My Idol My Imam

My Idol My Imam
Bersama Mu Menjalani Kehidupan Baru


__ADS_3

Episode 17:


Tepat setelah selesai, azan Zuhur pun berkumandang. Ustadz Mansur mengajak serta mereka untuk melaksanakan shalat di mesjid yang kebetulan tak jauh dari rumah nya.


Alina pun ikut serta, ia ke mesjid bersama istri dan anak gadis ustadz Mansur. Kebetulan sap perempuan dan lelaki agak jauh dan berbatas dinding, sehingga membuat Alina leluasa untuk membuka cadarnya saat sedang shalat.


Ini juga pertamakali nya bagi Li melaksanakan kewajiban sebagai umat Islam, ia sedikit canggung berada di antara para masyarakat yang bisa jadi beberapa di antaranya mengenali diri nya sebagai publik figur.


Li hanya takut jika publik mengetahui tentang dirinya yang sudah menjadi seorang mu'alaf, maka publik akan gempar, dan berita itu takut nya akan sampai pada keluarga nya.


Tapi Li merasa bersyukur, seperti nya tidak semua orang tahu tentang dirinya, terbukti dari tatapan mereka yang terlihat biasa saja, meskipun mereka sangat ramah-ramah.


" Masyaallah, ternyata kamu cantik sekali Alina." Ucap Alika, anak ustadz Mansur yang seusia dengan Alina. Ia Melihat Alina saat membuka cadarnya dan ia sangat kagum dengan kecantikan Alina yang terlihat alami tanpa polesan make up, dengan alis yang tak begitu tebal namun rapi, mata sayu, bola mata hitam pekat, bibir tipis dan terlihat pink alami tanpa lipstick, serta mempunyai kulit yang putih mulus dari wajah hingga ujung kaki. Alina memiliki tinggi badan yang tidak terlalu tinggi tetapi juga tidak terlalu rendah. Benar-benar ciptaan Allah yang patut di syukuri keindahan nya.


" Alhamdulillah, terimakasih Alika. Kamu juga cantik banget." Alina memuji balik Alika.


" Hehehe, terimakasih Alina!"


Setelah melaksanakan shalat, Alina memakai kembali cadar nya dan segera keluar mesjid untuk bergabung kembali bersama Li dan Ferdi.


" Kamu kenal sama Li Chung Yuu?" Tanya Alika pada Alina saat mereka hendak keluar mesjid.


" Baru kenal beberapa Minggu ini sih." Jawab Alina apa adanya.


" Dia ganteng banget ya? Andai saja suatu saat, dia bisa jadi imam ku." Kata Alika berangan-angan. Alina hanya tersenyum kecil. Jujur hati nya saat ini sedang cemburu, namun bagaimana pun dia belum berhak untuk cemburu.


" Ya sudah Alika, aku ke pak Ferdi dulu ya, Soalnya mereka udah menunggu. Assalamualaikum Alika!" Setelah mendapat jawaban salam dari Alika, Alina lantas menghampiri Li dan ayah angkatnya itu.


Setelah beberapa saat mereka berbincang-bincang, Alina, Li, dan Ferdi pun berpamitan kepada keluarga ustadz Mansur.


" Eeeee Om!" Panggil Li saat mereka sudah sampai dan sedang duduk di ruang tamu rumah Ferdi.


Sedangkan Alina sedang membuatkan mereka minuman di dapur.


" Ada apa Li?"


" Saya mau bicara sesuatu." Li merasa gusar, ia mencengkram buku-buku tangan nya hingga terlihat agak memerah karena tergores kuku nya sendiri.


" Silahkan, kamu mau bicara soal apa?" Tanya Ferdi.


" Begini om, sa_saya ingin melamar Alina." Ucap Li agak sedikit gugup, namun ia mengatakan nya dengan tegas.


Ferdi sempat di buat terperangah dengan penuturan Li, namun sesaat kemudian, ia mengontrol keterkejutan nya.

__ADS_1


" Apakah benar apa yang kamu ucapkan? Kamu tidak main-main dengan ucapan mu barusan?" Ferdi benar-benar ingin memastikan keseriusan Li pada anak angkatnya itu.


