
Episode 56:
Setelah selesai dari kamar mandi, Alina dan Li kembali ke tempat tidur Alina.
Saat ini mereka sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, Li yang bermain ponsel di samping Alina, sedangkan Alina sedang sibuk berinteraksi dengan janinnya sambil mengusap perutnya sendiri, namun sesekali Li juga ikut serta berinteraksi dengan anaknya yang masih berada di dalam kandungan Alina.
Tak lama setelah itu Jaka, Imah dan Gadis kembali dari kantin rumah sakit sambil menenteng sebuah plastik yang di bawa oleh Gadis.
Gadis lantas memberikan plastik tersebut kepada Li.
" Nih spesial buat Abang ipar Gadis," ucapnya sambil menyodorkan bungkusan tersebut. Dan tentunya Li menerimanya dengan senang hati.
" Apa ini?" tanya Li sedikit pemasaran dengan apa isi dari plastik tersebut.
" Ini makanan untuk Aa Li. Aa pasti belum makan kan?"
Li pun mengangguk lalu mulai membuka plastik yang berisi kotak makanan.
" Baik kan adik ipar mu ini," kata Gadis dengan sombongnya.
" Iya iya baik. Kamu memang satu satunya adik ipar ku yang paling baik," ucap Li dengan menekan kan kata "paling" dengan nada yang di buat-buat.
" Lah emang iya satu satunya, adik teh Alina kan cuma Gadis seorang, iya kan teh?" ucapnya dengan mimik wajah yang di buat angkuh.
Dan Alina pun mengangguk membuat Gadis girang.
" Tuh kan satu satunya," katanya dengan nada angkuh.
" Tapi siapa tahu ibu mau punya anak lagi, ibu sama bapak kan juga masih muda," ucap Li yang sebenarnya hanya ingin mengejek.
" Ihh Aa Li! Jangan mengada-ada ya, aku tidak mau ibu punya anak lagi, pokoknya titik." Gadis kesal, ia tak terima jika orang tuanya memiliki anak lagi selain mereka. Pasalnya ia tak mau jadi kakak, karena menurutnya seorang kakak itu selalu di salahkan oleh kedua orang tuanya.
" Memangnya kenapa? ibu dan bapak yang mau punya anak, kok kamu yang tidak terima?"
" Ya Gadis cuma gak mau jadi kakak saja," ucapnya dengan melipat kedua tangannya di atas perut.
" Iya iya, kamu tidak bakal jadi kakak kok, tapi jadi aunty mau?" kata Alina yang mencoba menengahi perdebatan kakak dan adik ipar tersebut.
Dan akhirnya barulah Gadis mau tersenyum dan menatap perut Alina dengan tatapan sayang.
" Iya teh, Gadis mau kok. Boleh Gadis pegang ponakan Gadis tidak?" ucap Gadis dengan mata berbinar.
Alina menganguk dan itu membuat Gadis bersorak girang.
__ADS_1
Gadis pun meletakkan tangannya di atas perut Alina dan mencoba memulai interaksi dengan calon keponakannya.
" Hai keponakan aunty, apa kabar kamu di dalam?." Cukup lama Gadis menunggu siapa tahu ada jawaban atau pergerakan dari dalam perut Alina, dan tiba-tiba,
Krukk krukk
" Yess akhirnya Gadis di sambut dengan baik," ucap Gadis kegirangan.
" Maksudnya bagaimana Gadis?" tanya Imah.
" Iya di sambut bagaimana maksudnya, apa dia menendang?" tambah Li.
" Bukan dong," jawab Gadis yang semakin membuat semuanya penasaran, berlebih lagi Li.
" Iya lalu bagaimana?" tanya Li yang mulai kesal karena merasa di permainkan.
" Ternyata dia bisa jawab pertanyaan aku," ucap Gadis.
" Mau tau gak gimana bunyinya?"
Dengan bo*ohnya semuanya menganguk polos.
" Bunyinya krukk krukk gitu, lucu kan?" dengan muka polosnya pula Gadis menirukan suara yang ia dengar dari dalam perut Alina, membuat semuanya bertepuk jidat karena ulah konyol Gadis dan berakhir dengan tawa mereka, sedangkan Alina menahan malu karena ulah adiknya itu.
" Ya kamu ada-ada saja, memangnya keponakan kamu cacing bunyinya seperti itu?" kata Imah di sambut lagi dengan tawa mereka.
Dan Gadis yang belum mengerti maksud ibunya tersebut menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia semakin di buat bingung saja.
" Ya keponakan Gadis manusia lah, masa cacing."
