My Idol My Imam

My Idol My Imam
Cemburu


__ADS_3

Episode 20:


Pukul setengah empat subuh, Alina terbangun untuk melaksanakan shalat malam, ia sudah terbiasa melakukan nya. Namun kali ini Alina merasakan hal yang berbeda dari biasanya.


Saat ia membuka mata untuk melaksanakan shalat tahajjud, ia melihat sosok pria yang tertidur damai di sampingnya. Alina tersenyum, Wajah tampan nya yang dulu tidak boleh Alina lihat, kini ia bisa dengan leluasa memandang keindahan ciptaan Allah itu sepuasnya tanpa takut akan dosa.


Dulu ia hanya bisa mengagumi dalam diam, tanpa berpikir bisa memiliki nya. Kini khayalan dan mimpi itu sangat nyata dan dapat ia raih.


Alina mengangkat tangannya untuk membelai wajah Li yang sedang tertidur pulas.


Telunjuk tangan nya menyusuri setiap inci wajah tampan itu, mengabsen setiap keindahan yang di berikan sang maha khalik. Sungguh pahatan dan karya yang luar biasa.


Tangan nya terhenti pada leher pria yang baru saja sah menyandang gelar sebagai seorang suami itu.


Ia membelai jakun yang terlihat sangat menonjol itu, ia menghirup aroma tubuh Li yang mampu membuat nya selalu nyaman jika berada di sisi nya. Tiba-tiba gerakan nya terhenti saat sebuah tangan memegang tangan nya yang sedari tadi membelai leher Li.


Nampak nya Alina ketahanan. Li tidak benar-benar tertidur, ia sudah bangun sedari tadi saat Alina diam-diam memandangi nya. Ia tahu apa saja yang Alina perbuat pada nya.


Alina malu, ia hendak berbalik dan membelakangi Li, namun Li dengan cepat menahan tubuh Alina agar tidak membelakangi nya.


" Ternyata kamu bisa nakal juga ya." Ucap Li dengan suara serak dan mata yang masih terpejam.


" A,,,,,,. T_tadi itu,,,,,,!!" Ucap Alina gugup. Li mengulas senyum manis nya, dan perlahan membuka mata nya.


" Tadi kenapa hah?" Li mendekat kan wajah nya pada Alina, membuat Alina semakin salah tingkah.


" Ta_tadi A_alina mau bangunin Aa saja kok." Ucap Alina. Ia meringis malu, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.


" Bangunin untuk apa? Ini kan masih malam sayang." Tanya Li dengan lembut, ia juga menarik tangan Alina yang menutupi wajah nya dengan pelan.


" Bangunin buat sholat tahajud." Jawab Alina. Li membulatkan matanya, ia baru menyadari keteledoran nya karena telah lupa untuk melakukan shalat Sunnah tahajjud.


" Astaghfirullah halazim! Aa lupa sayang. Ini sudah jam berapa?" Li nampak panik.


" Ini jam setengah empat A', emang kenapa?" Tanya Alina heran. Li menghela nafas lega saat mendengarnya.


" Syukurlah, Aa tidak telat." Ucap Li.


" Ya sudah, Alina duluan ya ke kamar mandi, setelah itu baru Aa, kita sholat berjamaah!" Ajak Alina.


Setelah itu mereka pun shalat. Alina baru pertama kali melihat Li mengenakan sarung dan baju Koko juga di lengkapi sebuah peci. Ia semakin kagum dengan ketampanan Li yang berkali-kali lipat itu.


' masyaallah, idola ku, Imam ku! Ganteng banget sih. Berasa masih mimpi bisa di imami sama idola plus suami sendiri.' Tutur Alina dalam hati.


Li menjentikkan jarinya di depan wajah Alina, membuat nya terkesiap.


" Aa ih ngagetin aja." Kesal Alina.


" Lagian kamu ngelamun. Iya Aa tau kalau Aa ini tampan, tapi kalau di pandangi terus, nanti tidak jadi shalat." Ucap Li.


" Ih Aa narsis!"

