
Episode 53:
Tiba-tiba di sela kegundahannya, Li teringat akan sesuatu. Ternyata dari tadi dia belum menghubungi keluarga Alina yang tak lain adalah mertuanya sendiri.
" Astaghfirullah." Li pun segera merogoh ponselnya yang berada di saku celana dan segera mencari kontak Aisyah.
Tak berselang lama, keluarga Alina yang tadi Li hubungi pun telah tiba di rumah sakit dengan cepat. Kebetulan di sana juga ada Habibi yang ikut mendampingi keluarga Alina untuk melihat keadaan Alina.
Bugggh
Tanpa di duga Habibi yang baru saja datang bersama keluarga Alina langsung menghampiri Li dan menghadiahinya dengan sebuah pukulan yang cukup keras.
Tentu saja Li yang tak ada persiapan apa-apa tersebut pun tak dapat menghindari pukulan yang diberikan Habibi, bahkan Li terlihat tak melawan dan sengaja membiarkan dirinya di pukul bertubi-tubi oleh Habibi.
" Lihat sekarang! karena ulah mu Alina menderita hingga masuk rumah sakit seperti itu," kata Habibi dengan penuh emosional.
Bugggh
Habibi kembali memukul Li tanpa ampun. Jaka dan yang lain berusaha untuk mencegah Habibi agar berhenti, namun nampaknya Habibi tak perduli sama sekali.
" Kau laki-laki terjahat yang pernah aku kenal, dan seharusnya kau tak pantas untuk Alina."
Bugggh
" Sudah sudah! Berhenti Nak!" kata Jaka sambil melerai Habibi.
Lagi-lagi Li nampak pasrah saat dirinya dipukuli habis-habisan oleh Habibi hingga babak belur.
Bugggh
Namun sayangnya Habibi sama sekali tak menggubris perkataan Jaka dan meneruskan pukulannya.
" Berhenti Nak Habibi! ini rumah sakit, malu dilihat orang," kata Aisyah. Dan untungnya kali ini Habibi mau mendengarkan perkataan Aisyah dan melepaskan cengkraman nya dari tubuh Li dengan kasar hingga membuat Li terhempas ke lantai.
Jaka yang melihat menantunya terduduk di lantai dengan kondisi lemah pun segera membantunya berdiri dan memapahnya menuju kursi.
Tak berselang lama seorang dokter wanita yang menangani Alina pun menghampiri mereka.
" Di sini ada suami dari pasien yang bernama Alina?" tanya sang dokter.
__ADS_1
" Saya dok," jawab Li dengan suara yang terdengar meringis karena masih merasa sakit akibat pukulan Habibi tadi.
Sejenak dokter tersebut tercengang. Siapa yang tidak mengenal Li Chung Yu, artis tampan terkenal di seluruh kalangan termasuk dokter wanita tersebut.
Namun karena keprofesionalan kerja ia pun memilih tutup mulut tentang masalah pribadi pasiennya.
" Saya dok," kata Habibi.
Sontak semua keluarga Alina pun menatap heran pada Habibi yang tiba-tiba juga ikut-ikutan.
Sama halnya dengan sang dokter yang merasa bingung karena dua pria tersebut mengaku sebagai suami dari pasiennya.
" Eeee maksud saya temannya," ralat Habibi lagi dengan tertunduk malu karena kesalahannya sendiri.
" Eeee tapi kami semua keluarganya kok dok," tambah Aisyah.
" Maaf, tapi saya hanya perlu dengan suami pasien," kata sang dokter dengan tersenyum canggung.
" Ini menantu saya dokter, silahkan bawa dia saja!" ucap Jaka dengan bijak.
Meskipun Jaka sendiri tak tahu apa permasalahan anak dan menantunya tersebut, namun ia tak mau gegabah dan langsung menghakimi sang menantu karena kejadian yang baru saja ia lihat tadi saat disekolah.
" Baiklah tuan, mari!"
" Tunggu dokter! kami juga keluarganya, apa kami juga boleh masuk?" kata Aisyah menimpali.
Dokter tersebut menganguk dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruangannya.
" Jadi begini tuan Li, sebelumnya saya ucapkan selamat pada tuan karena ternyata istri tuan sedang mengandung selama dua Minggu, meskipun tadi sempat pendarahan, tapi syukurlah janinnya masih bisa di selamatkan," jelas sang dokter.
Sontak hal itu membuat semua keluarga terkejut begitu pula dengan Li.
