My Idol My Imam

My Idol My Imam
Selamat Jalan Orang Baik


__ADS_3

Episode 37:


Seorang wanita cantik nan seksi masih setia berdiri sambil memandangi kepergian seseorang yang sudah tak nampak lagi keberadaannya. Ia tersenyum sinis, lantas merogoh ponsel yang berada di dalam tasnya.


Ia mencari nomor kontak seseorang lalu menghubunginya.


" Habisi saja dia, dan jangan tinggalkan jejak apapun!"


" Dia akan pulang sore ini. Ingat, jangan sampai gagal!"


Dia lantas mematikan sambungan teleponnya, dan setelah itu ia pun tersenyum smirk.


Di tempat lain, Li sedang menyuapi bubur pada Alina. Meskipun terasa sangat hambar, namun Alina harus tetap memakannya.


Li juga sudah memberi tahu kepada Alina bahwa dia telah kehilangan anak yang ia kandung.


Ia sangat sedih dan terpukul mendengar bahwa dia kehilangan bayinya.


Ibu mana yang tidak sedih jika mengetahui bahwa ia kehilangan sang buah hati.


Bahkan ia tak sempat merasakan kebahagiaan atas hadirnya sang buah hati didalam rahimnya.


Namun Alina bukanlah gadis yang mudah terpuruk dalam kesedihan. Ia percaya dengan khada dan kodo Allah. Semua takdirnya sudah dituliskan di lauhilmahfuz, ia hanya menjalani apa yang telah Allah garis kan padanya. Namun jujur, sangat sulit menjalani takdir yang tidak diinginkan, begitu pun Alina.


" Sudah ya A', Alina sudah kenyang!" tolak Alina saat tersisa satu suapan.


" Ayolah sayang, sedikiiiiiiiiit lagi!" bujuk Li seraya masih menyodorkan sendok yang berisikan bubur tersebut.


" Tapi tidak enak A' perutnya."


" Di paksa ya. Sudah tidak banyak lagi kok. Katanya kalau dibuang Mubasir." Dengan segala bujukan, akhirnya Alina mau menghabiskan makanannya meski dengan keterpaksaan.


" Nah gitu kan pinter," ucap Li seraya mengusap kepala Alina dengan sayang.


" Jangan jadi beban pikiran ya sayang. Aku tidak mau kamu sampai sakit karena selalu mengingat anak kita terus." Li kembali mengusap kepala Alina dengan sayang, dan Alina pun tersenyum menanggapinya.


" Iya A', Alina akan selalu sabar dan ikhlas menjalani cobaan yang Allah berikan pada Alina saat ini. Alina percaya Allah itu tidak tidur, dan dibalik cobaan ini, pasti Allah sudah mempersiapkan sesuatu yang indah untuk kita. Cuma sekarang belum saatnya Alina hamil, kan sekarang Alina juga masih sekolah," ucap Alina dengan senyum tulusnya.


" Alhamdulillah, pintar sekali sih istri ku," puji Li.

__ADS_1


Tak lama Aisyah pun masuk sambil terburu-buru dengan wajah panik serta sambil menangis.


" Mas Ferdi,,,,,,hiks hiks,,,,,," ucapnya dengan terbata-bata.


" Pak Ferdi kenapa Ma, dia sudah pulang?" tanya Alina merasa bingung dengan sikap Aisyah.


" Mas Ferdi,,,,,,, dia,,,,,,hiks hiks hiks," ucapnya lagi. Aisyah membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Dia benar-benar tak sanggup untuk mengatakannya, seolah apa yang terjadi benar-benar membuatnya hancur.


" Iya Ma, pak Ferdi kenapa, apa kalian bertengkar?" kali ini Li lah yang bertanya.


" Coba deh, Mama tarik nafas dalam-dalam!" ucap Alina menginstruksi Aisyah, dan Aisyah pun menurutinya.


" Hembuskan!" lanjutnya.


" Sekarang sudah agak mendingan?" tanya Alina.


" Alhamdulillah." jawabnya.


" Sekarang coba Mama ceritakan, sebenarnya apa yang terjadi?"


" Mas Ferdi hiks,,,,, hiks ke_kecelakaan."


" Innalilahi wa innailaihiroji'un!" ucap Li dan Alina Bersamaan. Sontak saja berita yang dibawa oleh Aisyah tersebut mengejutkan Alina dan Li.


" Mas Ferdi sekarang sudah ada di negara ini. Dia sudah sampai sejak sore tadi, namun saat hendak pulang, mobil yang dikendarai Mas Ferdi terbalik dan menghantam trotoar. Hiks,,,,, hiks," cerita Aisyah.


" Innalilahi wa innailaihiroji'un. Sekarang Pak Ferdi nya dimana Ma?" tanya Alina yang juga ikut khawatir.


" Dia sedang diperjalanan menuju rumah sakit ini," jawab Aisyah. Dan benar saja, tak lama seorang perawat masuk kedalam kamar Alina, dan memberitahukan bahwa ambulance yang membawa Ferdi telah sampai.


