
Episode 9:
' Astaghfirullah Alina, kok otak kamu jadi berpikiran kotor begini sih!' Ia memukul-mukul kepalanya sendiri, membuat Jaka dan Ferdi sontak saja menjadi heran.
" Kamu kenapa neng? Kamu sakit kepala?" Tanya Jaka merasa khawatir.
Alina pun tersadar dari lamunannya, dan dengan cepat ia menggeleng.
" T_tidak kok pak, Lina sehat, gak sakit kepala kok." Jawab nya dengan menampakkan barisan gigi nya yang sangat rapi dan putih itu.
" Jadi bagaimana, kamu mau jawab sekarang atau nanti saja?" Ulang Ferdi memastikan sekali lagi.
" Oh iya pak, nanti kalau saya sudah ada jawaban nya saya telpon bapak." Kata Alina.
Ferdi pun mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya untuk segera berpamitan kepada keluarga Jaka.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kini Alina sedang berada di dalam kamar nya, ia senyum-senyum sendiri sambil memandangi kartu nama milik Ferdi. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, yang jelas Alina sangat senang dengan tawaran Ferdi untuk mengajak nya ke negeri bambu itu.
Bukan hanya ia pandangi saja kartu nama tersebut, tapi ia juga mencium nya sesekali. Dan ia pun tak sadar, bahwa dia sedang di perhatikan oleh adik nya sendiri, yang sedari tadi sudah melihat tingkah konyol sang kakak.
" Sampai segitunya teteh ngfens sama dia, emang teteh yakin bakalan ketemu nanti di sana?" Ucap Gadis yang berdiri di depan pintu. Tangan nya ia silangkan di depan dada nya.
Alina yang baru menyadari keberadaan adik nya pun terkejut sekaligus merasa malu. Namun sebisa mungkin ia tutupi.
" S_sejak kapan kamu di situ?" Tanya Alina terdengar sewot, padahal itu hanya untuk menutupi rasa malunya.
" Sejak zaman penjajahan, dan udah ngelawan penjajah juga, ampe ludes tak tersisa." Jawab Gadis asal. Gadis merasa kesal kepada Alina, bukannya menjawab pertanyaan nya, Alina malah balik bertanya.
" Bercanda nya gak lucu, garing." Alina pun terkekeh, membuat sang adik semakin kesal.
" Lagian teteh, di tanya malah balik tanya." Kesal Gadis. Ia lantas berjalan menuju tempat tidur Alina dan menghempaskan bok*ng nya dengan kasar.
" Tanya apa sih, yang tadi? Ya jawaban nya sederhana, kalau ada jodoh ketemu, tapi kalau gak ketemu, berarti gak ada jodoh." Ucap nya enteng, sambil nyengir kuda.
" Lagian teteh kok bisa mengidolakan banget kak Li itu? Ganteng sih, tapi kan yang ganteng dari dia kan banyak, kenapa teteh lebih mengidolakan dia?" Tanya Gadis terdengar serius.
Alina tersenyum mendengar pertanyaan adiknya itu.
__ADS_1
" Bukan ketampanan nya yang bikin teteh mengidolakan dia, tapi kepribadian nya." Ucap nya.
" Kepribadian apa emang teh? Lagian kan agamanya juga kita gak tau apa "
" Kepo, Lagian kalau tau agamanya mau apa?" Alina lantas beranjak dari duduknya.
" Mau kemana teh?" Tanya Gadis.
" Mau mandi, mau nemuin pak Ferdi!." Jawab nya sambil berlalu.
" Kamu yakin mau ikut pak Ferdi nak?" Tanya Imah saat mereka semua sedang berkumpul di ruang tamu.
Alina lantas mengangguk, membuat sang ibu menghela nafas panjang, lalu tertunduk lesu.
" Ibu tentang aja ya, Lina pasti sering-sering menghubungi ibu, dan saat liburan tiba, insyaallah Lina akan berkunjung." Imah mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Mereka sekeluarga sekarang sedang mengadakan perpisahan kepada Alina, terutama sang adik yang terus saja merengek karena tidak mau di tinggal oleh Alina, namun alina membujuk nya bahwa dia akan sering-sering menelpon dan memberi kabar, dan akhirnya Gadis pun mengerti dan berhenti bersedih.
Kini tugas Alina tinggal menghubungi pak Ferdi untuk memberitahu kan bahwa dia setuju dan akan segera berangkat.
Namun beberapa kali Alina menelpon, tapi tidak ada jawaban. Mungkin karena dia sedang sibuk.
Awalnya keluarga nya tidak setuju, karena mereka tidak mengizinkan Alina untuk ke sana seorang diri, karena Jaka saat itu tidak bisa mengantar dikarenakan dia tiba-tiba saja tidak enak badan.
" Besok saja ya neng! Bapak khawatir kalau kamu pergi ke sana sendirian." Bujuk Jaka. Namun Alina tetap pada pendiriannya, bahwa dia akan berangkat hari ini juga, karena memang sudah janji nya kepada seluruh warga desa.
