My Idol My Imam

My Idol My Imam
Perlawanan Li


__ADS_3

Episode 55:


" Cassandra Cassandra, silahkan jika itu keinginanmu. Aku tidak takut, Allah tidak akan membiarkan kejahatan menang Cassandra, ingat itu!" kata Alina dengan tegas.


Cassandra seakan kehabisan kata-kata menjawab Alina. Ia sangat marah karena Alina sudah berani menentangnya secara terang-terangan.


Cassandra pun menghentakkan kakinya karena kalah tlak dengan Alina.


" Ayo sayang pulang, aku sudah muak bertemu dengan orang-orang rakyat jelata seperti mereka," ucap Cassandra dengan nada manja yang dibuat-buat.


" Maaf Cassandra, kali ini aku menolak ajakan mu. Alina saat ini lebih membutuhkan ku," tolak Li dengan tegas.


" Kau berani menolak ku? kau lupa apa konsekuensinya jika berani menolak keinginanku?" ucap Cassandra yang mengingatkan namun dengan nada mengancam.


" Ingat. Biar itu menjadi urusan nanti," jawab Li dengan santainya diiringi dengan senyuman sinis.


"Arghhhh,,,, baiklah jika itu mau mu Li." Cassandra menghentakkan kakinya dengan kesal, lantas pergi meninggalkan rumah sakit tersebut dengan hati yang di penuhi emosi.


" Ternyata kau pandai sekali dalam berakting," kata Habibi setelah kepergian Cassandra.


"Ya memang tidak bisa di pungkiri itu memang sudah pekerjaan mu," lanjut Habibi.


Li sempat menoleh sebentar pada Habibi, namun ia memilih tidak terpancing lagi oleh kata-kata Habibi yang selalu menyudutkannya.


Ia lebih memilih diam dan mengacuhkan saja ucapan Habibi tersebut.


Li mendekat pada Alina dan berjongkok di depannya agar posisi mereka sejajar.


" Sayang hari ini kamu sama baby mau makan apa, biar papa yang belikan untuk kalian," ucap Li sambil mengusap pelan perut Alina.


" Makan makanan yang di sediakan di rumah sakit ini saja A, Lina belum mau apa-apa," jawabnya.


" Ya sudah kalau begitu kita masuk lagi ya, nanti Aa suapi. Kan kamu harus minum obat."


Alina tersenyum lalu mengangguk. Mereka seolah tak perduli meskipun saat ini ada hati yang sedang panas melihat keromantisan mereka. Mereka juga tak perduli saat ini Aisyah menatap tak suka pada keromantisan mereka.


Yang mereka pikirkan saat ini keutuhan rumah tangga dan kebahagiaan mereka, karena saat ini ada satu nyawa yang harus di perduli kan di bahagiakan.


Li mendorong kursi roda Alina untuk kembali masuk ke dalam kamar inap, namun sebelum itu Li lebih dulu meminta izin kepada mertuanya.


" Ini di makan sampai habis, setelah itu baru minum obat!" ucap Li setelah membaringkan tubuh Alina di atas bunker. Dia juga menyodorkan sendok yang berisi bubur itu kepada Alina.


" Nah kan pintar," ucap Li setelah bubur di mangkuk tersebut habis tanpa sisa.


" Setelah itu kamu makan obat ini ya!" ucapnya sambil memberikan tiga butir obat tersebut kepada Alina, dan Alina pun meminumnya satu persatu.


Li tersenyum sambil mengusap kepala Alina dengan sayang.


" Sekarang kamu istirahat dulu ya!"

__ADS_1


Alina menganguk dan menuruti semua yang di perintahkan oleh Li padanya.


" A'!" Panggil Alina.


" Ya kenapa sayang?" Li yang semula sibuk dengan ponselnya pun menoleh pada Alina dan menaruh ponselnya tersebut di atas nakas.


" Alina kapan di bolehkah untuk pulang? Alina mau pulang A'," kata Alina setengah merengek.


" Nanti ya setelah dokter mengizinkan kamu untuk pulang," jawab Li.


" Tapi masih lama tidak?"


" Aa kurang tahu sayang, nanti Aa tanyakan sama dokternya," ucapnya sambil mengusap pucuk kepala Alina.


" Memangnya kenapa sih kamu mau cepat pulang?"


" Alina tidak betah A' lama-lama di rumah sakit, bau obat-obatan." Li pun mengangguk paham, namun dengan raut wajah sedih.


" Berarti kalau kamu pulang, Aa tidak bisa leluasa lagi bersama kamu," kata Li dengan wajah murung.


" Kok berfikir seperti itu?"


