
Episode 38:
Rintik hujan membasahi semesta beserta isinya. Bunyi rintiknya seolah menjadi sebuah irama nan syahdu, membuat hati seorang wanita yang baru saja berstatus sebagai janda tersebut menjadi semakin pilu.
Saat ini ia sedang duduk didepan jendela kamarnya, mengamatinya setiap tetesan hujan yang turun membasahi setiap ranting dan dedaunan, serta mengalir melewati kaca jendelanya.
Pandangannya lurus ke depan, namun pikirannya saat ini tak fokus pada apapun. Ia seolah robot yang dikendalikan oleh seseorang agar mampu bergerak.
Sejak siang hingga sore hari, hujan tak juga mereda. Mereka seolah ikut merasakan kehilangan seseorang yang amat sangat baik seperti Ferdi.
Ya, Ferdi Adi Wiranata. Itulah nama lengkap seorang CEO di dua negara sekaligus. Suami dari Aisyah An, ayah angkat dari Alina putri, seorang gadis belia yang pernah ia tolong dari kejamnya fitnah. Kini sosok tersebut hanya tinggal nama saja. Pemakaman siang tadi menjadi bukti pulangnya orang baik itu kepangkuan sang Khaliq.
Sepasang mata indah serta wajah yang tertutup oleh cadar tersebut, kini tengah memperhatikan Aisyah dari balik pintu kamar. Dirinya menatap sendu kepada ibu angkatnya tersebut.
Mungkin dia juga merasa sangat kehilangan sosok yang pernah berjasa dalam hidupnya, namun itu tak sebanding dengan apa yang dirasakan Aisyah.
Kehilangan orang yang selama bertahun-tahun, menjadi semangat hidupnya, tumpuannya, dan teman hidup satu-satunya.
Tak ada wanita yang tak sakit jika kehilangan orang yang dicintainya.
Sungguh kini Aisyah bak patung yang tak bergerak. Wajah cantiknya kini pucat tak terawat.
Alina menyeka air matanya menggunakan punggung tangannya. Mungkin Alina tak tahu rasanya kehilangan orang yang dicintai untuk selama-lamanya, namun ia juga seorang wanita yang peka akan hal itu.
Indria menepuk pundak Alina dari belakang, membuat sang empu menoleh.
Indria tak mengatakan apa-apa, namun ia mengisyaratkan agar Alina segera menemui Aisyah untuk menghiburnya. Karena Indria tahu, saat ini Aisyah hanya percaya pada Alina saja.
Oh ya. Selain Indria dan Alina, semua keluarga Ferdi juga hadir di pemakamannya, dan kini mereka semua sedang berkumpul di rumah Aisyah, mungkin selama tiga hari setelah tahlilan selesai. Namun sayangnya, Jaka dan keluarganya tidak dapat hadir, sebab Gadis sedang menjalani ujian akhir saat ini. Mereka hanya menitip salam pada Alina untuk Aisyah, agar ia selalu tegar.
Ibu dari Ferdi juga menghadiri pemakaman anaknya itu, dan ia sangat murka terhadap Aisyah serta menyalahkannya atas meninggalnya anak semata wayangnya tersebut.
Alina masih merasa ragu, ia takut kalau-kalau Aisyah saat ini sedang tak ingin diganggu. Namun karena paksaan dari Indria, Alina pun akhirnya mau.
__ADS_1
" Ma!" Alina pun memegang pundak sang ibu angkat dengan sangat pelan.
Merasa ada pergerakan disampingnya, Aisyah pun menoleh. Melihat Alina, air matanya seketika tak dapat dibendung lagi. Ia lantas menghambur memeluk Alina setelah menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Alina.
" Mama sendirian sayang," ucapnya.
" Mama tidak boleh bilang begitu. Mama tidak sendirian kok, kan ada aku, ada Aa juga, Tante Indria, nenek, keluarga Alina yang berada di kampung juga, mereka semua sayang sama Mama. Mama tidak boleh merasa sendirian lagi ya!" ucapnya seraya mengusap sisa air matanya.
" Tapi nenek mu benci sama Mama," isaknya.
" Nenek tidak benci kok sama Mama, hanya saja dia sedang sedih saat ini, jadi dia tidak sadar apa yang dia katakan. Jangan diambil hati ya perkataan nenek!" Akhirnya Aisyah pun mengangguk.
" Ma, ini udah sore loh. Mama tidak ada makan apa-apa sejak pagi tadi, Lina ambilkan makanan ya," tuturnya dengan lemah lembut. Namun Aisyah menggeleng lemah. Ia lantas melepaskan pelukannya dari Alina.
" Mama tidak mau makan apa-apa," tolaknya dengan suara parau.
" Terus, Mama maunya apa?"
" Mama mau kamu tetap temani Mama, kamu di sini saja ya sama Mama!" ucapnya. Ia pun menggenggam tangan Alina dengan lembut.
