
Episode 13:
Dan ternyata pria tersebut adalah idola nya yang selama ini ia kagumi. Ya, dia adalah Li Chung Yuu, aktor muda, tampan, berbakat, ramah dan peduli terhadap sesama manusia.
Siapa yang tak mengenal nya?, Dan siapa pula yang tak mengagumi aktor muda berbakat itu?Jawabannya, memang tidak semua mengagumi nya, namun bagi Alina pria itu selain tampan, dia juga sangat baik. Alina banyak belajar dari sosok Li yang sederhana meski dia adalah seorang artis terkenal.
Li memicingkan matanya merasa heran dengan tatapan terkejut Alina.
" Kenapa?" Tanya Li. Alina terkesiap dan langsung menunduk kembali seraya mengucap istighfar berulang kali.
" Ti_tidak, tidak apa-apa kok!" Ucap Alina gugup.
' Astaghfirullah, astaghfirullah! Alina, Alina. Gak boleh kayak gitu, dosa!!' Ia menggerutu pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba Li menyodorkan Hoodie nya kepada Alina, membuat Alina mendongak menatap nya dengan heran.
" Pakaian mu basah, pakai ini untuk menutupi tubuh mu!" Ucap Li. Alina bingung, antara harus menerima nya, atau menolak nya saja. Tapi dia membutuhkan nya untuk menutupi pakaian nya yang basah.
Dengan ragu-ragu, akhirnya Alina menerima Hoodie tersebut.
" Terimakasih, nanti saya kembalikan kalau sudah di cuci." Kata Alina.
" Terserah kamu saja." Jawab Li singkat. Alina pun segera memakai Hoodie tersebut, meskipun terlihat agak kebesaran di tubuh mungil nya itu.
" Apa kamu ada yang menjemput?" Tanya Li lagi.
" Emmm,,,,, ibu,,,, maksud ku mama akan segera menjemput." Li mengangguk, dia melihat sekeliling yang terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda akan ada seorang yang akan datang.
" Apa kamu mau saya antar?" Tawar Li. Alina menatap Li sekilas, lalu menggeleng cepat.
" Ti_tidak perlu, sebentar lagi mama saya akan datang kok." Dan benar saja, tak berapa lama, Aisyah datang dengan menggunakan mobil nya.
" Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Li yang di angguki oleh Alina. Alina pun menatap mobil Li yang mulai menjauh dari pandangan nya.
" Ngeliatin apa nak?" Suara Aisyah mengangetkan Alina. Alina terkesiap, dia berbalik untuk menatap ibu angkat nya itu.
__ADS_1
" Ehh, enggak ma, Lina gak lagi liatin apa-apa kok." Kelit Alina. Aisyah pun percaya, dia lantas mengangguk. Tiba-tiba pandangan Aisyah jatuh pada Hoodie yang Alina pakai.
" Ehh, kok mama baru ngeh ya, ni Hoodie siapa yang kamu pakai nak? Dari bau parfum nya, kayak bau parfum cowok, dan dari bau nya, kayak nya ini parfum mahal deh." Tanya Aisyah, yang memang tahu dan bisa membedakan mana barang mahal dan tidak.
Alina merasa gugup di tanya seperti itu. Ia tidak biasa berbohong, namun dia juga ragu untuk mengatakan pada Aisyah bahwa dia baru saja bertemu Li dan ia meminjamkan nya Hoodie itu.
" Eeeee,,,,,, ini punya teman Lina ma, tadi seragam Lina kena air, jadi dia pinjamkan ini buat Lina." Ucap nya. Alina tak sepenuhnya berbohong, seragam nya memang terkena cipratan air, dan bukankah semua manusia itu adalah teman? Begitu juga dengan Alina dan Li.
" Oh,,,,, ya sudah, Nlnanti kalau sudah di cuci, kamu kembalikan ya!" Ucap Aisyah. Untungnya dia tidak bertanya lebih jauh kepada Alina. Bukan apa-apa, Alina hanya belum siap dan masih malu-malu untuk terbuka pada Aisyah. Maklum, Alina memang selalu malu jika itu menyangkut tentang hati, apa lagi hal ini baru pertama kali nya dia merasakan perasaan seperti ini.
" Iya ma." Jawab Alina singkat.
***********
Setelah pulang sekolah dan berganti pakaian, Aisyah mengajak Alina ke restoran nya siang ini. Aisyah ingin mengenalkan Alina kepada semua karyawan nya, sekaligus mengajak Alina makan siang di restoran nya.
Saat mereka masuk ke restoran Aisyah, semua mata karyawan tertuju pada Aisyah dan Alina yang berjalan beriringan, bak seorang ibu dan anaknya. Mereka sangat cocok satu sama lain, sama-sama cantik dan anggun.
" Selamat siang semuanya!!" Sapa Aisyah kepada semua karyawan nya menggunakan bahasa China.
" Selamat siang juga Bu!!" Jawab mereka serempak. Aisyah mengajak Alina ke dapur untuk menyambangi para karyawan nya yang sedang bekerja.
" kalian semua sudah makan siang?" Tanya Aisyah kepada para karyawan nya. Aisyah memang sosok bos yang di idolakan para karyawan nya, selain baik dan lemah lembut, Aisyah juga sangat perduli kepada semua karyawan nya.
" Sudah Bu!!" Jawab mereka secara serempak.
" Bagus lah kalau begitu, jangan sampai ada yang telat makan ya! saya tidak mau kalau kalian sakit." Ucap nya.
