My Idol My Imam

My Idol My Imam
Sakit


__ADS_3

Episode 29:


Jam empat subuh, Alina terbangun untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai umat muslim, karena posisi tidur nya yang tidak nyaman malam tadi membuat tengkuk dan seluruh badannya terasa sakit, namun ia tetap masakan untuk bangun.


Ia jadi ingat bahwa tadi malam ia sedang menunggu suaminya pulang, ia pun mencari keberadaan suaminya, mana tau dia sudah pulang dan saat ini ia sedang tidur di kamar nya.


Ia pun menuju ke kamar berniat untuk membangunkan suaminya. Namun setelah sampai nya di sana, ia sama sekali tidak menemukan siapa pun di sana.


Ia sempat sedih karena mengetahui bahwa suaminya itu sejak tadi siang hingga subuh ini belum pulang. Namun ia harus tetap berpikir positif, mungkin saja pekerjaan Li tidak bisa di tinggalkan, hingga ia harus lembur atau menginap, pikir nya.


" Lagian Lina pikiran nya anah-aneh aja. Kalau Aa Li pulang, mana mungkin dia biarin Alina tidur di meja makan kayak tadi." Pikir Alina.


Setelah selesai shalat dan mengaji, Alina pun berniat untuk mengerjakan tugas rumah seperti biasa ia lakukan sebelum pergi ke sekolah. Namun ia merasa tubuhnya meriang, mungkin karena ia masuk angin sebab tidur di ruangan terbuka.


Alina pun memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh nya sejenak sebelum pergi ke sekolah. Namun saat ia akan menaiki tangga untuk menuju kamar mereka, tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pusing hingga membuat nya tak mampu untuk menopang tubuh nya. Alina pun jatuh tak sadarkan diri di depan tangga.


Di apartemen Tian, Li yang tertidur di atas sofa pun terbangun.


" Astaghfirullah halazim!" Ucap Li tiba-tiba. Ia seakan teringat akan sesuatu yang membuat nya beristighfar dan mengusap wajah nya. Ia bahkan melupakan shalat subuh nya karena kesiangan, namun ia berniat akan mengkhadha nya nanti di rumah.


Ia melihat Cassandra yang masih pulas dengan tidur nya, ia lantas menyambar Hoodie nya dan keluar dari kamar tersebut.


" Mau kemana kau pagi-pagi begini?" Tanya Tian yang sedang menikmati secangkir teh hangat nya. Li terpaksa menghentikan langkahnya karena sapaan dari Tian.


" Mau pulang." Jawab Li.


" Kenapa buru-buru sekali? Apakah kau tidak ingin menikmati secangkir teh atau kopi bersama ku di sini, kalau kau mau aku bisa meminta pembantu ku untuk membuatkan nya."


" Tidak perlu, lain kali saja." Tolak Li.


" Oke aku tidak akan memaksa. Lalu bagaimana dengan Cassandra?" Tanya Tian.


" Biarkan saja dulu, nanti kalau dia bangun katakan saja yang sebelumnya." Ucap Li.


" Ya sudah aku pulang dulu, bay!" Li lantas berlalu meninggalkan Tian.


Sesampainya di rumah, Li sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Alina. Ia berniat untuk meminta maaf kepada istrinya itu tentang tadi malam kenapa dirinya tidak pulang.

__ADS_1


" Assalamualaikum sayang Aa pulang!" Seru Li. Li melihat pintu rumah yang terbuka namun tak ada sahutan dari dalam, membuat Li merasa gusar.


" Alina kamu di mana?" Sekali lagi, namun tetap tak ada sahutan. Li merasa semakin khawatir pun bergegas mencari keberadaan Alina, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Alina tergelak di lantai.


" Astaghfirullah Alina!!" Teriak Li


Li dengan sigap membalikkan tubuh Alina dan membuka cadarnya. Ia menepuk-nepuk pipi Alina dengan lembut, berharap Alina akan cepat bangun.


" Sayang bangun! Kamu kenapa?" Ucap Li dengan panik. Li pun segera menggendong tubuh Alina dan membawanya ke kamar.


" Ya ampun panas!" Ucap Li sambil memegang kening Alina.


" Ternyata kamu demam sayang. Maaf kan Aa ya sayang karena Aa melupakan kamu malam tadi." Ucap Li dengan sendu. Ia lantas mengeluarkan ponsel nya dan segera menelpon dokter pribadi nya.


Sembari menunggu dokter tersebut datang, Li juga mengompres kening Alina menggunakan air hangat.


Tak lama setelah itu, dokter pribadi Li pun datang. Ia segera memeriksa kondisi Alina yang masih belum sadarkan diri.


