
Episode 54:
" Maafkan Aa sayang," ucap Li dengan meratap sedih.
Namun masih tak ada respon apapun dari Alina, dan saat ini pun Alina mengalihkan pandangan menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Tak sampai di situ, Li pun memegang tangan Alina agar Alina mau meresponnya.
" Aa benar-benar tidak tahu lagi harus minta maaf sama kamu bagaimana lagi, yang jelas semua yang Aa lakukan itu di luar kendali Aa. Aa terpaksa sayang," ucap Li.
Barulah akhirnya Alina kembali menengok ke arah Li dengan mata yang sudah di banjiri air mata.
" Aa," ucap Alina dengan suara parau.
" Ya sayang, kamu mau Aa ambilkan apa? minum, makan atau mau makan buah?" tanya Li dengan bersemangat sebab Alina sudah mau meresponnya.
Namun Alina menggeleng lalu membalas genggaman tangan Li.
" Lina cuma mau bilang jangan tinggalkan Alina lagi ya A, anak kita butuh ayahnya," ucap Alina seraya mengarahkan tangan Li di atas perutnya.
" Kamu?"
" Iya A, Lina tau kalau sekarang Lina sedang hamil, tadi dokter sudah kasih tau sama Lina."
" Maafkan Aa ya sayang, Aa tidak bisa janji sekarang, tapi itu pasti Aa lakukan. Tanpa kamu minta pun Aa sedang berusaha mewujudkannya saat ini," kata Li dengan tersenyum sangat lembut terhadap istrinya itu.
" Ibu heran, sebenarnya apa yang kamu tutup-tutupi dari kami? atau itu hanya akal-akalan kamu saja biar dapat simpatik dari Alina," tuduh Aisyah yang juga ikut angkat bicara.
Semua memandang pada Aisyah, sedangkan Li hanya bisa tertunduk diam tanpa bantahan apa-apa.
Menurutnya percuma saja jika harus di jelaskan, toh untuk saat ini mereka pasti masih merasa ragu padanya.
Alina semakin erat menggenggam tangan suaminya itu, berharap ada penjelasan lebih lanjut dari suaminya agar ia merasa yakin bahwa yang dikatakan oleh Aisyah itu tidak benar.
Li pun mengangkat kepalanya dan menatap Alina lalu menganguk.
Entah apa yang dimaksud oleh Li, yang jelas Alina paham bahwa suaminya itu tidak mau membahasnya saat ini.
" Bu pak, maaf ya sudah membuat kalian khawatir tadi," ucap Alina yang kini beralih menatap kedua orang tuanya.
Jaka dan Imah pun lantas mendekati putrinya itu dengan tersenyum kearahnya.
Begitu juga dengan Li yang memberikan sedikit ruang untuk kedua mertuanya untuk lebih leluasa berbicara dengan putri mereka.
__ADS_1
" Iya kami sangat khawatir, lain kali kalau ada yang sakit bilang ya!" kata Imah berekspresi seolah memarahi anaknya, namun setelah itu ia pun tersenyum lembut.
Alina menganguk sekaligus terharu mendengarnya.
" Apa masih ada yang sakit neng?" lanjut Jaka menanyai anaknya.
" Alhamdulillah tidak ada pak, cuma masih nyeri sedikit," jawab Alina.
" Alhamdulillah, kami semua jadi lega dengarnya."
Dret dret dret
Dan tiba-tiba saja ponsel Li berdering, dan otomatis semua mata tertuju pada bunyi ponsel Li yang berdering.
Li pun mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya tersebut untuk waktu yang cukup lama.
Li nampak ragu untuk menerima panggilan tersebut.
" Sudahlah angkat saja! aku tau itu istrimu. Dia pasti sedang mencari mu karena tiba-tiba kau menghilang dari tempat acara," kata Habibi dengan tatapan tidak sukanya seraya tersenyum miring.
" Iya, nanti dia marah-marah lagi sama kami karena menyembunyikan suaminya, padahal kan suaminya sendiri yang ingin bermain drama di sini," tambah Aisyah dengan nada bicara julid .
Li tak memperdulikan ocehan-ocehan itu, ia hanya fokus menatap layar ponselnya. Antara bingung dan harus mengangkatnya.
Jika tidak Cassandra pasti akan mengadukannya kepada orang tuanya dan semua itu akan berdampak buruk bagi keluarga Li.
" Iya, urusan dengan istri keduanya," ucap Aisyah memanasi.
Namun Li tak memperdulikannya dan setelah mendapat anggukan dari Alina, Li pun keluar dari kamar rawat Alina untuk mengangkat telepon dari Cassandra.
