
Episode 50:
" Alhamdulillah akhirnya bapak ibu sama Gadis sudah sampai," kata Alina yang baru saja tiba dari dapur, dan dia pun segera menghampiri kedua orang tuanya tersebut.
Ketika mendengar seperti ada suara orang di luar, Alina pun bergegas menghampirinya, dan ternyata benar itu adalah keluarnya yang baru saja tiba.
Jangan ditanya lagi saat ini tentunya Alina sangat merasa bahagia meskipun masih ada luka dalam yang terselip di dalam hatinya saat ini. Namun kedatangan keluarga kandungnya setidaknya dapat mengurangi rasa kecewa yang masih ia pendam itu.
" Bapa sama ibu apa kabarnya, sehat?" tanya Alina setelah ia menyalami kedua tangan orang tuanya.
" Alhamdulillah kami sehat," jawab Jaka.
" Hemmm iya deh iya, yang ini gak di anggap disini," ucap Gadis tiba-tiba, sebagai sindiran untuk Alina karena merasa dirinya tak ditanyai kabarnya oleh sang kakak.
Sontak perhatian semua orang pun tersita karena ucapan Gadis, dan mereka semua pun tertawa terkecuali Habibi yang memang tak mengerti apa yang dibahas mereka.
Alina pun mendekati Gadis dan memeluknya masih dengan sisa tawanya.
" Ooooo cini cini adik teteh yang paling geulis, yang paling bageur. Tong ngambek atuh!" ucap Alina sambil menepuk pelan pundak Gadis.
" Neng geulis gimana kabarnya, sehat?" kali ini Alina dengan khusus menanyai Gadis tentang keadaannya.
Gadis pun tersipu dan malu sendiri karena permintaannya yang seperti anak kecil itu.
" Alhamdulillah sehat teteh ku yang geulis pisan," jawab Gadis.
Dan mereka pun tertawa bersama, begitupun yang lainnya yang ikut menyaksikan kerendoman mereka.
" Oh iya Bu Imah dan pak Jaka silahkan duduk, lupa dari tadi tidak di persilahkan duduk," ucap Aisyah sambil nyengir karena tak enak hati pada keluarga Alina.
Dan akhirnya mereka semua pun duduk termasuk Habibi yang kembali duduk di sebelah pak Jaka setelah tadi sempat ikutan berdiri untuk menyambut kedatangan keluarga Alina.
" Oh iya teh, Aa Li kemana kok gak keliatan dari tadi?" tanya Gadis. Mendengar pertanyaan adiknya tersebut spontan senyum yang semula terpancar di wajah Alina tiba-tiba redup. Sontak saja hal itu menimbulkan pertanyaan di benak kedua orang tua Alina dan Gadis sendiri, terkecuali Habibi dan Aisyah yang hanya bisa tertunduk karena memang mereka tahu apa yang terjadi meskipun mereka tidak tahu sebenarnya apa yang dirasakan oleh Alina.
" Ada apa Nak, apa yang terjadi pada kalian, kalian baik-baik aja kan?" tanya Imah yang merasa khawatir pada sang anak.
Dengan cepat pula Alina mengubah kembali mimik wajahnya dengan memaksakan diri untuk tersenyum di depan kedua orang tuanya seolah dia sedang baik-baik saja.
__ADS_1
Alina pun menggeleng sambil tersenyum kepada Imah.
" Tidak kok Bu, Alina dan Aa Li baik-baik aja kok," jawabnya. Namun nampaknya Imah tak semudah itu percaya dengan apa yang dikatakan Alina.
Imah pun menatap Alina dengan tatapan menyelidik, seolah mencari kebohongan di mata Alina.
" Oh Aa Li lagi ada syuting di luar kota ya teh, jadinya Aa Li gak bisa hadir untuk menyambut kedatangan kita?"
Entah mengapa tiba-tiba Gadis bertanya seperti itu, yang jelas pertanyaan gadis seolah menjadi ide brilian untuk Alina, dan dengan cepat pula Alina menganguki dengan semangat dan menatap yakin pada Imah.
" Iya, kok kamu tau?" tanya Alina berpura-pura.
" Ya cuma asal nebak aja sih, eh gak taunya beneran," ucap Gadis sambil cengengesan.
" Apa benar Li cuma ada syuting di luar kota, tapi kenapa tadi ibu lihat wajah kamu jadi sedih?" tanya Imah yang masih belum percaya begitu saja kepada Alina.
" Iya Bu, Aa Li memang lagi ada project di luar kota, dan mungkin akan sedikit lama makanya Lina sedih," jawabnya, dan nampaknya alasan Alina kali ini tepat dan membuat Imah menganguk percaya.
" Oh begitu, ya sudah kamu tidak usah sedih-sedih begitu, do'akan saja yang terbaik untuk Li semoga dia baik-baik saja di sana dan bisa pulang dengan cepat," ucap Imah mencoba menyemangati anaknya itu.