" Bagaimana keadaan nya dokter?" Tanya Li setelah Dokter wanita tersebut selesai memeriksa.


" Jangan khawatir, dia hanya kelelahan dan masuk angin saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Ucap Dokter tersebut. Li hanya mengangguk paham, meskipun tak dapat di pungkiri bahwa dia masih merasa khawatir kepada Alina.


" Jika sudah tidak ada yang di perlukan lagi, saya permisi dulu." Izin dokter itu.


" Tunggu dokter!" Cegah Li saat sang dokter tersebut ingin melangkah keluar.


Dokter itu menelan ludah nya secara kasar. Ia seakan tahu mengapa dirinya di panggil oleh Li.


" Ada apa tuan muda Li?" Tanya dokter tersebut.


" Jangan katakan ini pada keluarga ku! Aku akan memberikan uang tips jika kau tidak memberitahu mereka."


" Memberi tahu apa maksud tuan?" Dokter itu bukan tidak mengerti, ia hanya ingin memastikan apa yang di maksud Li.


" Jangan memberitahu mereka bahwa di apartemen ku ada seorang wanita!" Pinta Li. Dokter itu tak menjawab, ia hanya diam. Seakan mengerti, Li pun kembali berucap.


" Kau jangan berpikir bahwa aku sedang menyembunyikan perempuan penghibur dari ibu ku. Kau lihat baik-baik, apa dia terlihat seperti wanita penghibur?" Lantas dokter itu menggeleng.

__ADS_1


" Lalu siapa gadis itu?" Akhirnya dokter tersebut pun mulai memberanikan diri untuk bertanya.


" Dia istri sah ku." Ucap Li tegas tanpa keraguan. Nampak dokter tersebut seperti terkejut mendengar nya, namun tak lama, setelah itu ia menetralisir kan kembali rasa terkejutnya.


" Tentang saja tuan, saya akan tutup mulut soal ini. Saya hanya di tugaskan oleh keluarga tuan untuk mengobati dan memberikan obat, selebihnya itu bukan urusan saya sebagai seorang Dokter pribadi." Ucap nya.


" Baguslah, kalau begitu kau boleh pergi!"


" Baiklah terimakasih tuan." Dokter itu pun pamit pulang.


" A'!" Panggil Alina dengan suara serak. Li menoleh, ia sangat senang melihat Alina akhirnya siuman. Li lantas mendekat pada Alina.


" Iya sayang. Apa ada yang sakit? Kalau ada, kamu bilang sama Aa ya!" Ucap Li. Alina pun lantas menggeleng.


" Tidak ada A', Alina cuma haus."


" Kamu haus? Biar Aa ambilkan minum untuk mu ya." Dengan cekatan Li pun mengambilkan segelas air putih dan meminumkan nya pada Alina.


" Terimakasih A'!" Ucap Alina setelah meminum air putih tersebut.


" Sama-sama sayang!"


" Aa minta maaf sama kamu ya sayang, gara-gara Aa kamu jadi sakit begini." Sesal Li.


" Aa bicara apa sih A'? Kenapa Aa menyalahkan diri Aa atas sakit nya Alina?" Tanya Alina heran.


" Iya, karena Aa tidak pulang malam tadi, pasti kamu menunggu Aa di luar kan? sampai-sampai membuat kamu jadi sakit begini." Ucap Li dengan penuh penyesalan.


" Ya Allah A'. Demi Allah, Alina tidak menyalakan Aa untuk semua itu. Alina maklum kok kalau itu untuk sebuah pekerjaan, Alina tidak apa-apa." Ucap Alina meyakinkan.


" Tapi tetap saja Aa merasa bersalah."


" Aa dengar ya! Alina tidak memberatkan Aa jika itu untuk sebuah pekerjaan, tapi jika ada waktu tolong hubungi Alina ya A'! Supaya Alina tahu kalau Aa tidak pulang." Ucap Alina dengan lemah lembut. Li merasa tersentuh, dia semakin merasa bersalah kepada Alina. Dia bahkan tidak berani untuk berterus terang kemana dia malam tadi hingga tidak pulang. Li hanya takut jika ia berterus terang akan membuat Alina marah pada nya.


Li pun meraih tubuh Alina untuk ia peluk. Kali ini ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.


" Maaf ya sayang!" Ucap Li sekali lagi.

__ADS_1


" Iya suamiku!"


Hari itu hanya Li habiskan untuk menjaga dan merawat Alina sampai Alina sembuh. Li merawat Alina dengan cekatan dan penuh kasih sayang, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahan yang telah ia perbuat tadi malam.


__ADS_2