Selang beberapa menit, Li pun kembali ke kamar Alina namun dengan raut wajah kesal. Entah apa yang dibicarakan mereka tadi hingga membuat Li sekesal itu.
"A kamu kenapa, kok sepertinya kesal begitu?" tanya Alina.
" Tidak sayang, tidak apa-apa. Hanya kesalahan kecil saja," jawabnya dengan menampakkan gummy smile nya namun nampak seperti di paksakan agar tak mengundang curiga.
Alina pun mengangguk paham dan setelah itu terjadi keheningan di antara mereka.
Namun tak lama mereka mendengar suara ribut-ribut di luar kamar Alina. Karena penasaran, mereka semua pun keluar untuk memastikan ada apa sebenarnya, terkecuali Alina yang tetap berbaring di tempat tidurnya.
" Lepaskan saya! biarkan saya masuk, kalian mencari gara-gara dengan saya? dengan begini kalian akan saya tuntut ya," ucap seorang wanita yang berada di luar kamar Alina.
" Maaf nona Cassandra, tapi ini sudah peraturan dari rumah sakit ini, tidak boleh ribut di sini karena akan menggangu pasien." Beberapa staf rumah sakit pun menahan Cassandra agar tak masuk dan membuat onar di sana.
__ADS_1
" Apa peduliku, aku hanya ingin suamiku pulang sekarang!" ucap Cassandra bersikeras untuk menemui Li.
Namun tak berapa lama keluarga Alina dan Li sendiri pun keluar untuk mengecek siapa yang ribut-ribut di luar,Bean ternyata itu adalah Cassandra.
" Cassandra, apa yang kau lakukan disini?" kata Li dengan tegas.
Cassandra tak menjawab, namun ia malah menggandeng tangan Li untuk pergi dari kamar Alina.
Namun tak semudah itu pula Cassandra bisa membawa Li pergi dari sana. Li dengan sengaja menahan tubuhnya agar Cassandra tak mampu mengajaknya pergi.
" Ayo sayang kita pulang!" ajak Cassandra.
" Jika kau mau pulang silahkan pulang duluan, aku masih ada urusan!" jawab Li dengan nada dingin.
Mendengar itu Cassandra langsung menghempaskan tangan Li dengan kasar.
" Urusan? urusan dengan wanita ja*ang itu, iya?"
" Jaga bicaramu Cassandra!" jika Li tak mengingat orang tuanya, sudah pasti satu tanda tangannya melekat pada wajah mulus Cassandra.
" Memang benar kan dia itu wanita ja*ang, kenapa kau tidak terima aku mengatakan itu. Apa kau masih mengharapkannya? kau lupa apa konsekuensi yang harus kau dapatkan jika kau tak mau menjauhinya," ucap Cassandra terdengar seperti sebuah ancaman.
Li terdiam sambil mengepalkan tangannya, namun bukan berarti ia tak berani melawan liciknya Cassandra. Hanya saja saat ini nama baik keluarganya sedang di pertaruhkan, dan Li tak mau sampai itu terjadi.
Tiba-tiba Alina keluar dari kamarnya dengan menggunakan kursi roda yang di bantu oleh Gadis.
" Kamu kenapa kesini?" tanya Alina pada Cassandra.
" Kenapa? ya jelas untuk menjemput suamiku yang kau ambil tanpa izin. Kau pikir aku ke sini untuk menjenguk mu yang sedang sekarat itu," jawab Cassandra dengan angkuhnya.
Alina menghela nafas panjangnya, namun sesaat ia pun tersenyum miring.
" Mengambil tanpa izin?" ucap Alina dengan tersenyum mengejek pada Cassandra.
" Bukankah kata itu lebih pantas untuk mu?" kata Alina dengan nada santai.
" Maksudmu apa mengatakan itu padaku? Kau ingin aku bu*uh?"
Namun lagi-lagi Alina tersenyum tipis namun seolah mempunyai arti.
" Ih takuuut," kata Alina dengan nada di buat-buat dan berakhir dengan tawa mengejek. Dan hal itu berhasil membuat Cassandra kebakaran jenggot dibuatnya.
" Heh perempuan ninja, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? kau tidak takut pada ayahku yang sewaktu-waktu bisa saja menuntut perlakuan mu ini?" kata Cassandra dengan penuh emosi.
__ADS_1
Namun dengan santainya Alina malah terkikik kecil hingga membuat yang lain puas melihatnya termasuk Li.
Mereka merasa bangga karena keberanian Alina, padahal Alina hanya lah gadis kampung yang lugu dan polos, dan tanpa takut ia menantang anak dari pria yang di segani oleh semua orang karena kelicikannya.