My Idol My Imam

My Idol My Imam
Ada Apa Dengan Li


__ADS_3

Episode 48:


Setelah selesai berbuka dan membereskan sisa makanan, Alina langsung pergi ke kamarnya.


Tak banyak percakapan antara Habibi dan Alina, mereka benar-benar hanya sebatas tamu dan tuan rumah saja, tak lebih dari itu.


Terkadang Aisyah saja yang selalu bersemangat untuk mendekatkan mereka berdua, meskipun Alina selalu menolaknya.


Saat ini Alina sedang mondar-mandir di kamarnya, terlihat sangat gelisah seperti sedang menunggu seseorang, siapa lagi kalau bukan suaminya.


Habibi juga sudah pulang dari tadi karena waktu juga sudah menunjukkan tengah malam.


Namun itulah yang membuat Alina gelisah. Sudah tengah malam begini, Li juga tak kunjung pulang, padahal sebelumnya ia mengatakan pada Alina akan pulang sebelum tengah malam, namun sekarang pukul sudah menunjukkan jam dua belas malam, tapi tak ada tanda-tanda Li akan pulang, bahkan sekedar menghubungi Alina saja tidak.


Alina meraih ponselnya yang berada di nakas dan mencari kontak suaminya, namun ia ragu untuk menghubunginya terlebih dahulu. Alina hanya berpikir jika ia menghubungi suaminya terlebih dahulu, ia takut akan mengganggu pekerjaan suaminya, namun jika tak di hubungi, Alina takut terjadi sesuatu pada suaminya, sebab tadi Li bilang pekerjaan nya akan selesai setelah magrib.


Tut Tut Tut


Akhirnya Alina pun memberanikan diri untuk menghubungi suaminya lebih dulu.


Selama beberapa menit Alina menunggu jawaban dari seberang sana, dengan cemas pula ia menunggu telepon nya di angkat, dan akhirnya telpon tersebut pun tersambung.


" Halo A assalamualaikum, Aa sekarang dimana, kok gak pulang?" Alina langsung menyerbu dengan rentetan jawaban tanpa menunggu penjelasan dari pihak sebrang sana.


" Halo kau siapa, mengapa malam-malam begini menelpon?"


Degh


Bukan rasa lega yang Alina terima setelah mendapat jawaban dari seberang telepon, namun hatinya semakin gelisah, cemas, cemburu dan semua rasa tak nyaman bercampur menjadi satu.


Bagaimana tidak, karena yang menjawab bukanlah Li, melainkan suara seorang wanita yang sangat ia kenal. Suara itu menunjukkan seperti orang yang sedang bangun tidur, siapa lagi jika bukan suara Cassandra, saingan sekaligus bibit pelakor didalam rumah tangganya.


" Siapa sayang?"


" Bukan siapa-siapa, hanya orang iseng saja yang menelpon," jawab Cassandra.

__ADS_1


Dan kali ini Alina tak kuasa menumpu kedua kakinya. Tubuhnya terhempas ke tempat tidur setelah mendengar suara yang setiap harinya sering ia dengar, suara yang setiap harinya menjadi penyemangat bagi hidupnya, dan siapa lagi jika bukan suara Li suaminya.


Terasa runtuh dunianya saat mendengar suara serak-serak basah yang memanggil wanita lain dengan sebutan sayang.


Alina seolah tak mampu berpikir lagi, hati dan pikirannya seakan di kendalikan oleh rasa yang tak mampu ia gambarkan. Ponsel yang ia pegang pun tak terasa terlepas dari tangannya. Alina bagaikan orang yang kehilangan separuh dari jiwanya.


Pikiran-pikiran buruk pun berseliweran di kepalanya, seolah menjadi setan yang terus menggoda agar ia berpikiran buruk terhadap suaminya.


Namun siapa pun tak dapat memungkiri bahwa apa yang baru saja Alina dengar itu adalah kenyataannya.


Alina hanya bisa menangis pilu tanpa suara didalam kamarnya. Tak banyak yang dapat ia perbuat selain menangis dan menangis. Ingin menyusul Li pun Alina tak tahu Li sekarang ada dimana, bahkan rumah orang tuanya pun Alina tidak tahu. Namun ada satu tempat yang akan Alina kunjungi besok, Alina berharap Li ada di sana.


Setelah pagi menjelang, Alina pun sudah bersiap-siap untuk mengunjungi apartemen milik Li. Sejak malam tadi Alina sama sekali tidak dapat tertidur dengan nyenyak. Setelah shalat tahajud dan di susul dengan sholat subuh, Alina pun langsung bersiap-siap diri dan rumahnya. Bahkan subuh tadi Alina sama sekali tak sahur, ia hanya minum air putih saja.


