My Idol My Imam

My Idol My Imam
Memilih Pergi


__ADS_3

Episode 7:


" Tidak bisa begitu dong pak RT, saya tidak salah apa-apa, saya hanya di fitnah." Ucap Alina tegas. Bagaimana pun ia tidak bisa menerima pernikahan ini begitu saja, dia tidak boleh selalu di injak injak begini. Meskipun dia adalah seorang wanita, tapi tetap saja dia tidak boleh membiarkan harga diri nya di injak orang lain.


" Maaf Alina, apa kamu punya bukti yang kuat untuk menyangkal nya? Jika ada, saya dengan senang hati mencabut hukuman nya dan membebaskan kamu dari semua tuduhan." Jawab pak RT tak kalah tegas.


" Tapi saya benar-benar tidak salah dalam hal ini, saya hanya korban di sini, pak RT harus dengerin cerita saya dulu!" Jelas Alina kekeh. Namun sayangnya pak RT sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan Alina.


" Begini saja Alina, saya beri kamu dua pilihan, kamu lebih memilih pergi dari kampung ini, atau terima Dian sebagai suami kamu, dan menikah dengan nya!" Tanya pak RT memberi dua pilihan yang sangat sulit Alina putuskan.


Jika ia memilih menikah dengan Dian, sama saja dia mengakui kesalahan yang tidak ia perbuat, tapi jika ia memilih meninggalkan kampung halaman nya, maka dia harus rela meninggalkan kedua orang tua nya dan adik semata wayangnya itu.


Alina hanya bisa terdiam. Sangat sulit bagi nya memilih salah satu diantara nya.


Jika ia pergi, bagaimana dengan sekolah nya? Nanti dia akan tinggal dengan siapa? Alina tidak mempunyai keluarga selain keluarga kecil nya, kakek dan nenek nya sudah lama meninggal, baik dari sebelah ayah, maupun ibu nya. Kalau untuk paman atau bibi, ayahnya adalah anak tunggal, sedang kan saudara kandung ibunya, sudah menjadi orang sukses semua dan berada di luar negeri.


Tiba-tiba ayah nya menepuk pundak nya dari belakang dan hal itu membuat nya terkejut dan tersadar dari lamunannya.


" Bapak tidak memaksa Eneng, apa pun keputusan yang Eneng ambil nantinya, kalau menurut Eneng itu benar, maka lakukanlah! Bapak selalu percaya sama Eneng." Ucap Jaka menyemangati.


" Meskipun kalau Lina mau ninggalin kampung ini dan ninggalin bapak,ibu dan Gadis?" Tanya Alina terlihat sudah berkaca-kaca. Jaka pun mengangguk ragu-ragu, lalu tak lama ia tersenyum.


" Apa pun itu yang menurut mu baik untuk diri mu, bapak dan ibu akan merestui nya." Ucap Jaka mantap. Imah pun ikut mengangguk membenarkan ucapan suaminya.

__ADS_1


" Kamu tenang saja, kalau masalah sekolah kamu, bapak akan transfer setiap bulannya untuk biaya sekolah kamu, kamu bisa pindah sekolah lain, dan bapak akan menemanimu untuk mencari sekolah nanti." Ucap Jaka meyakinkan. Padahal ia sendiri belum tahu, di mana dia akan mendapatkan uang setiap bulan nya untuk biaya Alina sekolah dan biaya hidupnya. Tapi demi masa depan sang anak, Jaka akan berusaha keras, bagaimana pun caranya, dari pada Alina harus menikah dengan Dian yang terkenal tempramen itu.


Alina tersenyum senang, lantas memeluk sang ayah dengan mata berkaca-kaca karena terharu.


Lain halnya dengan Dian, ia nampak tidak terima dengan keputusan Alina yang akan merugikan dirinya. Sudah bertahun-tahun dia mendambakan Alina untuk menjadi istri nya, meskipun dia sendiri tak berani untuk mengungkapkan nya karena ketidak percayaan dirinya itu. Tapi saat selangkah lagi akan mendapatkan Alina, Alina sendiri malah memilih pergi dari kampung.


" Tidak bisa begitu pak Jaka! Saya tidak terima, seharusnya neng Alina teh menikah sama saya." Ucap Dian berapi-api.


" Kenapa begitu Dian? bukankah kalian berdua sama-sama di fitnah, kenapa kamu jadi tidak terima kalau Alina memilih pergi?" Tanya Jaka curiga. Dian menyadari kesalahannya, dia langsung gugup saat di tanya begitu.


" E_ eh bukan begitu maksud saya." Jawab Dian tak tau harus menjawab apa lagi.


" Lalu maksud kamu apa? Apa kamu senang pernikahan ini terjadi?" Tanya Jaka tepat sasaran.


" Tidak perlu A'! Itu sudah keputusan yang Lina ambil, dan Lina harus menyanggupi nya dan menjalani nya." Kata Alina mantap.


Dian hanya bisa pasrah dengan keputusan Alina. Jika ia terlalu memaksa, maka kejahatan nya akan terbongkar.


" Baiklah, sekarang tidak ada lagi yang ingin di sampaikan, lebih baik kita pulang ke rumah masing-masing, dan kamu Alina, siang ini juga kamu harus segera meninggalkan kampung ini! karena ini permintaan warga." Ucap pak RT telak.


Alina pun mengangguk pasrah, lalu mereka semua membubarkan diri masing-masing.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Siangnya Alina berkemas di bantu oleh Gadis. Sedangkan Imah dan Jaka menunggu mereka di ruang tamu. Hari ini Jaka akan mengantar Alina untuk mencari kos-kosan dan sekolah di luar kampung, tak jauh dari kampung nya terdapat sekolahan yang bagus dan harganya juga terjangkau untuk kantong Jaka. Dia akan menyekolahkan Alina di sana, selain itu jarak nya tak begitu jauh dari rumah mereka, jadi Jaka dan keluarga sewaktu-waktu bisa mengunjungi Alina nanti.


" Sudah siap semua teh? Ada lagi gak yang harus di bawa?" Tanya Gadis.


" Kayak nya udah semua deh dek, tinggal mandi dan siap-siap aja nih." Jawab Alina sambil menutup koper nya.


" Ya sudah, kalau begitu teteh mandi gih! Gadis tunggu di bawah aja." Ucap Gadis.


" Iya kamu tunggu saja di bawah, teteh juga mau siap-siap." Gadis pun berlalu dari kamar Alina dan bergabung bersama kedua orang tua nya.


Tok tok tok


Suara pintu kamar Alina yang di ketuk dari luar. Alina yang baru selesai mandi pun segera membukakan pintu.


" Ya sebentar!"


Cklekkk


" Ibu, ada apa?" Tanya Alina.


" Itu di luar ada tamu, katanya mau ketemu sama kamu." Jawab Imah.


" Siapa?" Tanya Alina penasaran.

__ADS_1


" Gak tau juga ibu, coba kamu lihat dulu, siapa tahu penting!" Saran Imah. Alina pun menurut, ia segera menemui orang tersebut yang katanya adalah tamu nya.


__ADS_2