My Idol My Imam

My Idol My Imam
Rahasia Alina


__ADS_3

Episode 51:


Namun dengan sekuat tenaga Alina menahan diri agar tidak ambruk. Ia hanya tidak ingin membuat keluarganya yang tidak tahu menahu tentang masalah yang sedang dia hadapi ini menjadi panik dan mengkhawatirkan dirinya, jadi biarlah dia menahan rasa sakit di kepalanya itu.


Lagipula Alina masih ada pekerjaan yang belum ia laksanakan, yaitu membuatkan minuman untuk keluarganya yang baru saja datang.


Dengan tertatih-tatih Alina berjalan menuju dapur dan segera membuatkan minuman serta kembali ke depan.


" Ibu bapak Gadis, ini minumnya," ucap Alina sambil menuangkan air sirup dingin itu kedalam beberapa gelas lalu menaruhnya di depan masing-masing dari mereka.


" Kak Habibi sama Mama mau nambah lagi?" tanya Alina dengan senyum yang dipaksakan.


" Nanti Mama ambil sendiri saja kalau Mama mau," jawab Aisyah. Setelah itu Alina pun menatap Habibi seolah menunggu jawaban dari pertanyaanya.


" Sudah cukup Alina, nanti perut kakak kembung kalau kebanyakan minum," jawab Habibi.


Alina pun mengangguk dan tersenyum, lalu ikut duduk dan bergabung bersama mereka.


" Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya Imah kepada Alina.


" Tidak apa-apa kok Bu, memangnya kenapa?" ucap Alina dengan senyum yang dipaksakan.


" Tidak, ibu lihat semenjak kamu keluar dari dapur tiba-tiba wajahmu kok berubah murung, padahal tadi sebelum ke dapur kamu terlihat baik-baik saja," kata Imah yang memang sangat peka terhadap anak-anaknya.


" Tidak kok Bu, Alina baik-baik aja. Alina cuma sakit kepala aja sedikit," elaknya. Namun Alina tidak berbohong bahwa dia sedang sakit kepala.


Semenjak melihat kejadian tadi kepala Alina tiba-tiba saja langsung berdenyut.


" Kalau kamu sakit kepala, lebih baik kamu istirahat dulu!" timpal Aisyah.


" Benar itu neng, lebih baik kamu istirahat dan jangan lupa minum obat dulu!" tambah Imah.


" Biar Gadis temenin ke kamar ya teh," kata Gadis yang sudah berdiri dan bersiap untuk memapah Alina ke kamarnya.


Alina hanya mengangguk sambil memegangi kepalanya. Entah mengapa rasa sakit di kepalanya semakin berdenyut sehingga ia pun sulit untuk menopang tubuhnya sendiri.


" Hati-hati teh!" Alina pun mulai berdiri dengan dibantu Gadis.


Sesampainya di kamar, Alina langsung merebahkan tubuhnya di kasur dengan dibantu oleh Gadis.


Kali ini ia merasa area perutnya terasa sakit, namun Alina tak mau kembali membuat anggota keluarganya merasa cemas. Alina pun menyembunyikan rasa sakitnya dengan cara meringkuk sambil memegangi perutnya.


" Teteh Gadis keluar dulu ya, nanti kalau teteh butuh sesuatu panggil Gadis aja!" ucapnya. Dan Alina pun hanya mengangguk karena ia tak ingin ketahuan bahwa ia sedang menahan sakit pada perutnya.

__ADS_1


Setelah selesai menyelimuti seluruh tubuh Alina, Gadis pun berpamitan untuk keluar dari kamar Alina.


" Emmm permisi," ucap Habibi yang masih merasa canggung kepada keluarga Alina.


" Iya Nak Habibi," jawab Aisyah, karena memang Aisyah lah yang bisa mengerti bahasa yang digunakan Habibi.


" Sepertinya saya pamit pulang dulu deh Bu, karena saya juga sudah lama di sini. Lagi pula saya harus menyiapkan diri untuk wisuda besok," ucapnya. Tak lupa pula ia memberikan senyum hormat kepada keluarga Alina.


" Apa katanya Bu Aisyah?" tanya Jaka.


" Katanya dia mau pulang dulu karena besok dia harus wisuda dan mempersiapkan diri untuk itu," kata Aisyah mengulang perkataan Habibi namun dengan berbahasa Indonesia.


" Oh berarti Nak Habibi dan Alina satu kelas?" tanya Imah, dan kembali di terjemahkan oleh Aisyah.


" Satu angkatan namun beda jurusan ibu," jawab Habibi.


Mereka pun hanya mengangguk meski tak mengerti apa yang dikatakan Habibi tentang jurusan ataupun angkatan. Maklum saja mereka cuma lulusan sekolah dasar dan tak mengerti masalah itu, terkecuali Gadis dan Aisyah yang mengerti.


" Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu," kata Habibi.


Mereka pun mengantarkan Habibi sampai di depan pintu, memperhatikan mobil Habibi hingga tak terlihat lagi oleh mata.