__ADS_1


" Narsis!. Apa itu?"


" Narsis itu percaya diri A'." Jelas Alina.


" Kan Aa tidak narsis, Aa mengatakan kenyataan." Ucap Li sekali lagi.


" Iya deh iya, Aa memang tampan." Li terkekeh lantas mengusap kepala Alina yang terbalut mukena.


Tak membuang waktu lagi, mereka pun melaksanakan shalat. Meskipun sebenarnya Li masih harus banyak belajar tentang shalat dan tata cara nya, namun sedikit-sedikit Li sudah faham tentang Islam, termasuk menjadi imam dalam shalat.


" Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh!"


" Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh!" Li mengakhiri shalat nya dengan salam. Alina lantas meraih tangan Li untuk ia cium. Alina memegang erat tangan suaminya, kemudian menundukkan kepala, lalu disusul mencium tangan Li menggunakan hidung dan bibir dengan penuh takdzim.


Tak lama setelah itu, azan subuh berkumandang. Mereka pun lanjut shalat subuh berdua.


Pagi itu Alina sudah siap dengan seragam sekolah serta cadarnya nya, hari ini ia lanjut bersekolah setelah meliburkan diri beberapa hari karena pernikahan mereka.


Namun saat Alina keluar dari kamar mandi, ia juga melihat Li sudah rapi seperti ingin bepergian.


" loh A', Aa mau kemana pagi-pagi sudah rapih? Aa ada jadwal syuting hari ini?" Tanya Alina heran.


" Tidak!" Jawab Li singkat, sambil membenarkan letak kacamata hitam dan masker nya.


" Terus Aa mau kemana sudah rapih begitu?"


" Mau mengantar kamu." Jawab Li singkat.


" Lagi istirahat, kasian kalau harus mengantar kamu terus."


" Memangnya tidak ada yang mengenali Aa?" Tanya Alina.


" Tentang saja, Aa pakai masker dan kacamata ini kok. Dan Aa sudah biasa seperti ini kalau mau keluar-keluar." Jawab Li dengan santai nya.


" Aa yakin?" Tanya Alina memastikan sekali lagi. Li berbalik, lantas tersenyum kepada Alina. Ia berjalan mendekati Alina, lalu memegang tangan nya.


" Iya sayang, kamu tenang saja, tidak ada fans yang mengenali Aa kok. Kalau pun ada, dan mereka mendekati Aa, Aa akan bilang sama mereka bahwa Aa sudah memiliki bidadari di hati Aa." Li menuntun tangan Alina untuk memegang dadanya.


" Gini nih kalau punya suami seorang aktor, jago akting." Cibir Alina. Li hanya tertawa mendengar nya, jika ia harus menjelaskan, mungkin seluas lautan tidak akan muat untuk menuliskan nya. Tapi ia lebih memilih membuktikan, karena cinta itu butuh pembuktian, bukan omong kosong belaka.


" Alina, Li!" Seru suara dari luar kamar mereka, dan seperti nya itu adalah suara Aisyah yang memanggil mereka.


" Ya ma." Sahut Alina.


" Sarapan dulu yuk!" Alina pun membukakan Aisyah pintu.


" Iya ma, kita sebentar lagi turun kok."


" Ya sudah mama tunggu di bawah ya!" Alina lantas mengangguk.


Setelah usai makan, Li mengantarkan Alina ke sekolah nya dengan menggunakan mobil pribadi nya sendiri.

__ADS_1


Tak ada perbincangan di antara mereka saat mereka sedang berada di jalan. Hanya saja sesekali Li memandang ke arah Alina dan tersenyum, begitu pun Alina. Li hanya tidak ingin, saat menyetir sesuatu terjadi kepada mereka jika mereka asyik mengobrol.


Tiba-tiba ponsel Li yang berada di atas dashboard berdering. Satu kali, dua kali, hingga yang ketiga kalinya Li tetap tidak mengangkat nya.


