
Episode 11:
Setelah berpamitan dengan Indria, jam tujuh pagi tadi Alina dan Ferdi sudah berangkat ke Tiongkok, dan kini sekitar pukul tujuh malam, mereka telah sampai di kota Tiongkok dengan selamat.
Ferdi pun menelpon supir pribadi nya untuk menjemput nya di bandara, dan tak lama supir itu pun datang. Mereka yang sangat kelelahan karena perjalanan jauh pun tak sabar untuk cepat sampai.
" Assalamualaikum!" Ucap Ferdi saat sudah berada di dalam pintu rumah yang sangat mewah itu. Alina saja di buat tercengang dengan interior rumah yang terlihat luar biasa itu. Malahan sangat jauh jika di bandingkan dengan kemewahan rumah Ferdi yang ada di Indonesia.
" Selamat malam tuan." Jawab seorang asisten rumah tangga yang terlihat masih muda, bisa di bilang seumuran dengan Alina.
" Oh kamu, saya pikir istri saya yang membukakan pintu." Kata Ferdi.
" Nyonya sedang keluar tuan."
" Kemana? Kok dia tidak mengabari saya dulu?" Tanya Ferdi heran dengan sifat istri nya yang tidak biasanya itu.
" Saya tidak tahu tuan, yonya tidak memberi tahu saya kemana ia akan pergi." Mendengar itu, wajah Ferdi pun memerah. Ia seperti menahan emosi. Alina melihat itu, tapi karena ia tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan asisten rumah tangga itu dan Ferdi, ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya. Pasalnya mereka menggunakan bahasa yang tak Alina mengerti.
Ferdi sadar bahwa sekarang ia sedang bersama Alina. Tidak baik rasanya jika meluapkan emosi di depan tamu. Ia pun mencoba meredam emosi nya.
" Ayo nak masuk! Istri saya sedang tidak di rumah, mungkin sedang ada urusan sebentar." Ucap Ferdi seperti menutupi sesuatu. Alina mengangguk dan mengikuti Ferdi untuk masuk ke dalam rumah nya.
Pembantu itu terlihat sedang memperhatikan Alina dari atas sampai bawah, ia merasa heran. Mungkin dengan cara berpakaian nya, atau apalah itu, Alina pun tak ambil pusing, mungkin karena mereka belum terbiasa melihat cara pakaian seperti dirinya.
" Duduk dulu nak! sambil nungguin pembantu beresin kamar kamu." Ucap Ferdi. Alina pun kembali mengangguk dan patuh. Namun saat Ferdi hendak beranjak, entah keberanian dari mana, Alina memanggil Ferdi.
" Maaf pak, apa saya boleh menanyakan sesuatu?." Tanya Alina. Ferdi pun mengurungkan niatnya dan berbalik menatap Alina, ia pun mengangguk dan tersenyum.
" Boleh, memang nya kamu mau tanya apa?"
" Tapi sebelumnya saya minta maaf, bukannya saya mau ikut campur urusan bapak, memangnya apa yang bapak dan mbak tadi bicarakan, sampai-sampai bapak terlihat sangat marah?" Ia menggigit bibirnya setelah menanyakan itu, meski tak terlihat karena tertutup oleh cadar.
__ADS_1
" Bukan apa-apa Alina, saya hanya lelah." Jawab nya. Tiba-tiba nada bicara dan raut wajah nya berubah datar. Tapi hal itu tak membuat Alina menciut.
" Pak, jika ada seseorang yang mengatakan sesuatu tentang istri bapak, dan itu bertolak belakang dengan sifat asli Bu Aisyah, maka bapak harus mencari tahu dulu kebenaran nya. Bukan maksud saya untuk suuzon, hanya saja suatu ikatan dalam rumah tangga itu harus ada rasa saling percaya." Ujar nya, seakan tahu apa yang sedang di pikirkan Ferdi. Hati Ferdi seakan tertampar dengan ucapan Alina. Alina pun menyadari kesalahannya, ia merutuki dirinya yang telah lancang itu, dan berkali kali pula ia mengucapkan istighfar di dalam hati.
" Maaf pak, bukan maksud saya menggurui bapak." Ralat nya. Ia merasa tak enak hati kepada Ferdi.
" Tidak Alina. Kamu tidak salah, justru saya merasa berterima kasih kepada kamu karena telah mengingatkan saya akan sesuatu." Ferdi lantas mengeluarkan ponsel nya yang berada di balik jaket nya. Ia pun memeriksa ponsel nya yang terdapat beberapa panggilan dan sebuah Chet di aplikasi hijau, yang ternyata itu semua dari istrinya.
" Astaghfirullahhalazim, bahkan saya sendiri yang lupa memeriksa ponsel. Ya Allah,,,,, saya sudah berburuk sangka kepada istri saya sendiri." Ia menghempaskan tubuhnya pada sofa. Mengusap wajah nya karena merasa frustasi.
" Memang nya ada apa pak." Tanya Alina penasaran.
" Ternyata Aisyah telah menghubungi saya berulang kali, dan mengirim pesan bahwa dia sedang ada hal penting yang mendadak, yang mengharuskan dia untuk datang ke restoran malam-malam begini. Ya Allah,,,, karena terlalu capek, saya jadi lupa untuk mengecek heanpone." Ucap nya merasa bersalah.
