
Episode 24:
" Kamu dengar Li! sampai kapan pun mama tidak akan membatalkan perjodohan ini, kamu dan Cassandra harus segera menikah secepatnya. Mama tidak ingin kamu memilih perempuan lain." Ucap Ying telak.
" Tapi keinginan mama tidak terwujud, aku telah memiliki tambatan hati." Ucap Li tanpa ragu.
" Siapa?" Tanya Ying. Namun belum sempat Li menjawab, azan Zuhur berkumandang. Li menyadari itu, ia pun terpaksa harus pamit kepada mamanya.
" Ma seperti nya Li harus segera pergi, kita lanjutkan lain kali saja ya ma." Sebelum pergi, tak lupa ia sempatkan untuk mencium punggung tangan dan telapak tangan Ying dengan Hidmat. Tanpa menunggu jawaban dari Ying, Li pun segera pergi.
Namun saat hendak keluar, Li menemukan sebuah baju yang tergeletak begitu saja di lantai, ia lantas mengambilnya dan mengamati sejenak pakaian gamis berwarna biru langit itu.
" Nona maaf, apa anda melihat istri saya di sekitar sini?. Tanya Li pada pelayan butik yang tadi sempat melayani dia dan Alina.
" Oh istri anda yang pakai penutup wajah itu? Bukankah dia tadi menemui anda? Dia ingin memperlihatkan sebuah pakaian kepada anda, apa anda tidak bertemu dengan nya?" Tanya pelayan tersebut. Li heran, lantas ia menggeleng karena memang dia tidak mengetahui apa-apa.
" Tidak, saya sama sekali tidak bertemu dengan nya tadi. Bukankah saya menyuruh nona untuk menemaninya tadi?" Li mulai gelisah, perasaan nya mulai tak nyaman karena hilangnya Alina yang secara tiba-tiba.
" Benar sekali tuan, tetapi dia tadi menemukan pakaian yang cocok, lalu dia bilang kepada saya akan memberitahukan nya kepada anda, lalu setelah itu saya tidak melihat lagi keberadaan nya." Jelas di pelayan.
" Apa maksudmu pakaian yang ini?" Tanya Li sambil memperlihatkan gamis yang ia temukan tadi kepada si pelayan.
" Iya, benar sekali tuan, itu pakaian yang ingin istri Tian tunjukkan kepada tuan. " Ucap pelayan itu tanpa keraguan. Li sempat di buat terkejut, pasalnya dia menyadari bahwa pakaian yang ia temukan tadi lokasinya sangat dekat dengan Li, Cassandra dan Ying tadi berbincang-bincang. Apakah Alina mendengar semua percakapan mereka tadi? Li menjadi sangat khawatir kepada Alina, ia takut Alina marah dan sakit hati lantas pergi meninggalkan nya.
" Terimakasih informasinya. Tolong bungkus ini, nanti saya akan datang untuk mengambilnya. Dan ini kartu kredit saya tolong kamu ambil! " Li lantas memberikan black card nya dan setelah itu ia langsung pergi untuk mencari Alina, namun hasilnya nihil. Dia sudah mencari di beberapa sudut ruangan butik tersebut, namun tetap saja dia tidak menemukan keberadaan Alina.
Karena waktu Zuhur sudah sampai, Li pun menghentikan pencarian nya. Dia lantas mencari tempat ibadah terdekat, dan dia pun menemukan sebuah mushola kecil di dekat taman butik tersebut.
**************
Alina tidak benar-benar pergi. Ia hanya ingin menenangkan diri saja di taman dekat dengan butik. Alina duduk di kursi taman untuk merenungi dan memikirkan apa yang terbaik untuk nya nanti.
__ADS_1
Kebetulan waktu Zuhur pun telah tiba, Alina memutuskan untuk shalat terlebih dahulu. Ia masuk ke sebuah mushola kecil di dekat taman butik, yang kebetulan di sana hanya ada beberapa orang saja yang sholat, termasuk Li. sedang kan di bagian sap perempuan hanya ada Alina seorang diri, sehingga Alina bisa dengan leluasa membuka cadarnya.
Setelah selesai shalat, Alina dan Li menengadahkan tangan nya untuk berdoa kepada sang khalik. Di tempat yang sama, mereka sama-sama mengutarakan kegundahan hati mereka, mengadu kepada sang pencipta atas apa yang sedang mereka rasakan. Di atas sajadah, mereka menumpahkan segala kesedihan dan kesusahan hati.
" Allaahumma bika ashbahnaa, wa bika amsainaa, wa bika nahyaa, wa bika namuutu, wa ilaikan nusyuuru.
Ya Allah yang maha pemberi hidup, Dzat yang mengetahui kehidupan seseorang. Berilah hamba kekuatan jika memang suatu saat hamba harus di hadapkan dengan cobaan-cobaan yang telah engkau persiapkan untuk diri hamba, beri lah hamba kesabaran agar hamba bisa ikhlas dalam menjalani nya, hamba berharap, apapun kemungkinan yang akan terjadi nanti, Engkau telah mempersiapkan hati hamba agar tegar menjalani nya. Ridhoi setiap langkah baik hamba ya Rabb! Tegur hamba jika hamba melakukan kesalahan! Subhaanakallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. Amin! " Air mata Alina seketika luruh. Semua kegundahan hati nya, ia curahkan kepada sang pencipta.