" Iya Bu." Lagi-lagi mereka menjawab dengan serentak.
" Oh iya, kenalkan, dia anak saya, namanya Alina putri. Saya dan anak saya akan makan siang di sini. Siapkan makanan yang terbaik dari restoran ini ya!" Perintah Aisyah. Semua karyawan saling pandang setelah mendengar pengakuan Aisyah bahwa Alina adalah anak nya. Yang mereka tahu, Aisyah tidak memiliki seorang anak. Namun mereka tidak ada yang berkomentar apapun. Mereka paham apa yang di maksud Aisyah, mungkin Alina adalah anak angkatnya saja.
Mereka mengangguk patuh, dan mulai mengerjakan tugas mereka untuk melayani bos mereka dan anak nya.
Sedangkan Alina dan Aisyah menunggu di meja pelanggan.
__ADS_1
Seorang pelayan membawakan dua piring stik BBQ, jus lemon mint, dan jus strawberry.
Alina bingung melihat makanan yang ada di depan nya itu. Dia sama sekali tidak pernah memakan makanan itu sebelum nya. Dia bahkan tidak tahu cara memakan makanan itu.
Alina melirik Aisyah yang sudah mulai makan. Alina memperhatikan cara Aisyah makan dengan menggunakan garpu dan pisau. Dia lantas mempraktekkan nya.
Rasanya agak sedikit susah karena dia belum terbiasa melakukan nya.
Aisyah melihat kesusahan Alina, lalu ia membantu nya untuk memotong daging tersebut. Alina pun membuka sedikit kain cadar nya, dan memakan stik itu dengan lahap tanpa ada suara di antara mereka.
" Gimana stik nya, enak gak?" Tanya Aisyah, saat mereka sudah selesai makan.
" Alhamdulillah, enak banget ma, Lina belum pernah makan ini sebelum nya, biasanya juga, kalau di kampung, Alina makan sayur asem sama sambel terasi. Kadang kalau bapak pas lagi panen, bisa beli ikan sama sayuran aja sudah Alhamdulillah banget." Cerita nya dengan semangat. Aisyah hanya menjadi pendengar yang baik.
" Lina juga jarang banget jajan kalau kalau sekolah." Lanjut nya dengan senyum yang mengembang seperti tanpa beban. Aisyah terenyuh mendengar nya.
" Kenapa memangnya kamu jarang jajan?, Kalau gak jajan, terus kamu makan apa di sekolah?." Tanya Aisyah merasa simpatik.
" Lina bawa bekal dari rumah." Jawab Alina enteng.
" Kalau di tanya kenapa Lina gak jajan, ya karena Lina harus berhemat. Lina kasian sama bapak, yang setiap hari kerja keras banting tulang hanya untuk menghidupi kami para anak-anak nya. Kadang bapak bisa mengeluh capek saat pulang dari sawah. Lina tahu, bapak selalu berusaha buat mencukupi kebutuhan ku dan adik ku, walaupun terkadang bapak dan ibu harus mengalah tidak membeli pakaian, hanya agar aku dan Gadis punya heanpone, dan bisa seperti remaja-remaja lainnya. Bapak dan ibu rela memakai pakaian lama yang sudah agak usang demi Lina. Terkadang kalau di tanya, 'kenapa bapak dan ibu tidak beli pakaian?', Jawaban mereka, ' pakaian nya di simpan saja, sayang kalau harus di pakai terus-terusan, nanti cepat rusak,' gitu katanya. Padahal mereka hanya menutupi agar kami tidak merasa bersalah." Alina menyeka air matanya yang menetes. Sangat sedih rasanya, jika mengenang perjuangan orang tua nya untuk membahagiakan dia dan adik nya. Itu sebabnya mengapa Alina rela berpisah dengan keluarga nya walaupun berat. Hanya agar kebutuhan mereka tercukupi di sana. Dan lagi pun, Aisyah dan Ferdi memperlakukan dia dengan sangat baik di sini.
Tanpa mereka berdua sadari, tepat di belakang mereka, dua orang pria telah mendengar cerita Alina dari awal hingga akhir. Mereka merasa tersentuh, terlebih Li, yang sedari tadi menyimak cerita Alina dengan khusyuk, meskipun dengan bantuan teman nya yang bisa berbahasa Indonesia itu.
" Memang nya untuk apa kamu selalu membuntuti wanita ninja itu?." Tanya Tian Yu, teman Li.
" Aku hanya merasa kagum dengan nya. Dia berbeda dari wanita lain nya, walaupun aku sendiri tidak tahu, mengapa dia menutupi wajahnya dengan kain itu." Wajah nya merona saat mengatakan itu.
" Bagaimana kalau dia jelek? Dan kain itu hanya untuk menutupi wajahnya yang jelek." Ujar Tian.
" Aku tidak perduli, aku menginginkan nya bukan karena kecantikan, tapi karena kepolosan nya." Ucap nya, kekeh.
" Apa kau yakin?" Tian menanyakan nya sekali lagi.
" Seribu persen yakin." Ucap nya tanpa ada keraguan sedikitpun. Tian mengangkat bahunya acuh, lalu kembali meminum minuman nya.
__ADS_1
" Dia lah wanita yang aku cari, dan aku harus memperjuangkan nya, bagaimana pun caranya." Ucap Li tiba-tiba, setelah beberapa saat mereka saling diam.
Tian hanya terperangah mendengar penuturan sahabat nya itu.