My Idol My Imam

My Idol My Imam
Wisuda Berakhir Rumah Sakit


__ADS_3

Episode 52:


"Assalamualaikum Alina."


Ketika Alina telah membukakan pintu, seseorang sudah berdiri di depannya dengan memegang satu buket bunga ditangannya.


" Masyaallah, kamu cantik sekali hari ini," ucap orang tersebut yang memuji penampilan yang tak biasa dari Alina.


Dia juga tersenyum begitu menawan dengan auofit jas hitam senada dengan celana dan sepatutnya.


Penampilannya nampak rapi dan keren hingga membuat Alina memandanginya dari ujung kaki hingga kepala.


Bukan terpesona, namun malah terlihat aneh karena sebelumnya orang itu tidak pernah seperti itu. Apa mungkin karena hari ini adalah hari spesialnya.


" Nak Habibi, ternyata kamu," kata Aisyah yang berdiri di belakang Alina di susul juga dengan yang lain.


" Wahhh kak Habibi teh kasep pisan," ucap Gadis tanpa sadar, namun untungnya Habibi tak mengerti yang dimaksud Gadis, dan Habibi pun hanya mengerutkan keningnya karena tak faham.


" Apa kalian sudah bersiap?" tanya Habibi.


" Iya, kami hanya tinggal menutup pintu saja," jawab Alina.


" Tapi jika kak Habibi mau masuk dulu silahkan!" ucap Alina lagi.


" Ah tidak perlu, karena aku ke sini kan mau menjemput kalian, jika kalian sudah selesai tunggu apa lagi, mari kita berangkat!" kata Habibi.


" Ya sudah ayo!" lanjut Alina.


" Tapi tunggu sebentar!" kata Habibi. Mereka pun mengurungkan niatnya dan menuruti perintah Habibi.


" Kenapa lagi kak, apa ada yang tertinggal?" tanya Alina.


" Bukan, aku hanya ingin memberikan ini padamu," kata Habibi seraya memberikan buket bunga yang ia pegang itu kepada Alina.


" Untukku?" tanyanya. Lantas Habibi pun mengangguk senang.


Dengan ragu-ragu Alina pun menerima pemberian Habibi. Pikirannya bertolak belakang, antara harus menerima dan berpikir positif saja namun hatinya seolah menolak dan berfikir bahwa itu sesuatu yang tak biasa dilakukan oleh seorang sahabat.


" Terimakasih kak," ucap Alina setelah menerima pemberian Habibi tersebut.


" Ya sudah apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Habibi. Dan yang lain pun hanya mengangguk.


" Kalau begitu ayo, naik mobil saya saja!" ucap Habibi menawarkan.


" Apa muat untuk kita berlima?" tanya Aisyah.

__ADS_1


" Tenang, saya sengaja bawa mobil yang lebih besar dari biasanya kok. Jadi pasti muat," jawabnya.


Senyum Aisyah langsung mengembang dan semakin menatap Habibi dengan kagum. Begitu juga keluarga Alina menatap Habibi dengan penuh rasa kekaguman setelah Aisyah memberitahukan apa yang di ucapkan Habibi.


" Ya sudah tunggu apa lagi, mari berangkat sekarang!" kata Aisyah dengan bersemangat.


Setelah berkendara selama beberapa menit, akhirnya mereka pun telah sampai di gedung SMA yang nampak sudah ramai oleh beberapa murid dan orang tua mereka.


Semua memakai baju wisuda dan toga mereka, hanya Alina dan Habibi yang berbeda dari yang lain. Karena Alina sendiri tak mungkin memakai baju kebaya yang mereka pakai, hanya topi toga lah yang melekat di kepalanya.


" Kak Habibi kok gak pakai rompi wisuda kayak mereka?" tanya Alina.


" Kakak pakaiannya nanti di dalam," jawab Habibi.


Dan mereka pun masuk ke dalam dan duduk pada kursi masing-masing yang sudah di sediakan.


Acara pun dimulai. Pembawa acara mulai membacakan serangkaian acara demi acara. Hingga sampailah pada serangkaian acara penyambutan dari alumni SMA tersebut, yang katanya sudah sukses di bidang seni.


" Mari kita sambut tamu spesial kita yaitu Li Chung Yu dan sang istri," ucap pembawa acara yang mengucapkan sebuah nama yang tentunya tak asing bagi Alina.


Semua siswa siswi menantikan kehadiran mereka sekaligus menunggu kelanjutan dari sang pembawa acara yang akan menyebutkan sebuah nama.


" Cassandra," lanjut pembawa acara.


Sontak yang lain pun bertepuk tangan dengan meriah. Namun tidak dengan keluarga Alina seta Habibi. Mereka malah menatap Alina dengan penuh tanda tanya dan kesedihan yang terpancar di wajah mereka.


Lain halnya dengan Alina yang hanya bisa menahan air matanya karena harus menyaksikan suaminya bersama wanita lain yang dianggap publik sebagai istri sah dari seorang Li Chung Yu.


