My Idol My Imam

My Idol My Imam
Kemarahan Alina


__ADS_3

Episode 32:


Setelah sampai di depan apartemen Li, Cassandra lantas membawa Li yang setengah sadar itu ke dalam kamar.


Cassandra memapah tubuh Li dan merebahkan nya di atas tempat tidur.


Suasana apartemen itu memang nampak sepi, serta kamar yang gelap tanpa penerangan.


Cassandra hanya menyalakan lampu tidur saja, ia sengaja agar suasana kamar tersebut tak terlalu terang, agar ia leluasa untuk melancarkan aksinya.


Li benar-benar di buat tak berdaya oleh obat tersebut, entah berapa dosis yang Cassandra berikan sehingga membuat Li seperti orang yang sedang mabuk berat.


" Tolong! Tubuh ku sangat panas." Keluh Li, ia mulai menarik-narik kerah baju nya karena merasa gerah di sekujur tubuhnya.


" Iya sayang, kamu sabar ya! Aku akan membukakan pakaian mu." Ucap Cassandra dengan suara sensualnya.


Cassandra pun segera membuka satu persatu kancing kemeja putih yang di kenakan Li. Sesekali ia juga membelai wajah Li.


Li nampak pasrah, dia sudah tidak bisa mengendalikan diri nya. Tubuhnya seolah haus akan belaian lembut yang di berikan Cassandra.


Li menarik tubuh Cassandra hingga membuat Cassandra terjatuh tepat di atas dada Li yang sudah tak terlapisi pakaian lagi.


Namun tidak tiba-tiba saja lampu menyala.


" Astaghfirullah halazim Aa!" Pekik seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Alina syok melihat sang suami yang berada di bawah Kungkungan seorang wanita yang berpakaian kekurangan bahan itu, bahkan pakaian Li setengah terbuka.


Begitu pun dengan Cassandra yang terkejut dengan kedatangan Alina, yang ia pikir tidak akan pulang ke apartemen Li. Yang lebih membuat nya terkejut, ia dengan jelas melihat wajah cantik Alina yang tanpa tertutup cadar tersebut. Sesaat dia pun menyadari kecantikan Alina yang bahkan lebih cantik dari nya, pantas saja Li begitu menyukai gadis itu, pikir nya.


Alina geram melihat Cassandra yang dengan tidak malunya mencu*bu suaminya itu.


Ia lantas menghampiri Cassandra yang masih dengan keterkejutan nya.


Dengan tanpa ampun, Alina menjambak rambut Cassandra dengan sangat kuat, hingga membuat Cassandra menjerit kesakitan.

__ADS_1


" Dasar wanita tidak tahu diri, tidak tahu malu! Berani-berani nya kau menyentuh suamiku. Pergi kau dari sini!" Alina pun menarik kasar rambut Cassandra, menggiringnya untuk keluar.


" Argh,,,,,, rambutku, sakit,,,,,,!!" Rintih Cassandra, ia pun memegangi rambutnya yang di tarik paksa oleh Alina.


" Lepaskan bo*oh!" Hardik nya pada Alina.


" Aku tidak akan melepaskan mu sebelum kau keluar dari sini!" Jawab Alina.


Alina pun menghempaskan Cassandra dengan kasar setelah sampai di depan pintu keluar.


" Dengar ya Cassandra, jangan pernah kau ganggu suamiku lagi! Apa lagi sampai mengganggu rumah tangga ku." Ucap Alina tegas.


Cassandra tertawa sumbang, bukannya memiliki efek jera, Cassandra malah semakin mengejek Alina.


" Hahaha, kau pikir aku akan takut pada mu? Kau dengar ya! Aku tidak akan dan tidak akan mungkin pernah menjauhi Li. Kau yang datang belakangan, jadi kau lah yang harus meninggalkan Li!" Kata Cassandra di iringi dengan tawanya.


" Kau tahu, dulunya aku dan Li itu saling mencintai, bahkan sampai sekarang pun kami masih saling mencintai. Karena dia marah kepada ayahku, lalu setelah itu kami putus, namun dia sama sekali tidak membenciku, dan aku pun yakin, bahwa dia masih sangat mencintai ku." Kata Cassandra dengan percaya diri nya.


" Dan kau tahu, yang harus berhati-hati agar tidak di tendang dari kehidupan Li itu kau, karena kau hanya orang kedua yang hanya menjadi pelarian nya saja." Hasut Cassandra.