" Ya mau bagaimana lagi, tentunya Aa tidak di perbolehkan ikut masuk ke rumah sama mama Aisyah, dia kan benci sekali dengan Aa."


Alina mengerti apa yang dirasakan Li saat ini, ia pun tidak memungkiri bahwa Aisyah tidak pernah suka dengan keberadaan Li di rumahnya.


Sesaat mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga akhirnya,


" Bagaimana kalau kamu pulang ke apartemen kita saja? lagipula kan apartemen itu sudah lama tidak berpenghuni," kata Li memberi usul.


" Lalu bagaimana dengan Cassandra?" tanya Alina nampak ragu.


" Cassandra?" kata Li masih belum paham maksud dari Alina.


" Iya Cassandra, dia kan juga istri kamu," kata Alina dengan tanpa rasa bersalahnya, padahal dia tidak tahu saja saat ini perasaan Li sedang tidak baik-baik saja setelah mendengar kata istri dari mulut Alina.


Tanpa mengatakan apa-apa, Li berdiri dari tempat duduknya dengan wajah datar tanpa ekspresi, dan itu membuat Alina heran.


" Mau kemana A'?" tanya Alina.


" Duduk di sofa," jawab Li sambil meraih ponselnya yang ada di meja.


" Kok pindah?"


" Gak papa, biar lebih leluasa aja untuk bergerak," jawab Li sambil mulai membuka sosial media miliknya tersebut.


Tanpa menaruh curiga, Alina pun percaya lalu menganguk dan membulatkan mulutnya yang tertutup oleh cadar tersebut dengan wajah polosnya.


" A!" panggil Alina.

__ADS_1


" Hemmm," jawab Li yang masih fokus pada ponselnya tanpa menoleh pada Alina sedikitpun.


" Kok sepi ya, yang lain pada kemana?" tanya Alina sambil celingukan.


" Habibi sama Mama Aisyah sudah pulang, kalau ibu bapak dan Gadis lagi ke kantin rumah sakit mau cari makan katanya," jawab Li masih dengan posisi semula.


" Lah memangnya mereka bisa bahasa orang sini apa?"


" Kan Gadis bisa bahasa Inggris."


" Oh iya juga ya," kata Alina sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sesaat tak ada suara diantara mereka, mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.


Namun Alina yang merasakan sesuatu pun memanggil Li.


" Aa!" panggil Alina dengan pelan.


" Ya." Li pun menoleh untuk memastikan panggilan Alina padanya.


" Pengen ke kamar mandi, Aa bisa temani Alina tidak?" Li yang mood nya sudah kembali seperti sediakala pun tersenyum lembut pada Alina.


Li menganguk lalu beranjak dari tempat duduknya untuk membantu Alina ke kamar mandi.


Li lantas membopong tubuh Alina untuk membawanya ke kamar mandi.


" Aaaaaaa Aa turunin Alina! Lina bisa sendiri," ucap Alina memberontak saat tubuhnya di bopong ala-ala bridal style oleh Li.


Karena terus mendapat perlawanan dan pukulan pelan dari Alina, Li pun terpaksa menurunkan Alina.


" Aduh sakit sayang, kamu KDRT nih," kata Li sambil mengusap bagian yang kena pukul Alina. Padahal tidak terlalu sakit, hanya saja Li berpura-pura agar Alina simpati dan merasa bersalah padanya.


" Aduh beneran sakit ya A? lagian Aa sih, orang bisa jalan Aa gendong, kan Alina malu," jawab Alina.


" Mana yang sakit, sini Alina tiupin!" kata Alina sambil meraih tangan Li dan memeriksa lengan yang ia pukul tadi.


" Tidak kenapa-kenapa kok, Aa bohongin Alina ya?" kata Alina setelah tahu bahwa lengan Li baik-baik saja dan tidak ada bekas memar di bagian lengannya.


" Hehehe, iya Aa tidak apa-apa. Kamu sih sukanya mukul terus, kan Aa jadi gemas ingin mengerjai mu," ucap Li tanpa rasa bersalahnya.


" Ihhhh Aa, awas ya nanti Alina balas," Alina pun memanyunkan bibirnya karena kesal.


" Udah ngambeknya, nanti cantiknya hilang loh. Katanya mau ke kamar mandi, nanti kalau pipis di celana bagaimana karena kelamaan di sini."


" Ihhh Aa jorok ih," ucap Alina tak terima.


" Ya mangkanya cepat ke kamar mandi nya!"


" Iya iya." Alina lantas bergegas ke kamar mandi meskipun sedikit tertatih-tatih.

__ADS_1


__ADS_2