Dengan agresif Cassandra menggandeng tangan Li untuk naik keatas panggung serta memberikan sepatah dua patah kata untuk para siswa siswi.


Beberapa kalimat dan ucapan-ucapan motivasi mereka sampaikan dengan semangat, bahkan tak nampak keterpaksaan yang terpancar di wajah Li. Nampak senyum tersebut tulus tanpa tertekan sedikit pun. Entah itu sebagai bentuk keprofesionalan nya sebagai seorang publik figur, atau memang karena rasa nyaman.


Sungguh Alina semakin merasa sakit jika terus-menerus melihat keromantisan mereka di atas panggung saat ini.


Alina merasa tak sanggup jika terus melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat. Alina pun memutuskan untuk ke kamar kecil guna untuk menenangkan diri sejenak. Namun ia juga merasa bagian perutnya terasa sangat sakit, hingga ia tak mampu untuk berdiri. Namun dengan sekuat tenaga Alina memaksakan dirinya untuk melangkah, meski rasa sakit terus menghujam perutnya.


Dan tanpa Alina tahu, Li sejak tadi memperhatikannya dan ia pun melihat Alina yang berjalan agak kesusahan.


" Cassandra, aku ke kamar kecil sebentar ya," izin Li pada Cassandra.


" Tapi kita masih berada di panggung," ucap Cassandra agak berbisik dan sesekali melempar senyum kearah penonton.


" Sebentar saja, aku sudah tidak tahan ini," kata Li berekspresi seolah menahan sesuatu.


" Ya sudah sana, tapi izin dulu!" ucap Cassandra.

__ADS_1


Setelah meminta izin kepada para siswa siswi, Li pun menyusul Alina yang berkedok ke kamar kecil.


Sedangkan Alina yang sudah berada di toilet, menutup pintu toilet tersebut dan menangis sejadi-jadinya di sana.


Ia hanya ingin menumpahkan segala sesak di dadanya, berharap agar beben berat di dadanya itu bisa sedikit berkurang.


Namun tak dapat ia pungkiri, semakin ia bersedih maka perutnya pun semakin terasa sakit. Bahkan lebih sakit dari yang tadi sehingga Alina tak sanggup lagi menahannya dan membuat ia berteriak kesakitan.


Dan untungnya teriakan Alina di dengar oleh Li yang baru saja tiba.


Sontak saja Li langsung panik dan berupaya mencari sumber suara tersebut. Dan setelah yakin bahwa suara Alina tersebut berasal dari toilet, tak menunggu waktu lama Li langsung mendobrak pintu toilet tersebut.


Betapa terkejutnya Li ketika melihat Alina yang meringkuk di lantai sambil memegangi perutnya dengan mata yang menghitam pada bagian kelopaknya, serta ada beberapa bercak darah yang menetes di lantai toilet tersebut.


" ALINA!!" ucap Li lalu sambil mendekat ke arah Alina.


" A'," ucap Alina dengan suara lemah.


Rasa sakitnya seolah membuatnya lupa dengan apa yang baru saja terjadi, ia seakan lupa bahwa Li telah mengkhianatinya. Bahkan Alina tak segan mengalungkan tangannya pada leher Li sambil mengeluh sakit.


" S_sakit A," rintihannya dengan suara yang hampir menghilang.


Tanpa basa-basi, Li pun segera menggendong tubuh Alina untuk segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


Namun Li masih berpikir panjang. Dia memilih jalan belakang sekolah agar para siswa siswi yang lain tidak melihatnya. Li hanya tak mau acara yang sedang berlangsung tersebut kacau hanya karena kejadian ini.


" Sayang bertahan ya!" ucap Li ketika ia memasangkan shifbel pada Alina.


Setelah sampai di rumah sakit, Li kembali membopongnya Alina sambil berteriak memanggil para dokter dan perawat atau staf rumah sakit tersebut.


Tak lama seorang perawat pria membawakan sebuah bunker dan Li pun segera meletakkan tubuh Alina di atas bunker tersebut. Namun Alina sama sekali tak mau melepaskan genggaman tangannya dari tangan Li.


" A'," ucap Alina.


" Kenapa sayang, sakit? yang mana yang sakit?" tanya Li sambil ikut mendorong bunker menuju UGD.


Alina lantas mengarahkan tangan Li yang ia genggam ke atas perutnya.


Li mengerti, lantas ia pun mengangguk.


" Sabar ya sayang, sebentar lagi kamu akan ditangani kok," ucap Li.


Selang berapa lama, mereka pun sudah sampai di depan ruang UGD dan dokter pun melarang Li untuk ikut masuk, dan terpaksa Li pun menurutinya.


Li pun menghempaskan tubuhnya di atas kursi tunggu rumah sakit tersebut dengan perasaan frustasi.

__ADS_1


Li juga menjambak rambutnya sendiri serta menunduk sedih.


" Maafkan aku ya Allah, maafkan aku!"


__ADS_2