" Kak Habibi itu baik ya Bu," kata Gadis kepada ibunya dengan ekspresi wajah yang malu-malu.


" Iya Alhamdulillah baik, memangnya kenapa?" tanya Imah dengan tatapan jail nya.


" Gak kenapa-napa sih, Gadis cuma mau muji dia baik aja," kata Gadis.


" Ohhh," jawab Imah sambil mengangguk dengan senyum yang tertahan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Seperti biasa, pukul empat subuh Alina pun bangun untuk melaksanakan sholat tahajjud terlebih dahulu.


Dia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum melaksanakannya. Namun ketika ia membuka kain sensitif nya, ia mendapatkan bercak merah di sana.


Alina pun tetap melanjutkan mandinya namun tidak dengan sholatnya tentunya.


Setelah berpakaian, Alina masih merasakan nyeri diarea perutnya, dia pikir mungkin itu adalah efek dari datang bulannya. Lalu ia tetap melanjutkan aktivitasnya di pagi hari seperti biasanya yaitu memasak sarapan.


Meskipun Alina sedang sakit, Alina tak bisa begitu saja melepaskan tanggung jawabnya, ia merasa tak biasa jika harus istirahat dan berbaring saja, meskipun baik Aisyah atau keluarganya tidak pernah memaksakan Alina harus bekerja meskipun dia sedang sakit. Hanya saja Alina memang gadis yang rajin hingga jika ia tak bekerja maka tak nyaman baginya.


" Kamu lagi bikin apa Nak?" tanya Imah yang baru saja tiba di dapur.

__ADS_1


" Lina lagi bikin nasi goreng Bu," jawabnya sambil masih mengaduk nasi goreng yang masih di dalam wajan.


" Ibu mau apa biar Lina yang buat kan," kata Alina lagi.


" Tidak, tadinya ibu mau masak untuk kalian, terutama untuk kamu. Karena kan kamu udah lama gak makan masakan ibu, apa kamu gak kangen sama masakan ibu?" tanya Imah.


Mendengar penuturan ibunya, Alina lantas mematikan kompornya dan setelah itu berbalik ke arah Imah.


" Alina kangen kok sama masakan ibu, tapi dengan ibu udah datang aja udah bikin Alina bahagia." Alina lantas meraih tangan Imah untuk ia genggam.


" Lagian ibu bapak sama Gadis kan beru datang dan pasti masih capek. Nanti kalau ibu udah gak capek lagi ibu boleh kok masakin Alina. Alina jadi gak sabar nyicipin masakan ibu lagi," ucapnya. Setelah itu Alina pun memeluk ibunya dengan manja.


" Kalau begitu berarti hari ini ibu makan masakan kamu dulu begitu?" ucap Imah.


" Iya dong. Ibu juga pasti kangen kan sama masakan Alina?"


Imah pun mengangguk lalu tersenyum kepada anaknya itu.


Dan tak lama setelah itu Jaka Gadis dan Aisyah pun keluar dari kamar secara bersamaan. Dan nampaknya mereka pun sudah terlihat segar.


" Teteh cepat banget masaknya, padahal kan tadi Gadis mau bantu teteh masak," kata Gadis yang menghampiri Alina yang sedang menuangkan nasi goreng nya kedalam mangkok. Sedangkan yang lainnya sudah bersiap dan duduk di kursinya masing-masing untuk menunggu sarapan mereka.


" Hemmm bilang aja kamu yang bangunannya kesiangan, kenapa nyalahin teteh yang masaknya cepat," ucap Alina tak terima.


" Hehehe iya sih, mungkin juga Gadis yang kesiangan. Soalnya semalam capek banget," kata Gadis dengan muka tak bersalahnya.


Dan Alina hanya menanggapinya dengan tersenyum sayu.


" Tunggu tunggu! kok teteh kelihatan pucat banget, teteh sakit?" tanya Gadis yang baru menyadari wajah Alina yang tak seperti biasanya.


" Dari mana kamu tahu kalau teteh pucat, bukannya teteh pakai cadar," jawab Alina.


" Gadis tau kok dari mata teteh," kata Gadis.


" Enggak, teteh gak sakit kok, mungkin karena gak pake bedak aja jadi kelihatan pucat dan kusam," jawab Alina lagi.


" Ihhhh." Dan untungnya Gadis pun percaya dengan ucapan Alina.


" Nih bawa ke sana!" kata Alina sambil menyodorkan semangkuk nasi goreng tadi kepada Gadis.


" Oke. " Gadis pun segera meraihnya dan menata nya di atas meja makan.


Setelah selesai makan, mereka yang telah bersiap untuk pergi ke acara wisuda Alina pun serempak akan meninggalkan rumah Aisyah tersebut.

__ADS_1


Namun sebuah ketukan pintu dari luar membuat aktivitas mereka terhenti sesaat, mereka juga saling pandang satu sama lain.


" Biar Alina yang buka pintunya," kata Alina dan diangguki oleh yang lain.


__ADS_2