
Episode 8:
" Pak Ferdi, pak Ferdi kan?" Tanya Alina setelah ia sampai di ruang tamu. Yang di panggil pun menoleh.
" Eh Alina, kamu apa kabar?" Ferdi pun balik bertanya. Dia mendekati Alina yang sedang berdiri dan menyapa nya dengan cara menangkupkan kedua tangannya, nampak nya Ferdi sudah mengerti apa yang harus ia lakukan jika bersalaman dengan Alina, yaitu menggunakan salaman jarak jauh.
Alina pun melakukan hal yang sama, setelah itu duduk di samping ayah nya.
" Bapak apa kabar?" Tanya Alina saat mereka sama-sama sudah duduk.
" Alhamdulillah saya baik, kamu sendiri?" Tanya Ferdi.
" Alhamdulillah saya juga baik, kalau keadaan ibu bapak gimana? Apa sekarang sudah sehat?" Tanya Alina lagi.
" Alhamdulillah, sekarang sudah mulai membaik." Jawab Ferdi apa adanya. Mereka pun saling berbincang bincang sambil di temani segelas teh dan sepiring singkong rebus. Hingga pada akhirnya Ferdi memulai mengutarakan maksud kedatangan nya.
" Begini Alina dan pak Jaka, saya datang ke sini selain untuk bersilaturahmi, saya juga ada maksud untuk meminta tolong kepada Alina, itu pun jika Alina berkenan." Ucap nya tidak langsung mengatakan maksud yang sebenarnya.
" Minta tolong apa ya pak kalau boleh tau?" Jaka lah yang bertanya, bagaimana pun itu menyangkut anak gadis nya, dan dia harus ikut campur.
" Begini pak, saya dan istri saya itu tinggal terpisah, saya di Indonesia, sedangkan istri saya di luar negeri. Dia di sana tinggal sendirian saat saya sedang di Indonesia, dan dia sering merasa kesepian, jadi dia meminta saya untuk mencarikan dia teman, seperti teman ngobrol dan teman belanja saja, jadi saya teringat Alina, apakah bapak mengizinkan Alina untuk menemani istri saya, dan apakah Alina mau? Tenang saja, itu semua tidak gratis, saya akan menyekolahkan Alina sampai selesai, dan saya akan memberikan uang setiap bulan nya untuk ia kirim kepada keluarga nya, kalau masalah kebutuhan sehari-hari, seperti makan dan pakaian, saya yang akan menyediakan nya, Alina juga boleh pulang kapan pun dia mau, asal kan sekolah nya sedang libur. Bagaimana pak?" Dengan sedetil mungkin Ferdi menjelaskan nya agar Alina dan ayah nya tidak merasa tersinggung dengan ucapan nya.
__ADS_1
" Ya kalau saya, terserah pada Alina saja, jika dia mau, saya akan mengizinkan nya." Jelas Jaka. Ia berpikir, lagi pula Alina juga akan pergi dari kampung nya. Jika ada orang yang akan menjamin kehidupan anak nya itu, mengapa harus ia tolak. Bukankah kesempatan tidak datang dua kali.
" Maksud bapak saya bekerja sama bapak?" Tanya Alina.
" Saya tidak mengatakan itu sebagai tawanan pekerjaan, lebih tepatnya, saya lah yang meminta tolong kepada kamu, tapi jika kamu lebih nyaman mengangap nya begitu, pun terserah pada kamu." Jelas Ferdi meyakinkan.
" Oh iya, jika kamu masih ragu, saya akan melakukan panggilan video kepada istri saya, supaya kamu merasa lebih yakin." Tawar nya.
" Boleh!" Jawab Alina tanpa ragu. Ia merasa yakin bahwa Ferdi adalah orang baik, terlihat kejujuran di matanya saat ia sedang bicara. Mungkin Ferdi adalah orang yang Allah utus untuk menolongnya.
