sebenarnya mereka tak tahu menahu tentang retaknya hubungan rumah tangga sang putri.
" Nak sebentar lagi orang tua dan adikmu akan sampai, katanya mereka sudah di bandara," kata Aisyah dengan bersemangat.
" Iya Ma Alhamdulillah kalau begitu," jawab Alina dengan tersenyum.
" Ma," panggil Alina pada Aisyah.
" Tentang semalam dan sebelum-sebelumnya, Alina minta maaf sama Mama, Alina banyak salah sama Mama sampai-sampai buat Mama kesal semalam," ucap Alina bersungguh-sungguh dengan diiringi linangan air mata pula.
Alina lantas meraih tangan Aisyah dan menciumnya dengan takzim.
Aisyah sangat terharu dengan sikap Alina itu dan ia pun mengusap pucuk kepala Alina dengan sayang.
" Tidak apa-apa sayang, Mama mengerti kok," ujarnya.
Kini gantian Alina yang menatap Aisyah dengan haru.
Suasana lebaran pagi itu seolah mengubah segala ketidaknyamanan yang terjadi beberapa Minggu ini.
Sedang khusuk bersalam-salaman dan bermaaf-maafan, tiba-tiba mereka berdua dialihkan oleh suara ketukan pintu dari luar.
__ADS_1
" Biar Alina saja yang membukanya Ma," kata Alina.
Aisyah pun mengangguk dan mempersilakan anak angkatnya itu yang membukakan pintu.
" Waalaikumsalam," jawab Alina meskipun ia tak mendengar ucapan salam dari luar sana.
" Kak Habibi," ucap Alina.
Sesaat mereka hanya sama-sama terpaku dan saling menatap, terlebih Alina yang merasa agak canggung karena kejadian seminggu yang lalu. Ia masih merasa bersalah kepada Habibi.
" Ma_masuk kak!" Kata Alina sambil menunduk.
Habibi tak menjawab, hanya tatapan datar yang Alina terima dari Habibi. Nampaknya Habibi masih merasa kesal karena pernah di abaikan oleh Alina waktu itu.
" Eh Nak Habibi, mari masuk Nak!" Ucap Aisyah yang menyambut Habibi dengan sangat ramah.
" Iya Bu terimakasih," ucap Habibi. Ia pun duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh tuan rumah.
" Lina ambilkan minum dulu ya Ma," ucap Alina masih sambil menunduk.
" Iya Nak."
Setelah itu Alina pun mengundurkan diri untuk pergi ke dapur dan mempersiapkan minuman untuk Habibi.
Dan tak lama mereka berbincang-bincang, tak lama pula orang tua kandung Alina beserta adiknya pun tiba di rumah Aisyah.
" Assalamualaikum," kata mereka
" Waalaikumsalam," jawab Aisyah dan Habibi hampir bersamaan.
Aisyah yang memang sudah tahu akan kedatangan mereka pun dengan semangat menyambut mereka yang masih berada di depan pintu.
" Bu Imah pak Jaka Gadis, ayo silahkan masuk, Alina sedang membuatkan minuman di dapur," ucap Aisyah yang memang bisa berbahasa Indonesia.
Mereka pun mengangguk dan tersenyum, lalu mengikuti Aisyah masuk.
__ADS_1
Setelah didalam rumah, tatapan mereka langsung tertuju pada Habibi, terlebih Gadis yang menatap Habibi tanpa berkedip.
Habibi yang menyadari kehadiran mereka pun langsung berdiri dan ikut menyambut keluarga Alina dengan ramah dan sopan.