Saat ini dia tak tahu harus senang atau malah sedih karena mendengar kehadiran sang buah hati yang selama ini ia tunggu kehadirannya, mengingat akhir-akhir ini dia dan Alina sedang tak baik-baik saja.
" Akan tetapi ada yang perlu anda perhatikan bahwa saat ini kandungan istri anda sangat lemah dan hal ini sangat rentan keguguran, jadi anda perlu memperhatikan istri anda seperti mengkonsumsi makanan yang bergizi dan yang paling penting mentalnya tolong di jaga jangan sampai dia stress. Karena kebanyakan ibu hamil hal yang paling dihindari ialah stress berlebih."
Li hanya bisa tertunduk dalam mendengar pernyataan dokter tersebut. Li pun tak tahu harus berekspresi bagaimana dengan kabar tak terduga yang dialaminya hari ini, yang jelas tentu ada rasa bahagia karena akhirnya ia akan menjadi seorang ayah.
" Baiklah dokter, kami ucapkan terimakasih untuk semuanya dan kami permisi dulu," ucap Aisyah yang mewakili semuanya.
__ADS_1
Sebelum keluar dari ruangan Dokter yang menangani Alina, Jaka sempat menepuk pundak Li dan Li pun mendongak lantas tersenyum getir sebelum akhirnya mereka benar-benar keluar dari sana.
Bugggh
Sekali lagi Habibi melayangkan bogeman nya kepada Li yang lagi-lagi tak sempat menyadarinya.
" Puas, puas sekarang hah? Pasti kau sedang tertawa puas di dalam hati saat ini karena sudah berhasil menaklukkan korban mu entah yang ke berapa kalinya." Lantas Habibi menghempaskan kerah baju Li yang ia cengkram tadi dengan kasar.
Li merasa ujung bibirnya terasa hangat lantas ia pun menyeka darah di ujung bibirnya tersebut lalu menatap tajam Habibi.
Tak lagi pasrah seperti saat di pukuli tadi, kali ini Li nampak tak terima dengan tuduhan yang di layangkan Habibi untuk nya.
Lalu Li berbalik mencengkeram kerah baju Habibi dengan geram.
" Mungkin di sini aku yang salah, tapi jangan pernah mengatakan bahwa aku tidak setia. Hanya Alina wanita satu-satunya yang aku cintai, HANYA ALINA kau dengar!" ucap Li dengan penuh penekanan.
" Sudah cukup! jika kalian ingin bertengkar, silahkan keluar saja. Ini rumah sakit, jangan buat keributan di sini!" ucap Jaka yang akhirnya geram melihat tingkah mereka yang kurang dewasa tersebut.
Li yang mengerti apa yang diucapkan mertuanya itu pun langsung menjaga jarak dengan Habibi untuk menghindari adanya pertengkaran lagi.
" Ya sudah lebih baik kita menjenguk Alina dulu!" lanjut Jaka pada semuanya.
Dan mereka pun mengikuti Jaka dan masuk ke ruang rawat Alina.
Alina menatap sayu pada semuanya yang baru saja tiba di kamarnya.
Wajahnya nampak sangat pucat dan cekungan hingga terlihat lingkaran hitam di kantung matanya.
Li menatap sedih pada kondisi Alina yang memburuk karenanya.
Dengan tiba-tiba Li langsung bersimpuh di tepi ranjang yang Alina tempati. Ia juga menangis tersedu-sedu di samping Alina yang terbaring lemah saat ini.
Rasa penyesalannya mungkin tak dapat lagi mengembalikan sesuatu yang telah terjadi, mau bagaimana pun saat ini Li tetaplah laki-laki yang memiliki dua istri sekaligus.
Memang tak ada larangan di dalam keyakinannya untuk mempunyai istri lebih dari satu, namun dirinya sendiri telah berjanji bahwa sebisa mungkin dia tidak akan menyakiti hati istrinya apa lagi berpikir untuk menduakan nya meskipun itu adalah perintah dari Alina sendiri.
Nyatanya Li telah melanggar janji yang telah ia buat sendiri hanya karena hatinya terguncang dengan permasalahan yang menimpa keluarganya dan berujung menikah lagi dengan orang lain.
Alina hanya menatap datar pada Li. Wajah cantiknya yang cekung itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa-apa. Bahkan matanya menatap Li tanpa berkedip. Mungkin Alina masih syok dengan kejadian-kejadian yang menimpanya beberapa akhir ini.
__ADS_1