" Iya Bu."
" Oh ya, kenapa?" tanya Alina.
" Ye bukannya seneng dengar adek nya lama disini, tanyanya cuma datar kayak gitu, kenapa gak senang dengarnya?" kata Gadis dengan gaya ngambeknya.
" Ya memang nya kenapa harus senang?" tanya Alina yang sebenarnya hanya menggoda adiknya itu.
" Ya kan lumayan teteh jadi punya teman kalau di tinggal tinggal Aa Li kayak gini," jawab Gadis masih dengan wajah cemberutnya.
Sedangkan yang lainnya hanya bisa menggeleng-geleng sambil tertawa melihat pertengkaran mereka, terlebih melihat tingkah Gadis yang seperti anak kecil.
" Teteh mah gak perlu teman modelan kayak kamu gini, yang bisanya cuma morotin teteh nya doang. Lama-lama temenan sama kamu yang ada teteh bangkrut,"
" Aaaaaaa Bu liat nih teteh, selalu aja julidin Gadis," adu Gadis pada sang ibu. Sedangkan yang diadukan tertawa puas melihat sang adik yang sudah sangat kesal dengan ejekannya.
" Haduh sudah sudah! kalian ini bikin malu saja, tidak di rumah sendiri tidak di rumah orang, selalu saja ribut. Sudah seperti tom and Jerry saja," kata Imah yang ikutan kesal melihat tingkah mereka yang tidak henti-hentinya membuat keributan.
__ADS_1
" Lagian kenapa sih Bu nih anak kok tinggal lama di sini?" tanya Alina, dan kali ini adalah pertanyaan serius.
" Kamu lupa kalau adik kamu ini sudah lulus SMP, dan bukannya dulu kamu yang bilang kalau setelah Gadis lulus, dia akan bersekolah disini dan tinggal bersama kamu," jelas Imah, dan sontak saja membuat Alina menepuk jidatnya sendiri karena kebodohannya yang lupa akan perkataannya sendiri.
" Astaghfirullah halazim, maaf Bu Alina lupa," jawabnya.
" Ya sudah Bu, sepertinya bagus juga. Jadinya kan aku punya asisten rumah tangga gratis," kata Alina lagi sambil memandang Gadis dengan tatapan mengejek.
Kembali Gadis di buat kesal oleh kakaknya itu, namun ia tak mau membalasnya karena ia sadar sedang berada di antara pria tampan yaitu Habibi.
Gadis lantas melirik ke arah Habibi sambil tersenyum simpul, dan hal itu pun tertangkap oleh mata Alina, dan membuat sang kakak tersebut tersenyum senang melihatnya.
" Oh iya sampai lupa untuk membuatkan minuman sangking asyiknya berbincang," kata Aisyah.
" Alina, ambilkan minum dulu untuk orang tua kamu!" ucap Aisyah lagi.
" Iya Ma maaf, tadi sangking asyiknya sampai lupa ke dapur," jawab Alina.
Sebenarnya tadi Alina hendak kebelakang untuk mengambilkan minuman dan cemilan untuk keluarganya yang baru saja tiba, namun ia urungkan karena mendengar pertanyaan adiknya yang menanyakan tentang Li.
Pikiran nya jadi buyar setelah mendengar nama Li di sebutkan.
" Ya sudah Lina kebelakang sebentar ya." Alina pun lantas bergegas ke belakang untuk mengambilkan minuman untuk keluarganya.
Namun langkahnya terhenti karena menyadari televisi yang ada di ruang tengah tersebut masih hidup, karena memang dia sendiri yang lupa mematikannya setelah menonton televisi tadi.
" Duh kayaknya aku lupa deh matiin TV nya tadi," ucapnya sambil menghampiri televisi tersebut.
Namun ia kembali dibuat syok oleh sebuah berita yang di tayangkan di televisi tersebut.
(Kabar terbaru hari ini: Artis terkenal Li Chung Yu dan pasangan mainnya Cassandra, dikabarkan terlibat cinta lokasi. Bahkan hari ini mereka akan mengumumkan bahwa mereka telah menikah sebulan yang lalu.
Mereka memang sengaja menutupi pernikahan mereka dari publik dan awak media atas permintaan Li sendiri. Namun kabar bahagia ini telah mereka publikasikan hari ini).
Belum sempat berita tersebut selesai, Alina langsung meraih remote control dan mematikan televisi tersebut dengan perasaan yang tak dapat lagi di bayangkan bagaimana hancur dan sakitnya perasaannya saat ini.
Alina tak kuasa lagi menopang tubuhnya yang kemas, akhirnya ia pun tersimpuh di lantai dengan uraian air mata dan tangis tanpa suara.
__ADS_1
Ia pun memegangi dadanya yang terasa sesak dan berusaha untuk mengontrol emosinya agar tak berdampak buruk pada fisik dan psikis nya.