" Ya karena yang bunyi itu cacing Nak bukan keponakan kamu," jelas Imah sambil menahan sisa tawanya.
Sontak saja hal itu membuat Gadis cemberut. Bukannya merasa malu karena telah salah sangka, dia malah kesal karena gagal mendengar suara dari keponakannya tersebut.
" Yah jadi bukan suara si Otoy ya," ujarnya sambil tertunduk lesu.
" Ya bukan atuh, kamu mah aya aya wae," ucap sang ibu sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah putri bungsunya itu.
" Memangnya kamu lapar lagi sayang, bukannya tadi sudah makan bubur?" tanya Li yang kini beralih pada Alina.
" Hehehe iya A', abisnya bubur di rumah sakit ini porsinya sedikit sih," jawab Alina sambil nyengir kuda.
" Ya Allah Alina, itu kami bilang sedikit? porsi bubur segitu biasa buat sarapan pagi kita loh sayang," kata Li tak habis pikir.
__ADS_1
" Ya kan sekarang kan aku tidak sendiri, ada anak kamu di sini," ucapnya sambil mengelus perutnya sendiri.
" Hemmm iya deh iya. Memangnya sekarang kalian mau makan apa?" tanya Li dengan berpura-pura kesal, padahal hatinya sangat bahagia mendengar bahwa Alina sering lapar karena sang buah hati mereka yang sekarang bersemayam di dalam perut istrinya itu. Li juga menyematkan kata kalian yang di tujukan untuk Alina dan calon buah hati mereka.
" Emmmm Lina mau,,,,,,"
" Tapi tidak boleh yang pedas-pedas dulu!." Sebelum Alina mengutarakan keinginannya, Li lebih dahulu memotong perkataan Alina, membuat Alina kesal dan memanyunkan bibirnya bak anak kecil yang merajuk karena tidak di belikan mainan.
Li seolah sudah tahu apa yang Alina inginkan, jadi sebelum Alina menyatakan keinginannya tersebut Li lebih dulu menyangkalnya.
" Ihh Aa kok tidak boleh? Lina kan mau mie ramen, bakso mercon buatan ibu sama dendeng balado buatan ibu, kok tidak boleh?" rajuk nya.
" Ya karena kamu belum di bolehkah makan makanan itu, kamu masih sakit sayang," kata Li bernada membujuk.
" Tapi Lina pengen A'," kata Alina keukeh.
" Alina, dengerin suami kamu! itu untuk kebaikan kamu juga Nak," kata Imah dengan lembut menasehati anaknya.
" Iya Lina, tidak baik membantah ucapan suami. Kamu tidak takut dosa?" tambah Jaka yang ikut bicara.
Perlahan Alina pun mulai luluh, meskipun masih belum ikhlas mengiyakannya, sebab keinginan wanita hamil jika di bantah dia akan jengkel dan dongkol akhirnya.
" Iya Pak Bu, Alina gak jadi," ucapnya masih setengah kesal.
" Boleh kok, tapi yang lain ya!" bujuk Li.
" Memangnya kamu mau apa, nanti Aa yang belikan. Atau kamu mau makan langsung di tempatnya, niat Aa yang menemani." Tak sampai di situ, Li terus membujuk Alina karena ia tahu Alina sangat kesal saat ini.
Namun nampaknya Alina tak tergiur sama sekali. Rasa kesalnya sudah di ubun-ubun hingga membuatnya tak berselera apa-apa.
" Nanti kalau kamu sudah pulih, Aa janji menuruti semua keinginan kamu. Atau Aa sewakan koki handal untuk masak makanan apa saja yang kamu mau, termasuk bakso mercon yang kamu maksud." Dan barulah saat itu Alina menoleh pada Li dengan senyum yang di kulum.
" Janji?" ujarnya dengan senyum tertahan.
" Iya janji, kalau kurang yakin ada ibu bapak dan Gadis yang akan jadi saksi kalau Aa tidak main-main dengan ucapan Aa," kata Li dengan penuh keyakinan.
" Baiklah kalau begitu Alina mau sekarang Aa belikan Alina jus mangga sama makanan terserah asal tidak pedas!" kata Alina dengan bersemangat.
" Baiklah Aa beli sekarang."
Li pun meninggalkan Alina dan keluarganya untuk membelikan makanan yang di maksud Alina.
Sebelum benar-benar keluar dari rumah sakit, Li juga menyempatkan diri untuk membayar serta mengurus keperluan rumah sakit Alina. Dia juga sempat menanyakan kepada dokter yang menangani Alina tentang kapan Alina di bolehkah untuk pulang.
__ADS_1