" Lina tidak apa-apa kok pak, Lina bisa jaga diri, bapak tidak usah khawatir, Bapak istirahat saja di rumah!" Kekeh Alina.
Jaka hanya bisa menghela nafas pasrah dengan keputusan Alina, karena bagaimanapun saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk anak nya itu.
" Maaf kan bapak ya Alina, gara-gara bapak sakit, kamu jadi pergi sendirian." Sesal Jaka.
" Ini bukan salah bapak kok, siapa juga yang mau sakit, kalau sakit nya bisa di undur, maka Alina minta bapak tidak akan pernah sakit." Ucap nya. Jaka jadi terkekeh mendengar ucapan sang anak yang terdengar konyol.
Alina juga tidak terlalu khawatir dengan kondisi sang ayah karena Jaka hanya demam biasa, bukan sakit yang sering.
" Ya sudah bapak, ibu, Gadis, Lina pergi dulu ya, dan doa kan Alina sukses di sana dan selalu dalam lindungan Allah, bapak dan ibu juga jangan terlalu capek ya kalau bekerja di ladang, dan jangan telat makan!" Pesan Alina kepada kedua orang tuanya. Jaka dan Imah mengangguk bersamaan dengan air mata yang tak dapat mereka bendung lagi.
Setelah itu ia beralih pada Gadis yang sejak tadi tidak berhenti menangis
__ADS_1
" Buat si gadis cengeng ini, kamu pinter-pinter ya sekolahnya, dan selalu jagain ibu sama bapak! Nanti kalau teteh sukses di sana, teteh akan sekolahin kamu tinggi-tinggi biar jadi orang sukses dan berguna bagi masyarakat, tunjukkan sama warga desa, kalau keluarga kita tidak boleh selalu mereka anggap rendah." Pesan Alina kepada Gadis. Gadis remaja berhijab itu pun mengangguk lalu memeluk Alina dengan haru.
" Alina berangkat dulu ya Bu, pak, Gadis!" Alina menyalami tangan kedua orang tua nya dengan Hidmat dan dengan air mata bercucuran, setelah itu mereka berpelukan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Alina membulatkan tekad nya untuk pergi tanpa memikirkan apa pun lagi. Kini ia sudah berada di depan pintu gerbang desa dan akan keluar dari sana.
Selama beberapa saat ia memandangi gerbang tersebut sebelum akhirnya ia benar-benar melangkah pergi meninggalkan desa tempat kelahiran nya.
Bohong kalau dia tidak sedih meninggalkan desa dan keluarga nya, namun Alina harus melakukan nya demi keluarga nya juga, agar keluarga nya tidak di anggap rendah di mata mereka. Bukan apa-apa, ia hanya ingin membuktikan bahwa dia adalah gadis baik-baik. Dan orang tua nya tidak pernah gagal mendidik anak-anak nya.
Di perjalanan, Alina melihat sekelompok pemuda yang sedang berkumpul dan melihat ke arah nya dengan tatapan mengerikan.
Alina sangat takut, ia berharap angkutan umum yang di tunggu nya segera datang. Dengan perlahan Alina ingin melewati mereka.
" Hai cantik mau kemana sih? Mampir dulu lah, duduk sama kita-kita!" Ucap salah satu pria.
Alina pun merasa ngeri, ia mempercepat langkahnya agar menjauh dari mereka. Namun salah satu pria menarik kasar lengan nya, hingga membuat Alina tidak dapat bergerak.
" Lepas!! Jangan pegang- pegang saya! kita bukan muhrim, dosa." Bentak Alina pada mereka. Namun mereka malah tertawa, seolah mengejek kata-kata Alina.
" Halah, jangan sok alim kamu neng! Modal jilbab aja belagu." Cibir salah satu pria.
" Di luaran sana banyak wanita yang berjilbab tapi seorang wanita penghibur." Timpal teman yang lain.
" Memang nya kita percaya kamu adalah gadis baik-baik?" Tambah yang lain.
Keadaan semakin mengerikan bagi Alina, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Pertolongan Allah itu nyata, tiba-tiba sebuah taksi menghampiri nya dan sang supir menyuruh nya lari dan masuk ke dalam taksi nya.
Alina tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, ia lantas menendang kaki pria yang memegangi nya, dan syukur nya pegangan nya terlepas karena pria itu merasa kesakitan atas tendangan Alina.
Dengan cepat Alina berlari ke arah taksi itu. Tentu saja para preman itu mengejar nya, namun tak sempat menangkap nya kembali, karena Alina telah lebih dulu masuk ke dalam mobil taksi tersebut,badan dengan cepat pula supir taksi tersebut menjalankan mobilnya.
Alina merasa lega dan mengucap syukur, tak lupa jaga ia bertarima kasih kepada supir taksi tersebut, dengan tersenyum ramah, supir itu pun mengangguk.
Supir itu juga menanyakan tujuan Alina dan mengantarkan nya dengan selamat hingga ke tempat tujuan nya.
__ADS_1