Tak lama panggilan pun terhubung. Terlihat jelas wanita paruh baya berhijab, yang masih terlihat sangat cantik dan terawat, tersenyum di balik layar ponsel Ferdi.
" Assalamualaikum sayang!" Ucap Ferdi lemah lembut dan terdengar sangat mesra.
" Aisyah, Mas mau memperkenalkan kamu dengan Alina yang sering mas bicarakan itu loh." Ucap Ferdi seraya mengatakan layar ponsel nya pada Alina.
" Assalamualaikum ibu!" Ucap Alina memberi salam dengan sopan.
" Waalaikumsalam sayang!" Jawab Aisyah begitu lemah lembut.
" Oh kamu yang bernama Alina itu ya? Masyaallah cantik sekali kamu sayang, sangat sopan lagi." Puji nya pada Alina.
__ADS_1
" Masyaallah, terimakasih Bu! Ibu juga cantik dan sangat baik." Puji Alina balik. Mereka saling mengobrol dan nampak begitu akrab, walaupun hanya bertatap muka melalui panggilan video saja. Sampai- sampai Jaka dan Ferdi di buat geleng-geleng kepala dengan keakraban mereka. Dia merasa senang melihat hal itu.
Hingga pada akhirnya, Ferdi mengalihkan layar ponsel nya untuk menghadap dirinya, sontak saja hal itu membuat Aisyah merasa kesal, ia merasa belum puas untuk berbincang dan berkenalan dengan Alina.
" Ihhh mas, kok di ambil sih hendphone nya? Aku kan belum selesai ngomong sama Alina nya." Ucap nya dengan nada merajuk, namun tentu saja masih terdengar lembut dan tidak membentak, malahan terdengar sangat manja. Alina sampai tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri itu, mereka terlihat masih sangat mesra dengan umur mereka yang tidak muda lagi.
" Udah dulu ya ngomong nya sayang, mas mau lanjutin ngomong sama ayah nya Alina dulu" Ucap Ferdi pada sang istri.
" Iya mas, gak papa, tapi jangan di matiin ya handphone nya!" Pinta Aisyah pada sang suami.
" Iya, nih mas taruh di sini nih ponsel nya." Ucap Ferdi seraya meletakkan ponsel nya di atas meja.
" Jadi bagaimana pak Jaka, Alina, apa kalian setuju?" Ulang Ferdi kembali pada topik awal.
" Kalau saya setuju-setuju saja, apa lagi setelah melihat percakapan antara Alina dan istri bapak tadi terlihat sangat akrab, saya semakin yakin dan setuju." Jawab Jaka tanpa ragu.
" Tapi saya kembali kan sama Alina nya. Bagaimana neng, apa kamu mau?" Tanya Jaka pada sang anak.
" Alina senang sekali bisa melihat dan ngobrol banyak sama ibu Aisyah, malah Alina merasa nyaman, tapi, boleh Alina pikir-pikir dulu? Kasih Alina waktu untuk memikirkan nya!" Pinta Alina.
" Tentu saja boleh nak, saya tidak akan memaksa kamu, jika kamu keberatan, kamu boleh menolak nya, kamu jangan sungkan ya untuk kasih tau saya! Jika kamu sudah punya jawaban nya, kamu bisa telpon saya, atau bisa temui saya di alamat ini, kita akan pergi ke China secepatnya." Ferdi lantas memberikan kartu nama nya kepada Alina, dengan sopan Alina menerima nya.
__ADS_1
Ehh tunggu,,,,,,, tunggu, China Katanya? Apakah Alina tidak salah dengar? Apakah yang dimaksud adalah negara China? Ya ampun Alina, pertanyaan bodoh macam apa ini? Memang nya negara China ada berapa? Alina,,,,,, Alina! Mendengar kata China entah mengapa, otak nya tiba-tiba ngelag, bahkan sekarang dia sedang senyum-senyum sendiri.