" Percaya diri sekali kau bo*oh! Apa kau tidak takut akan menyesal nantinya?" Cassandra kembali menghasut Alina.


" AKU BILANG AKU TIDAK PERDULI! Apa kau kurang jelas? Jika sudah tidak ada keperluan lagi, silahkan pergi dari sini! dan terimakasih karena sudah mengantarkan suamiku pulang."


Cassandra mencibir, ia lantas pergi dengan perasaan kesal karena sudah di usir oleh seorang perempuan yang menurutnya kampungan itu.


Setelah kembali menutup pintu, Alina pun berniat melihat keadaan suaminya lagi, dia pun menuju kamar dan di sana ia tidak mendapati suaminya lagi. Dia pun heran, lantas Alina mencari di seluruh penjuru ruangan, namun ia malah mendengar bunyi percikan air dari dalam kamar mandi.


Alina pun segera menemui suaminya itu, ia takut terjadi apa-apa pada nya.


" Astaghfirullah halazim A, Aa kenapa?" Tanya Alina saat melihat Li merendam dirinya di dalam bathtub dan mengucuri dirinya dengan air dari shower.


Alina panik, ia lantas mengambil handuk dan memakaikan nya pada Li. Alina hanya takut Li masuk angin jika terus berada di dalam air.


" A' sudah cukup ya A'! Nanti Aa bisa masuk angin kalau kelamaan di air." Ucap Alina memperingati.

__ADS_1


" Tapi tubuh Aa panas sayang." Jawab Li.


" Ruangan ini ber-AC A', kenapa bisa panas?."


" Aa juga tidak tahu, tolongin Aa ya, please!!" Kata Li memohon.


Alina tak mengerti dengan maksud Li, entah Li meminta tolong dengan cara bagaimana, namun karena ia takut Li masuk angin jika kelamaan di dalam air, Alina pun segera mengiyakan permintaan Li.


Alina pun memberikan handuk yang tadi ia ambilkan untuk Li, lantas memakannya pada Li.


Li yang benar-benar sudah tidak tahan lagi menahan diri akibat obat pera**sang yang di berikan Cassandra tersebut pun mengangkat tubuh Alina dan membawanya ke tempat tidur.


Awalnya Alina terkejut dan sempat meronta, namun setelah itu ia pasrah saja dengan apa yang dilakukan suaminya itu.


" Tolongin Aa sayang!" Pinta Li dengan suara yang terdengar berat.


Alina yang berada di bawah Kungkungan suaminya itu pun membulatkan matanya, ia tak mengerti harus menilai dengan cara bagaimana. Namun Alina sangat iba melihat keadaan suaminya itu, yang seperti nya sangat tersiksa.


Matanya juga sudah di penuhi oleh kabut gairah yang sungguh menyiksa bagi Li.


Cukup lama Alina mencerna dengan apa yang di maksud oleh suaminya itu, namun tak lama ia mengangguk setuju.


Malam itu kembali menjadi saksi penyatuan mereka akibat obat yang di berikan Cassandra.


Dan untung saja saat itu Alina memutuskan untuk pulang dan di antar oleh Ferdi, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada Li karena jebakan Cassandra itu.


Li membuka mata nya saat tak sengaja sinar matahari pagi masuk di sela-sela jendela kamar nya.


Li menggeliat untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.


Dia pun berniat akan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun ia menyadari sesuatu. Li pun lantas memeriksa tubuhnya yang terasa aneh, ia terkejut saat mendapati dirinya yang tanpa menggunakan sehelai benang pun.


Li lantas mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi pada dirinya semalam, namun ia hanya mengingat bahwa dirinya pergi ke bar bersama Tian. Li mulai menerka-nerka dan merasa khawatir, takut dirinya telah berbuat dosa karena telah menodai seorang wanita.


" Tapi apakah mungkin? bukankah semalam aku tidak minum alkohol, lalu bagaimana aku bisa tidak tahu dan berujung seperti ini?" monolog nya. Ia masih bingung dan menerka-nerka. Akibat pertengkaran dengan istrinya tempo hari, membuat pikiran nya kacau dan berani berbuat nekad.

__ADS_1


Li mengusap wajahnya karena merasa frustasi, ia tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti.


__ADS_2