" Saya bersungguh-sungguh Om, saya ingin memperistri Alina, saya harap om menyetujui nya." Harap Li.


" Sebenarnya saya sendiri tidak bisa memutuskan, yang berhak atas persetujuan ini adalah orang tua nya dan Alina sendiri." Tutur Ferdi.


Namun setelah itu, percakapan mereka terhenti sejenak, karena tiba-tiba Alina datang dengan membawa sebuah nampan berisi minuman dan cemilan.


" Di minum dulu pak, A'!" Ucap Alina mempersilahkan. Ia lantas meletakkan nampan itu dan berencana ingin ke belakang lagi, namun suara Ferdi menghentikan langkahnya.


" Alina!" Panggil Ferdi.


" Ya, ada apa pak? ada yang perlu Alina bantu lagi?" Tanya nya. Ia pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap Ferdi.


" Sini nak, kamu duduk dulu, ada yang ingin bapak tanyakan sama kamu." Ucap nya. Alina lantas menuruti perintah Ferdi dan duduk di kursi yang agak jauh dari mereka.


" Bapak mau tanya sama kamu, apa kamu bersedia di lamar oleh nak Li?.l" Tanya Ferdi to the poin.


Alina mendongakkan kepalanya. Mata nya yang sayu, membulat sempurna. Ia memang sudah tahu tentang rencana Li yang akan melamar diri nya, namun tetap saja ia terkejut.


Alina kembali menundukkan pandangan nya.


" Alina tidak bisa memutuskan ini sendiri pak. Alina juga butuh restu dari orang tua Alina." Ucap nya.


" Bapak tidak ingin memaksakan kamu untuk menerima atau tidak, karena bapak tahu kamu juga belum lulus sekolah, tetapi bapak tidak ingin kalian berhubungan tanpa status yang sah." Jelas Ferdi lagi. Alina mengerti maksud Ferdi, ia pun tidak ingin kedekatan nya dengan Li menjadi dosa besar bagi mereka, karena tanpa adanya ikatan pernikahan.


" Insyaallah Lina akan menerima lamaran Aa Li, dan bersedia menikah dengan nya." Ucap Alina tanpa ragu.


" Alhamdulillah!" Ucap Li tanpa sadar, ia mengusap wajah nya karena merasa bahagia.


" Alhamdulillah, akhirnya sedikit-sedikit kamu tahu tentang kalimat-kalimat itu." Kata Ferdi merasa bangga. Li jadi tersipu mendengar Ferdi memuji dirinya.


" Iya A', Alina senang, ternyata Aa sangat cepat mempelajari nya." Tambah Alina yang membuat Li semakin melebarkan senyum manis nya.


" Baiklah, jika semua nya sudah selesai, dan tidak ada lagi yang akan di bicarakan. Saya akan menyuruh anak buah saya untuk menjemput keluarga Alina untuk datang ke sini. Dan besok kamu ke sini lagi, dengan membawa keluarga kamu." Ferdi mengakhiri percakapan mereka.


Tak lama setelah itu, Li pun berpamitan untuk pulang, dan besok dia berencana untuk membawa paman nya ke rumah Alina. Karena selama ini, paman nya lah yang selalu mendukung semua keinginan nya. Dan dia berharap kali ini pamannya juga akan mendukung nya.


***************


Orang tua Alina pun sudah sampai di kediaman Ferdi pagi itu, mereka sangat senang akhirnya mereka bertemu dengan anak mereka yang selalu mereka rindukan setiap hari. Begitu pun dengan Alina, ia menumpahkan rasa rindu nya kepada keluarganya.


Jangan lupa! Gadis, adik Alina yang cerewet nya minta ampun itu juga ikut serta dengan orang tua nya, ia rela libur beberapa hari hanya untuk bertemu kakak nya itu.

__ADS_1


" Cie,,,,, yang mau di lamar pujaan hati." Ejek Gadis pada Alina. Ia tak henti-hentinya mengejek kakaknya tersebut. Kebetulan mereka juga sudah di beri tahu oleh Ferdi tentang semua nya, termasuk siapa yang akan melamar Alina.