"Ma, Alina mau keluar sebentar ya," ucapnya sambil menghampiri Aisyah yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya. Alina juga meraih tangan Aisyah untuk bersalaman.


" Mau kemana Nak?"


" Mau cari angin saja Ma."


" Memangnya kamu dengan siapa perginya?" Tanya Aisyah terdengar khawatir.


" Jangan sendirian dong Nak, nanti kalau ada apa-apa di jalan bagaimana?"


" Tidak ada apa-apa kok Ma, Alina janji cuma sebentar," ucap Alina mencoba meyakinkan Aisyah.


" Di antar sama Habibi ya!"


Alina memutar bola matanya jengah, namun tak nampak oleh Aisyah. Sebenarnya ia hanya bosan jika Aisyah selalu membawa-bawa nama Habibi. Sebab ia tahu bahwa Aisyah sedang mendekatkan dirinya dengan Habibi, sementara Aisyah tahu sendiri bahwa Alina sudah memiliki suami. Dan lagi pula Alina tak mau selalu merepotkan Habibi terus-menerus.


" Tidak usah Ma, Alina yakin saat ini kak Habibi sedang sibuk," jawab Alina.


" Sibuk bagaimana maksud mu, bukankah dia baru lulus, bagaimana mungkin dia sibuk bekerja."


" Kak Habibi kan pewaris perusahaan ayahnya, jadi ayahnya mengajari dia di bidang perusahaan dari sekarang, agar nantinya saat ia kuliah, dia bisa sambil bekerja di perusahaan ayahnya itu," jelas Alina.

__ADS_1


Aisyah hanya beroh ria sambil menyimak penjelasan Alina tentang Habibi. Hal itu pula yang membuatnya semakin yakin untuk menjodohkan Alina pada Habibi.


" Tapi dari mana kamu tahu cerita itu?" Tanya Aisyah yang masih penasaran.


" Kak Habibi sendiri yang cerita ke Alina," jawab Alina. Aisyah hanya mengangguk-angguk mengerti.


" Kalau begitu apa boleh Alina keluar Ma?" Tanya Alina kembali ke permasalahan inti.


" Hah aaaa boleh boleh, tapi ingat, jangan lama-lama!" Tegas Aisyah, dan itupun di angguki Alina dengan semangat karena telah mendapat izin dari Aisyah.


" Iya Ma insyaallah, Alina berangkat dulu ya, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Setelah berpamitan dengan Aisyah, Alina pun pergi menggunakan taksi, sebab mobil pribadi Aisyah sudah di jual untuk menutupi kebutuhan mereka. Karena kehidupan mereka sekarang tak sama seperti dulu lagi. Aisyah pun mulai membuka usaha kecil-kecilan dari uang hasil penjualan mobilnya tersebut. Begitu pun Alina yang ikut membantu perekonomian Aisyah dengan bekerja sebagai tukang laundry, meskipun Li tak putus memberikannya uang bulanan. Ia hanya ingin membantu Aisyah dengan uang hasil kerja kerasnya, dan uang yang di berikan Li ia tabung.


Dan kini Alina telah sampai di tempat yang ia tuju. Alina juga mengatakan pada sang supir taksi untuk menunggunya sebentar, karena sebenarnya ia hanya ingin mengecek saja.


Sebelum masuk, Alina pun berpapasan dengan scurity penjaga gerbang apartemennya.


Seperti biasa, scurity itu menunduk hormat kepada Alina sebagai istri dari majikannya.


" Selamat pagi Nyonya," sapa scurity tersebut.


" Selamat pagi juga pak, apa tuan ada di dalam?" Kata Alina yang menanyakan Li.


" Tidak ada Nyonya, sudah sebulanan ini tuan tidak pulang," jawabnya.


" Bapak tahu suami saya ke mana?" Tanya Alina yang mulai terdengar khawatir.


" Maaf Nyonya, saya tidak tahu tuan sedang ada di mana," jawabnya nampak jujur.


Alina menghempaskan nafasnya dengan kasar. Dan pikiran-pikiran sebulan yang lalu semakin di perkuat oleh kenyataan yang terjadi.


Padahal dulu Li pernah bilang, dia akan menemani Alina saat Alina wisuda nanti. Dan itu tinggal seminggu lagi, dan acaranya akan dilakukan sesudah lebaran.

__ADS_1


Namun sepertinya harapannya sia-sia. Takdir tak seindah rencana yang mereka bicarakan dulu.


Kini Alina hanya bisa pasrah dengan takdir yang di berikan, ia pun berjalan gontai menuju mobil taksi yang tadi ia tumpangi, dan berniat akan pulang saja ke rumah Aisyah.


__ADS_2