" Restoran?. Memangnya kenapa pak?" Tanya Alina.
" Ada salah satu karyawan yang terkena air panas, karena Aisyah adalah pemilik restoran itu, maka dia yang harus bertanggung jawab dengan apa yang menimpa para karyawan." Ucap Ferdi menjelaskan secara detail.
Sedangkan dari kejauhan, ada seseorang yang sedang merasa kesal karena rencananya tidak berhasil. Ia menghentak-hentakkan kaki nya, lalu setelah itu pergi.
Tak lama Aisyah pun pulang. Wanita asli China itu nampak sangat cantik dengan balutan gamis berwarna marun dan hijab dengan warna senada. Ia nampak tersenyum sekaligus merasa heran dengan wanita bercadar yang ada di depan nya itu. Karena sebelumnya, saat dia dan Alina melakukan panggilan video, Alina tidak menggunakan cadar, hanya mengunakan hijab saja.
" Mas!" Dia melirik pada Alina, setelah itu beralih pada suami nya. Dia seakan meminta penjelasan kepada suaminya, siapa gadis yang bersama suaminya itu.
Seakan mengerti, Ferdi pun menjelaskan dan mengatakan bahwa yang bersamanya itu adalah Alina.
Tak berbeda dengan Indria dan Ferdi, Aisyah pun merasa terkejut. Ia juga merasa terkesima dan kagum dengan penampilan Alina, yang membuat Alina semakin cantik berkali-kali lipat setelah memakai cadar.
Tak lama setelah mereka berbincang-bincang, tak lupa pula Ferdi meminta maaf karena dia sudah berburuk sangka kepada istrinya. Aisyah tidak marah, dia menyambut suaminya itu dengan penuh kelembutan.
Setelah selesai makan malam, Aisyah mengantarkan Alina untuk menunjukkan kamarnya. Alina kembali di buat terkesima dengan kamar yang akan ia tempati itu, satu kalimat, ' luar biasa mewah' dengan nuansa kamar serba biru langit itu.
__ADS_1
Alina juga merasa bersyukur karena keluarga Ferdi memperlakukan dia dengan baik di rumah itu.
Tak lupa setelah sampai, Alina juga berbagai kabar dengan keluarga nya.
*********
Pagi itu, Ferdi harus segera kembali ke Indonesia hari itu juga, karena Indria mengabarinya bahwa ibunya kembali masuk rumah sakit.
Sedangkan Aisyah berencana untuk mendaftarkan Alina pada sekolah baru di negeri itu. Aisyah juga mengajak serta Alina untuk ikut bersamanya, karena ia juga akan mengajak Alina untuk membeli perlengkapan sekolah dan beberapa pakaian untuk Alina.
Awalnya Alina menolak karena tak enak hati, namun karena Aisyah memaksanya dengan berbagai cara, terpaksa Alina mengiyakan nya saja.
" Lina, kamu tunggu ibu di sini dulu ya! Ibu mau ke toilet sebentar." Kata Aisyah saat mereka sedang berada di pusat perbelanjaan.
" Iya Bu, gak papa." Aisyah pun menunaikan hajat nya dan meninggalkan Alina seorang diri. Tiba-tiba seorang pemuda bermasker hitam menabraknya dari belakang, membuat Alina terjerembab ke lantai.
Pemuda itu tidak sendirian, dia bersama seorang temannya.
Pemuda itu meminta maaf dengan bahasa China dan hendak mengulurkan tangannya untuk membantu Alina berdiri. Tentu saja Alina menolak dengan sopan, ia menangkupkan kedua tangannya dan mengatakan bahwa mereka bukan muhrim.
Pria itu hanya terperangah dengan bahasa yang digunakan Alina. Tentu saja karena dia tidak mengerti bahasa yang Alina gunakan.
" Maaf nona, teman saya tidak sengaja, apakah nona tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Tanya teman pria yang menabraknya. Alina tak menyangka, ternyata teman pria itu bisa berbahasa Indonesia dengan sangat fasih.
" Iya tidak apa-apa, dan saya baik-baik saja kok." Jawab Alina. Sedangkan pria yang menabraknya tersebut menatap Alina tanpa berkedip. Pandangan mereka sempat bertemu, namun dengan cepat Alina menundukkan pandangan nya.
Perasaan aneh menjalar di seluruh tubuh nya, seperti ada aliran listrik saat pandangan mereka bertemu. Alina juga merasa tidak asing dengan mata itu. Ia merasa seperti pernah melihat sebelumnya. Namun sebelum ia berpikir lebih jauh lagi, cepat-cepat Alina menghilangkan pikiran itu dengan mengucap istighfar.
" ITU DIA!!!" Seru salah satu wanita muda yang berada pada sekelompok wanita muda lainnya. Mereka seperti sedang berlarian ke arah pria yang menabraknya tadi.
Dengan cepat teman pria itu menarik tangan nya dan berlari.
__ADS_1
Alina hanya bisa tercengang dengan seribu pertanyaan di benak nya.