Li, Alina, dan Aisyah segera menemui Ferdi yang masih berada diluar rumah sakit tersebut. Sedangkan Alina yang kondisinya masih lemah, tetap ikut dengan menggunakan kursi roda yang dituntun oleh Li.


Saat telah sampai di luar, betapa syoknya mereka ketika melihat tubuh Ferdi yang tak sadarkan diri itu berlumuran darah. Aisyah hanya bisa menangis histeris sambil memeluk tubuh suaminya itu. Begitupun dengan Alina, ia hanya bisa menangis di pundak suaminya.


Para perawat dan dokter bergegas menangani Ferdi yang nampak sedang kritis. Mereka membawa Ferdi keruang ICU untuk segera ditangani.


Alina dan Li menunggu diluar dengan harap cemas. Terlebih Aisyah yang sedari tadi terus saja menangis, hingga matanya nampak merah dan bengkak akibat tak henti-hentinya menangis.


Li dan Alina saling pandang, kemudian Li mengisyaratkan menggunakan mata agar Alina segera menghampiri Aisyah dan mencoba menenangkannya. Alina pun mendorong kursi rodanya kearah Aisyah dan mendekatinya.

__ADS_1


" Ma!"Panggil Alina seraya memegang pundak Aisyah. Aisyah pun menoleh kearah Alina sambil tersenyum yang terkesan dipaksakan.


" Ya sayang," jawabnya.


" Mama yang kuat ya, yang tabah. Pak Ferdi pasti sembuh. Mama yang sabar ya!" ucap Alina. Tiba-tiba saja Aisyah menangkupkan kedua tangannya pada wajah, dan menangis sejadi-jadinya disana.


Alina berinisiatif untuk mendekati Aisyah dan mendekatkan kursi rodanya kearah Aisyah, lantas menarik tubuh Aisyah untuk ia peluk.


" Tapi Mama takut Al," ucapnya sambil sesenggukan. Aisyah membenamkan wajahnya di pundak Aisyah. Menumpahkan segala keluh kesahnya pada Alina.


Tak lama dokter yang menangani Ferdi keluar dari ruangan ICU dengan wajah nampak pasrah dan sedih.


Aisyah yang melihat keberadaan sang dokter pun segera menghampirinya karena tak sabar ingin mengetahui keadaan Ferdi, disusul oleh Alina dan Li dari belakang.


" Bagaimana kondisi suami saya dokter. Dia baik-baik saja kan?" tanya Aisyah.


Dokter tersebut menarik nafas panjang. Raut wajahnya nampak seperti orang yang sedang putus asa.


" Maaf nyonya. Kami sudah berusaha semampu kami, namun pendarahan pada otak pasien membuat dia kehilangan banyak darah. Jadi dengan sangat menyesal, saya mengatakan bahwa pasien tidak bisa diselamatkan."


Runtuh seketika itu juga benteng pertahanan Aisyah. Ia menggeleng kuat karena tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari sang dokter.


Kakinya seolah tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Dia berjalan mundur sambil mencari tempat duduk dan menghempaskan tubuhnya disana.


Ia terpuruk, namun seketika ia sadar. Tak baik jika tak percaya dengan takdir yang telah ditetapkan. Menyalahkan sesuatu ataupun seseorang atas apa yang terjadi. Bukankah dia sudah tahu, bahwa jodoh, rezeki dan maut itu sudah menjadi rahasia Ilahi, jadi untuk apa dia terlalu meratapi kepergian suaminya.


Memang, tak mudah bagi setiap orang yang ditinggal oleh pasangannya dituntut untuk tetap tegar atau berpura-pura tegar. Namun Aisyah ingat bahwa dia masih mempunyai masa depan yang masih panjang.


Tak kalah sedih, Alina juga masih merasa tak percaya dengan meninggalnya Ferdi yang begitu tiba-tiba. Namun dia percaya, bahwa orang baik seperti Ferdi memang cepat dipanggil oleh yang maha kuasa, karena Allah sangat menyayanginya.


Alina jadi teringat masa-masa dimana Ferdi dan dia dipertemukan, serta Ferdi juga yang menolongnya hingga Alina bisa sampai dan menikah di negeri ini.


Ingatan-ingatan itu seolah berputar-putar di dalam kepalanya bak komedi putar.


Bayangan saat Ferdi datang kerumahnya dan meminta Alina untuk ikut dengannya ke Negri tirai bambu ini, hingga dia bisa bertemu dan menikah dengan idolanya sendiri.


Jika air laut dapat dihitung, mungkin tak kan cukup untuk membalas jasa-jasa yang telah Ferdi lakukan untuknya.


Alina hanya bisa mendoakannya agar Ferdi tentang disisinya.

__ADS_1


Selamat jalan orang baik!


Selamat jalan sang penolong, surga menantimu.


__ADS_2