Di sisi lain, Li juga menceritakan kegelisahan nya kepada pencipta nya. Ia dengan khusyuk memanjatkan doa nya.
" Ya Allah ya Tuhanku, aku memang bukan imam yang sempurna untuk istriku, namun izinkan aku untuk membina rumah tangga yang Engkau ridhoi. Jadikan lah dia satu-satunya tulang rusuk yang Engkau kirimkan kepada ku, lengkapi lah rumah tangga kami dengan cinta yang Engkau ridhoi, cinta yang telah Engkau tanamkan di hati kami. Jangan biarkan cinta itu rusak oleh orang-orang yang ingin berniat jahat kepada kami.
Robbana dholamna Anfusana wa inlam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakunanna minal khosirin. Subhana rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifun wasalamun alal mursalin wal hamdulillahi rabbil 'alamin."
Setelah selesai berdoa, mereka sama-sama keluar dari mushola, namun dengan pintu yang berbeda, hingga mereka tidak bertemu satu sama lain.
Li memutuskan untuk mencari Alina kembali, ia memutuskan untuk mencari nya di jalan raya. Ia pikir, siapa tahu Alina yang sedang kalut hatinya itu, memilih untuk pulang sendiri. sedangkan Alina memutuskan untuk menemui Li yang ia kira masih berada di dalam butik. Sehingga, lagi-lagi mereka tak saling bertemu.
" Eh iya nona, ternyata nona di sini? Tadi suami nona juga mencari nona, seperti nya dia sangat khawatir kepada nona. Ini pakaian nona, dan ini kartu kredit suami nona. Terimakasih atas kunjungan nya kemari ya nona. Semoga anda menyukai layanan kami. Jangan lupa kembali lagi kemari ya nona!" Setelah memberikan paper bag yang berisi gamis dan memberikan kartu black card milik Li, pelayan itu lantas berlalu tanpa menjawab pertanyaan Alina.
" Aa Li cari Alina? Terus Aa Li nya sekarang ada di mana? Alina pulang nya gimana dong?" Alina bermonolog sendiri.
Karena tak tahu harus berbuat apa, Alina pun keluar saja dari butik tersebut tanpa tahu tujuan nya sendiri.
" Aduh! Aa tega banget ninggalin Lina di sini sendiri. Lina kan gak tau jalan pulang." Alina menggerutu pada Li yang meninggalkan nya tanpa sepengetahuan Alina.
Tit ,,,,,,,Tit ,,,,,,,,Tit.
Sebuah mobil mengelakson Alina yang berada di sisi jalan, mobil itu juga berhenti tepat di samping Alina. Alina menoleh pada pemilik mobil tersebut, dan ternyata itu adalah kakak Cia.
" Hay Alina kan?" Tanya Xiang.
__ADS_1
" Iya kak." Alina menatap nya sebentar, lalu setelah itu ia menurunkan pandangan nya.
" Mau kemana? Kenapa kau jalan kaki seorang diri?" Tanya Xiang yang masih berada di dalam mobil.
" Tidak tahu kak." Jawab Alina.
" Lantas, kemana asisten pribadi mu yang biasanya mengantar jemput mu itu?"Yang di maksud Xiang adalah Li.
" Tadi aku sedang mencari nya, namun masih belum bertemu." Keluh Alina.
" Ya sudah, kalau begitu saya saja yang mengantarkan kamu pulang!. Bagaimana?"
" Emmmm bagaimana ya kak? Aku ragu."
" Kamu tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam kepada mu. Kalau kau tidak percaya, kau boleh menelpon seseorang jika nanti aku berbuat macam-macam kepada mu." Ucap Xiang meyakinkan Alina. Alina tidak punya pilihan lain, ia terpaksa ikut bersama Xiang di dalam mobil nya, ia pikir Xiang juga terlihat sangat baik. Alina pun duduk di kursi belakang, Xiang tidak protes sama sekali, ia paham posisi Alina yang tidak sama dengan gadis lainnya.
" Loh kak, kenapa kita lewat sini? Ini bukan jalan menuju rumah Alina." Protes nya saat mengetahui ada yang tidak beres.
" Kamu tenang saja, ini jalan pintas untuk menuju rumah kamu agar lebih cepat sampai." Alasan Xiang. Tanpa Alina sadari, Xiang sedang tersenyum penuh kemenangan.
" Tapi kak!."
" DIAM!!. Berhenti protes!" Bentak Xiang
Alina terkesiap, ia merasa sangat takut dengan perubahan Xiang padanya. Alina semakin yakin bahwa dia sedang di jebak oleh kakaknya Cia tersebut.
Jalanan yang terlihat sangat sepi tersebut semakin membuat rasa takut Alina kian meningkat. Dia bingung karena tak ada satu orang pun yang bisa ia mintai pertolongan.
Namun Alina tetap mencobanya meski sia-sia saja. Xiang tertawa dengan puas karena mengetahui usaha Alina untuk kabur dari nya tidak berhasil.
Alina semakin di buat takut mendengar tawa Xiang yang begitu menyeramkan, bak psikopat.
__ADS_1