" Iya Ma, Alina akan selalu temani Mama. Tapi Mama makan dulu ya, Alina suapi. Sedikiiiit saja juga tidak apa-apa!" Alina menekankan pada kalimat terakhirnya. Akhirnya Aisyah mengangguk lemah, dengan senyum yang dipaksakan.
" Sedikit ya!" ulangnya. Alina lantas mengangguk dan tersenyum. Lalu ia pun segera mengambilkan makanan untuk Aisyah dan kembali lagi ke kamar Aisyah.
" Ini, mama makan dulu!" ucapnya seraya menyuapkan nasi pada Aisyah.
Satu suap, dua suap, hingga tiga suap pun Aisyah memakan nasi yang diberikan kepadanya. Namun setelah tinggal beberapa suap lagi, Aisyah menolak.
" Sedikit lagi ya Ma!" bujuk Alina. Namun Aisyah tetap saja menggeleng, akhirnya Alina pun menyerah untuk memaksa kembali.
" Nak, kamu ada melihat Indria tidak?" tanya nenek Mariah pada Alina yang hendak mengantarkan piring bekas makan Aisyah itu ke dapur.
" Emm tadi, Lina lihat Tante Indria lagi ada di taman belakang nemenin Mama," jawab Alina. Wanita tua tersebut lantas mendorong kursi roda nya menunju tempat yang dikatakan Alina tadi.
__ADS_1
" Indria, Mama ingin secepatnya pulang!" Ucap Mariah tiba-tiba dengan nada dingin dan datarnya. Tentu saja Aisyah dan Indria sama-sama terkejut mendengar permintaan sang ibu yang tiba-tiba itu.
" Loh Ma, kok buru-buru banget?" Tanya Indria.
" Mama sudah tidak betah berlama-lama disini," ucapnya masih dengan nada bicara dan raut wajah yang sama.
" Iya Ma, tapi alasannya apa?" Tanya Indria.
" Mama bilang tidak betah ya tidak betah, Mama juga tidak mau berlama-lama serumah dengan pemunuh ini. Bisa-bisa, besok giliran Mama yang mati." Tatapannya tertuju pada Aisyah, meskipun tak lama. Sangat jelas jika kata-kata itu di tujukan untuk Aisyah.
Aisyah tertunduk sedih, ia mengusap air matanya yang mulai menetes kembali. Ucapan sang ibu mertua seolah menjadi belati yang menyayat-nyayat relung qalbu nya.
Hinaan serta cacian dari ibu mertuanya, seakan selalu terngiang-ngiang di telinganya.
Terkadang, Aisyah berpikir ingin segera menyusul sang suami ke alam kekal sana, namun ia masih memiliki iman dan akal sehat. Meskipun terkadang ia sering mengeluh dengan cobaan yang Allah berikan padanya saat ini, namun tak membuat dirinya lupa akan Allah.
" Ma, Mama tidak boleh menuduh Mbak Aisyah seperti itu, dia tidak melakukannya Ma."
" Kamu ini, selalu saja membela dia. Lama-lama dia bisa ngelunjak kalau kamu bela terus." Indria hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Ia tahu, berdebat dengan ibu angkatnya itu tidak akan ada habisnya, paling ujung-ujungnya dia juga akan kalah, lebih baik sekarang dia lah yang harus mengalah lebih dulu.
" Ya sudah ya, besok kita pulang. Sekarang lebih baik Mama istirahat dulu di kamar!" Ucap Indria dengan nada lemah lembut.
" Enggak. Mama mau bicara sama dia dulu," tunjuk Mariah pada Aisyah yang sedari tadi hanya menunduk saja. Merasa dirinya ditunjuk, Aisyah pun mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk bertatap muka dengan sang mertua.
" Ma_mama mau bicara apa pada saya?" Tanya Aisyah dengan perasaan gugup.
" Saya hanya ingin mengatakan pada kamu, jika semua perusahaan Ferdi, sudah saya alih namakan atas nama Indria, jadi kamu tidak dapat sepersen pun harta gono-gini milik Ferdi," ucapnya dengan angkuh.
" Tapi, kamu tenang saja. Saya masih berbaik hati memberikan rumah ini beserta isinya kepada kamu. Saya harap, kamu tidak meminta lebih dari saya, karena kamu bukan siapa-siapa saya lagi."
Kalimat terakhir yang diucapkan Mariah semakin membuat hatinya pedih. Baginya, harta gono-gini tak ia harapkan sama sekali. Namun yang membuat hatinya semakin hancur, saat Mariah tidak menganggap dirinya siapa-siapa lagi di keluarga almarhum suaminya itu.
Indria tak bisa berbuat apa-apa atau pun membela Aisyah, karena menurutnya sungguh percuma jika itu ia lakukan. Yang ada penyakit Mariah yang akan kumat jika harus berdebat dengan ibunya itu.
__ADS_1
Indria pun mendorong kursi roda Mariah untuk masuk kembali kedalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.
Aisyah hanya bisa menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.