Alina penasaran siapa seseorang yang telah Li abaikan panggilan nya. Alina lantas mengintip sedikit nama yang tertera di layar ponsel Li tersebut. Alina membaca nama Cassandra di sana. Ia penasaran, namun dia tidak ingin terlalu ikut campur tentang itu, mungkin saja itu adalah salah satu teman atau rekan kerja nya.


Hingga deringan ke empat, akhirnya Alina buka suara.


" A' itu ponsel nya bunyi. Angkat dulu A', siapa tahu penting!" Ucap Alina. Li mengangguk patuh, ia pun memeriksa ponselnya, namun seketika, ia meletakkan kembali ponselnya dengan raut wajah kesal.


" Siapa A? Kok tidak di jawab ponsel nya?" Tanya Alina penasaran.


" Bukan siapa-siapa, hanya nomor salah sambung saja." Jelas Li, namun terlihat jelas bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.


Alina hanya beroh ria tanpa ingin bertanya lebih lanjut siapa Cassandra itu. Namun tak dapat di pungkiri jika saat ini Alina sedang cemburu dengan nama yang tertera di layar ponsel Li tersebut.


Tak lama mereka pun sampai di depan pintu gerbang sekolah Alina. Sebelum turun dari mobil, Alina menyalami tangan Li terlebih dahulu, namun rasa kesal masih menyelimuti hati nya, ia seakan enggan untuk mengucapkan sesuatu, namun ia juga harus berpikir positif. 'Tidak baik berprasangka buruk terhadap suami jika tidak memiliki bukti.'


" Alina turun dulu ya A'. Assalamualaikum!" Ucap nya dengan tersenyum semanis mungkin untuk menutupi rasa cemburunya.


" Waalaikumsalam istri ku. Belajar yang rajin ya!" Alina pun mengangguk, dan meninggalkan Li yang masih berada di dalam mobil.


" Assalamualaikum ukhti Alina!" Sapa seorang pria kepada Alina saat dia sudah berada di luar.


Mata Li langsung membulat melihat istrinya di hampiri oleh seorang pria yang tidak ia kenal.


" Waalaikumsalam kak Habibi!" Jawab Alina ramah, sambil menangkupkan kedua tangannya, begitu pun Habibi.


Li yang melihat istrinya seperti sangat akrab dengan pria itu, hati nya terasa panas. Ia lantas keluar untuk menghampiri Alina dan Habibi yang sedang mengobrol.


" Ehemm!!" Ucap Li berdehem. Hal itu membuat Alina dan Habibi menoleh ke arah Li secara bersamaan.


" Alina dia siapa? Apa kamu mengenal nya?" Tanya Habibi. Tentu saja Alina merasa gugup di tanya seperti itu. Ia bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Habibi, tidak mungkin kan jika dia mengakui Li sebagai suaminya!.


" E,,,,,,,. I_itu,,,,,,!!" Ucap Alina bingung.


" Saya asisten pribadi nona Alina yang di tugaskan langsung oleh pak Ferdi untuk menjaga nya dua puluh empat jam." Jawab Li dengan nada datar dan dingin. Habibi mengerutkan keningnya heran.


" Loh, kamu berduaan dengan asisten kamu di dalam mobil?" Tanya Habibi pada Alina.


" E,,,,,,. Dia asisten kepercayaan pak Ferdi, jadi aku yakin dia tidak akan berbuat macam-macam." Jawab Alina.


" Tapi kan biasanya kamu bertiga sama seorang pembantu wanita, tapi kenapa hari ini aku tidak melihatnya?" Habibi celingukan mencari keberadaan pembantu yang ia maksud.


" D_dia sedang libur bekerja hari ini, jadi dia tidak ikut." Jawab Alina sekenanya. Li kembali berdehem untuk mencari perhatian Alina.


" Sebaiknya kamu masuk kelas sekarang!" Ucap Li tanpa bantahan.


" I_iya A'." Habibi tercengang mendengar panggilan yang tak sengaja Alina ucapkan.


" Kalau begitu Alina permisi duluan ya!" Alina pun menunduk sopan kepada dua pria itu, dan setelah itu ia pun masuk ke kelas nya.

__ADS_1


__ADS_2