" Ihhh apaan sih dek." Kesal Alina.


" Cie,,,,, mukanya merah. Berasa kayak mimpi gak sih teh?" Tanya Gadis.


" Awalnya sih iya, tapi teteh percaya, takdir gak pernah salah, teteh di beri kebahagiaan yang tak ternilai setelah cobaan yang pernah teteh lewati, bahkan mungkin ini adalah awal dari kehidupan yang harus teteh jalani." Jelas Alina dengan bijak.


" Uuuuuh,,,,, Pinter banget sih teteh aku, sini peluk!" Pinta Gadis, ia merasa terharu, mereka pun saling berpelukan bak Teletubbies.


Tak lama, Li datang bersama pamannya. Mereka di sambut dengan ramah oleh keluarga Alina. Saat sudah berada di dalam, Li di buat heran dengan kehadiran ustadz Mansur yang juga ada di sana. Batinnya bertanya-tanya, ' Untuk apa ustadz Mansur juga hadir? bukankah ini hanya acara keluarga saja? apa mungkin pak Ferdi yang mengundangnya?


Pasalnya dia juga belum tahu bahwa orang tua Alina langsung setuju dan menyerahkan semua nya pada Ferdi.


Jangan lupakan, ustadz Mansur bukan hanya seorang guru mengaji atau seorang ustadz saja, namun beliau juga sering menikahkan orang.


Ferdi mengundang ustadz Mansur agar orang tidak banyak yang tahu tentang pernikahan Alina dan Li.


Awalnya Li sendiri yang keberatan dengan pernikahan secara diam-diam ini, dia tidak ingin menjadikan Alina seperti istri simpanan, namun Ferdi menjelaskan kepada Li tentang pernikahan secara diam-diam ini. Selain Alina yang masih sekolah di tingkat menengah atas, Li juga seorang aktor yang banyak di cintai fansnya, Ferdi hanya takut jika mereka nekat berbuat jahat pada Alina nanti, dan Li pun menyetujui nya demi keselamatan Alina.


Li dan paman nya lantas duduk, mereka telah berkumpul di ruang tamu termasuk keluarga Alina, namun Li tidak melihat keberadaan Alina di sana. Ia sudah seperti bebek angsa saja yang celingukan mencari keberadaan Alina. Mereka semua menyadari kebingungan Li.


" Sabar dulu nak Li! nanti setelah semua nya selesai, pasti kalian bisa bertemu, dan pastinya tanpa ada penghalang lagi." Celetuk Ferdi. Semua orang menertawakan tingkah tidak sabaran Li tersebut, terkecuali kedua orang tua Alina yang hanya menyimak saja karena tidak mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan.


Li merasa malu, namun dengan cepat ia menetralkan perasaan nya dengan berdehem kuat.


Tiba-tiba ustadz Mansur mengulurkan tangannya pada Li, membuat Li merasa bingung.


" Jabat tangan saya nak Li!" Perintah ustadz Mansur. Li lantas menuruti nya tanpa protes.


" Ambil ini!" Ustadz Mansur menyodorkan sebuah kertas bertuliskan sebuah kalimat yang tak begitu asing bagi nya, ia pernah melihat orang muslim mengucapkan nya saat akan melakukan pernikahan.


Li kembali menurut tanpa bertanya.


" Baca itu dengan satu tarikan nafas setelah saya mengatakan kalimat!" Li sempat di buat terkejut, karena bagaimanapun sedikit-sedikit dia paham tentang Islam.


Ia lantas memandang ke arah orang tua Alina, stelah itu ia beralih menatap pamannya dengan perasaan haru. Mereka semua memberi anggukan kepada Li, dan tanpa ingin membuang waktu, Li menuruti semua perintah ustadz Mansur dengan lancar dan tanpa hambatan.


Kini Li dan Alina resmi menjadi suami istri yang sah di mata agama dan negara.


Li menangis haru, begitu juga dengan Alina yang sudah di beri tahu.


Mereka semua ikut merasakan ke haruan itu, orang tua Alina pun tak mampu lagi membendung air mata mereka karena perasaan yang bercampur aduk.

__ADS_1


__ADS_2